F A K T A
Biarawan Sion adalah organisasi nyata sebuah masyarakat rahasia Eropa yang didirikan pada tahun 1099. Pada tahun 1975, Perpustakaan Nasional di Paris menemukan sebuah perkamen yang dikenal sebagai Les Dossiers Secreu, yang mengidentifikasi sejumlah anggota Biarawan Sion, yang mencakup nama-nama seperti Sir Isaac Newton, Botticelli, Victor Hugo, dan Leonardo Da Vinci.
Prelatur Vatikan yang dikenal sebagai Opus Dei adalah sebuah sekte Katolik yang amat taat, yang telah menjadi bahan kontroversi baru-baru ini berkenaan dengan adanya berbagai laporan mengenai kegiatan cuci otak, pemaksaan, dan sebuah praktik berbahaya yang dikenal sebagai eorporal mortification, `penistaan jasmaniah`. Opus Dei baru saja menyelesaikan pembangunan Markas Besar Nasional seharga $ 47 juta di 243 Lexington Avenue, New York.
Semua deskripsi karya seni, arsitektur, dokumen, dan ritus rahasia dalam novel ini adalah akurat.
P R O L O G
Museum Louvre, Paris
10:46 Malam
KURATOR TERKENAL Jacques Sauniere menatap jauh melintasi selasar berongga Galeri Agung Museum Louvre. Ia menerjang lukisan terdekat yang dapat ia lihat, lukisan Caravaggio. Dengan mencengkeram bingkai bersepuh emas itu, lelaki berusia 76 itu merenggutkan mahakarya itu ke arah dirinya. Lukisan itu terlepas dari dinding, dan Sauniere terjengkang di bawah kanvasnya.
Seperti yang telah ia perkirakan, gerbang besi jatuh bergemuruh di dekatnya, menghalangi pintu masuk ke ruangan suite itu. Lantai parket bergetar. Di kejauhan, sebuah alarm mulai berdering.
Sang kurator terbaring sebentar, tersengal-sengal, mengumpulkan tenaga. Aku masih hidup. Ia merangkak keluar dari bawah kanvas, dan memindai ruangan seperti gua itu, mencari-cari tempat untuk sembunyi.
Seseorang bicara, dekat dan mengerikan. `Jangan bergerak!` Dengan bersitumpu pada lutut dan tangannya, sang kurator membeku, perlahan memalingkan kepalanya ke arah suara itu. Hanya lima belas kaki jauhnya di luar gerbang yang tertutup, sebuah siluet raksasa dari penyerangnya menatap menembus jeruji besi. Lelaki itu sangat lebar dan tinggi, dengan kulit sepucat hantu, dan uban tipis di rambutnya. Bola matanya tampak merah muda, dengan pupil berwarna merah gelap. Si albino mencabut pistol dari jasnya, dan membidikkan moncongnya melewati jeruji, langsung kepada sang kurator. `Kau mestinya tak lari.` Aksennya sukar ditentukan dari mana asalnya. `Sekarang, katakan di mana.`
`Sudah kukatakan,` sang kurator cergagap berlutut tak berdaya di lantai galeri. `Aku sama sekali tak mengerti apa yang kaubicarakan!`
`Kau bohong.` Lelaki albino itu menatapnya, benar-benar tak bergerak, kecuali gerakan matanya yang seperti hantu. `Kau dan kelompok persaudaraanmu memiliki sesuatu yang bukan hak kalian.`
Sang kurator merasakan desiran adrenalin. Bagaimana mungkin ia tahu hal ini?
`Malam ini, para pengawal yang benar-benar berhak akan dipulihkan hak-haknya. Katakan di mana benda itu tersembunyi, dan kau akan hidup.` Lelaki itu memakukan pistolnya ke arah kepala sang kurator. `Apakah itu sebuah rahasia yang mesti kau jaga sampai mati?`
Sauniere tak dapat bernapas.
Lelaki itu memiringkan kepalanya, mengintip lewat barel pistolnya.
Sauniere menyilangkan tangannya, mencoba melindungi diri. `Tunggu,` katanya perlahan. `Akan kuberi tahu apa yang ingin kau tahu.` Sang kurator lalu mengucapkan kata-kata berikutnya dengan hati-hati. Kebohongan yang ia ucapkan itu telah dilatihnya berulang-ulang ... setiap kali melatihnya, ia berdoa agar tak akan pernah menggunakannya.
Ketika sang kurator usai bicara, penyerangnya tersenyum dengan angkuh. `Ya. Ini persis seperti kata yang lain padaku.` Sauniere menggigil. Yang lain?
`Aku menemukan yang lain juga,` lelaki besar itu menggoda. `Ketiga-tiganya. Mereka membenarkan apa yang baru saja kau katakan.`
Tak mungkin! Identitas sejati sang kurator, bersama dengan identitas ketiga senechaux-nya, nyaris sama sucinya dengan rahasia kuno yang mereka jaga. Sauniere kini menyadari bahwa para senechaux-nya, dengan menaati sebuah prosedur yang ketat, telah memberikan dusta yang sama sebelum mati. Ini adalah bagian dari protokol.
Si penyerang itu mengarahkan pistolnya lagi. `Ketika kau mati, aku akan menjadi satu-satunya orang yang mengetahui kebenaran tersebut.`
Kebenaran. Dalam sekejap, sang kurator menyadari kengerian sesungguhnya dari situasi ini. Jika aku mati, kebenaran akan lenyap selamanya. Secara instingtif, ia mencoba untuk merangkak lari, mencari perlindungan.
Pistol menyalak, dan sang kurator merasakan panas yang menyengat ketika peluru itu membenam ke dalam perutnya. Ia tersungkur ... berjuang melawan rasa sakit. Perlahan, Sauniere berguling dan menatap balik pada penyerangnya melalui jeruji besi. Si penyerang kini berancang-ancang meletupkan tembakan mematikan ke kepala Sauniere.
Sauniere menutup matanya. Pikirannya adalah pusaran beliung rasa takut dan sesal.
Suara klik dari magasin yang kosong bergema melintasi koridor.
Mata sang kurator membuka cepat.
Si lelaki besar melirik senjatanya, memandangnya dengan hampir-hampir terhibur. Ia menjangkau klip kedua, tapi kemudian tampak menimbang ulang, menyeringai dengan tenang pada isi perut Sauniere. `Aku sudah selesai.`
Sang kurator memandang ke bawah, dan melihat lubang peluru pada kemeja linen putihnya. Lubang itu dikicari oleh sebuah lingkaran darah yang kecil, beberapa inci di bawah tulang dadanya. Perutku. Peluru icu meleset dari jantungnya. Sebagai seorang veteran dari La Guerre d' Algerie, sang kurator telah menyaksikan kematian yang mengerikan seperti ini. Ia akan bertahan selama lima belas menit, ketika asam-asam lambungnya merembes ke dalam rongga dadanya, meracuninya dari dalam perlahan-lahan. `Rasa sakit itu baik, Monsieur,` ujar si lelaki besar.
Kemudian dia pergi.
Kini sendirian, Jacques Sauniere memalingkan lagi tatapannya ke gerbang besi. Dia terperangkap, dan pintu-pintu tak akan dapat dibuka kembali paling tidak untuk dua puluh menit lagi. Saat siapa pun mencapai tubuhnya, ia sudah mati. Namun demikian, rasa takut yang sekarang mencengkeram dirinya jauh lebih besar daripada rasa takut akan kematiannya sendiri.
Aku harus mewariskan rahasia ini.
Sambil menatap kakinya, dia membayangkan ketiga saudara seperkumpulannya yang telah mati. Dia berpikir tentang generasi demi generasi yang telah hidup sebelum mereka ... tentang misi yang telah dipercayakan kepada dirinya dan para saudaranya iru. Sebuah rantai pengetahuan yang tak pernah putus.
Kini, lepas dati segala tindakan berjaga-jaga ... lepas dari segala pengamanan data ... Jacques Sauniere tiba-tiba telah menjadi satu-satunya mata rantai yang tersisa, satu-satunya penjaga dari sebuah rahasia paling kuat yang pernah ada.
Gemetar, dia merengkuh kakinya. Aku harus menemukan sebuah cara ....
Ia terperangkap di dalam Galeri Agung, dan hanya ada satu orang di muka bumi yang dapat ia wariskan obor rahasia ini. Sauniere menatap ke atas, ke dinding-dinding dari penjaranya yang luar biasa ini. Sebuah koleksi dari lukisan-lukisan paling terkenal di dunia tampak seakan tersenyum menatap ke bawah, kepada dirinya, bagai sahabat-sahabat lama.
Dengan mengatupkan geraham menahan sakit, ia menghimpun segala daya dan kekuatan yang masih dia miliki. Dia tahu, tugas yang mendesak di hadapannya membutuhkan setiap detik dari sisa hidupnya.
1
ROBERT LANGDON berangsur-angsur terjaga. Sebuah telepon berdering dalam kegelapan-deringnya lirih, tak biasa. Dia merabaraba lampu di samping tempat tidur dan menyalakannya. Dengan mata menyipit, dia mengamati sekitarnya, dan melihat ruang tidur mewah bergaya Renaissance dengan perabotan dari zaman Raja Louis XVI, dinding yang dicat dengan tangan, dan ranjang sangat besar juga luas yang terbuat dari kayu mahogani. Di mana gerangan aku?
Mantel mandi dari bahan tenunan bergantung di ujung tempat tidurnya dan ber monogram HOTEL RITZ PARIS.
Perlahan, kabut mulai terkuak.
Langdon mengangkat gagang telepon itu. `Halo?`
`Monsieur Langdon?` kata suara seorang lelaki. `Semoga saya tidak membangunkan Anda.`
Dengan linglung Langdon menatap jam di sisi tempat tidur. Pukul 12:32 dini hari. Berarti baru satu jam dia tidur, namun seperti mati saja rasanya.
`Saya petugas penerima tamu, Monsieur. Maaf telah mengganggu, tetapi ada tamu untuk Anda. Dia memaksa, dan katanya ini sangat mendesak.`
Langdon masih merasa bingung. Seorang tamu? Matanya sekarang menatap kertas selebaran yang kusut di atas meja sisi tempat tidur.
THE AMERICAN UNIVERSITY OF PARIS
Dengan bangga mempersembahkan
Semalam bersama ROBERT LANGDON
Profesor Simbologi Agama, Universitas Harvard.
Langdon menggeram. Ceramahnya malam tadi-sebuah pertunjukan slide tentang simbolisme penyembah berhala yang tersembunyi dalam dinding batu Katedral Chartres-mungkin telah menggelitik beberapa penonton konservatif yang perasa. Sangat mungkin, beberapa sarjana religius telah mengikutinya pulang untuk menantangnya berkelahi.
`Maaf,` ujar Langdon, `tetapi saya sangat letih dan-` `Mais monsieur,` penerima tamu itu memaksa, seraya merendahkan suaranya menjadi bisikan- yang mendesak. `Tetapi tamu Anda orang penring:`
Langdon agak ragu. Buku-bukunya tentang lukisan-lukisan bernapaskan agama dan simbologi cara pemujaan telah menjadikannya, mau tidak mau, seorang pesohor dalam dunia kesenian. Ketenarannya dalam melihat kasus telah berlipat ratusan kali setelah ia terlibat dalam insiden di Vatikan tahun lalu yang tersiar luas itu. Sejak itu, seolah tak pernah berhenti, para ahli sejarah yang punya kepentingan pribadi, dan para pencinta seni, berduyun-duyun mendatangi rumahnya.
`Tolonglah, Tuan yang baik,` kata Langdon, sesopan mungkin, `tanyakan nama orang tersebut dan nomor teleponnya dan katakan juga bahwa saya akan menghubunginya sebelum saya meninggalkan Paris hari Selasa. Terima kasih.` Dia meletakkan teleponnya sebelum penerima tamu itu memprotesnya.
Duduk tegak di tepi ranjangnya, dahi Langdon berkerut membaca Guest Relarions Handbook, yang sampulnya berbual TIDUR NYENYAK BAGAI BAYI DI KOTA PENUH CAHAYA. TIDURLAH DI RITZ, PARIS. Dia memutar tubuhnya dan menatap dengan letih pada cermin setinggi tubuh di kamar itu. Lelaki dalam cermin yang balas menatapnya itu adalah seorang asing-berantakan dan loyo.
Kau butuh liburan, Robert.
Tahun lalu memang telah membuatnya sangat letih, tetapi dia tak mau mengakui dirinya tampak seperti lelaki dalam cermin itu. Matanya yang biasanya tampak biru dan tajam tampak kabur dan lesu malam. ini. Berewok yang mulai tumbuh menghitami rahang kuat dan dagu belahnya. Di sekitar pelipisnya, tampak kilatan rambut-rambut putih muncul menjorok semakin jauh ke bagian yang masih berambut hitam kasar. Walau teman-teman perempuannya meyakinkannya bahwa ubannya itu semakin mempertegas daya tariknya sebagai pencinta buku, Langdon tahu yang sebenarnya.
Kalau saja Boston Magazine dapat melihatku saat ini.
Bulan lalu, Boston Magazine membuatnya sangat malu, karena memasukkannya ke dalam daftar sepuluh orang tokoh paling menggoda, sebuah penghormatan meragukan yang membuatnya diolok habis-habisan oleh teman-teman Harvard-nya. Malam tadi, tiga ribu mil dari rumah, penghargaan itu muncul kembali, menghantuinya pada saat dia menyampaikan ceramah.
`Ibu-ibu dan Bapak-bapak ...` pembawa acara mengumumkan kepada para hadirin yang memenuhi ruangan Pavillon Dauphine di Universitas Amerika Paris tadi. `Tamu kita malam ini tak perlu diperkenalkan lagi. Beliau adalah penulis dari sejumlah buku: The Symbology of Secret Sects, The Art of Illuminati, The Lost Language of Ideograms, dan beliau juga menulis buku Religious Iconology. Banyak dari Anda yang menggunakan buku-bukunya di kelas.`
Para mahasiswa yang hadir mengangguk, antusias.
`Saya ingin memperkenalkan beliau lebih jauh lagi dengan menceritakan riwayat hidupnya yang sangat mengesankan. Namun demikian ...` perempuan pembawa acara itu mengerling penuh canda pada Langdon, yang duduk di atas pentas, `seorang hadirin baru saja memberikan cara perkenalan yang, katakanlah ... jauh lebih menggoda.`
Pembawa acara mengangkat tinggi-tinggi sebuah terbitan majalah Boston Magazine.
Langdon mengernyit. Dari mana dia dapat majalah itu? Pembawa acara itu mulai membaca kutipan-kutipan pilihan dari artikel di majalah tersebut, sementara Langdon merasa semakin tenggelam lebih dalam lagi di kursinya. Tiga puluh detik kemudian, para hadirin mulai menyeringai, dan para perempuan tampak tak tahan diri pula. `Dan penolakan Pak Langdon untuk bercerita kepada publik tentang peran istimewanya di Vatikan tahun lalu betul-betul menambahkan beberapa nilai pada tamu kira yang sangat menggoda ini.` Pembawa acara itu menggiring para hadirin. `Anda ingin mendengar lebih banyak lagi?`
Para hadirin bertepuk tangan.
Tolong hentikan perempuan itu, Langdon memohon dalam hati ketika pembawa acara itu mulai membacakan artikel itu lagi. `Walau Profesor Langdon tidak terlalu tampan seperti para tokoh pilihan kami yang lebih muda, ilmuwan berusia sekitar empat puluhan ini memiliki lebih dari sekadar daya pikat keilmuan. Penampilan menawannya lebih diperjelas dengan suaranya yang istimewa saat memberi kuliah. Suaranya rendah, bariton, sehingga para mahasiswinya menyebut suara itu seperti `permen coklat di telinga'.`
Ruangan besar itu seperti meledak karena tawa riuh para hadirin.
Langdon memaksakan senyuman kaku. Dia tahu apa yang akan keluar setelah ini kalimat-kalimat dungu tentang `Harrison Ford dalam jas wol keluaran Harris` dan karena malam ini dia sudah kadung mengenakan jas Harris dan t-shirt berleher tinggi keluaran Burberry, dia memutuskan untuk segera bertindak.
`Terima kasih, Monique,` ujar Langdon, sambil berdiri sebelum waktunya, dan berjalan perlahan mendekati Monique di podium. `Boston Magazine benar-benar memiliki keahlian dalam menulis fiksi.` Dia menghadap ke hadirin dengan desah malu. `Dan jika saya tahu siapa di antara Anda yang memberikan artikel ini, saya akan meminta konsulat untuk mendeportasiya.`
Para hadirin tertawa lagi.
`Baiklah, kawan-kawan, seperti yang telah Anda ketahui, saya di sini malam ini untuk berbicara tentang kekuatan dari simbol simbol ....`
Telepon di kamar Langdon di hotel Ritz kembali memecah kesunyian.
Sambil mengerang tak percaya, dia mengangkat telepon itu. `Ya?`
Seperti yang telah diduganya, penelepon itu adalah penerima tamu tadi. `Pak Langdon, kembali saya minta maaf. Saya menelepon untuk memberi tahu bahwa tamu Anda sedang menuju kamar Anda sekarang. Saya pikir saya harus memberi tahu Anda.` Langdon sudah benar-benar terjaga sekarang. `Anda membiarkan orang datang ke kamar saya?`
`Saya mohon maaf, Monsieur, tetapi orang seperti beliau ini ... saya tak kuasa menghentikannya.`
`Siapa sebenarnya dia?`
Tetapi penerima tamu itu telah memutuskan hubungan.
Tak lama kemudian, sebuah kepalan tangan menggedor pintu kamar Langdon.
Dengan ragu, Langdon melorot turun dari ranjangnya, dan merasakan kedua kakinya tenggelam dalam permadani. Dia mengenakan mantel kamar mandinya dan melangkah ke arah pintu. `Siapa?`
`Pak Langdon? Saya perlu bicara dengan Anda.` Bahasa Inggris lelaki itu beraksen-perintah yang sangat regas. `Nama saya Letnan Jerom Collet. Direction Centrtale Police Judiciaire.`
Langdon berhenti. Polisi Judisial? DCPJ kira-kira sama dengan FBI di Amerika.
Langdon membiarkan rantai pengaman pintu tetap menyangkut, kemudian membuka pintu beberapa inci. Wajah yang menatapnya itu tirus dan rusak. Lelaki itu sangat kurus, berpakaian seragam biru yang tampak resmi.
`Boleh masuk?` agen itu bertanya.
Langdon ragu-ragu. Dia merasa bimbang ketika mata agen itu menatapnya menyelidik. `Ada masalah apa?`
`Capitaine saya membutuhkan keahlian Anda untuk urusan pribadi.`
`Sekarang?` Langdon bertanya. `Tengah malam begini?` `Betulkah Anda dijadwalkan bertemu dengan seorang kurator dari Museum Louvre malam ini?`
Tiba-tiba Langdon merasa tak nyaman. Dia dan seorang kurator terhormat, Jacques Sauniere, telah dijadwalkan untuk minum bersama setelah ceramahnya malam ini. Namun Sauniere tak muncul. `Ya. Bagaimana Anda tahu?`
`Kami menemukan nama Anda dalam daily planner-nya.` `Tidak ada masalah, bukan?`
Agen itu mendesah tak sabar, dan menyisipkan selembar foto Polaroid melalui celah sempit pintu itu.
Ketika Langdon melihat foto itu, seluruh tubuhnya menjadi kaku.
`Foto itu diambil kurang dari satu jam yang lalu. Di dalam Museum Louvre.`
Sementara Langdon menatap foto ganjil itu, reaksi pertamanya adalah kemarahan yang memuncak. `Siapa yang tega melakukan ini!`
`Kami harap Anda dapat membantu kami menjawab pertanyaan itu, mengingat keahlian Anda dan rencana Anda untuk bertemu dengannya.`
Langdon menatap foto itu. Kengeriannya sekarang bertambah dengan ketakutan. Gambar itu mengerikan dan betul-betul aneh, dan menimbulkan bayangan seperti sebuah deja vu yang merisaukan. Kira-kira setahun yang lalu, Langdon pernah menerima selembar foto mayat dan permintaan pertolongan yang sama, dan 24 jam kemudian dia hampir kehilangan nyawanya di dalam kota Vatikan. Foto ini sama sekali berbeda, namun skenarionya terasa sama.
Agen itu melihat jam tangannya. `Capitaine saya menunggu, Pak.'.
Langdon hampir tak mendengarnya. Matanya masih tetap terpaku pada gambar itu. `Simbolnya di sini dan keadaan tubuhnya sangat aneh ....`
`Sengaja diatur posisinya?` agen itu mencoba menolong. Langdon mengangguk, merasa menggigil ketika dia mendongak. `Aku tak dapat membayangkan ada orang yang tega melakukan ini.`
Agen itu tampak muram. `Anda tidak mengerti, Pak Langdon. Apa yang Anda lihat dalam foto ini ....` dia berhenti. `Monsieur Sauniere melakukannya sendiri.`
2
BERJARAK SATU mil dari Hotel Ritz, seorang albino bertubuh kekar bernama Silas berjalan terpincang-pincang melalui pintu gerbang depan sebuah tempat tinggal mewah di Jalan Rue La Bruyere. Sabuk berduri cilice yang dikenakan ketat pada pahanya menghunjam ke dalam dagingnya, namun jiwanya bernyanyi dengan penuh kepuasan akan baktinya pada Tuhan.
Sakit itu baik.
Mata merahnya menyapu lobi ketika dia memasuki rumah itu. Kosong. Dia menaiki tangga dengan tak berisik karena tidak ingin membangunkan rekan anggota sekelompoknya. Pintu kamar tidurnya terbuka; di sini kunci adalah terlarang. Dia masuk dan menutup pintunya.
Ruangan itu berkesan spartan berlantai kayu keras, lemari dari kayu pinus, kasur kanvas di sudut yang digunakan sebagai pembaringannya. Dia adalah tamu di sini minggu ini, namun selama bertahun-tahun dia telah diberkahi dengan tempat tinggal serupa di New York Ciry.
Tuhan telah memberiku tempat berlindung dan tujuan dalam hidupku.
Malam ini, akhirnya, Silas mulai merasa telah membayar hutangnya. Dia bergegas ke lemari pakaiannya, mengambil sebuah telepon selular yang tersembunyi di dasar lacinya, lantas menghubungi seseorang.
`Ya?` suara seorang lelaki menjawabnya. `Guru, aku telah kembali.`
`Bicaralah,` suara itu memerintah, terdengar senang mendengar suara Silas.
`Keempatnya mati. Tiga senechaux ... dan mahagurunya sendiri.`
Senyap sejenak, seolah untuk berdoa. `Kalau begitu, kusimpulkan, kau punya informasi itu.`
`Keempatnya berkata sama. Secara terpisah.` `Dan kau memercayai mereka?`
`Persamaan kata-kata mereka terlalu berlebihan untuk dianggap kebetulan belaka.`
Terdengar napas memburu. `Bagus. Tadi aku khawatir reputasi kelompok persaudaraan untuk menjaga kerahasiaan itu akan mereka pertahankan.`
`Bayangan kematian adalah motivasi yang kuat.`
`Jadi, muridku, ceritakan apa yang harus kutahu.`
Silas tahu bahwa sedikit informasi yang telah dia kumpulkan dari korbannya akan mengejutkan. `Guru, keempatnya meyakinkan tentang adanya clef de voute ... batu kunci yang legendaris itu.`
Silas mendengar tarikan napas cepat melaui teleponnya dan dia dapat merasakan kegembiraan gurunya. `Batu kunci itu. Betulbetul seperti yang kita perkirakan.`
Menurut cerita turun-temurun, kelompok persaudaraan itu telah menciptakan sebuah peta batu-sebuah clef de voute ... atau batu kunci sebuah batu ceper melengkung berukir yang mengungkap tempat peristirahatan terakhir dari rahasia besar kelompok persaudaraan itu ... informasi yang sangat berharga sehingga untuk melindunginyalah kelompok persaudaraan itu dibentuk.
`Saat kita memiliki batu kunci itu,` ujar Guru, `kita akan hanya kurang satu langkah lagi.`
`Kita sudah lebih dekat dari yang Anda kira. Batu kunci itu di sini, di Paris.`
`Paris? Luar biasa. Hampir terlalu mudah.`
Silas kemudian menceritakan kejadian-kejadian sebelumnya malam itu ... bagaimana keempat korbannya, pada saat mendekati kematian, telah mencoba mendapatkan kembali kehidupan tak bertuhan mereka dengan cara menceritakan rahasia mereka. Masing-masing telah menyampaikan kepada Silas cerita yang betulbetul sama, bahwa batu kunci tersebut memang tersembunyi di sebuah tempat yang pasti, di dalam salah satu gereja tua di Paris -Gereja Saint-Sulpice.
`Di dalam rumah Tuhan,` seru Guru. `Mereka betul-betul memperolokkan kita!`
`Selama berabad-abad.`
Guru terdiam, seolah membiarkan kemenangan saat itu meresap dalam dirinya. Akhirnya, dia berbicara. `Kau telah melakukan pelayanan besar bagi Tuhan. Kita telah menunggunya selama berabad-abad. Kau harus menemukan batu kunci itu untukku. Segera. Malam ini. Kau tahu risikonya.`
Silas tahu, risikonya sangat tak terhingga. Walaupun demikian, apa yang diminta Guru terasa sangat tidak mungkin. `Gereja itu merupakan sebuah benteng, terutama pada malam hari. Bagaimana aku dapat memasukinya?`
Dengan suara yang sangat meyakinkan dari seorang yarig sangat berpengaruh, Guru menjelaskan apa yang harus dilakukan Silas.
Ketika Silas menutup teleponnya, kulitnya merinding karena harapan.
Satu jam, katanya pada dirinya sendiri, bersyukur karena Guru memberinya kesempatan untuk melakukan penebusan dosa sebelum memasuki rumah Tuhan. Aku harus membersihkan diri dari dosa-dosaku hari ini. Dosa-dosanya hari ini bertujuan suci. Perang melawan musuh-musuh Tuhan telah dilakukan selama berabadabad. Pengampunan sudah terjamin.
Namun demikian, Silas tahu, pengampunan menuntut pengorbanan.
Setelah menarik tirai, dia menelanjangi dirinya dan berlutut di tengah kamarnya. Dia melihat ke bawah, memeriksa ikat pinggang berduri cilice-nya yang melingkar ketat pada pahanya. Semua pengikut The Way yang setia mengenakan peralatan itu-sebuah pengikat dari kulit, ditaburi mata kail dari metal tajam yang menancap ke daging sebagai pengingat yang tak putus akan penderitaan Kristus. Rasa sakit yang diakibatkan oleh alat tersebut juga membantu menghilangkan nafsu jasmaniah.
Hari ini Silas telah mengenakan cilice-nya lebih lama dari yang diharuskan, yaitu dua jam. Dia tahu, hari ini bukanlah hari biasa. Silas menggenggam kepala ikat pinggangnya, mempereratnya satu lubang lagi, dan meringis ketika mata kail menusuk lebih dalam ke dagingnya. Dia menghembuskan napasnya perlahan, menikmati rasa sakit yang merupakan ritual pembersihan dirinya.
Sakit itu baik, Silas berbisik, mengulang-ulang mantra kudus Bapa Josemaria Escriva-Guru Para Guru. Walau Escriva telah meninggal pada tahun 1975, kebijakannya tetap hidup, katakatanya masih tetap dibisikkan oleh ribuan pelayan setia di seluruh dunia ketika mereka berlutut di atas lantai dan melakukan tindakan kudus yang dikenal sebagai `pematian raga`.
Silas mengalihkan perhatiannya sekarang pada tali berat bersimpul yang tergulung rapi di lantai di sampingnya. Disiplin. Simpul-simpul itu berlumuran darah kering. Silas begitu bersemangat akan hasil pembersihan dirinya melalui penderitaannya. Dia mengucap doa dengan cepat. Kemudian, dengan menggenggam ujung tali itu, dia menutup matanya dan mengayunkan tali itu dengan keras melalui bahunya, sehingga dia merasakan pukulan simpul itu pada punggungnya. Dia melecutkannya lagi ke bahunya, mengiris dagingnya. Lagi dan lagi, dia mencambuki dirinya. Castigo corpus meum.
Akhirnya, dia merasakan darah mulai mengalir.
3
CUACA BULAN April yang segar dan kering mengalir melewati jendela yang terbuka di dalam Citroen ZX. Mobil itu meluncur ke selatan melewati Gedung Opera dan menyeberangi Place Uendome. Di tempat duduk penumpang, Robert Langdon merasa kota ini melaju dengan cepat melewatinya ketika ia berusaha menjernihkan pikirannya. Mandi cepat dengan pancuran dan bercukur telah menolong penampilan Langdon menjadi cukup pantas, namun perasaan cemasnya tak begitu berkurang. Gambar jasad kurator yang menakutkan tadi masih menancap di otaknya. Jaques Sauniere mati.
Langdon merasa sangat kehilangan atas kematian kurator itu. Walaupun selalu bersikap seperti pertapa, dedikasi Sauniere pada seni membuat dirinya dihormati. Buku bukunya tentang kode-kode rahasia yang tersembunyi dalam lukisan-lukisan Poussin dan Teniers adalah buku-buku teks kesukaan Langdon dalam kuliahnya. Pertemuan mereka malam ini telah sangat dinanti-nantikan Langdon, dan dia sangat kecewa ketika kurator itu tidak datang.
Kembali gambaran mayat kurator itu berkelebat dalam benaknya. Jacgues Sauniere melakukan itu pada dirinya sendiri? Langdon menoleh dan melihat ke luar jendela, mengusir bayangan itu dari pikirannya.
Di luar, kota itu baru saja memulai kegiatannya-para penjaja mendorong kereta gula-gula amandes, para pelayan membawa kantong sampah ke tepi jalan, sepasang kekasih yang kemalaman berjalan sambil saling bergelayut supaya tetap hangat diterpa angin beraroma kembang melati. Mobil Citroen mengatasi kekacauan kota itu dengan yakin. Sirene dua nadanya membelah lalu-lintas seperti pisau tajam.
`Le capitaine senang ketika dia tahu Anda masih berada di Paris malam ini,` ujar agen itu sambil mengemudi, untuk pertama kalinya berbicara sejak mereka meninggalkan hotel. `Kebetulan yang menguntungkan.`
Langdon sama sekali tidak merasa beruntung, dan kebetulan adalah sebuah konsep yang sama sekali tidak dipercayainya. Sebagai seseorang yang sepanjang hidupnya meneliti saling keterkaitan yang tersembunyi antara emblem-emblem dan ideologiideologi, Langdon melihat dunia sebagai sebuah sarang laba-laba yang terbentuk dari saling terkaitnya sejarah-sejarah dan kejadiankejadian. Hubungan itu mungkin saja tak terlihat, begitu dia ajarkan di depan kelas simbologi di Harvard, tetapi hubungan tersebut selalu ada, terkubur tepat di bawah permukaan.
`Universitas Amerika Paris memberi tahu tempat saya menginap, bukan?`, kata Langdon.
Agen itu menggelengkan kepalanya. `Interpol.`
Interpol, pikirnya. Tentu saja. Dia lupa bahwa permintaan yang tampak sepele akan pemeriksaan paspor saat chek-in di semua hotel di Eropa ternyaca lebih dari sekadar formalitas sepele itu peraturan hukum. Pada sembarang malam, di seluruh Eropa, agen interpol sanggup melacak dengan pasti siapa sedang tidur di mana. Menemukan Langdon tidur di Ritz mungkin hanya butuh waktu lima detik.
Begitu Citroen itu mempercepat lajunya ke arah selatan membelah kota, Menara Eiffel yang anggun mulai tampak, menjulang ke angkasa, di arah kanan. Saat menatapnya, Langdon teringat pada Vittoria; dia terkenang janji main-main mereka untuk selalu bertemu enam bulan sekali di cempat-tempat romantis di seluruh dunia. Menara Eiffel, perkiraan Langdon, ada juga dalam daftar mereka. Sayangnya, ciuman terakhir Langdon pada Vittoria adalah ketika mereka di Roma lebih dari setahun yang lalu.
`Anda pernah menaiki perempuan ini?` tanya agen itu sambil menatap menara itu.
Langdon melihat ke atas, jelas dirinya tak mengerti. `Maaf?` `Dia sangat cantik, bukan?` ujar agen itu lagi sambil mengarah ke Menara Eiffel. `Sudah pernah menaikinya?`
Langdon menggulung matanya ke atas. `Belum. Saya belum pernah menaiki menara itu.`
`Dia simbol Prancis. Menurutku, dia sempurna.`
Langdon mengangguk begitu saja. Simbologi sering mengungkap bahwa Prancis-negeri yang terkenal akan kesan jantan dan hidung belang, juga pemimpin-pemimpin mereka yang kecil dan pencemas, Napoleon dan Pepin si Pendek-seolah tak dapat memilih simbol yang lebih baik daripada sekadar sebuah lingga setinggi seribu kaki.
Saat mereka tiba di persimpangan di Rue de Rivoli, lampu lalu lintas menyala merah, namun Citroen itu tak memperlambat lajunya. Agen itu mengarahkan sedannya menyeberangi persimpangan itu dan meluncur cepat ke arah area berpepohonan, Rue Castiglione, yang merupakan gerbang utara masuk ke Taman Tuileries yang tersohor itu-ini adalah Central Park ala Paris. Umumnya para turis salah menerjemahkan Jardines des Tuileries sebagai sebuah taman penuh dengan ribuan tulip mekar, namun Tuileries sebenarnya berkaitan dengan sesuatu yang sangat kurang rornantis. Taman ini dulunya merupakan penggalian sumur besar yang sangat tercemar. Dari sinilah para kontraktor Paris menambang tanah liat untuk membuat genteng merah yang sangat terkenal untuk kota itu, atau tuiles.
Ketika mereka memasuki taman yang sunyi itu, agen itu merogoh ke bawah dasbor untuk mematikan sirene yang meraung. Langdon menghembuskan napasnya, menikmati kesenyapan yang tiba-tiba itu. Di luar mobil, sinar lampu mobil yang pucat jatuh ke atas jalan kerikil di taman itu; derak-derak ban mobil di atasnya seperti alunan yang menghipnotis. Langdon selalu memandang Tuileries sebagai tanah suci. Ini adalah taman tempat Claude Monet bereksperiman dengan bentuk dan warna, dan memberinya inspirasi pada 'aliran lukisannya, impresionisme. Namun, malam ini taman ini beraura penuh firasat yang aneh.
Citroen membelok ke kiri sekarang, mengarah ke barat ke bulevar pusat taman ini. Mengelilingi kolam bulat, pengemudi itu memotong jalan terpencil dan memasuki lapangan segi empat.
Sekarang Langdon dapat melihat ujung Taman Tuileries, ditandai dengan gerbang batu.
Arc du Carrousel.
Walau dulu ritual orgi pernah diadakan di Arc du Carrousel, para pencinta kesenian memuja tempat ini karena alasan yang betul-betul lain. Dari tanah lapang di ujung Tuileries ini bisa terlihat empat museum kesenian terindah di dunia ... satu di setiap mata angin.
Dari jendela sebelah kanan, ke arah selatan menyeberangi Sungai Seine dan hotel Quai Voltaire, Langdon dapat melihat cahaya lampu bagian muka stasiun kereta api tua-sekarang menjadi Musee d'Orsay yang anggun. Mengerling ke kiri, dia dapat mencapai atap dari gedung ultra modern Pompidou Centre, yang merupakan Museum Kesenian Modern. Di belakangnya, ke arah barat, Langdon tahu, obelisk Ramses kuno menjulang melebihi pepohonan, menandai sebuah museum lagi, Musee du Jeu de Paume.
Dan, lurus ke depan, ke arah timur, melewati gerbang itu, Langdon dapat melihat monolit istana Renaissance yang telah menjadi museum paling tersohor di dunia.
Musee du Louvre.
Langdon merasa takjub ketika matanya tak mampu menangkap keseluruhan bangunan besar itu. Di seberang sebuah plaza yang sangat luas, bagian muka Museum Louvre yang mencolok tampak menjulang bagai benteng, ke langit Paris. Berbentuk seperti tapal kuda raksasa, Louvre merupakan gedung terpanjang di Eropa, merencang lebih panjang daripada tiga kali Eiffel yang dibaringkan. Plaza terbuka seluas sejuta kaki di antara sayap-sayap museum bahkan tak dapat menyaingi luas bagian muka museum. Langdon pernah berjalan-jalan di dalam Louvre, dan dia ternyata menempuh tiga mil perjalanan.
Diperkirakan, diperlukan kunjungan lima hari bagi seorang wisatawan untuk dapat menikmati 65.300 benda seni di dalam gedung ini dengan saksama. Namun demikiam, umumnya wisatawan memilih pengalaman singkat yang Langdon sebut sebagai `Louvre Lice` yaitu kunjungan singkat ke museum itu yang langsung menuju ke tiga objek yang paling tersohor, Mona Lisa, Venus de Milo, dan Winged Victory. Art Buchwald pernah membual bahwa dia melihat ketiga adikarya itu hanya dalam waktu 5 menit dan 56 detik saja.
Agen itu mengeluarkan walkie-talkie genggam dan berbicara dalam bahasa Prancis dengan sangac cepat, memberitahukan bahwa Langdon telah tiba. Monsieur Langdon est arrive. Deux minutes. ` Sebuah konfirmasi yang tak jelas terdengar.
Agen itu menyimpan kembali alat tadi, lalu menoleh kepada Langdon. `Anda akan bertemu dengan Capiotaine di pintu masuk utama.`
Agen itu mengabaikan tanda larangan masuk di plaza, menyalakan kembali mesin mobil, dan menjalankan Citroen itu melintasi tepi jalan. Pintu masuk utama Louvre sudah terlihat kini, muncul begitu saja di kejauhan, dikelilingi oleh tujuh kolam segi uga dengan air mancur yang diterangi cahaya.
La Pyramide.
Pintu masuk baru ke Louvre Paris ini telah menjadi sama terkenalnya dengan museum itu sendiri. Piramid kaca yang kontroversial dan bergaya neomodern yang dirancang oleh seorang arsitek Amerika kelahiran Cina, LM. Pei, ini masih mengundang cemoohan dari kaum tradisionalis yang menilai karyanya itu merusak harga diri halaman gedung yang bergaya Renaissance. Goethe telah menggambarkan arsitektur sebagai musik beku, dan pengkritik Pei menggambarkan piramid ini sebagai kuku menggaruk papan tulis. Namun, para pengagum yang progresif memuja piramid tembus pandang Pei yang tingginya tujuh puluh satu kaki itu sebagai sinergi dari struktur modern dan kuno yang mencengangkan -sebuah simbol keterkaitan antara yang lama dan yang baru- yang membantu mengantar Louvre memasuki milenium berikutnya.
`Anda suka piramid kami?` tanya agen itu.
Langdon mengerutkan keningnya. Orang Prancis, tampaknya, senang menanyakan ini kepada orang Amerika. Ini pertanyaan yang menjebak, tentu saja. Mengakui bahwa kau menyukai piramid itu membuatmu menjadi orang Amerika yang tak berselera, sementara mengatakan tidak suka berarti menghina orang Prancis. `Miterrand itu lelaki yarg berani,` jawab Langdon, menghindari perbedaan mereka. Presiden Prancis yang terdahulu yang telah memesan piramid itu dikabarkan menderita `kompleks Firaun` (Pharaob complex). Franqois Miterrand, yang sendirian bertanggung jawab atas terisinya Paris dengan obelisk-obelisk, seni, dan artifakartifak Mesir, adalah orang yang mempunyai kecintaan terhadap budaya Mesir, begitu rupa sehingga orang Prancis menyebutnya sebagai Sphinx, sampai sekarang.
`Siapa nama kapten itu?` tanya Langdon, mengganti topik pembicaraan.
`Bezu Fache,` jawab pengemudi itu, ketika mendekati pintu masuk utama piramid. `Kami memanggilnya le Taureau.` Langdon mengerling padanya, bertanya-tanya apakah setiap orang Prancis punya julukan hewan yang misterius. `Anda memanggil kapten Anda `si Banteng'?`
Orang itu mengangkat alisnya. `Bahasa Prancis Anda ternya lebih baik daripada yang Anda akui, Monsieur Langdon.` Bahasa Prancisku sangat buruk, pikir Langdon, tetapi peng tahuanku tentang zodiak sangat bagus. Taurus pastilah Banteng Astrologi adalah simbol yang sama di seluruh dunia.
Agen itu menghentikan mobilnya dan menunjuk di antat dua air mancur ke arah pintu besar di piramid itu. `Itulah pintu masuknya. Semoga berhasil, Monsieur.`
`Anda tidak ikut?` .
`Tugas saya adalah meninggalkan Anda di sini. Saya punya urusan lain yang harus dikerjakan.`
Langdon mendesah dan keluar mobil. Ini sirkusmu, nikmati saja.
Agen itu menyalakan mesin mobil dan bergegas pergi. Ketika Langdon berdiri sendirian dan menatap lampu belakang mobil yang menjauh, dia sadar bahwa dia bisa saja berjalar keluar halaman ini, memanggil taksi, kembali ke hotel, lalu tidur. Namun ada sesuatu yang mengatakan bahwa itu gagasan buruk. Saat berjalan di antara kabut air mancur, Langdon merasa tidak nyaman, seolah dia sedang memasuki ambang pintu maya menuju dunia lain. Kejadian malam itu, yang seperti mimpi, kembali membayanginya. Dua puluh menit yang lalu dia masih tidur di kamar hotelnya. Sekarang dia berdiri di depan piramid tembus pandang yang dibangun oleh sang Sphirix, ditunggu oleh seorang polisi yang mereka panggil si Banteng.
Aku rerperangkap dalam lukisan Salvador Dali, pikirnya. Langdon melangkah ke pintu masuk utama-sebuah pintu putar besar. Serambi di belakangnya remang-remang dan tak ada seorang pun di sana.
Aku barus mengetuk pintu ini?
Langdon bertanya-tanya adakah ahli Mesir dari Harvard yang pernah mengetuk pintu depan sebuah piramid dan menunggu jawaban. Dia mengangkat tangannya untuk menggedor kaca, tetapidari kegelapan di bawah, sesosok manusia muncul, menaiki tangga berbelok. Lelaki itu berperawakan pendek gemuk dan hitam hampir seperti orang Neanderthal, berpakaian jas double-breast berwarna gelap yang tampaknya menutupi kebidangan bahunya. Dia berjalan dengan tungkai-tungkai sangat terlatih dalam berjongkok sehingga menjadi sangat kuat. Dia sedang berbicara lewat telepon selularnya, namun menyelesaikan pembicaraan ketika tiba di depan Langdon. Dia memberi isyarat kepada Langdon untuk masuk.
`Saya Bezu Fache,` katanya ketika Langdon masuk melalui pintu putar. `Kapten Central Directorate Judicial Police.` Nada suaranya pas-bergumam parau ... seperti badai yang hendak tiba.
Langdon mengangsurkan tangannya untuk berjabat tangan. `Robert Langdon.`
Tangan Fache yang besar membungkus tangan Langdon dengan sangat kuat.
Aku sudah melihat foto itu,` ujar Langdon. `Agen anda mengatakan bahwa Jaques Sauniere sendiri yang melakukan.` `Pak Langdon,` mata hitam Fache menatap. `Apa yang Anda lihat di foto itu baru awal dari apa yang dilakukan Sauniere.`
4
KAPTEN BEZU Fache bergaya seperti sapi jantan yang sedang marah, dengan bahu bidang yang tertarik ke belakang dan dagu menempel kuat pada dadanya. Rambut hitamnya disisir ke belakang dengan minyak, memperjelas anak rambut yang meruncing seperti anak panah pada dahinya yang membagi keningnya yang menonjol dan maju seperti haluan kapal perang. Ketika dia bergerak maju, matanya seperti menghanguskan tanah di depannya, menyinarkan kejernihan yang berapi-api, menggambarkan reputasi keberaniannya yang luar biasa dalam menghadapi segala masalah.
Langdon mengikuti kapten itu menuruni anak tangga pualam yang terkenal itu ke dalam atrium dalam di bawah piramid kaca. Saat mereka turun, mereka melewati dua orang agen Polisi Judisial bersenapan mesin. Jelas sudah: tak seorang pun dapat masuk atau keluar malam ini tanpa restu dari Kapten Fache.
Turun ke lantai dasar, Langdon melawan perasaan ragu. Penampilan Fache sama sekali tidak ramah, dan Louvre sendiri beraura makam pada jam seperti ini. Tangga itu, seperti gang gelap dalam gedung bioskop, disinari oleh lampu tapak yang tak kentara yang ditanam pada setiap anak tangganya. Langdon dapat mendengar bunyi langkahnya sendiri menggaung pada kaca di atas kepalanya. Ketika dia melihat ke atas, dia melihat helai-helai kabut yang bersinar dari semprotan air mancur di luar atap tembus pandang itu.
`Anda suka?` tanya Fache, menunjuk ke atas dengan dagu lebarnya.
Landon mendesah, terlalu letih untuk bermain-main. `Ya, piramid Anda luar biasa.`
Fache menggumam. `Merupakan bekas cakaran Pada wajah Paris.`
Kena kau! Langdon merasa bahwa tuan rumahnya adalah orang yang sulit diambil hati. Dia bertanya-tanya apakah Fache tahu bahwa piramid ini, atas permintaan tegas Presiden Mitterand, telah dibangun dengan 666 kaca jendela, permintaan aneh yang selalu menjadi topik panas di kalangan penggemar konspirasi yang menyatakan bahwa 666 adalah angka setan.
Langdon memutuskan untuk tidak membicarakannya.
Ketika mereka tiba di serambi bawah tanah, ruangan yang menganga berangsur-angsur muncul dari kegelapan. Dibangun di kedalaman 57 kaki di bawah permukaan tanah, ruang lobi Louvre yang baru dibangun seluas 70.000 kaki persegi itu terentang seperti gua tak berujung. Didirikan dengan pualam berwarna kuning tua yang hangat yang sangat sesuai dengan bebatuan berwarna madu di bagian muka Louvre di atas, ruang bawah tanah ini biasanya hidup dengan cahaya matahari dan para wisatawan. Malam ini, lobinya gelap dan mati, memberi kesan seluruh ruangan ini menjadi dingin dan beratmosfer ruang bawah tanah.
`Dan para petugas keamanan museum yang biasa?` tanya Langdon.
`En guarantaine,`jawab Fache, dengan suara seolah Langdon telah mempertanyakan integritas anggota timnya. `Tentu saja, seseorang yang tidak boleh masuk telah berhasil masuk malam ini.
Semua penjaga malam Louvre sekarang sedang diinterogasi di Sayap Sully. Agen-agenku sendiri telah mengambil alih keamanan museum malam ini.`
Langdon mengangguk, bergerak cepat supaya tak tertinggal oleh Fache.
`Sejauh mana Anda mengenal Jacques Sauniere?` tanya kapten itu.
`Sebenarnya saya sama sekali tidak mengenalnya. Kami belum pernah bertemu.`
Fache tampak terkejut. `Pertemuan pertama kalian terjadi malam ini, bukan?`
`Kami berencana untuk bertemu di lobi penerima tamu Universitas Amerika setelah saya selesai memberikan ceramah, tetapi dia tak pernah muncul.`
Fache menulis beberapa catatan dalam buku kecilnya. Ketika mereka berjalan, Langdon melihat sekilas piramid Louvre yang tak banyak diketahui orang, La Pyramide Invercee-sebuah atap kaca terbalik yang besar sekali yang tergantung di langit-langit seperti sebuah stalaktit di tengah sebuah mezanin. Fache membawa Langdon menaiki tangga pendek ke arah mulut gerbang sebuah terowongan. Di atasnya tertulis: DENON. Sayap Denon adalah salah satu dari tiga bagian utama Louvre yang paling ternama.
`Siapa yang meminta pertemuan malam ini?` tanya Fache tiba-tiba. `Anda arau dia?`
Pertanyaan ini terdengar aneh. `Pak Sauniere,` jawab Langdon ketika mereka memasuki terowongan itu. `Sekretarisnya menghubungiku beberapa minggu yang lalu lewat e-mail. Katanya kurator itu telah mendengar bahwa saya akan memberikan ceramah di Paris bulan ini dan ingin mendiskusikan sesuatu saat saya di sini.`
`Mendiskusikan apa?`
`Saya tidak tahu. Seni, kukira. Kami mempunyai minat yang sama.`
Fache tampak ragu. `Anda tak tahu akan membicarakan apa pada pertemuan itu?`
Langdon memang tidak tahu. Dia juga sangat penasaran saat itu, namun merasa tidak enak menanyakan secara rinci. Jacques Sauniere terkenal suka hidup sendiri dan hanya bertemu dengan orang lain beberapa kali saja; Langdon sudah sangat berterima kasih mendapatkan kesempatan bertemu dengannya.
`Pak Langdon, dapatkah Anda, setidaknya menerka, apa kira kira, yang ingin didiskusikan oleh korban dengan Anda pada malam dia terbunuh? Itu mungkin akan sangat membantu.`
Pertanyaan yang menohok itu sangat membuat Langdon tidak nyaman. `Saya betul-betul tidak dapat membayangkannya. Saya juga tidak menanyakannya. Saya sudah merasa terhormat beliau menghubungi saya. Saya mengagumi karya beliau dan menggunakan buku-buku beliau dalam kuliah saya.`
Fache mencatat itu dalam bukunya.
Kedua lelaki itu sekarang sudah separuh jalan memasuki terowongan Sayap Denon, dan Langdon dapat melihat eskala[or kembar di kejauhan, keduanya tak bergerak.
`Jadi Anda memiliki minat yang sama dengannya?` tanya Fache.
`Ya. Kenyataannya, tahun lalu banyak saya habiskan untuk menulis konsep sebuah buku yang berhubungan dengan keahlian utama Pak Sauniere. Saya menunggu bisa mengambil otaknya.` Fache menatapnya. `Maaf?`
Tampaknya idiom itu tak dimengerti sang kapten. `Saya menunggu untuk dapat mempelajari pemikirannya pada topik tersebut.`
`O, begitu. Dan apa topiknya?`
Langdon ragu-ragu, tak yakin bagaimana dia akan mengatakannya. `Pada intinya, naskah itu tentang ikonografi pemujaan para dewi - konsep kesucian perempuan dan seni serta simbol simbol yang terkait dengannya.`
Fache mengusap rambutnya dengan tangan gemuknya. `Dan Sauniere tahu banyak tentang ini?`
`Tak ada yang tahu lebih banyak daripada dia.` `O, begitu.`
Langdon merasa bahwa sesungguhnya Fache tidak mengerti sama sekali. Jacques Sauniere dipandang sebagai ahli ikonografi para dewi yang utama di bumi ini. Sauniere tidak hanya memiliki semangat pribadi akan benda-benda keramat yang berkaitan dengan kesuburan, pemujaan dewi, Wicca, dan perempuan suci. Dalam dua puluh tahun masa jabatannya sebagai kurator, Sauniere telah membantu Museum Louvre mengumpulkan koleksi terbesar akan seni dewi di muka bumi, kampak-kampak labrys dari para pendeta Yunani suci tertua di Delphi, tongkat-tongkat tabib dari emas, ratusan Tjet ankhs yang menyerupai malaikat-malaikat kecil berdiri, perkusi sistrum yang digunakan di zaman Mesir kuno untuk mengusir roh-roh jahat, dan kumpulan patung yang menggambarkan Horus sedang disusui oleh Dewi Isis.
`Mungkin Jacques Sauniere tahu tentang naskah Anda?` Fache memberikan masukan. `Dan dia menjadwalkan pertemuan ini untuk membantu Anda dalam penulisan buku itu.`
Langdon menggelengkan kepalanya. `Sebenarnya belum ada yang tahu tentang naskah saya itu. Masih dalam bentuk konsep, dan saya belum memperlihatkannya kepada siapa pun, kecuali editor saya.`
Fache terdiam.
Langdon tidak menambahkan alasan mengapa dia tidak memperlihatkan naskah tersebut kepada orang lain. Konsep setebal tiga ratus halaman itu - sementara ini berjudul Symbols of the Lost Sacred Feminine - mengemukakan beberapa interpre[asi yang sangat nonkonvensional dari ikonografi religius yang baku. Buku ini pasti akan menjadi kontroversial.
Sekarang, ketika Langdon mendekati eskalator yang tak bergerak tadi, dia berhenti, menyadari bahwa Fache sudah tak bersamanya lagi. Dia memutar tubuhnya, dan menemukan Fache sedang berdiri beberapa yard darinya, di depan lik yang berfungsi. `Kita naik lift saja,` ujar Fache ketika pintu lift terbuka. `Saya yakin, Anda tahu letak galeri itu jauh jika kita berjalan kaki.`
Walau dia tahu lift itu akan mempercepat perjalanan mereka ke dua tingkat ke atas ke Sayap Denon, Langdon tetap rak bergerak. `Ada masalah?` tanya Fache menahan pintu, tampak tak sabar. Langdon menarik napas, menatap lagi dengan penuh hasrat, ke eskalator dengan udara terbuka di atasnya. Tidak ada masalah sama sekali, dia menipu dirinya sendiri, menyeret kakinya menuju lift. Di masa kecilnya, Langdon pernah terjatuh ke dalam sumur sempit yang sudah ditinggalkan dan hampir mati menjejak-jejakkan kakinya di air dalam ruang sempit selama berjam-jam sebelum akhirnya diselamatkan. Sejak saat itu, dia memiliki fobia akan ruangan tertutup-lift, kereta bawah tanah, lapangan squash. Lift adalah mesin yang betul-betul aman, kata Langdon berkali-kali pada dirinya sendiri, walau tanpa pernah memercayainya. Itu hanya kotak metal kecil tergantung di dalam lorong tertutup. Sambil menahan napas, dia melangkah masuk, merasakan perasaan gelitik adrenalin yang tak asing ketika pintu lift tertutup.
Dua lantai. Sepuluh detik.
`Anda dan Pak Sauniere,` ujar Fache ketika lift mulai bergerak, `kalian sama sekali belum pernah berbicara? Tak pernah bersurat-suratan? Tak pernah saling berkirim barang lewat pos?`
Pertanyaan aneh lagi. Langdon menggelengkan kepalanya. `Tidak. Tidak pernah.`
Fache menegakkan kepalanya, seolah mencatat fakta itu dalam hati. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, dia hanya menatap pintu pintu dari chrome itu.
Ketika mereka naik, Langdon mencoba memusatkan perhatiannya kepada apa saja selain empat tembok yang mengelilinginya. Dalam pantulan pintu lift yang mengilap, dia melihat jepir dasi sang kapten-sebuah salib perak dengan tiga belas batu onyx hitam tertanam. Langdon agak heran. Simbol itu dikenal sebagai sebuah crux gemmata-salib dengan tiga belas batu permataideogram Kristen bagi Kristus dan dua belas rasul. Namun begitu, Langdon tak mengira seorang kapten polisi Prancis akan memamerkan simbol keagamaan dengan begitu terbuka. Lagi pula, ini Prancis; Kristen bukanlah sebuah agama di sini, tidak seperti hak lahir.
`Ini sebuah crux gemmata,` kata Fache tiba-tiba.
Kaget, Langdon mengerling dan melihat mata Fache yang sedang menatapnya pada pantulan pintu lift.
Lift itu tersentak berhenti, dan pintunya terbuka.
Langdon melangkah keluar dengan cepat. Dia sangat ingin berada di ruangan luas yang dihasilkan oleh langit-langit tinggi galeri-galeri Louvre yang tersohor itu. Namun, ternyata dia melangkah ke dunia yang sama sekali berbeda dari yang dia perkirakan.
Karena terkejut, Langdon segera berhenti.
Fache menatapnya. `Pak Langdon, saya kira Anda belum pernah melihat Louvre pada jam tutup seperti ini. Bukan begitu?` Kukira tidak, pikir Langdon, mencoba bersikap tenang. Biasanya, galeri-galeri Louvre disinari cahaya terang benderang, namun malam ini begitu gelap. Alih-alih lampu tipis putih biasa yang bersinar dari atas ke bawah, sebuah kilau merah yang bisu tampak memancar dari atas, dari papan-papan-potongan-potongan cahaya merah yang menimpa lantai keramik.
Ketika menatap koridor yang suram, Langdon sadar, dia seharusnya sudah memperkirakan pemandangan seperti ini. Sebenarnya, semua galeri besar menggunakan lampu merah pada malam hari-ditempatkan dengan strategis, rendah, tidak mencolok sinarnya sehingga cukup bagi penjaga malam unmk mengawasi lorong namun sekaligus menjaga keawetan warna lukisan-lukisan sehingga tidak cepat pudar karena terlalu banyak disinari cahaya. Malam ini, museum itu memiliki kesan yang hampir menyesakkan napas, gayangan-bayangan panjang mengganggu di mana-mana, dan langit-langit yang menjulang tinggi dan berkubah menjadi tampak seperti ruang kosong hitam yang rendah.
`Ke sini,` ujar Fache, membelok tajam ke kanan dan memperlihatkan serangkaian galeri yang saling berhubungan.
Langdon mengikutinya. Matanya mulai terbiasa dengan kegelapan. Semua di sekitarnya, lukisan-lukisan berukuran besar, mulai menjadi seperti foto-foto yang diperbesar di depannya dalam sebuah ruang gelap yang sangat besar ... mata mereka seperti mengikutinya ketika dia bergerak menyusuri ruangan-ruangan itu. Dia dapat merasakan udara beraroma tajam khas museum -sebuah sari pelepasan ion kering yang mengisyaratkan adanya karbon sebuah produk industri, penyaring arang untuk pencegahan kelembaban yang bekerja sepanjang hari untuk mengatasi korosif karbon dioksida yang dihirup para pengunjung.
Kamera keamanan dipasang tinggi pada tembok, memberi tahu para pengunjung dengan jelas: Kami melihat Anda. Jangan sentuh apa pun.
`Semua itu betul-betul kamera?` tanya Langdon sambil menunjuk pada kamera-kamera itu.
Fache menggelengkan kepalanya. `Tentu saja tidak.` Langdon tidak terkejut. Pengawasan melalui video dalam museum sebesar ini berbiaya sangat mahal dan sama sekali tidak efektif Dengan galeri-galeri yang begitu luas, Louvre akan memerlukan ratusan teknisi untuk memonitor video-video itu. Umumnya museum-museum besar seperti ini sekarang menggunakan `pengamanan dengan cara pengurungan`. Lupakan pengusiran pencuri ke luar. Kurung mereka di dalam. Pengurungan diaktifkan setelah jam tutup, dan jika seorang pencuri memindahkan barang seni, jalan-jalan keluar galeri itu akan segera tertutup, dan si pencuri sudah berada di balik terali sebelum polisi datang.
Suara-suara terdengar bergema di sepanjang koridor marmer. Suara itu tampaknya berasal dari sebuah ruangan istirahat yang besar yang berada di sebelah kanan depan. Sinar terang memancar ke gang itu.
`Ruang kerja kurator itu,` kata sang kapten.
Ketika Fache dan Langdon bergerak mendekati ruangan itu, Langdon mengamati dari gang pendek ke dalam ruang kerja Sauniere yang mewah berperabot kayu yang hangat, lukisan-lukisan adikarya tua, dan sebuah meja antik besar sekali yang di atasnya berdiri patung kesatria berbaju besi lengkap setinggi dua kaki. Beberapa agen polisi sibuk menelepon dan mencatat di dalam ruangan itu. Salah satunya duduk di meja Sauniere, mengetik pada laptopnya. Tampaknya ruang kerja pribadi kurator itu sudah menjadi pos komando DCPJ sementara untuk malam ini.
`Mesieurs, ` seru Fache, dan orang-orang itu menoleh. `Ne nous derangez pas sous aucun pretexte. Entendu?`
Semua orang di ruangan itu mengerti dan mereka mengangguk.
Langdon telah cukup sering menggantungkan tanda NE PAS DERANGEZ di pintu kamar hotel, sehingga dia mengerti apa maksud sang kapten. Fache dan Langdon tidak boleh diganggu dengan alasan apa pun.
Mereka kemudian meninggalkan sekelompok polisi itu dan memasuki gang gelap. Tiga puluh yard ke depan tampak pintu gerbang menuju ke bagian Louvre yang paling tersohor, La Grande Galerie-sebuah koridor yang tampaknya tak berujung yang berisi adikarya Italia yang paling berharga. Langdon sudah mengerti bahwa di sinilah tubuh Sauniere tergeletak; lantai parket Galeri Agung yang terkenal itu sama persis dengan yang dilihatnya di Polaroid.
Ketika mereka mendekat, Langdon melihat pintu masuk ditutup dengan jeruji besi besar yang tampak seperti yang digunakan di benteng-benteng abad pertengahan untuk menahan gerombolan perampok.
`Keamanan pengurungan,` ujar Fache, ketika mereka mendekati jeruji itu.
Bahkan dalam kegelapan, barikade itu terlihat mampu menahan serangan sebuah tank. Dari luar, Langdon mengamati melalui jeruji itu ke dalam Galeri Agung yang tampak seperti guagua besar yang berpenerangan redup.
`Anda dulu, Pak Langdon,` kata Fache. Langdon menoleh. `Saya dulu? Ke mana?` Fache menunjuk ke lantai pada dasar jeruji itu.
Langdon melihat ke bawah. Dalam kegelapan, dia tak dapat rnelihat. Barikade itu naik kira-kira dua kaki, sehingga terbuka sedikit di bawah.
`Area ini masih terlarang bagi keamanan Louvre,` kata Fache. `Tim saya dari Police Technique et Scientique baru saja menyelesaikan penyidikan mereka.` Dia menunjuk ke celah di bawah. `Silakan menyelinap ke bawah.`
Langdon menatap ke lowangan sempit di kakinya, dan kemudian pada jeruji kokoh. Dia bercanda, kan? Barikade itu tampak seperti guillotine yang siap menghancurkan penyelinap.
Fache menggumam dalam bahasa Prancis dan melihat jam tangannya. Kemudian dia berlutut dan merayap dengan tubuh besarnya di bawah jeruji itu. Tiba di seberang, dia berdiri dan menatap Langdon melalui jeruji itu.
Langdon mendesah. Dengan meletakkan kedua telapak tangannya pada parket berpelitur, ia berbaring pada perutnya dan merayap ke depan. Ketika dia menerobos, kerah jas Harris-nya tersangkut dan punggungnya menyentuh jeruji besi itu.
Halus sekali, Robert, pikirnya, meraba-raba dan akhirnya berhasil merayap. Ketika berdiri, Langdon mulai khawatir kalau ini akan menjadi malam yang panjang.
5
MURRAY HILL. Place-Markas Besar Nasional Opus Dei yang baru dan pusat konferensi terletak di 243 Lexington Avenue di New York City. Dengan harga hanya sekitar 47 juta dolar Amerika, menara berluas 133.000 kaki persegi itu terbungkus oleh batu bata merah dan batu kapur Indiana. Dirancang oleh May & Pinska, gedung itu berisi seratus kamar tidur, enam ruang makan, perpustakaan-perpustakaan, ruangruang duduk, ruang-ruang rapat, dan ruangruang kerja. Lantai 2, 8, dan 16 terdiri atas kapel-kapel, berornamen hiasan-hiasan dari kayu dan pualam. Lantai 17 seluruhnya diperuntukkan sebagai tempat tinggal. Laki-laki memasuki gedung itu dari pintu-pintu masuk utama di Lexington Avenue; perempuan masuk melalui jalan samping dan `dipisahkan secara akustik dan visual` dari lelaki selama berada di dalam gedung itu.
Di awal malam ini, di dalam tempat perlindungannya di apartemen penthouse-nya, Uskup Manuel Aringarosa telah mengemas pakaiannya dalam tas bepergian kecil dan mengenakan jubah hitam tradisional. Biasanya dia mengenakan ikat pinggang ungu, namun malam ini dia akan bepergian di tengah-tengah orang banyak, dan dia tidak ingin menarik perhatian karena kedudukannya yang tinggi. Hanya orang bermata jeli yang akan dapat melihat cincin emas keuskupan 14 karat yang dipakainya, dengan batu permata ametis ungu, berlian besar, dan songkok mitrecrozier applique buatan tangan. Sambil menyandang tas bepergian itu pada bahunya, Aringarosa berdoa lirih dan meninggalkan apartemennya, turun ke lobi menemui sopirnya yang akan mengantarnya ke bandara.
Sekarang, dia sudah duduk di dalam pesawat komersial yang akan membawanya ke Roma. Aringarosa melongok ke luar jendela, ke Samudra Atlantik yang gelap. Matahari telah tenggelam, tetapi Aringarosa tahu bahwa bintangnya sendiri tengah terbit. Malam ini, perang itu akan kumenangkan, pikirnya, merasa kagum karena hanya beberapa bulan yang lalu dia merasa begitu tak kuasa melawan tangan yang berniat menghancurkan kerajaannya.
Sebagai Direktur Utama Opus Dei, Uskup Aringarosa telah menghabiskan satu dekade dalam hidupnya menyebarkan pesan dari `Karya Tuhan` secara harfiah, Opus Dei. Jemaatnya, didirikan pada tahun 1928 oleh pendeta Spanyol Josemaria Escriva, mengembangkan sebuah gerakan kembali ke nilai Katolik konservatif dan mendorong para pengikutnya untuk memperbanyak pengorbanan-pengorbanan dalam hidup mereka sendiri sebagai usahanya menjalankan Karya Tuhan.
Filsafat Opus Dei pada mulanya berakar di Spanyol sebelum rezim Franco, namun dengan dipublikasikannya buku spiritual Josemaria Escriva pada tahun 1934 berjudul The Way-berisi 999 butir meditasi untuk melaksanakan Karya Tuhan dalam kehidupan seseorang-maka pesan Escriva itu meledak di seluruh dunia. Sekarang, dengan The Way terjual lebih dari empat juta kopi dalam 42 bahasa, Opus Dei merupakan kekuatan yang mendunia. Balairung-balairungnya, pusat-pusat pengajaran dan bahkan universitasuniversitasnya dapat dijumpai di kota-kota metropolitan besar di dunia. Opus Dei merupakan organisasi Katolik yang berkembang paling cepat dan terkaya di dunia. Sialnya, Aringarosa telah mempelajari, di era kesinisan pada agama, cara pemujaan, dan khotbahkhotbah jarak jauh, peningkatan kemakmuran dan kekuatan Opus Dei mengundang kecurigaan.
`Banyak orang menyebut Opus Dei sebagai perkumpulan pencucian otak,` para wartawan sering memancing pernyataan itu. `Yang lainnya lagi menyebut Anda sebagai kelompok rahasia Kristen yang ultrakonservatif. Yang mana Anda sebenarnya?`
`Opus Dei bukan keduanya,` uskup itu akan menjawabnya dengan sabar. `Kami adalah Gereja Katolik. Kami adalah jemaat Katolik yang telah memilih, sebagai prioritas kami, untuk mengikuti doktrin Katolik sekuat rnunghin dalam kehidupan seharihari.
`Apakah Karya Tuhan harus memasukkan sumpah kesucian, berzakat, dan penebusan dosa dengan cara mencambuk diri dan mengikat diri dengan cilice?`
‘Anda hanya menggambarkan sebagian kecil dari populasi jemaat Opus Dei,` ujar Aringarosa. `Ada banyak tingkat kepatuhan. Ribuan anggota Opus Dei menikah, mempunyai keluarga, dan menjalankan Karya Tuhan dalam komunitas mereka masing-masing. Yang lainnya memilih hidup ekstrem di dalam biara kami. Pilihan-pilihan ini pribadi sifatnya, tetapi setiap orang di Opus Dei mempunyai tujuan yang sama, yaitu memperbaiki dunia dengan cara menjalankan Karya Tuhan. Tentu saja ini merupakan suatu pencarian yang sangat mulia.`
Walau begitu, pertimbangan akal sehat jarang berhasil. Media massa selalu cenderung ke arah skandal, dan Opus Dei, seperti Juga umumnya organisasi besar lainnya, mempunyai, di antara anggota-anggotanya, sedikit orang yang menyimpang yang mengejar bayangan.
Dua bulan yang lalu, suatu kelompok Opus Dei di sebuah universitas di barat bagian tengah tertangkap basah membius peng’kut barunya dengan obat yang dapat menimbulkan halusinasi, dalam usaha mereka untuk membuat orang itu mencapai keadaan eforia sehingga anggota baru itu akan merasakannya sebagai pengalaman religius. Seorang mahasiswa lainnya telah menggunakan ikat pinggang berduri cilice-nya lebih sering daripada yang dianjurkan, yaitu dua jam dalam sehari, dan dia hampir saja terkena infeksi yang mematikan. Di Boston baru saja terjadi, seorang investor bank yang masih muda menyumbangkan semua tabungan hidupnya kepada Opus Dei sebelum membunuh dirinya.
Domba yang salah bimbing, pikir Aringarosa, dia sangat prihatin karenanya.
Tentu saja, aib terbesar adalah penyebarluasan persidangan seorang agen mata-mata FBI Robert Hansen, yang ingin menjadi anggota Opus Dei yang menonjol tapi ternyata berubah menjadi seorang hamba seks. Persidangannya menguak bukti bahwa dia memiliki kamera video tersembunyi di kamar tidurnya agar teman-temannya dapat menyaksikan saat dia bercinta dengan istrinya. `Sukar dipercaya kalau dia tadinya penganut Katolik yang taat,` kata hakim.
Sedihnya, semua peristiwa ini telah membantu berkembangnya sebuah organisasi pengawas baru, dikenal dengan nama Opus Dei Awareness Network (ODAN), ‘Jaringan Waspada Opus Dei’. Web site kelompok ini -www.odan.org- menyiarkan cerita-cerita mengerikan dari mantan anggota-anggota Opus Dei yang memperingatkan bahayanya bergabung dengan Opus Dei. Media sekarang menganggap Opus Dei sebagai . `Mafia Tuhan` dan `Pemuja Kristus`.
Kita takut kepada apa yang kita tak mengerti, pikir Aringarosa, sambil bertanya-tanya apakah para pengkritik ini tahu berapa banyak kehidupan yang telah diperkaya oleh Opus Dei. Kelompok itu menikmati pengabsahan penuh dan restu dari Vatikan. Opus Dei merupakan sebuah perwalian gereja pribadi dari Paus sendiri. Walau begitu, akhir-akhir ini, Opus Dei telah menyadari bahwa mereka terancam oleh sebuah kekuatan yang jauh lebih kuat daripada media ... sebuah musuh tak terduga yang tak terhindarkan oleh Aringarosa. Lima bulan yang lalu, kalaedoskop dari kekuatan itu telah mengguncangnya, dan Aringarosa masih limbung karena pukulan itu.
`Mereka tidak tahu peperangan macam apa yang telah mereka mulai,` bisik Aringarosa pada dirinya sendiri, sambil menatap keluar jendela pesawat terbang, pada lautan yang gelap di bawahnya. Tiba-tiba, matanya kembali terpusat, terus menatap pantulan wajahnya yang aneh-gelap dan berbentuk bujur, didominasi oleh hidung pesek dan bengkok yang pernah ditinju di Spanyol ketika dia masih seorang pendeta muda. Kekurangan pada tubuhnya sekarang hampir tak kentara. Dunia Aringarosa adalah batiniah, bukan ragawi.
Ketika jet itu melewati pantai Portugal, telepon selular di dalam jubah Aringarosa mulai bergetar karena dering bisu. Walaupun ada larangan untuk menggunakan telepon selular selama penerbangan, namun Aringarosa tahu, ini panggilan yang tak boleh diabaikan. Hanya satu orang yang tahu nomor ini, orang yang sekarang menelepon Aringarosa.
Dengan gembira, uskup itu menjawab perlahan, `Ya?`
`Silas telah menemukan batu kunci itu,` kata si penelpon. `Ada di Paris. Di dalam gereja Saint-Sulpice.`
Uskup Aringarosa tersenyum. `Kalau begitu kita sudah dekat.` `Kita bisa mendapatkannya segera. Tetapi kita memerlukan pengaruhmu.`
`Tentu saja. Katakan apa yang harus kulakukan.`
Ketika Aringarosa mematikan teleponnya, jantungnya berdebar. Kembali dia menatap kekosongan malam, merasa mengerdil karena kejadian yang telah dimulainya.
Lima ratus mil dari Aringarosa, Silas si albino berdiri di dekat waskom kecil berisi air dan mengusapi darah dari punggungnya, sambil mengamati pola-pola darahnya berputar di dalam air. Bersihkan aku dengan daun hysop dan aku akan bersih, dia berdoa, mengutip Mazmur. Cuci aku, dan aku akan menjadi lebih putih daripada salju.
Silas merasakan sebuah peningkatan harapan yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya. Itu mengejutkan dan menggetarkan dirinya. Sejak sepuluh tahun terakhir, dia telah mengikuti The Way, membersihkan diri dari dosa-dosa ... membangun kembali hidupnya ... menghapus kekejaman masa lalunya. Namun malam ini, semua itu seperti menyerbu datang kembali. Kebencian yang telah diupayakannya dengan kuat untuk dikuburkan telah terkumpul kembali. Dia terkejut betapa cepat masa lalunya muncul kembali., Dan bersama dengan itu, tentu saja, datang juga keahliannya. Berkarat, namun masih bisa digunakan.
Pesan Yesus merupakan pesan kedamaian ... tanpa kekerasan ... cinta. Ini adalah pesan yang diajarkan kepada Silas dari awal, dan pesan itu disimpannya dalam hati. Namun, pesan ini jugalah yang akan dirusak oleh musuh Kristus. Siapa yang mengancam Tuhan dengan kekuatan akan bertemu dengan kekuatan. Tak tergoyahkan dan tabah.
Selama dua milenium, tentara-tentara Kristen telah membela keyakinan mereka melawan orang-orang yang mencoba menggantikannya. Malam ini, Silas telah terpanggil untuk berperang.
Setelah mengeringkan lukanya, Silas mengenakan jubah hingga ke mata kakinya. Jubahnya sederhana, terbuat dari wol gelap, mempertajam keputihan kulit dan rambutnya. Dia mengencangkan ikat pinggangnya, menaikkan kerudungnya sampai menutup kepala, dan membiarkan mata merahnya mengagumi pantulannya dalam cermin. Roda-roda itu sedang bergerak.
6
SETELAH DIGENCET di bawah gerbang keamanan, Robert Langdon sekarang berdiri di dalam, pintu masuk ke Galeri Agung. Dia melihat ke dalam mulut gang yang dalam dan panjang. Pada sisi lain galeri ini, dinding kapur menjulang tiga puluh kaki, seakan menguap ke dalam kegelapan di atasnya. Cahaya kemerahan dari lampu mengarah ke atas, memberikan terang buatan ke arah koleksi lukisan yang menggemparkan dari karya-karya Da Vinci, Titians, dan Caravaggio, yang tergantung dengan kabel dari langit-langit. Lukisan alam benda, adegan-adegan religius, dan pemandangan alam bersanding dengan potret para bangsawan dan politikus.
Walau Galeri Agung menyimpan benda benda seni Italia yang paling tersohor, para pengunjung berpendapat bahwa bagian paling memesona yang ditawarkan bagian sayap itu adalah lantai parketnya yang terkenal. Terhampar dalam rancangan geometris yang mencengangkan, dengan potongan kayu ek tipis dan panjang yang disusun secara diagonal, lantai itu memberikan ilusi optik singkat sebuah jaringan multi-dimensi yang memberi perasaan mengambang di sepanjang galeri saat para pengunjung berjalan di permukaannya yang berganti-ganti pada setiap langkah.
Ketika Langdon mulai menatap hamparan lantai itu, matanya berhenti pada sebuah benda yang tak semestinya ada di atas lantai, tergeletak hanya beberapa yard di sebelah kirinya, dikelilingi dengan pita polisi. Dia berputar ke arah Fache. `Apakah itu ... sebuah Caravaggio tergeletak di lantai?`
Fache mengangguk tanpa melihatnya.
Langdon menerka, harga lukisan itu tentulah lebih dari dua juta dolar Amerika, dan tergeletak begitu saja di atas lantai seperti poster buangan. `Mengapa tergeletak begitu saja di lantai!`
Fache menggeram, sama sekali tidak bereaksi. `Ini tempat peristiwa kriminal, Pak Langdon. Kami tidak boleh menyentuh apa pun. Kanvas itu diturunkan dari dinding oleh kurator itu. Begitulah caranya mengaktifkan sistem pengamanan.`
Langdon melihat lagi gerbang itu, mencoba membayangkan apa yang telah terjadi.
`Kurator itu telah diserang di kantornya, melarikan diri ke Galeri Agung, dan mengaktiflcan gerbang pengaman dengan cara menurunkan lukisan dari dinding. Gerbang itu langsung turun, menutup semua jalan. Ini satu-satunya pintu keluar dan masuk galeri ini.`
Langdon merasa bingung. `Jadi kurator itu sebenarnya memerangkap penyerangnya di dalam Galeri Agung?`
Fache menggelengkan kepalanya. `Gerbang itu memisahkan Sauniere dari penyerangnya. Si pembunuh terkunci di luar di gang dan menembak Sauniere dari gerbang itu.` Fache menunjuk pada tanda berwarna jingga yang tergantung pada salah satu jeruji pintu gerbang yang tadi mereka selusupi. `Tim PTS menemukan residu dari senjata itu. Dia menembak melalui jeruji. Sauniere tewas di sini sendirian.`
Langdon mengingat foto mayat Sauniere. Mereka mengatakan bahwa Sauniere melakukan itu sendiri padu dirinya. Langdon melihat ke koridor besar di depan mereka. `Jadi, di mana mayat itu tergeletak?`
Fache meluruskan penjepit dasi salibnya dan mulai berjalan lagi. `Seperti yang mungkin sudah Anda tahu, Galeri Agung sangat panjang.`
Panjang sesungguhnya, jika Langdon tak salah ingat, adalah sekitar 1.500 kaki, sepanjang tiga kali Monumen Washington yang dibaringkan. Sama mengagumkannya adalah lebar koridor ini, yang dengan mudah dapat dilewati oleh sepasang kereta api berdampingan. Bagian tengah gang itu ditandai oleh patung kolosal atau jambangan porselin, yang berfungsi sebagai pemisah yang indah dan menjaga lalu lintas pengunjung agar tetap berjalan di masing-masing sisi tembok.
Fache bungkam sekarang, berjalan cepat pada sisi kanan koridor dengan tatapan tetap ke depan. Langdon merasa agak kurang ajar karena hanya berjalan cepat melewati begitu banyak adikarya tanpa berhenti, bahkan tidak untuk mengerling pun.
Bukannya aku bisa melihat dalam pencahayaan seperti ini, pikirnya
Pencahayaan remang-remang ini, sialnya, telah mengingatkannya kembali pada pengalamannya di ruang redup di penyimpanan arsip rahasia, Vatikan Secret Archives. Keadaan seperti ini sangat mirip dengan kejadian ketika dia hampir tewas di Roma. Bayangan Vittoria berkelebat lagi. Vittoria telah menghilang dari mimpi-mimpinya selama beberapa bulan terakhir ini. Langdon tak dapat percayai kalau Roma baru berlalu setahun; rasanya seperti sudah satu dekade. Kehidupan yang lain. Surat menyurat terakhirnya dengan Vittoria adalah pada bulan Desember selembar kartu pos mengatakan bahwa Vittoria sedang menuju ke Laut Jawa, untuk melanjutkan penelitiannya dalam fisika yang rumit .., tentang penggunaan satelit untuk mengikuti perpindahan ikan pari manta yang besar. Langdori tak pernah membayangkan seorang perempuan seperti Vittoria Vetra dapat hidup bahagia bersamanya di asrama perguruan tinggi, namun pertemuan mereka di Roma telah membuat Langdon merasakan hal yang tak pernah ia bayangkan bisa ia rasakan. Kebahagiaan hidup melajang seumur hidupnya dan kebebasan sederhana akhirnya tergoyahkan ... berganti dengan rasa kekosongan yang tampaknya berkembang selama satu tahun ini.
Mereka melanjutkan berjalan cepat, tetapi Langdon belum juga melihat mayat itu. `Jacques Sauniere berjalan sejauh ini?` `Pak Sauniere menderita karena ada sebutir peluru di perutnya. Dia tewas perlahan-lahan sekali. Mungkin lebih dari 15 sampai 20 menit. Dia pastilah seorang lelaki yang kuat.`
Langdon menoleh, terkejut. `Petugas keamanan membutuhkan waktu lima belas menit untuk sampai ke sini?`
`Tentu saja tidak. Petugas keamanan Louvre langsung bereaksi ketika alarm berbunyi, dan mendapatkan galeri itu terkunci. Melalui gerbang itu, mereka dapat mendengar seseorang bergerakgerak di ujung gang dan di koridor; tetapi mereka tidak dapat melihat siapa dia. Mereka berteriak, tetapi tak dijawab. Mereka mengira itu seorang penjahat. Mereka mengikuti peraturan dan menelepon Polisi Judisial. Kami tiba di tempat dalam waktu lima belas menit. Ketika kami tiba, kami menaikkan gerbang itu sedikit, cukup untuk diterobos dari bawah, dan saya mengirim dua belas petugas bersenjata ke dalam. Mereka memeriksa galeri ini untuk menangkap penyelusup itu.`
`Dan?`
`Mereka tidak menemukan siapa pun di dalam. Kecuali ....` Dia menunjuk agak jauh ke dalam gang. `Dia.`
Langdon mengangkat pandangannya dan mengikuti arah jari Fache. Pada mulanya, dia mengira Fache menunjuk pada patung pualam besar di tengah gang. Ketika mereka bergerak lebih lanjut, Langdon mulai melihat melewati patung itu. Tiga puluh yard di gang itu, sebuah lampu dengan tiang yang dapat dipindah-pindahkan menyorot ke bawah, menciptakan bentuk pulau cahaya putih di dalam galeri merah tua itu. Di tengah-tengah cahaya itu, layaknya seekor serangga di bawah mikroskop, mayat sang kurator tergeletak bugil di atas lantai parket.
`Anda sudah melihat foto itu,` ujar Fache, `jadi ini tidak mengejutkan lagi.`
Langdon merasa menggigil ketika mereka mendekati mayat itu. Baginya, ini adalah bayangan teraneh yang pernah dia lihat.
Mayat pucat Jacques Sauniere tergeletak di atas lantai parket, persis seperti yang terlihat di foto. Ketika Langdon berdiri di dekat jenazah itu dan agak memicingkan matanya karena sinar lampu yang terlalu terang, dia terpikir sesuatu, dan heran juga, bahwa Sauniere telah menggunakan beberapa menit di akhir hidupnya untuk mengatur tubuhnya sendiri berpose begitu aneh.
Sauniere tampak sangat sehat untuk lelaki seusianya ... dan semua ototnya terlihat jelas. Dia telah menanggalkan setiap helai pakaiannya, meletakkannya dengan rapi di atas lantai, dan ber
baring terlentang di tengah-tengah koridor yang lebar itu, tepat segaris dengan poros panjang ruangan itu. Tangan dan tungkainya terentang lebar seperti sayap elang, seperti posisi malaikat salju yang dibuat anak-anak ... atau, mungkin lebih tepat, seperti seorang lelaki yang ditarik dan dipotong menjadi empat oleh kekuatan yang tak tampak.
Tepat di bawah rulang dada Sauniere, noda darah menandai titik di mana peluru itu menembus dagingnya. Anehnya, luka itu tak mengeluarkan banyak darah, hanya membentuk kolam kecil darah kehitaman.
Jari telunjuk tangan kiri Sauniere juga berdarah, tampaknya telah dimasukkan ke lubang tempat peluru menembus untuk menciptakan aspek yang paling mengguncangkan dari kematiannya yang sangat mengerikan itu; menggunakan darahnya sendiri sebagai tinta, dan memakai perut bugilnya sebagai kanvas, Sauniere telah menggambar sebuah simbol sederhana di atas jasadnya lirna garis lurus saling berpotongan membentuk sebuah bintang lima titik.
Pentakel.
Bintang berdarah itu, yang terpusat pada pusar Sauniere, memberi aura perampok kubur yang jelas pada mayatnya. Foto yang telah dilihat Langdon cukup menggigilkan, tetapi, sekarang, melihat sendiri kejadian itu, Langdon merasa sangat gelisah.
Dia melakukan sendiri pada dirinya.
`Pak Langdon?' mata hitam Fache menatapnya lagi.
`Ini pentakel,` ujar Langdon, suaranya terdengar kosong dalam ruangan besar ini. `Salah satu simbol tertua di dunia. Digunakan lebih dari empat ribu tahun sebelum Masehi.`
`Dan artinya?`
Langdon selalu ragu-ragu ketika dia menerima pertanyaan seperti itu. Mengatakan kepada seseorang apa arti simbol itu seperti mengatakan bagaimana sebuah lagu seharusnya memengaruhi perasaan orang-itu berbeda bagi setiap orang. Kerudung topeng putih Ku Klux Klan menimbulkan gambaran kebencian dan rasisme di Amerika Serikat, namun kostum yang sama membawa arti keyakinan religius di Spanyol. .
`Simbol mengandung arti yang berbeda pada tempat yang berbeda,` kata Langdon. `Pada awalnya pentakel adalah simbol religius untuk kaum pagan.`
Fache mengangguk. `Pemuja setan.`
`Bukan,` Langdon memperbaiki, langsung menyadari pemilihan kosa katanya harus lebih jelas.
Sekarang ini kata pagan telah hampir disamakan dengan pemujaan setan salah konsep yang ngawur. Akar katanya adalah dari bahasa Latin paganus, artinya penduduk negeri. `Kaum pagan` secara harfiah berarti orang-orang desa yang tidak terindoktrinasi yang berpegang teguh pada agama pedesaan tua yang memuja Alam. Kenyataannya, Gereja begitu takut akan orang-orang yang tinggal di pedesaan atau villes, sehingga kata yang dulu sama sekali tak berbahaya yang artinya `penduduk desa`, yaitu villain, menjadi berarti jiwa jahat.
`Pentakel itu,` Langdon menjelaskan, `merupakan simbol dari zaman sebelum Masehi, yang berkaitan dengan pemujaan Alam. Para nenek moyang melihat dunia ini sebagai dua bagian-lelaki dan perempuan. Para dewa dan dewi mereka bekerja untuk menjaga keseimbangan kekuatan. Yin dan Yang. Ketika lelaki dan perempuan seimbang, muncul harmoni di dunia ini. Jika mereka tidak seimbang, muncul kekacauan.` Langdon menunjuk pada perut Sauniere. `Pentakel ini mewakili bagian perempuan-sebuah konsep yang oleh para ahli sejarah religius disebut sebagai `perempuan suci` atau `dewi yang hebat`. Sauniere, juga semua orang, mengetahuinya.`
`Sauniere menggambar simbol seorang dewi pada perutnya?` Langdon harus mengakui, itu kelihatannya aneh. `Pada interpretasi yang paling khusus, pentakel menyimbolkan Venus-dewi seks, cinta, dan kecantikan perempuan.`
Fache menatap mayat lelaki bugil itu, dan menggerutu. `Agama yang pertama berdasarkan pada tatanan suci Alam. Dewi Venus dan planet Venus adalah satu dan sama. Dewi itu memiliki tempat di langit waktu malam, dan dikenal dengan banyak nama: Venus, Bintang Timur, Ishtar, Astarte-----semuanya merupakan konsep perempuan yang kuat dengan ikatan kepada Alam dan Ibu Bumi.`
Fache tampak semakin bingung, seakan dia lebih menyukai gagasan pemujaan setan.
Langdon memutuskan untuk tidak berbicara lebih banyak tentang kekayaan yang paling mengagumkan dari pentakel-asal usul grafik dari keterikatannya dengan Venus. Sebagai seorang mahasiswa astronomi yang masih muda, Langdon pernah begitu terpesona saat tahu bahwa planet Venus berjalan mengikuti pentakel yang sempurna menyeberangi langit eklip setiap delapan tahun. Para leluhur dulu begitu terpesona menyelidiki fenomena ini, bahwa Venus dan pentakelnya menjadi simbol dari kesempurnaan, kecantikan, dan kualitas peredaran dari cinta seksual. Sebagai penghormatan pada kesaktian Venus, orang-orang Yunani menggunakan siklus delapan tahunnya itu untuk mengorganisasi olimpiade mereka. Sedikit saja orang sekarang yang tahu bahwa siklus empat tahun olimpiade modern masih mengikuti setengah siklus Venus. Bahkan, lebih sedikit orang yang tahu bahwa bintang segi lima hampir menjadi segel resmi olimpiade, namun dimodifikasi pada akhirnya lima titiknya ditukar dengan lima lingkaran yang saling memotong untuk merefleksikan dengan lebih baik jiwa permainan, yaitu keterbukaan dan harmoni.
`Pak Langdon,` kata Fache tiba-tiba. `Jelas, pentakel itu mestinya ada hubungannya dengan setan. Film horor Amerika Anda menjelaskan begitu dengan sangat jelas.`
Langdon mengerutkan dahinya. Terima kasih, Hollywood. Bintang bersisi lima sekarang merupakan sebuah klise virtual dalam film-film pembunuhan berantai berlatar setan. Gambar bintang seperti itu biasanya dicoretkan pada dinding apartemen seorang pemuja setan bersama dengan simbol-simbol lain yang diduga bersifat setan. Langdon selalu frustrasi ketika melihat simbol dalam konteks ini; sesungguhnya simbol pentakel bersifat sangat ketuhanan.
`Saya yakinkan Anda,` ujar Langdon. `Lepas dari yang Anda lihat dalam film, interpretasi pentakel sebagai simbol setan adalah salah secara historis. Makna femininnya yang asli adalah benar, tetapi simbolisme pentakel telah dirusak selama lebih dari seribu tahun. Dalam kasus ini, dirusak dengan coretan darah.`
`Saya tidak yakin mengerti Anda.`
Langdon mengerling pada tanda salib Fache, tak yakin bagaimana dia akan mengatakan pikiran berikutnya. `Gereja, Pak. Simbol-simbol sangat kenyal, tetapi pentakel diubah oleh Gereja Katolik Roma awal. Sebagai bagian dari kampanye Vatikan untuk membasmi agama pagan dan mengembalikan rakyat ke agama Kristen, Gereja mengadakan kampanye fitnahan melawan pemuja dewa dan dewi, menjadikan simbol-simbol ketuhanan pagan sebagai kejahatan.`
`Teruskan.`
`Ini sangat biasa pada masa kekacauan,` Langdon melanjutkan. `Sebuah kekuatan baru yang muncul akan mengambil alih simbol-simbol yang sudah ada dan merendahkannya secara berangsur-angsur dengan maksud menghapus arti simbol-simbol tersebut. Dalam peperdngan antara simbol pagan dan simbol Kristen, pagan kalah; tombak bermata tiga milik Poseidon menjadi tombak garpu setan, topi bijak yang meruncing ke atas menjadi simbol tukang sihir, dan pentakel Venus menjadi tanda setan.` Langdon berhenti. `Sialnya, militer Amerika Serikat juga menyesatkan arti pentakel; sekarang simbol yang paling disukai untuk perang adalah pentakel. Kami memasangnya pada jet-jet tempur dan menggantungkannya pada bahu para jenderal.` Sangat keterlaluan bagi dewi cinta dan kecantikan.
`Menarik.` Fache mengangguk pada mayat yang terentang seperti elang terbang itu. `Dan bagaimana dengan posisi tubuh ini? Apa yang dapat Anda baca dari situ?`
Langdon menggerakkan bahunya. `Posisi itu hanya memperjelas hubungan dengan pentakel dan perempuan suci.`
Ekspresi wajah Fache .menggelap. `Maaf?`
`Replikasi. Mengulang sebuah simbol adalah cara termudah untuk memperkuat artinya. Jacques Sauniere telah memosisikan dirinya seperti bintang lima titik.` Jika satu pentakel baik, dua lebih baik lagi.
Mata Fache mengikuti lima titik pada kedua tangan, tungkai, dan kepala Sauniere sambil sekali lagi dia mengusapkar tangannya pada rambut licinnya. `Analisa yang menarik.` Dia terdiam. `Dan kebugilannya?` Dia menggumam ketika mengucapkan kata-kata itu, tampak tak suka melihat tubuh lelaki tua itu. `Mengapa dia melepas bajunya?`
Pertanyaan yang sangat bagus, pikir Langdon. Dia sendiri sudah mempertanyakan hal itu sejak, melihat Polaroid itu. Terkaan terbaiknya adalah bahwa bentuk tubuh bugil seseorang merupakan penjelasan bagi Venus-dewi seksualitas manusia. Walau budaya modern banyak menghapus keterkaitan Venus pada penyatuan fisik lelaki/perempuan, sebuah mata tajam etimologi dapat melihat sisa arti asli Venus dalam kata venereal yang artinya penyakit kotor. Langdon memutuskan untuk tidak berbicara ke arah sana.
`Pak Fache, saya betul-betul tak dapat mengatakan mengapa Pak Sauniere menggambari dirinya dengan simbol itu atau menempatkan dirinya seperti ini, tetapi saya dapat mengatakan pada Anda bahwa lelaki seperti Jacques Sauniere akan menganggap pentakel itu tanda dari ketuhanan perempuan. Hubungan antara simbol ini dan perempuan suci banyak diketahui oleh ahli sejarah seni dan ahli simbol.`
`Baik. Dan penggunaan darah sebagai tintanya?`
`Jelas dia tidak punya bahan yang lain untuk menulis.` Fache terdiam sejenak. `Sebenarnya, saya percaya dia menggunakan darah supaya polisi mengikuti prosedur forensik tertentu.` `Maaf?`
`Lihat tangan kirinya.`
Langdon mengamati sepanjang lengan pucat kurator itu sampai ke tangan kirinya, namun tak melihat apa pun. Karena tak yakin, dia mengelilingi mayat itu dan bahkan berjongkok. Sekarang dia melihat, dengan terkejut, bahwa kurator itu menggenggam sebuah marker besar berujung felt.
`Sauriiere menggenggamnya ketika kami menemukannya,` ujar Fache sambil meninggalkan Langdon dan bergerak beberapa yard mendekati meja yang dapat dipindah-pindahkan, yang tertutup dengan peralatan investigasi, kabel-kabel, dan berbagai macam peralatan elektronik. `Seperti yang saya katakan kepada Anda,` ujarnya sambil mengobrak-abrik di sekitar meja itu, `kami tidak menyentuh apa pun. Anda sering melihat pena semacam itu?`
Langdon berlutut untuk melihat mereknya.
STYLO DE LUMIERE NOIRE.
Dia melihat ke atas dengan terkejut.
Pena sinar hitam atau watermark stylus merupakan sebuah pena berujung felt istimewa, pertama kali dirancang oleh museum-museum, para ahli restorasi lukisan, dan polisi bagian pemalsuan untuk memberikan tanda tak terlihat pada benda-benda. Spidol itu dapat dituliskan dengan tinta nonkorosif, tinta pijar berbahan dasar alkohol sehingga hanya dapat dilihat dalam sinar hitam. Kini petugas-petugas pemeliharaan museum membawa marker seperti ini pada hari-hari tugasnya untuk memberi tanda pada bingkai dari lukisan yang memerlukan restorasi.
Ketika Langdon berdiri, Fache berjalan ke lampu sorot dan mematikannya. Galeri itu tiba-tiba menjadi sangat gelap. Langdon seperti buta sesaat, dan merasa tak yakin. Bayangan Fache muncul, disinari cahaya ungu terang. Dia mendekat membawa lampu senter, yang menyelubunginya dengan sinar ungu. `Mungkin Anda tahu,` ujar Fache, matanya bercahaya dalam sinar ungu, `polisi menggunakan penerangan cahaya hitam untuk mencari bercak darah pada tempat kejadian kriminal dan buktibukti forensik lainnya. Jadi Anda dapat membayangkan keterkejutan kami ....` Dengan tiba-tiba, dia mengarahkan cahaya itu ke mayat Sauniere.
Langdon melihat ke bawah dan terloncat ke belakang karena sangat terguncang.
Jantungnya berdebar cepat ketika dia menangkap sinar aneh yang sekarang berkilau di depannya di atas lantai parket. Goresan cakar ayam yang ternyata adalah tulisan tangan, dan merupakan pesan terakhir kurator itu, berkilauan ungu di samping mayatnya. Ketika Langdon menatap tulisan berkilauan itu, dia merasa kabut yang mengambang di sekitarnya menjadi lebih tebal.
Langdon membaca pesan itu lagi dan menatap Fache. `Apa artinya ini?`
Mata Fache bersinar putih. `Itu, Monsieur, adalah pertanyaan yang harus Anda jawab di sini.`
Tak jauh dari situ, di dalam kantor Sauniere, Letnan Collet telah kembali ke Louvre dan mengutak-kutik seperangkat audio console di atas meja kurator yang besar sekali itu. Walau patung kesatria abad pertengahan yang seperti robot dan mengerikan itu seolah menatapnya dari sudut meja Sauniere, Collet tampak nyaman saja. Dia mengatur headphone AKG-nya dan memeriksa input level pada perangkat keras sistem perekam itu. Semua sistem berfungsi. Mikrofon-mikrofon berfungsi sempurna, dan pengeras suaranya sejernih kristal.
Le moment de verite, katanya dalam hati.
Sambil tersenyum, dia memejamkan matanya dan bersiap menikmati sisa percakapan dari Galeri Agung yang sekarang direkam.
7
KEHIDUPAN SEDERHANA di dalam Gereja Saint Sulpice berada di lantai dua dalam gereja itu sendiri, di sebelah kiri balkon paduan suara. Suite dua kamar dengan lantai batu dan berperabotan minim telah menjadi rumah bagi Suster Sandrine Bieil selama lebih dari sepuluh tahun. Biara yang berada di dekat gereja merupakan tempat tinggal resminya, jika ada yang bertanya, tetapi dia lebih senang dengan ketenangan di dalam gereja dan merasa nyaman di lantai atas dengan satu pembaringan, telepon, dan piring panas.
Sebagai conservative d'affair dari gereja tersebut, Suster Sandrine bertanggung jawab untuk mengawasi segala aspek nonreligus dari kegiatan gereja-perawatan umum gereja, menyewa tenaga bantuan dan pemandu, mengamankan gedung pada jam tutup, dan memesan pasokan seperti anggur komuni dan wafer.
Malam ini, saat tidur di atas pembaringannya yang kecil, dia terbangun karena teleponnya. Dengan letih, dia mengangkat teleponnya.
`Souer Sandrine, Eglise Saint-Suplice. `
`Halo, Suster,` sapa seseorang dalam bahasa Prancis.
Suster Sandrine duduk tegak. jam berapa sekarang? Walau dia mengenali suara pimpinannya, dalam lima belas tahun ini dia tak pernah dibangunkan oleh suaranya. Abbe atau kepala biara wanita itu adalah seorang lelaki yang betul-betul saleh yang langsung pulang setelah misa.
`Aku minta maaf jika membangunkanmu, Suster,` kata pimpinannya itu, suaranya sendiri terdengar bergetar dan gugup. `Aku ingin minta tolong. Aku baru saja menerima telepon dari seorang uskup penting Amerika. Mungkin kau mengenalnya? Manuel Aringarosa?`
`Pimpinan Opus Dei?` Tentu saja aku mengenalnya. Siapa di lingkungan gereja yang tak mengenalnya? Prelatur konservatif Aringarosa telah berkembang semakin kuat dalam tahun-tahun terakhir ini. Rel kehormatan mereka melompat pada tahun 1982 ketika Paus Johanes Paulus II secara tak terduga mengangkat mereka menjadi `prelatur pribadi Paus`, yang secara resmi mendukung semua kegiatan mereka. Keadaan itu menjadi mencurigakan karena kenaikan Opus Dei terjadi bersamaan dengan kejadian sekte kaya itu mentransfer satu juta dolar ke Institut Vatikan untuk Kegiatan Religius-umumnya dikenal sebagai Vatikan Bank-untuk melindunginya dari kebangkrutan yang memalukan. Dalam manuvernya yang kedua, yang membuat orang mengangkat alis, Paus menempatkan pendiri Opus Dei di `jalur cepat` untuk menjadi orang suci. Seharusnya untuk dinobatkan menjadi santo harus menunggu selama satu abad, namun yang ini dipercepat menjadi dua puluh tahun. Suster Sandrine tak bisa lain kecuali merasa bahwa keberadaan Opus Dei di Roma itu mencurigakan, namun tak ada yang dapat menentang Holy See.
`Uskup Aringarosa menelepon untuk meminta bantuanku,` abbe berkata kepada Sandrine, suaranya terdengar panik. `Salah satu anggotanya berada di Paris malam ini ....`
Ketika Suster Sandrine mendengar permintaan aneh itu, dia rnerasa bingung sekali. `Maaf, Anda mengatakan kunjungan salah satu anggota Opus Dei tak dapat ditunda hingga besok pagi?`
`Aku khawatir demikian. Pesawatnya berangkat sangat awal. pia selalu memimpikan untuk melihat Saint-Sulpice.`
`Tetapi gereja ini jauh lebih menarik pada siang hari. Sinar matahari yang menerobos melalui oculus, bayangan yang terbagibagi pada gnomon, inilah yang membuat Saint-Sulpice unik.`
`Suster, aku setuju, tetapi aku ingin menganggap ini sebagai permintaan pribadi, jika kau bisa membiarkannya masuk malam ini. Dia akan berada di sana pada pukul ... mungkin pukul satu? Berarti dalam dua puluh menit ini.`
Suster Sandrine mengerutkan alisnya. `Tentu saja. Dengan senang hati.`
Abbe berterima kasih dan menutup teleponnya.
Dengan kebingungan, Suster Sandrine masih tetap duduk di atas pembaringannya yang hangat, mencoba mengusir sisa-sisa tidurnya. Tubuh enam puluh tahunnya tidak dapat terjaga secepat dulu, walau telepon malam ini betul-betul membangunkan pikirannya. Opus Dei selalu membuatnya tak tenang. Di luar kesetiaan prelatur itu pada ritual rahasia pematian raga, pandangan Opus Dei pada perempuan tak terlalu baik. Suster Sandrine sangat terkejut mengetahui bahwa anggota perempuan dipaksa membersihkan tempat tinggal anggota lelaki tanpa dibayar sementara anggota-anggota lelaki melakukan misa; anggota perempuan tidur di atas pembaringan kayu keras, sementara anggota lelaki tidur di atas kasur jerami; dan anggota perempuan juga dipaksa melaksanakan ritus pematian raga tambahan ... semua itu sebagai hukuman atas dosa asal. Tampaknya kesalahan Eva (Hawa) memakan buah apel tanpa sepengetahuannya telah menjadi hutang perempuan yang harus dibayar selamanya. Sedihnya, saat Gereja Katolik pada umumnya berangsur-angsur bergerak ke arah kanan dengan menghargai hak kaum perempuan, Opus Dei berlaku sebaliknya. Walaupun demikian, Suster Sandrine harus melaksanakan perintah tadi.
Dengan mengayun tungkainya dari atas pembaringannya, perlahan-lahan Suster Sandrine berdiri, menggigil karena dinginnya lantai batu pada kaki telanjangnya. Ketika dingin itu naik keseluruh tubuhnya, dia merasakan ketakutan yang tak dimengertinya.
Intuisi perempuan?
Sebagai hamba Tuhan,.. Suster Sandrine telah belajar menemukan kedamaian dalam suara yang menenangkan dari dalam jiwanya. Malam itu, suara-suara itu sesenyap gereja kosong di sekitarnya.
8
LANGDON TAK dapat mengalihkan matanya dari tulisan cakar ayam yang bersinar ungu di atas lantai parket. Komunikasi terakhir Jacques Sauniere tampak bukan seperti kata perpisahan yang dapat dibayangkan Langdon.
Pesan itu seperti ini:
13-3-2-21-1-1-8-5
O, Draconian devil!
Oh, lame saint!
Walau Langdon tak punya gambaran sedikit pun apa arti tulisan itu, dia mengerti insting Fache bahwa pentakel ada hubungannya dengan pemujaan setan.
, O, setan Draconia!
Sauniere telah meninggalkan rujukan literer atas setan. Sama anehnya adalah deretan angka-angka itu. `Sebagian tampak seperti kode angka.`
`Ya,` kata Fache. `Ahli kode angka kami telah mulai menanganinya. Kami percaya, mungkin nomor-nomor ini merupakan kunci ke arah siapa yang membunuhnya. Mungkin nomor telepon atau semacam identitas sosial. Apakah menurut Anda nomor-nomor itu mempunyai arti simbolis?`
Langdon menatap lagi angka-angka itu. Dia merasa akan membutuhkan waktu berjam-jam untuk mencari arti simbolis dari deretan itu. Jika Sauniere memang menginginkannya begitu. Bagi Langdon, deretan nomor itu tampak betul-betul deretan acak. Dia terbiasa dengan deret simbolis yang memuat beberapa kemiripan yang bermakna, tetapi segalanya di sini bintang pentakel, teks itu, angka-angka-tampak terpisah secara mendasar.
`Anda mengatakan tadi,` ujar Fache, `bahwa tindakan Sauniere di sini adalah usahanya untuk mengirimkan semacam pesan ... pemujaan dewi atau sesuatu dalam darah itu? Lalu bagaimana dengan pesan ini?`
Langdon tahu pertanyaan itu retoris. Cara berkomunikasi seperti ini jelas tidak cocok sama sekali dengan skenario Langdon tentang pemujaan pada dewi.
O, setan Draconia? Oh, orang suci yang lemah?
Fache berkata, `Teks ini tampaknya merupakan semacam tuduhan. Betul?`
Langdon mencoba untuk membayangkan keadaan kurator itu pada menit-menit terakhirnya: terjebak sendiri di dalam Galeri Agung, dan tahu dia akan segera mati. Kelihatannya, logis saja.
`Tuduhan terhadap pembunuhnya, memang masuk akal saya pikir.` `Pekerjaan saya adalah menentukan nama dari pemounuh ini. Izinkan saya menanyakan hal ini kepada Anda, Pak Langdon. Menurut yang Anda lihat, di luar nomor-nomor itu, apa yang paling aneh dari pesan ini?`
Paling aneh? Seseorang yang sekarat telah melindungi dirinya sendiri di dalam galeri ini, menggambar bintang pentakel di atas tubuhnya, dan mencoretkan sebuah tuduhan di atas lantai. Apakah skenario ini tidak aneh juga?
`Kata draconia?` Langdon mulai, dengan hal pertama yang melintas dalam pikirannya. Langdon agak yakin bahwa yang berkaitan dengan nama Draco-seorang politisi terkejam di abad ketujuh sebelum Masehi-sepertinya tidak mengacu pada gagasan kematian. ``Setan Draconia' sepertinya pilihan kosa kata yang aneh.`
`Draconia?` nada suara Fache terdengar tak sabar sekarang. `Pilihan kosa kata Sauniere sepertinya bukan hal yang utama di sini.`
Langdon tak yakin mana pokok persoalan yang ada dalam benak Fache, namun dia mulai menduga bahwa Draco dan Fache pastilah akan cocok satu sama lain.
`Sauniere orang Prancis,` kata Fache datar. `Tinggal di Paris. Tetapi dia memilih menulis pesan ini ....`
`Dalam bahasa Inggris,` kata Langdon, sekarang dia mulai mengerti maksud sang kapten.
`Precisement. Anda mengerti mengapa?`
Langdon tahu, Fache berbahasa Inggris dengan sempurna, namun alasan Sauniere memilih bahasa Inggris untuk menulis pesan terakhirnya luput dari pengamatan Langdon. Dia menggerakkan bahunya.
Fache menunjuk lagi pada pentakel di atas perut Sauniere. `Ini tidak ada hubungannya dengan pemujaan setan? Anda masih yakin dengan itu?`
Langdon sekarang tak yakin pada apa pun `Simbologi dan teks tak terlihat seperti ada hubungan. Maaf, saya tak dapat menolong lagi.`
`Mungkin ini akan menjelaskan.` Fache mundur dari mayat itu dan mengangkat sinar hitam itu lagi, membiarkan pancaran sinarnya menyebar lebih luas. `Dan sekarang?`
Langdon sangat tercengang, karena sebuah lingkaran tak sempurna bersinar mengelilingi mayat itu. Sauniere tampaknya sebelum meninggal telah berbaring dan mengayunkan spidol itu
membuat beberapa kali garis lengkung mengelilingi dirinya, sedemikian rupa sehingga dia berada di dalam sebuah lingkaran. Secepat kilat, semuanya menjadi jelas.
`Manusia Vitruvian,` Langdon tersengal. Sauniere telah menciptakan tiruan dari sketsa Leonardo da Vinci yang paling tersohor, seukuran manusia.
Dianggap sebagai gambar yang paling tepat secara anatomi pada zamannya, gambar Da Vinci The Vitruvian Man telah menjadi ikon kultur zaman modern, karena kini gambar itu muncul pada poster-poster, tatakan mouse, dan T shirt di seluruh dunia. Lukisan terkenal itu terdiri atas sebuah lingkaran sempurna, di dalamnya ada seorang lelaki bugil ... kedua lengan dan tungkainya terentang seperti elang telanjang.
Da Vinci. Langdon menggigil karena takjub. Kejernihan niat Sauniere tak dapat disangkal. Di saat terakhir hidupnya, kurator itu telah menanggalkan semua pakaiannya dan mengatur tubuhnya sedemikan rupa sehingga merupakan sebuah gambaran jelas dari Vitruvian Man karya Leonardo da Vinci.
Lingkarannya merupakan elemen kritis yang hilang. Sebagai simbol feminin dari perlindungan, lingkaran di luar tubuh bugil seorang lelaki itu melengkapi pesan yang dimaksud Da Vincikeharmonisan antara lelaki dan perempuan. Pertanyaannya sekarang, mengapa Sauniere meniru gambar tersohor itu.
`Pak Langdon,` ujar Fache, `seorang seperti Anda, tentu saja, sadar bahwa Leonardo da Vinci mempunyai kecenderungan ke arah seni yang lebih gelap.`
Langdon terkejut akan pengetahuan Fache tentang Da Vinci, dan itu tentu saja menjelaskan alasan sang kapten atas kecurigaannya pada pemujaan setan. Da Vinci selalu merupakan bahan pembicaraan aneh para sejarawan, terutama dalam sejarah tradisi Kristen. Walau Da Vinci merupakan seorang pelamun genius, dia juga seorang homoseksual yang flamboyan dan pemuja hukum suci Alam. Kedua hal itu membuat dirinya berdosa di hadapan Tuhan selamanya. Tambahan pula, keanehan-keanehan yang mengerikan dari Da Vinci menonjolkan aura kesetanan yang tak terbantahkan: Da Vinci mengambil mayat manusia dari kuburan untuk mempelajari anatominya; dia menulis buku harian misterius dalam tulisan tangan yang tak terbaca; dia percaya memiliki kekuan-an alkemi untuk mengubah metal menjadi emas dan bahkan dia bisa mencurangi Tuhan dengan menciptakan eliksir untuk menunda kematian; dan penemuannya mencakup senjata menakutkan, atau alat penyiksa yang belum pernah terbayangkan. Salah pengertian dupat mengakibatkan ketidak percayaan, pikir Langdon.
Bahkan sumbangan besar Da Vinci pada seni Kristiani yang sangat mengagumkan hanyalah semakin memperburuk reputasi seniman itu karena kemunafikan spiritual. Dengan menerima komisi-komisi yang menguntungkan dari Vatikan, Da Vinci melukis tema-tema Kristiani tidak sebagai ekspresi yang dipercayainya namun lebih sebagai tindakan komersial saja-sebuah cara untuk mengongkosi gaya hidup yang mewah. Sialnya, Da Vinci merupakan orang yang suka berolok-olok yang senang menggerogoti tangan yang memberinya makan, yaitu gereja Vatikan. Lukisanlukisan Kristianinya umumnya merupakan simbolisme tersembunyi yang hanya menyangkut Kristen-penghormatan pada kepercayaannya sendiri dan sebuah olok-olok untuk Gereja. Langdon sendiri pernah memberikan kuliah di National Gallery di London dengan judul: `Kehidupan Rahasia Leonardo da Vinci: Simbolisme Pagan dalam Seni Kristiani.`
`Saya mengerti maksud Anda,` ujar Langdon, `tetapi Da Vinci tidak pernah betul-betul melakukan kesenian gelap. Dia sangat spiritual, sekalipun sering bercekcok dengan Gereja.` Selagi Langdon mengatakan ini, sebuah pikiran aneh muncul dalam benaknya. Dia menatap ke bawah pada pesan di atas lantai lagi. O, setan Draconia! Oh, orang suci yang lemah!
`Ya?` tanya Fache.
Dengan berhati-hati Langdon mempertimbangkan kata-katanya. `Saya baru saja berpikir bahwa Sauriiere mempunyai banyak kesamaan ideologi dengan Da Vinci, termasuk keprihatinannya pada penyisihan perempuan suci dari agama modern. Mungkin, dengan meniru gambar Da Vinci yang tersohor, Sauniere hanya mengulang kekecewaan bersama mereka pada setanisasi sang dewi oleh Gereja modern.`
Tatapan mata Fache mengeras. `Anda pikir Sauniere menyebut Gereja sebagai orang suci yang lemah dan setan Draconia?`
Langdon harus mengakui bahwa itu terlalu jauh, namun pentakel itu mendukung gagasan ini pada beberapa hal. `Maksud saya, Pak Sauniere mengabdikan hidupnya untuk mempelajari sejarah dewi, dan dia tidak ingin meniadakan sejarah itu, seperti yang dilakukan Gereja Katolik. Tampaknya masuk akal saja bahwa Sauniere telah memilih untuk mengungkapkan kekecewaannya dalam pesan perpisahannya.`
`Kekecewaan?` tanya Fache, terdengar bermusuhan sekarang. `Pesan ini terdengar lebih sebagai marah daripada kecewa, bukan begitu?`
Langdon kehilangan kesabarannya. `Kapten, Anda meminta pendapat saya berdasarkan insting saya, tentang apa yang Sauniere coba katakan di sini, dan itulah kata insting saya.`
`Bahwa ini adalah sebuah tuduhan kepada Gereja?` geraham Fache merapat ketika dia berbicara dengan gigi-gigi saling merapat. `Pak Langdon, saya telah melihat banyak kematian dalam pekerjaan saya, dan izinkan saya mengatakan sesuatu. Ketika seseorang dibunuh oleh orang lain, saya tidak percaya bahwa pikiran terakhirnya adalah untuk menulis pernyataan kabur yang tak kan dimengerti oleh siapa pun. Saya percaya, dia hanya memikirkan satu soal saja.` Desis suara Fache mengiris udara. `La vengeance. Saya percaya Sauniere menulis ini semua untuk mengatakan siapa pembunuhnya.`
Langdon menatap. `Tetapi, itu sama sekali tidak masuk akal.` `Tidak?`
`Tidak,` dia balas berseru, letih dan putus asa. `Anda mengatakan bahwa Sauniere diserang oleh seseorang yang diundangnya dalam kantornya.`
` Ya.`
`Jadi, tampaknya masuk akal jika disimpulkan bahwa kurator itu mengenal penyerangnya.`
Fache mengangguk. `Teruskan.`
`Jadi, jika Sauniere mengenal penyerangnya, tuduhan apa ini?` Dia menunjuk ke lantai. .`Kode-kode angka? Orang-orang suci yang lemah? Setan-setan Draconia? Pentakel pada perutnya? Ini semua terlalu samar.`
Fache mengerutkan dahinya seolah gagasan itu tak pernah muncul dalam benaknya. `Anda benar.`
`Mengingat keadaan-keadaannya,` Langdon berkata, `saya akan mengatakan, jika Sauniere ingin mengatakan siapa pembunuhnya, dia akan menuliskan nama orang itu.`
Ketika Langdon mengucapkan kata-kata itu, senyum simpul tersungging pada wajah Fache untuk pertama kalinya semalaman ini. `Precisement,` katanya. `Tepat sekali.`
Aku menjadi saksi pekerjaan seorang pakar, Letnan Collet merenung sambil menyentuh perlengkapan audionya dan mendengarkan suara Fache masuk melalui headphone. Agent superiur itu tahu bahwa saat-saat seperti inilah yang telah melambungkan kaptennya ke kedudukan puncak penyelenggara hukum di Prancis.
Fache akan melakukan apa yang tak seorang pun berani lakukan.
Kehalusan seni cajoler merupakan keahlian yang hilang dari penyelenggaraan hukum modern, yaitu kemampuan seseorang untuk tetap bersikap tenang dalam keadaan tertekan. Hanya sedikit orang yang memiliki ketenangan yang penting itu untuk menjalankan operasi seperti ini, namun Fache seolah dilahirkan untuk itu. Kepandaiannya menguasai diri dan kesabarannya hampir seperti robot.
Hanya perasaan Fache malam ini tampak menjadi ketetapan hati yang kuat, seolah penangkapan ini sangat pribadi sifatnya. Pengarahan Fache kepada anggota-anggotanya satu jam yang lalu, tak seperti biasanya, sangat ringkas dan meyakinkan. Aku tahu siapa yang membunuh Sauniere, kata Fache tadi. Kalian tahu apa yang harus kalian kerjakan. Jangan buat kesalahan malam ini.
Dan sejauh ini, tak ada kesalahan yang mereka perbuat. Collet belum dilibatkan dalam bukti-bukti yang telah memperkuat keyakinan Fache tentang orang yang diduga bersalah, namun Collet tahu, dia tak perlu mempertanyakan insting Sang Banteng. Intuisi Fache kadang-kadang tampaknya hampir mendekati supranatural. Tuhan berbisik pada telinganya, ujar seorang agen dengan yakin setelah dia menyaksikan pameran indra keenam Fache yang sangat mengesankan itu. Collet harus mengakui, jika ada Tuhan, Bezu Fache pastilah terdaftar pada daftar A-Nya. Sang kapten menghadiri misa dan pengakuan dengan sangat teratur kehadirannya jauh lebih banyak daripada yang diharuskan pada hari-hari suci seperti yang dilakukan oleh para petugas lainnya, yang melakukan itu supaya mendapat pujian saja. Ketika Paus mengunjungi Paris beberapa tahun yang lalu, Fache berusaha sekerasnya untuk mendapat kunjungan kehormatan dari Paus. Selembar foto Fache bersama Paus sekarang tergantung di kantornya. Sang Banteng penerus Paus, begitu diam-diam para anggotanya menyebutnya.
Namun ironis bagi Collet, bahwa salah satu pendapat Fache yang jarang terdengar di publik adalah justru reaksi lantangnya terhadap skandal pedophilia dalam gereja Katolik. Para pastor itu seharusnya digantung dua kali! Fache menyatakan dengan keras. Satu untuk kejahatan mereka terhadap anak-anak, dan satu lagi atas nama Gereja Katolik. Collet mempunyai perasaan aneh, bahwa yang kedualah yang merribuat Fache marah sekali.
Sekarang Collet kembali pada layar laptopnya. Dia mulai mengerjakan separuh kewajibannya malam ini-sistem pelacakan GPS. Gambar pada layar menampakkan gambar rinci ruangan Sayap Denon, sebuah skema struktural yang diambil dari kantor keamanan Museum Louvre. Collet membiarkan matanya melacak jaringan jalan yang ruwet dari galeri-galeri dan gang-gang, sampai akhirnya dia mendapatkan apa yang dicarinya.
Jauh di tengah Galeri Agung, sebuah titik merah kecil berkedip.
La marque.
Fache telah mengendalikan mangsanya dengan tali kekang yang ketat malam ini. Begitu bijaksananya sehingga Robert Langdon telah membuktikan dirinya sendiri sebagai `pelanggan` yang tenang.
9
UNTUK MEYAKINKAN bahwa percakapannya dengan Langdon tak kan terganggu, Bezu Fache telah mematikan telepon selularnya. Sialnya, telepon selularnya merupakan model yang mahal dengan fitur radio dua jalur sehingga hasilnya justru berlawanan dengan apa yang diharapkannya. Salah satu agennya masih bisa menghubunginya, yaitu Collet.
`Captaine?` Telepon itu berbunyi serak seperti sebuah walkie-talkie.
Fache merasa gigi-geliginya merapat kuat karena marah. Dia dapat membayangkan ini seharusnya tidak terlalu penting, namun Collet menelponnya juga dan mengganggu surveillance cache ini terutama pada saat genting seperti ini.
Dia menatap Langdon untuk minta maaf. `Sebentar, ya.` Dia menarik teleponnya dari ikat pinggang dan menekan tombol penerima. `Oui?`
`Capitaine, un agent du Departement de Cryptograhie est arrive.`
Kemarahan Fache mereda sejenak. Seorang kriptografer datang? Walaupun ini bukan waktu yang tepat, namun mungkin saja ini merupakan berita bagus. Fache, setelah menemukan teks tak jelas yang merupakan pesan terakhir Sauniere di atas lantai, mengirim semua gambar di tempat kejadian kriminal tersebut ke Departemen Kriptografi dengan harapan ada seseorang yang dapat mengatakan kepadanya apa sebenarnya yang Sauniere maksudkan. Jika seorang pemecah kode kini telah tiba, berarti sudah ada orang yang memecahkan kode pesan Sauniere.
`Aku sedang sibuk sekarang,` jawabnya dengan nada kesal karena larangannya dilanggar. `Katakan kepada kriptografer itu untuk menungguku di pos komando. Aku akan berbicara kepada lelaki itu jika aku sudah selesai.`
`Perempuan,` suara itu mengoreksi. `Ini Agen Neveu.` Kemarahan Fache karena telepon itu semakin menjadi. Sophie Neveu adalah salah satu kesalahan terbesar DCPJ. Sophie adalah seorang perempuan muda Paris dechiffreuse yang belajar kriptografi di Inggris pada Royal Holloway Sophie Neveu telah disisipkan di departemen Fache dua tahun yang lalu sebagai bagian dari program menteri untuk lebih banyak menggunakan tenaga kerja perempuan di kepolisian. Pemaksaan kementerian dengan tujuan politik itu, menurut Fache, telah memperlemah departemennya. Perempuan tidak hanya lemah tubuhnya untuk pekerjaan seorang polisi, tetapi penampilan mereka merupakan pengganggu konsentrasi kerja yang berbahya bagi lelaki di lapangan. Seperti yang dikhawatirkan Fache, Sophie Neveu tengah membuktikan bahwa dia merupakan pengganggu yang luar biasa.
Sebagai perempuan 32 tahun, Sophie sangat keras kepala. Semangatnya untuk mengadopsi metodologi kriptologi baru Inggris terus-menerus merepotkan para kriptografer veteran Prancis yang berada di atasnya. Dan yang paling mengganggu Fache adalah sebuah kebenaran universal yang tak dapat dihindari, bahwa .di sebuah kantor yang penuh lelaki separuh baya, seorang perempuan cantik selalu mengalihkan perhatian mereka dari pekerjaan yang tengah dihadapi.
Orang di telepon itu berkata lagi, `Agen Neveu berkeras untuk berbicara dengan Anda segera, Kapten. Saya mencoba menghalanginya, tetapi dia sekarang sedang menuju ke sana.`
Fache tersentak, tak percaya. `Tidak bisa! Aku sudah menegaskan-`
Untuk sesaat Langdon mengira bahwa Bezu Fache terkena stroke. Kalimatnya terputus ketika gerahamnya berhenti bergerak dan matanya terbelalak. Tatapan berapi-apinya tampak terpaku pada sesuatu di belakang Langdon. Sebelum Langdon dapat memutar tubuhnya untuk melihatnya, dia mendengar suara seorang perempuan bergema di belakangnya.
`Excusez-moi, messieurs.`
Langdon melihat seorang perempuan muda berjalan mendekat. Dia melangkah di galeri itu dengan ayunan panjang, mengalir ... gayanya sungguh tak terlupakan. Berbusana santai, dalam sweter Irlandia sepanjang lutut di atas leggings hitam, dia menarik dan tampak berusia sekitar tiga puluhan. Rambut merah kecoklatannya yang lebat jatuh begitu saja di atas bahunya, membingkai wajahnya yang hangat. Tak seperti perempuan berambut pirang yang suka berpura-pura yang menghiasai dinding asrama Harvard, perempuan ini sehat dengan kecantikan yang tak perlu riasan dan kemurniannya memancarkan rasa percaya diri yang memesona.
Langdon terkejut karena perempuan itu langsung berjalan ke arahnya dan mengulurkan tangannya dengan sopan. `Monsieur Langdon, saya Agen Neveu dari Departemen Kriptologi DCPJ.`
Kata-katanya meliuk indah di dalam aksen campuran AngloFranco-nya. `Senang berkenalan dengan Anda.`
Langdon menjabat tangan lembut itu dan sadar bahwa dia terpaku sejenak pada tatapan kuat perempuan itu. Matanya berwarna hijau buah zaitun...tajam dan bening.
Fache menarik napas kemurkaan, jelas bersiap untuk marah. `Kapten,` ujar Sophie, sambil berpaling cepat dan membuat Fache terkesiap, `maafkan gangguan ini, tetapi-`
`Ce n'est pas le moment!` sembur Fache.
`Saya mencoba menelepon Anda,` lanjut Sophie dalam bahasa Inggris, untuk menghormati Langdon. `Tetapi handphone Anda dimatikan.`
`Aku mematikannya karena ada alasan,` Fache mendesis. `Aku sedang berbicara dengan Pak Langdon.`
`Saya sudah memecahkan kode angka itu,` ujar Sophie datar. Jantung Langdon berdebar semakin cepat karena kegirangan. Dia memecahkan kode itu?
Fache tampak tak yakin bagaimana menanggapinya. `Sebelum saya menjelaskan,` kata Sophie, `saya punya pesan penting untuk Pak Langdon.`
Tarikan wajah Fache berubah menjadi perhatian. `Untuk Pak Langdon?`
Sophie mengangguk, kembali berpaling ke arah Langdon. `Anda harus menghubungi Kedutaan Besar Amerika Serikat, Pah. Mereka mempunyai pesan untuk Anda dari Amerika Serikat.`
Langdon terkejut. Kegirangannya tentang kode itu tergantikan dengan riak perhatian tiba-tiba. Sebuah pesan dari Amerika Serikat? Dia mencoba membayangkan siapa yang berusaha menghubunginya. Hanya sedikit dari temannya yang tahu dia ada di Paris.
Geraham Fache yang lebar mengetat karena berita itu. `Kedutaan Besar AS?` tanyanya, terdengar curiga.. `Bagaimana merelca tahu Pak Langdon ada di sini?`
Sophie menggerakkan bahunya. `Tarnpaknya mereka menelepon hotel Pak Langdon, dan penerima tamu mengatakan bahwa Pak Langdon dijemput oleh petugas DCPJ.`
Fache tampak bingung. `Dan Kedutaan Besar menghubungi Kriptografi DCPJ?`
`Tidak, Pak,` kata Sophie, suaranya tegas. `Ketika saya menelepon operator telepon DCPJ untuk menghubungi Anda, mereka mengatakan bahwa mereka punya pesan untuk Pak Langdon dan meminta saya untuk menyampaikannya jika saya berjumpa dengan kalian.`
Alis Fache berkerut, tampak bingung. Dia membuka mulutnya untuk berbicara, namun Sophie telah beralih ke Langdon lagi. `Pak Langdon,` dia melaporkan sambil menarik secarik kertas kecil dari sakunya, `ini nomor telepon pelayanan pesan dari Kedutaan Besar Anda. Mereka ingin Anda sesegera mungkin menelepon.` Dia memberikan kertas tersebut dengan tatapan tajam. `Sementara saya menjelaskan tentang kode itu kepada Kapten Fache, Anda harus menelepon.`
Langdon mempelajari kertas itu. Tertera nomor telepon Paris dan nomor ekstensi. `Terima kasih,` katanya, sekarang dia merasa khawatir. `Di mana aku bisa menelepon?`
Sophie mulai mengeluarkan handphone dari saku sweternya, tetapi Fache mengibaskan tangannya kepada Sophie. Sekarang Fache tampak seperti gunung vesuvius yang siap meletus. Tanpa mengalihkan tatapan dari Sophie, dia mengeluarkan handphone-nya dan memberikannya kepada Langdon. `Ini aman, Pak Langdon. Pakailah.
Langdon merasa bingung dengan kemarahan Fache pada perempuan muda itu. Dengan merasa tak enak, dia menerima handphone sang kapten. Fache langsung menarik Sophie beberapa lang
kah menjauh dan mulai memarahinya dengan berbisik-bisik. Langdon merasa semakin tak menyukai kapten itu, dan menyingkir dari pertengkaran aneh itu untuk kemudian segera menyalakan handphone. Sambil melihat kertas yang diberikan Sophie, Langdon memutar nomor tersebut.
Sambungan itu mulai berdering:
Dering pertama ... dering kedua ... dering ketiga. Akhirnya tersambung.
Langdon mengira akan mendengar suara operator Kedutaan Besar, namun ternyata hanya suara dari sebuah mesin penjawab. Anehnya, suara itu terdengar tak asing. Itu suara Sophie Neveu.
`Bonjour, vous etes bien chez Sophie Neveu,` kata suara perempuan itu. ` je suis absent pour le moment, mais... `
Dengan bingung, Langdon beralih ke Sophie lagi. `Maaf, Nona Neveu? Saya kira Anda telah memberikan-`
`Tidak, itu memang nomornya,` sela Sophie cepat, seolah sudah mengira Langdon akan bingung. `Keduataan Besar punya sistem pesan otomatis. Anda harus memutar kode akses untuk mendengarkan pesan Anda.`
Langdon menatap. `Tetapi...`
`Tiga nomor kode pada kertas yang saya berikan pada Anda itu.`
Langdon membuka mulutnya untuk menjelaskan kesalahan yang aneh itu, namun Sophie mendelik padanya sekejap. Mata hijaunya mengirimkan pesan yang sangat jelas.
Jangan bertanya. Lakukan saja.
Dengan bimbang, Langdon memutar nomor ekstensi yang tertera pada kertas itu. 454.
Pesan suara Sophie langsung terputus, dan Landon mendengar suara elektronik dalam bahasa Prancis. `Anda punya satu pesan baru.` Tampaknya 454 adalah kode akses Sophie untuk mendengarkan pesan ketika dia tidak di rumah.
Aku mendengarkan pesan milik perempuan itu?
Langdon dapat mendengar suara pita yang sekarang diputar balik. Akhirnya berhenti dan mesin itu tersambung. Langdon mendengarkan pesan itu. Lagi, pesan itu dalam suara Sophie.
`Pak Langdon,` pesan itu mulai dalam suara bisikan yang menakutkan. `Jangan bereaksi karena pesan ini. Dengarkan saja. Anda sekarang dalam bahaya. Ikuti petunjukku dengan sangat hati-hati.`
10
SILAS DUDUK di belakang kemudi mobil Audi hitam yang telah disiapkan Guru dan menatap ke luar ke arah Gereja Saint-Sulpice. Gereja itu disinari dari lampu di bawah sehingga dua menara loncengnya menjulang seperti penjaga di atas gedung jangkung itu. Pada setiap sayap bangunannya, sederetan dinding penyangga yang bagus menonjol seperti tulang iga binatang liar yang indah.
Para penyembah berhala itu menggunakan rumah Tuhan untuk menyembunyikan batu kunci mereka. Kembali kelompok persaudaraan itu menegaskan reputasi legendaris mereka dalam hal ilusi dan kebohongan. Silas menunggu-nunggu untuk mencari batu kunci itu dan memberikannya kepada Guru sehingga mereka dapat menemiikaii kembali apa yang telah lama dicuri oleh kelompok persaudaraan itu dari orang-orang yang beriman.
Opus Dei akan menjadi sangat kuat.
Silas memarkir Audi-nya di tempat parkir Place Saint-Sulpice yang sunyi, kemudian dia menarik napas, mengatakan pada dirinya sendiri supaya membersihkan pikirannya untuk menjalankan tugas ini. Punggung lebarnya sakit karena ritual pembersihan diri yang telah dilakukannya tadi pagi, namun rasa sakit itu tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan penderitaan hidupnya sebelum Opus Dei menyelamatkannya.
Kenangan itu masih menghantui jiwanya.
Hilangkan kebencianmu, Silas memerintahkan diri sendiri. Maafkan mereka yang menghalangimu.
Sambil menatap menara batu Saint-Sulpice, Silas melawan arus ... yang menarik pikirannya ke masa lampau, mengunci dirinya sekali lagi di dalam penjara yang telah pernah menjadi dunianya ketika dia masih muda. Kenangan akan penyucian dosa datang seperti dulu, seperti prahara bagi perasaannya ... bau kol busuk, aroma kematian, air seni manusia, tinja. Tangisan keputusasaan di dalam desau angin Pirenia dan isak orang-arang yang terlupakan.
Andorra, pikirnya, merasa otot-ototnya menegang.
Luar biasa. Kejadian itu terjadi di daerah kekuasaan yang tandus dan terlupakan di antara Spanyol dan Prancis. Dia menggigil dalam sel batunya, hanya menginginkan kematian, namun dia diselamatkan ketika itu.
Dia tak menyadarinya pada waktu itu. Cahaya itu datang lama setelah guntur.
Ketika itu namanya bukan Silas, namun dia tak ingat lagi nama yang diberikan orang tuanya. Dia telah meninggalkan rumahnya ketika berusia tujuh tahun. Ayahnya yang pemabuk, seorang pekerja pelabuhan yang berotot, sangat murka karena kelahiran anak lelakinya yang albino, kemudian sering memukuli ibunya dan menyalahkannya karena keadaan bayi mereka yang memalukan. Ketika si anak mencoba membela ibunya, dia juga dipukuli dengan kejam.
Suatu malam, terjadi perkelahian sengit, dan ibunya tak pernah bangun lagi. Anak lelaki itu berdiri di samping ibunya yang sudah meninggal dan merasa sangat berdosa karena membiarkan hal itu terjadi.
Ini kesalahanku!
Seolah ada sejenis setan yang memengaruhinya, anak lelaki itu berjalan menuju dapur dan meraih sebilah pisau daging. Seperti terhipnotis, dia bergerak ke kamar tidur tempat ayahnya tertidur mabuk. Tanpa sepatah kata pun, anak lelaki itu menikam punggung ayahnya. Ayahnya berteriak kesakitan dan mencoba membalik tubuhnya, namun anaknya menikamnya lagi, dan lagi, hingga akhirnya apartemen itu senyap.
Anak lelaki itu melarikan diri, namun kemudian mendapati bahwa kehidupan di jalan Marseille juga tidak ramah. Penampilannya yang aneh membuatnya tak berteman di antara anakanak muda yang minggat dari rumah juga. Dia akhirnya terpaksa tinggal di ruang bawah tanah sebuah pabrik rusak, memakan buah curian dan ikan mentah dari pelabuhan. Temannya hanyalah majalah bekas yang ditemukannya di sampahan, dan dia belajar sendiri untuk membacanya. Waktu berlalu, dia tumbuh menjadi kuat. Ketika dia berusia dua belas tahun, seorang gelandangan lain-seorang gadis dua kali umurnya-mengejeknya di jalan, dan berusaha mencuri makananya. Gadis itu dihajar hingga hampir menemui ajalnya. Ketika pemilik gedung tersebut memisahkannya dari gadis itu, dia diberi ultimatum-meninggalkan Marseille atau dikirim ke penjara remaja.
Anak lelaki itu pindah ke pantai Toulon. Dengan berlalunya waktu, penampilannya yang ketakutan di jalan berubah menjadi menakutkan. Anak itu telah tumbuh menjadi seorang lelaki yang sangat kuat. Ketika orang melaluinya, dia dapat mendengar mereka membicarakannya. Hantu, kata mereka. Mata mereka melebar ketakutan ketika melihat kulit putihnya. Hantu bermata setan!
Dan dia merasa seperti hantu ... tembus pandang ... melayang dari satu pelabuhan ke pelabuhan yang lainnya.
Kelihatannya orang-orang melihat menembus dirinya.
Ketika berusia delapan belas tahun, di kota pelabuhan, saat dia berniat mencuri sepeti lemak daging babi dari kargo kapal, dia tertangkap oleh sepasang anak buah kapal. Kedua pelaut yang mulai memukulinya itu berbau bir, seperti ayahnya dulu.
Kenangan akan kebencian dan ketakutan muncul seperti monster dari kedalaman. Anak muda itu mematahkan leher pelaut pertama dengan tangan kosongnya, dan kedatangan polisilah yang menyelamatkan pelaut kedua dari nasib yang sama.
Dua bulan kemudian, dengan terbelenggu, dia tiba di penjara Andora.
Kau seputih hantu, teman seselnya mengoloknya ketika para penjaga membawanya ke dalam sel, bugil dan kedinginan. Mira el espectro! Mungkin hantu dapat menembus dinding ini!
Setelah dua belas tahun, daging dan jiwanya melayu hingga dia tahu telah menjadi tembus pandang.
'Aku hantu
Aku tak berbobot
Yo soy un espectro ... palido como un fantasma ... caminando este munda a solas.
Suatu malam, hantu itu terbangun karena jeritan teman satu selnya. Dia tak tahu kekuatan tak tampak apa yang dapat ,mengguncang lantai tempat dia tidur, ataupun tangan kuat yang dapat menggetarkan sel batunya yang besar itu, namun ketika dia terloncat berdiri, sebuah batu besar jatuh persis di tempat yang baru saja dia tiduri. Dia mendongak untuk melihat dari mana datangnya batu-batu itu, dan di atasnya, sebuah pemandangan yang tak pernah dilihat sebelumnya. Rembulan.
Walau bumi masih bergoyang, si hantu turhuyung-huyung melalui sebuah terowongan sempit, lalu dengan bingung dia keluar dan mendapatkan pemandangan yang luas, kemudian dia terjatuh ke sisi gunung yang tandus dan masuk ke hutan. Dia berlari sepanjang malam, terus menurun, gemetar karena lapar dan lelah. Si hantu menyusuri tepian kesadarannya, dan saat fajar me nyingsing dia telah tiba di sebuah jalan kereta api yang memotong sebuah lapangan. Dia mengikuti jalan kereta api itu, terus bergerak seolah dalam mimpi. Kemudia dia melihat sebuah gerbong kosong; dia memasukinya untuk berlindung dan beristirahat. Ketika dia terbangun, kereta api itu sedang bergerak. Sudah berapa lama? Sejauh apa? Ada rasa sakit pada perutnya. Apakah aku mati? Dia tertidur lagi. Kali ini dia terbangun karena seseorang berteriak, memukulinya, melemparnya keluar dari gerbong itu. Dengan berdarah-darah, dia menggelandang di pinggiran sebuah desa kecil untuk mencari makan, namun gagal. Akhirnya, tubuhnya terlalu lemah untuk melangkah lagi. Dia terbaring di pinggir jalan, pingsan.
Cahaya itu perlahan-lahan datang, dan si hantu bertanyatanya sudah berapa lama dia mati. Satu_ hari? Tiga hari? Tak penting. Tempat tidurnya lembut seperti awan, dan udara di sekitarnya tercium bau lilin manis. Yesus ada di sana, menatapnya. Aku di sini, kata Yesus. Batu itu telah digulingkan ke tepi, kau dilahirkan kembali.
Dia tidur dan terbangun. Kabut memenuhi pikirannya. Dia tak pernah percaya pada surga, namun demikian Yesus menjaganya. Makanan datang di samping tempat tidurnya, dan si hantu memakannya. Dia hampir dapat merasakan dagingnya bertambah di atas tulang belulangnya. Dia tertidur lagi. Ketika terbangun, Yesus masih tetap tersenyum padanya, dan berkata. Kau, aman, anakku. Restu bagi yang mengikuti jalan-Ku.
Dia tertidur lagi.
Sebuah jeritan penuh derita telah mengejutkan si hantu dari tidurnya. Tubuhnya melangkah dari tempat tidurnya, terhuyunghuyung dalam gang menuju suara teriakan itu. Dia memasuki sebuah dapur dan melihat seorang lelaki besar memukuli seorang lelaki lainnya yang lebih kecil. Tanpa dia tahu mengapa, si hantu mencengkeram lelaki besar itu dan mendorongnya ke dinding. Orang itu melarikan diri, meninggalkan si hantu berdiri di samping lelaki muda dalam jubah pendeta. Hidung pendeta itu terluka parah. Si hantu mengangkat tubuh pendeta itu lalu meletakkannya di atas bangku panjang.
`Terima kasih, temanku,` kata pendeta itu dalam bahasa Prancis yang kaku. `Uang sumbangan itu telah menggoda para pencuri. Kau berbicara bahasa Prancis dalam tidurmu. Kau juga bisa berbahasa Spanyol?`
Si hantu menggelengkan kepalanya.
`Siapa namamu?` pendeta itu melanjutkan dengan bahasa Prancis yang buruk.
Si hantu tak dapat mengingat nama yang diberikan orang tuanya. Yang didengarnya hanyalah ejekan-ejekan para penjaga penjara.
Pendeta itu tersenyum. `No hay problema. Namaku Manuela Aringarosa. Aku seorang misionaris dari Madrid. Aku dikirim ke sini untuk membangun sebuah gereja bagi Obra de Dios.`
`Aku di mana?` suara si hantu terdengar bergaung. `Oviedo. Sebelah utara Spanyol.`
`Bagaimana aku bisa sampai ke sini?`
`Seseorang meninggalkanmu di depan pintu rumahku. Kau sakit waktu itu. Aku memberimu makan. Kau sudah berhari-hari di sini.`
Si hantu mempelajari lelaki yang telah merawatnya. Sudah lama sekali si hantu tak melihat orang berbuat baik. `Terima kasih, Bapak.`
Pendeta itu menyentuh bibirnya yang berdarah. `Akulah yang berterima kasih, temanku.`
Ketika si hantu terbangun keesokan harinya, dunianya terasa lebih terang. Dia menatap tanda salib yang tergantung di dinding di atas tempat tidurnya. Walau benda itu tak berkata apa-apa, dia merasakan suasana yang nyaman karena kehadirannya. Ketika duduk, dia melihat sebuah guntingan koran di atas meja samping tempat tidurnya. Artikel itu berbahasa Prancis, berusia seminggu. Ketika membaca ceritanya, dia ketakutan. Cerita itu tentang gempa bumi di pengunungan yang telah menghancurkan sebuah penjara dan membebaskan banyak penjahat berbahaya.
Jantungnya berdebar keras. Pendeta itu tahu siapa aku! Perasaan yang dirasakannya adalah perasaan yang lama tak pernah dirasakannya lagi. Malu. Bersalah. Dan bersamaan dengan itu, dia juga takut tertangkap. Dia terloncat dari tempat tidurnya. Aku harus lari ke mana?
`Kisah Para Rasul,` suara itu datang dari pintu. Si hantu menoleh dan ketakutan.
Pendeta muda itu tersenyum ketika , memasuki kamarnya. Hidungnya dibalut dengan aneh, dan dia memegang Alkitab tua. `Aku menemukannya di Prancis untukmu. Babnya ditandai.`
Dengan ragu, si hantu menerima Alkitab itu dan melihat bab yang ditandai oleh sang pendeta.
Kisah Para Rasul 16
Ayat-ayat itu menceritakan tentang seorang narapidana bernama Silas yang terbaring bugil dan disiksa di sel penjara, menyanyikan himne untuk Tuhan. Ketika si hantu tiba di Ayat 26, dia menahan napasnya, terkejut.
`Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua. `
Matanya menatap tajam pada pendeta itu.
Pendeta itu tersenyum hangat. `Mulai sekarang, temanku, jika kau tak punya nama lain, aku akan memanggilmu Silas.`
Si hantu mengangguk kosong. Silas. Dia telah diberi daging. Namaku Silas.
`Waktunya makan pagi,` kata pendeta itu. `Kau memerlukan kekuatan jika kau akan membantuku membangun gereja.`
Dua puluh ribu kaki di atas Mediterrania, pesawat Alitalia penerbangan 1618, terguncang dalam turbulensi, mengakibatkan para penumpang bergerak bingung. Uskup Aringarosa tak merasakannya. Pikirannya sedang berada di masa depan Opus Dei. Dia sangat ingin tahu bagaimana kemajuan rencana di Paris. Dia berharap dapat menelepon Silas. Namun tak bisa. Guru telah mencegahnya tadi.
`Ini untuk keselamatanmu,` jelas Guru, berbahasa Inggris dengan aksen Prancis. `Aku cukup mengenal peralatan komunikasi elektronik yang kutahu dapat disadap. Akibatnya dapat berbahaya untukmu.`
Aringarosa tahu Guru benar. Guru tampaknya orang yang betul-betul berhati-hati. Dia tak mengatakan identitasnya kepada Aringarosa, namun dia dapat membuktikan bahwa dirinya patut dipatuhi. Lagi pula, dia telah mendapatkan informasi yang sangat rahasia. Nama-nama empat anggota tertinggi persaudaraan! Ini adalah salah satu dari tindakan-tindakan yang meyakinkan uskup itu bahwa Guru memang bisa memberikan ganjaran yang hebat yang dia akui bisa ia berikan.
`Uskup,` kata Guru padanya, `Aku sudah mengatur semuanya. Untuk menjalankan rencanaku, kau harus membiarkan Silas hanya berbicara padaku untuk beberapa hari saja. Kalian berdua tidak akan saling berbicara. Aku akan berkomunikasi dengannya melalui saluran-saluran yang aman.`
`Anda akan memperlakukannya dengan hormat?` `Seorang yang percaya' berhak mendapatkan yang terbaik.` `Bagus sekali. Saya mengerti kalau begitu. Silas dan saya tidak akan berbicara hingga ini semua selesai.`
`Aku melakukan ini untuk melindungi identitasmu, identitas Silas, dan investasiku.`
`Investasi Anda?`
`Uskup, jika semangatmu sendiri untuk terus bergerak maju mengakibatkanmu masuk penjara, kau tidak akan bisa membayar upahku.`
Uskup tersenyum. `Benar sekali. Keinginan kita sejalan. Semoga berhasil.`
Dua puluh juta euro, pikir Uskup. Sekarang dia menatap ke luar jendela pesawat. Jumlah itu kira-kira sama dengan jumlah dalam dolar Amerika. jumlah yang sedikit untuk sesuatu yang sangat kuat.
Dia merasakan adanya keyakinan yang dibarui yang tak kan digagalkan oleh Guru dan Silas. Uang dan keyakinan adalah motivasi yang kuat.
11
`UNE PLAISANTERIE numerique?` Bezu Fache sangat marah, dan tak percaya, mendelik pada Sophie Neveu. Sebuah lelucon numeris? `Dugaan profesionalmu tentang kode Sauniere adalah sejenis kelakar matematika?`
Fache sama sekali tidak mengerti pada kekurangajaran perempuan itu. Tidak saja dia menyerobot masuk tanpa izin Fache, namun sekarang Sophie berusaha meyakinkannya bahwa pada saat-saat terakhir hayatnya, Sauniere telah terinspirasi untuk meninggalkan lelucon matematis?
`Kode ini,` jelas Sophie dalam bahasa Prancis yarig cepat, `merupakan bentuk sederhana dari tujuan yang tak masuk akal. Jacques Sauniere pastilah sudah tahu bahwa kita akan langsung melihatnya.` Dia menarik secarik kartu dari saku sweternya dan memberikannya kepada Fache. `Ini deskripsinya.`
Fache menatap kartu itu.
1-1-2-3-5-8-13-21
`Ini?` dia membentak. `Yang kau kerjakan hanyalah menyusun nomor-nomor itu dengan urutan makin membesar!`
Sophie benar-benar memiliki keberanian untuk tersenyum puas. `Memang.`
Suara Fache turun sekali hingga seperti suara perut. `Agen Neveu, aku tidak tahu apa maksudmu dengan ini, tetapi kusarankan untuk menjelaskannya segera.` Dia menatap Langdon dengan cemas, yang berdiri dekat mereka dengan telepon tertekan pada telinganya, tampaknya masih mendengarkan pesan dari Kedutaan Besar A.S. Dari tarikan wajah Langdon yang kelabu, dia mengira pesan itu pastilah pesan buruk.
`Kapten,` ujar Sophie, nada suaranya menantang sekali, `rangkaian nomor yang ada di tangan Anda itu adalah salah satu dari deret ukur matematika yang paling terkenal dalam sejarah.`
Fache tidak tahu bahwa ada deret ukur matematika yang berkualitas dan terkenal, dan dia jelas tidak menghargai nada suara Sophie yang terdengar masa bodoh itu.
`Ini adalah rangkaian Fibonacci,` jelas Sophie, mengangguk pada secarik kertas di tangan Fache. `Sebuah deret ukur yang setiap angka sama dengan jumlah dari dua angka di depannya.`
Fache mempelajari nomor-nomor itu. Setiap nomor memang merupakan jumlah dari dua nomor di depannya, namun Fache masih tetap tak dapat membayangkan apa hubungannya dengan kematian Sauniere.
`Ahli matematika Leonardo Fibonacci menciptakan rangkaian nomor ini pada abad ketiga belas. Jelas, bukanlah sekadar kebetulan bahwa deret angka yang ditulis Sauniere di lantai merupakan bagian dari deret angka Fibonacci yang terkenal itu.`
Fache menatap perempuan muda itu beberapa saat. `Baik, jika itu bukan kebetulan, katakan padaku mengapa Jacques Sauniere memilih untuk melakukan itu. Maksudnya apa? Apa artinya ini?`
Sophie menggerakkan bahunya. `Sama sekali bukan apa pun. Memang itu tujuannya. Hanya sebuah lelucon kesederhanaan kriptografi. Seperti menyalin kata-kata dari sebuah puisi terkenal dan mengacaknya untuk melihat apakah ada orang mengenal katakata tersebut.`
Fache melangkah penuh ancaman ke depan, mendekatkan wajahnya hanya beberapa inci saja dari wajah Sophie. `Aku betulbetul mengharapkanmu memberikan penjelasan yang lebih memuaskan dari sekadar itu saja.`
Wajah Sophie yang lembut berubah menjadi keras ketika dia mencondongkan wajahnya. `Kapten, mengingat apa yang telah Anda kerjakan malam ini di sini, saya pikir Anda mungkin akan senang karena tahu bahwa Sauniere sedang mempermainkan Anda. Ternyata Anda tidak. Saya akan menginformasikan kepada direktur Kriptografi bahwa Anda tak lagi memerlukan bantuan kami.` Dengan itu Sophie berputar, dan berjalan ke arah dia masuk tadi.
Fache terpaku, menatapnya menghilang dalam kegelapan. Apa dia gila? Sophie Neveu baru saja menegaskan lagi sebuah le suicide professionnel.
Fache beralih ke Langdon, yang masih bertelepon, tampak lebih serius dari sebelumnya, mendengarkan dengan lebih saksama pesan teleponnya. Kedutaan Besar A.S Bezu Fache membenci banyak hal ... namun hanya ada sedikit hal yang membuatnya lebih marah daripada amarahnya kepada Kedutaan Besar A.S.
Fache dan Duta Besar sering berselisih tentang pembagian kewenangan-pertengkaran mereka yang paling biasa adalah penerapan hukum bagi warga Amerika yang berkunjung. Hampir setiap hari, DCPJ menangkap seorang pelajar Amerika dari program pertukaran pelajar karena memiliki obat bius, para pengusaha Amerika yang mencari pelacur di bawah umur, turis Amerika yang mencuri belanjaan atau merusak properti. Secara hukum, Kedutaan Besar A.S. dapat ikut membantu dengan mengusir mereka pulang ke A.S., dan di sana mereka hanya akan menerima hukuman pukulan pada pergelangan tangan.
Dan Kedutaan Besar hanya melakukan itu saja, tanpa kecuali. Lemasculation de la Police Judiciaire, begitu Fache menyebutnya. Paris Match baru saja mengeluarkan sebuah kartun sindiran, melukiskan Fache sebagai anjing polisi, mencoba menggigit seorang penjahat Amerika, tetapi tak sanggup karena terantai pada Kedutaan Besar AS.
Tidak malam ini, kata Fache pada dirinya sendiri. Ada banyak yang dipertaruhkan.
Saat itu juga Robert Langdon menutup teleponnya. Dia tampak pucat.
`Semua beres?` tanya Fache.
Dengan lemah Langdon menggelengkan kepalanya.
Kabar buruk dari rumah, Fache menerka. Dia melihat Langdon sedikit berkeringat ketika dia mengambil kembali teleponnya. `Sebuah kecelakaan,` Langdon tergagap, menatap Fache dengan ekspresi aneh. `Seorang teman ....` Dia ragu-ragu. `Aku harus pulang, segera pagi ini.`
Fache yakin tarikan wajah Langdon itu bukan pura-pura, dan dia juga ikut merasakannya, seolah-olah ketakutan itu samar samar terlihat pada mata orang Amerika itu. `Saya ikut prihatin,` kata Fache sambil menatap Langdon dengan saksama. `Anda mau duduk?` dia menunjuk pada satu bangku yang ada di galeri itu. Langdon mengangguk begitu saja dan melangkah ke arah bangku itu. Dia berhenti, tampak semakin bingung saja. `Sebenarnya, kukira aku perlu ke kamar kecil.`
Fache mengerutkan keningnya karena penundaan itu. `Kamar kecil. Tentu saja. Mari kita istirahat beberapa menit.` Dia menunjuk ke gang, arah mereka masuk tadi. `Kamar kecil ada di belakang kantor kurator.`
Langdon ragu-ragu, sambil menunjuk ke arah yang lain ke arah ujung koridor Galeri Agung. `Saya rasa ada kamar kecil yang lebih dekat di akhir koridor sana.`
Fache tahu, Langdon benar. Mereka berada pada dua pertiga panjang koridor, dan gang buntu Galeri Agung berakhir pada sepasang kamar kecil. `Saya perlu temani Anda?`
Langdon menggelengkan kepalanya, sudah bergerak makin ke dalarn galeri. `Tidak perlu. Saya ingin sendirian beberapa menit saja.
Fache tidak khawatir karena Langdon berjalan sendiri ke sisa panjang koridor ini. Dia merasa tenang karena tahu bahwa Galeri Agung merupakan jalan buntu dan jalan keluar satu-satunya adalah ujung yang lain-gerbang yang mereka terobos tadi. Walaupun peraturan keselamatan kebakaran Prancis mensyaratkan beberapa ruang tangga untuk sebuah gedung sebesar ini, namun ruang tangga tersebut telah secara otomatis terkunci ketika Sauniere menyentuh sistem keamanan. Dijamin, sistem itu sekarang telah dipasang kembali, membuka kunci ruang tangga, tetapi itu tidak masalah pintu-pintu keluar, jika terbuka, akan mematikan alarm kebakaran dan dijaga oleh agen-agen DCPJ. Langdon tidak mungkin dapat pergi tanpa sepengetahuan Fache.
`Saya perlu ke kantor Sauniere lagi sebentar,` kata Fache. `Harap Anda langsung menyusul ke sana. Ada yang masih harus kita diskusikan.`
Langdon melambai, tanpa kata ketika dia menghilang dalam kegelapan.
Fache berputar dan berjalan dengan marah ke arah yang berlawanan. Tiba di pintu gerbang, dia menerobos ke bawah, keluar dari Galeri Agung, berjalan ke gang, dan bergegas masuk ke pusat komando di kantor Sauniere.
`Siapa yang mengizinkan Sophie Neveu memasuki gedung!` Fache berteriak.
Collet-lah yang pertama menjawabnya. `Dia mengatakan kepada penjaga di luar bahwa dia telah berhasil memecahkan kode itu.`
Fache menatap ke sekelilingnya. `Dia sudah pergi?` `Dia tak bersama Anda?`
`Dia sudah pergi.` Fache mengerling pada gang yang gelap. Tampaknya Sophie tidak berminat untuk singgah dan bercakapcakap dengan para agen lainnya ketika dia keluar.
Untuk sesaat, Fache mempertimbangkan untuk menghubungi para penjaga di luar dan mengatakan untuk menghentikan Sophie dan membawanya masuk lagi sebelum perempuan itu meninggalkan tempat ini. Kemudian dia berpikir lebih baik. Itu hanya karena harga dirinya saja ... menginginkan kata-kata pamitan. Dia cukup banyak mengalami gangguan malam ini.
Bicara dengan agen Neveu nanti saja, katanya pada diri sendiri. Dia sudah ingin memecatnya.
Sambil mengusir Sophie dari pikirannya, Fache menatap sejenak patung kesatria yang berdiri di atas meja Sauniere. Kemudian dia beralih ke Collet. `Kau melihatnya?`
Collet mengangguk cepat dan memutar laptopnya ke arah Fache. Titik merah tampak dengan jelas pada gambar bagan ruangan, berkedip dalam ruangan yang bertuliskan TOILETTES PUBLIQUES.
`Bagus,` kata Fache, menyalakan rokok dan berjalan ke gang. `Aku harus menelepon. Pastikan Langdon hanya ke kamar kecil.`
12
ROBERT LANGDON merasa bingung ketika dia melangkah cepat menuju ujung Galeri Agung. Pesan telepon Sophie terus mengiang dalam benaknya. Pada ujung koridor itu, tanda-tanda menyala bertandakan simbol-simbol untuk kamar kecil membawanya ke kumpulan pemisah ruangan yang menampilkan lukisan-lukisan Italia dan menyembunyikan kamar-kamar kecil itu dari pandangan.
Akhirnya dia menemukan pintu untuk kamar kecil pria. Langdon masuk dan menyalakan lampu.
Ruangan itu kosong.
Dia berjalan ke tempat cuci tangan, dan memercikkan air pada wajahnya dan mencoba untuk bangun. Lampu-lampu berpendar mencolok memantul pada keramik dingin, dan ruangan itu berbau amonia. Ketika dia mengeringkan wajahnya, pintu terbuka di belakangnya. Dia berputar.
Sophie Neveu masuk, mata hijaunya bersinar ketakutan. `Terima kasih Tuhan, kau datang. Kita tak punya banyak waktu.`
Langdon berdiri di samping tempat cuci tangan, menatap bingung pada kriptografer DCPJ, Sophie Neveu. Hanya beberapa menit yang lalu Langdon mendengarkan pesan teleponnya, dan berpikir bahwa ahli kriptografi yang baru datang itu gila. Namun demikian, semakin lama dia mendengarkan, semakin dia tahu bahwa Sophie berkata jujur. jangan bereaksi pada pesan ini. Dengarkan saja dengan tenang. Anda dalam bahaya sekarang. Ikuti petunjuk petunjuk saya dengan saksama. Penuh dengan ketidakyakinan, Langdon memutuskan untuk betul-betul melakukan apa yang disarankan Sophie. Dia mengatakan kepada Fache bahwa pesan telepon itu adalah tentang teman yang terluka di negerinya. Kemudian dia meminta untuk pergi ke kamar kecil di ujung Galeri Agung.
Sophie berdiri di depannya sekarang, masih terengah-engah setelah kembali melalui jalan yang sama ke kamar kecil dengan cepat. Dalam sinar lampu berpendar, Langdon terkejut melihat bahwa sinar keras pada wajah Sophie tadi sebenarnya terpancar dari wajah yang lembut. Hanya tatapan matanya yang tajam, dan bisa dibandingkan dengan lukisan manusia karya Renoir ... terselubung namun nyata, dengan kepolosan yang memantulkan misteri.
`Saya ingin memperingatkan Anda, Pak Langdon ...,` Sophie mulai, masih terengah, `bahwa Anda dalam sous surveillance caehee. Dalam pengamatan ketat.` Ketika dia berbicara, aksen Inggrisnya memantul pada dinding keramik, memberi kesan dalam pada suaranya.
`Tetapi ... mengapa?` tanya Langdon. Sophie telah. memberinya penjelasan di telepon, namun dia ingin mendengarnya dari bibir Sophie.
`Karena,` katanya, melangkah mendekati Langdon, `Tersangka pertama Fache dalam pembunuhan ini adalah Anda.`
Langdon telah menduga akan mendengar kata-kata itu, namun demikian masih saja terdengar sangat aneh. Menurut Sophie, Langdon dipanggil ke Louvre malam ini tidak sebagai ahli simbologi tetapi Iebih sebagai tersangka dan merupakan target dari metode interogasi yang paling populer dari DCPJ - surveillance cachee, sebuah penipuan yang menjebak. Polisi mengundang tersangka dengan tenang ke tempat kejadian perkara dan menginterogasinya dengan harapan si tersangka akan sangat gugup dan secara tak sadar membuktikan kejahatannya sendiri.
`Periksa saku kiri jas Anda,` kata Sophie. `Anda akan mendapat bukti bahwa Anda sedang diawasi.`
Langdon merasa semakin ketakutan. Periksa saku saya? Terdengar seperti sulap murahan.
`Periksa sajalah.`
Dengan bingung, Langdon memasukkan tangannya ke dalam saku kiri jas wolnya-yang tak pernah digunakannya. Dia merabaraba di dalam dan tak menemukan apa pun. Apa yang kaucari? Dia mulai bertanya-tanya mungkin saja Sophie memang gila. Kemudian jemarinya menyentuh sesuatu yang tak terduga. Kecil dan keras. Menjepit benda kecil itu dengan jemarinya, Langdon kemudian mengeluarkannya dan menatapnya dengan heran. Sebuah cakram metal berbentuk kancing baju seukuran baterei jam tangan. Dia belum pernah melihatnya. `Apa sih ...?`
`Titik pelacak GPS,` kata Sophie. `Terus-menerus mengirim keberadaannya ke satelit Global Positioning System yang dapat dipantau oleh DCPJ. Kami menggunakan itu untuk memantau posisi orang lain. Pantauannya tepat dalam jarak dua kaki, dapat memantau ke seluruh dunia. Anda dalam kekang elektronik. Agen yang menjemput Anda di hotel menyisipkannya ke saku Anda sebelum Anda meninggalkan kamar.`
Langdon mengingat kembali kejadian di kamar hotelnya ... mandi cepatnya, berpakaian, agen DCPJ dengan sopan memegangi jas wolnya ketika mereka meninggalkan kamar. Di luar dingin, Pak Langdon, kata agen itu. Musim semi di Paris sama sekali bukan main-main Langdon berterima kasih dan menerima jas itu.
Mata zaitun Sophie menatap tajam. `Saya tak mengatakan tentang titik pelacakan itu kepada Anda tadi, karena saya tak mau Anda memeriksa saku Anda di depan Fache. Dia tak tahu Anda telah menemukannya.`
Langdon tak tahu bagaimana harus menanggapinya.
`Mereka memasangi alat pelacak itu karena mereka takut Anda akan lari.` Dia berhenti sejenak. `Sebenarnya, mereka berharap Anda akan lari; akan membuat kasus mereka menjadi lebih kuat.`
`Mengapa saya harus lari!` tanya Langdon. `Saya tak bersalah!`
`Fache berpendapat sebaliknya.`
Dengan marah, Langdon berjalan ke arah tempat sampah untuk membuang alat pelacak itu.
`Jangan!` Sophie mencekal tangan Langdon dan menghentikannya. `Biarkan itu di dalam saku Anda. Jika Anda membuangnya, mereka akan tahu Anda telah menemukan alat itu.
Satu-satunya alasan mengapa Fache membiarkan Anda sendirian adalah karena dia dapat memantau keberadaan Anda. Jika dia mengira Anda telah tahu apa yang dilakukannya ....` Sophie tak menyelesaikan pikirannya. Dia hanya mengambil cakram metalik itu dari tangan Langdon dan memasukkannya lagi ke dalam saku jas wolnya. `Biarkan alat pelacak itu tetap bersama Anda. Paling tidak untuk sementara.`
Langdon merasa kalah. `Bagaimana Fache dapat yakin bahwa sayalah pembunuh Jacques Sauniere!`
`Dia mempunyai alasan yang agak meyakinkan.` Ekspresi Sophie muram. `Ada sebuah bukti di sini yang Anda belum lihat.` Langdon hanya dapat menatap.
`Anda ingat tiga baris teks yang ditulis Sauniere di atas lantai?` Langdon mengangguk. Angka-angka dan kata-kata tersebut tercetak dalam benaknya.
Suara Sophie sekarang menjadi bisikan. `Sialnya, apa yang Anda lihat bukanlah pesan keseluruhannya. Ada baris keempat yang difoto oleh Fache dan dihapusnya sebelum Anda tiba.`
Walau Langdon tahu bahwa tinta takpermanen dari sebuah spidol dapat dengan mudah terhapus, dia tidak mengerti mengapa Fache menghapus bukti itu.
`Baris terakhir pesan itu,` kata Sophie, `merupakan sesuatu yang Fache tak mau Anda ketahui.` Dia berhenti sejenak. `Setidaknya hingga dia selesai dengan Anda.`
Sophie mengeluarkan selembar hasil cetakan komputer dari saku sweternya dan mulai membuka lipatannya. `Fache telah mengirim gambar-gambar dari tempat kejadian kriminal ke Departemen Kriptologi lebih awal malam ini dengan harapan kami dapat membayangkan apa yang dimaksud dalam pesan Sauniere tersebut. Ini adalah foto dari pesan utuh tersebut.` Dia memberikan foto itu kepada Langdon.
Dengan bingung Langdon melihat gambar itu. Foto close up itu memperlihatkan pesan bersinar di atas lantai parket. Baris terakhir memukul Langdon seperti sebuah tendangan pada perutnya.
13-3-2-21-1-1-8-5 O, Draconian devil! Oh, lame saint! PS. Cari Robert Langdon
13
UNTUK BEBERAPA detik Langdon menatap dalam keheranan pada foto pesan tambahan Sauniere. P.S. Cari Robert Langdon. Dia merasa lantai di bawahnya terangkat. Sauniere meninggalkan pesan tambahan dengan namaku? Dalam mimpi terburuknya pun Langdon tak dapat membayangkan mengapa.
`Sekarang Anda mengerti,` ujar Sophie, matanya mendesak, `mengapa Fache menyuruh Anda datang ke sini malam ini, dan mengapa Anda tersangka utamanya?`
Satu-satunya yang dimengerti Langdon pada saat itu adalah mengapa Fache tampak begitu puas ketika Langdon mengatakan bahwa Sauniere akan menyebutkan nama pembunuhnya.
Cari Robert Langdon.
`Mengapa Sauniere menulis seperti ini?` tanya Langdon, kebingungannya sekarang menjadi kemarahan. `Mengapa saya ingin membunuh Sauniere?`
`Fache juga belum menemukan sebuah motif, tetapi dia telah merekam semua percakapannya dengan Anda malam ini, dengan harapan Anda akan mengungkapnya.`
Langdon membuka mulutnya, namun tak satu kata pun terucap.
`Ada mikrofon kecil menempel pada tubuhnya,` Sophie menjelaskan. `Itu terhubung dengan transmitter dalam sakunya yang mengirimkan sinyal itu ke pos komando.`
`Ini tidak masuk akal,` Langdon marah. `Saya punya alibi. Saya langsung kembali ke hotel begitu ceramah saya selesai. Anda bisa menanyakan itu kepada penerima tamu di hotel.`
`Fache telah melakukannya. Laporannya menunjukkan Anda meminta kunci kamar Anda pada penerima tamu itu pada pukul setengah sebelas malam. Sialnya, pembunuhan itu terjadi pada hampir pukul sebelas malam. Anda bisa saja dengan mudah meninggalkan kamar Anda tanpa terlihat orang lain.`
`Ini gila! Fache tak punya bukti.`
Mata Sophie melebar seolah berkata: Tak punya bukti? `Pak Langdon, nama Anda tertulis di atas lantai di samping mayat itu, dan dalam agendanya Sauniere mengatakan bahwa Anda bersamanya pada waktu yang sama dengan waktu pembunuhan itu terjadi.` Dia berhenti sejenak. `Fache memiliki bukti lebih dari cukup untuk membawa Anda ke penjara untuk diinterogasi.`
Langdon tiba-tiba merasa membutuhkan seorang pengacara. `Saya tidak melakukannya.`
Sophie mendesah. `Ini bukan televisi Amerika, Pak Langdon. Di Prancis, hukum melindungi polisi, bukan penjahatnya. Sialnya, dalam kasus ini ada juga pertimbangan media. Jacques Sauniere merupakan orang besar dan dicintai di Paris, dan pembunuhannya akan menjadi berita di pagi hari. Fache akan menjadi tertekan untuk membuat pernyataan, dan dia akan tampak jauh lebih baik jika sudah memiliki seorang tersangka di dalam penjara. Apakah Anda bersalah atau tidak, Anda hampir pasti akan ditahan oleh DCPJ sampai mereka mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi.`
Langdon merasa seperti binatang yang terperangkap. `Mengapa Anda mengatakan ini semua kepada saya?`
`Karena, Pak Langdon, saya percaya Anda tak bersalah.` Sophie menatap ke tempat lain sejenak dan kembali menatap mata Langdon. `Dan juga karena ini sebagian merupakan kesalahan saya sehingga Anda bermasalah seperti ini.`
`Maaf? Kesalahan Anda bahwa Sauniere mencoba menjebak saya.?`
`Sauniere tidak mencoba menjebak Anda. Ini sebuah kesalahan. Pesan di atas lantai itu ditujukan kepada saya.`
Langdon memerlukan satu menit untuk mengerti. `Maaf?` `Pesan itu bukan untuk polisi. Dia menulis itu untuk saya. Saya pikir, dia terpaksa melakukan semua itu dengan sangat terburu-buru sehingga dia tidak sadar bagaimana itu akan dilihat oleh polisi.` Dia berhenti sejenak. `Kode angka itu tak berarti apa pun. Sauniere menulisnya hanya untuk memastikan bahwa penyelidikan itu akan melibatkan kriptografer, memastikan bahwa saya akan tahu sesegera mungkin apa yang terjadi pada dirinya.` Langdon merasa semakin tak mengerti. Apakah Sophie Neveu telah gila atau tidak, itu tidak penting, namun setidaknya Langdon sekarang mengerti mengapa Sophie ingin menolongnya. P.S. Cari Robert Langdon. Sophie tampaknya percaya bahwa kurator itu telah meninggalkan pesan tambahan baginya untuk mencari Langdon. `Tetapi mengapa Anda berpikir pesan itu untuk Anda?` vitruvian Man itu,` kata Sophie datar. `Sketsa istimewa itu adalah karya Da Vinci yang paling saya suka. Malam ini dia menggunakannya untuk menarik perhatian saya.`
`Sebentar. Anda mengatakan bahwa kurator itu tahu karya seni kegemaran Anda?`
Dia mengangguk. `Maafkan saya. Ini semua menjadi kacau. Jacques Sauniere dan saya ...`
Suara Sophie tercekat, dan Langdon mendengar ada kesedihan yang mendadak di sana, masa lalu yang menyakitkan, yang tibatiba muncul ke permukaan. Sophie dan Sauniere tampaknya memiliki hubungan khusus. Langdon mengamati perempuan cantik yang berdiri di depannya. Dia sangat tahu bahwa lelaki berumur Prancis sering memilih kekasih yang jauh lebih muda. Walau begitu, Sophie Neveu tampaknya tak pantas menjadi `perempuan simpanan`.
`Kami punya hubungan sepuluh tahun yang lalu,` kata Sophie, suaranya berbisik sekarang. `Setelah itu kami hampir tak berbicara lagi. Malam ini, ketika Kripto mendapat telepon itu dan menyatakan dia telah dibunuh, dan saya melihat mayatnya, dan teks di atas lantai, saya sadar, dia berusaha mengirimi saya sebuah pesan.`
`Karena Vitruvian Man itu?`
`Ya. Dan huruf-hurf PS.`
`Post Script?`
Dia menggelengkan kepalanya. `PS. adalah inisial saya.` `Tetapi nama Anda Sophie Neveu.`
Dia mengalihkan tatapannya. `PS. adalah nama panggilannya pada saya ketika saya tinggal bersamanya.` Dia tersipu. `Artinya Princesse Sophie.`
Langdon tak punya jawaban.
`Saya tahu, itu konyol,` katanya lagi. `Tetapi itu tahunan yang lalu. Saat saya masih seorang gadis kecil.`
`Anda mengenalnya ketika Anda masih gadis kecil?`
`Sangat kecil,` katanya, matanya berkaca-kaca karena emosi. `Jacques Sauniere adalah kakek saya.`
14
`DI MANA Langdon?` tanya Fache, menghisap rokok terakhirnya ketika dia melangkah lagi ke dalam ruang pos komando.
`Masih di kamar kecil, Pak.` Letnan Collet telah menduga pertanyaan itu akan meluncur. Fache menggerutu, `Lama sekali.` Kapten menatap titik GPS itu melalui bahu Collet, dan Collet hanya dapat mendengar roda-roda berputar. Fache sedang berusaha menahan keinginannya memeriksa Langdon. Ideal nya, seseorang dalam pengamatan diizinkan untuk merasa aman, dimanjakan setiap saat, dan dibiarkan sebebas mungkin. Langdon harus kembali atas kemauannya sendiri. Namun, ini hampir sepuluh menit.
Terlalu lama.
`Ada kemungkinan Langdon mempermainkan kita?` tanya Fache.
Collet menggelengkan kepalanya. `Kita masih melihat pergerakan kecil di dalam kamar kecil pria, jadi alat GPS masih berada padanya. Mungkin dia merasa mual? Jika dia menemukan alat itu, dia mungkin sudah memindahkannya dan mencoba untuk lari.`
Fache melihat jam tangannya. `Baik.`
Namun Fache masih saja tampak sibuk. Sepanjang malam, Collet merasakan ketegangan yang tak biasa pada diri sang kapten. Biasanya dia selalu bersikap objektif dan tenang di bawah tekanan sekalipun, namun malam ini Fache tampak emosional, seolah ini adalah masalah pribadinya.
Tidak mengherankan, pikir Collet. Fache betul-betul memerlukan penangkapan ini. Akhir-akhir ini, Dewan Menteri dan media massa telah menjadi lebih kritis terhadap taktik Fache yang agresif, konfliknya dengan kedutaan-kedutaan besar yang berpengaruh, dan anggaran yang berlebihan untuk pembelian teknologi baru. Malam ini, sebuah penangkapan seorang Amerika yang menggunakan sistem teknologi tinggi dan bergengsi akan dapat menghentikan kritik-kritik terhadap Fache, dan membantunya menyelamatkan pekerjaannya untuk beberapa tahun ke depan hingga dia dapat pensiun dengan nyaman. Tuhan tahu, dia butuh pensiun itu, pikir Collet. Fanatisme Fache pada teknologi telah merusak dirinya sendiri, baik secara profesional maupun secara personal. Fache digosipkan telah menginvestasikan seluruh tabungannya dalam kegilaan teknologi beberapa tahun silam hingga dia bangkrut. Dan Fache adalah lelaki yang selalu mengenakan kemeja bermutu tinggi.
Malam ini masih ada banyak waktu. Gangguan Sophie Neveu yang aneh, walau menyebalkan, toh hanya merupakan kerut merut kecil saja. Perempuan itu sudah pergi, dan Fache masih mempunyai kartu untuk dimainkan. Dia masih belum memberi tahu Langdon bahwa namanya tertulis oleh korban di atas lantai. P.S. Cari Robert Langdon. Reaksi orang Amerika itu pada bukti kecil itu akan mengungkap misteri ini.
`Kapten?` salah satu agen DCPJ memanggil dari seberang. `Saya rasa Anda lebih baik menerima telepon ini,` dia memegang gagang telepon dan tampak prihatin.
`Siapa itu?` tanya Fache.
Agen itu mengerutkan alisnya. `Ini Direktur Departemen Kriptograf kita.`
`Dan?`
`Ini tentang Sophie Neveu, Pak. Ada yang tak beres.`
15
INI WAKTUNYA.
Silas merasa kuat ketika dia melangkah keluar dari Audi hitam itu. Angin malam meniup jubah longgarnya. Angin perubahan menghembus di udara. Dia tahu, kewajiban yang harus dilakukannya lebih memerlukan kelembutan daripada kekuatan, dan dia meninggalkan pistolnya di dalam mobil. Guru telah menyediakan baginya pistol Heckler Koch USP 40 berpeluru 13.
Senjata kematian tak layak dalam rumah Tuhan.
Plaza di depan gereja anggun itu sangat sunyi pada jam seperti sekarang ini. Satu-satunya jiwa yang tampak di kejauhan gereja adalah sepasang pelacur remaja yang memamerkan tubuh mereka pada lalu-lintas turis-turis malam. Tubuh mereka yang mulai dewasa mengirimkan kerinduan pada bagian bawah tubuh Silas. Pahanya menegang dan dengan sendirinya membuat cilice berdurinya semakin mengetat dan menghunjami dagingnya dengan duri sehingga terasa sangat sakit.
Gairahnya itu menguap dengan cepat. Selama sepuluh tahun sekarang ini, Silas dengan setia telah meninggalkan segala bentuk kegemaran seksual, bahkan yang swadaya. Itu karena The Way. Dia tahu dia telah mengorbankan banyak hal untuk mengikuti Opus Dei, namun dia juga telah menerima lebih banyak lagi sebagai imbalannya. Sebuah sumpah untuk tetap membujang dan pelepasan semua harta pribadi hampir tak tampak seperti sebuah pengorbanan. Mengingat asal muasal dirinya yang miskin dan kengerian seksual yang telah dilaluinya dalam penjara, terus membujang merupakan tantangan yang menyenangkan.
Sekarang, dia telah kembali ke Prancis untuk pertama kalinya setelah ditangkap dan dikirim ke penjara Andorra. Silas dapat merasakan negerinya mengujinya, dengan menyeret-nyeret kenangan kekejaman dari jiwanya yang telah bersih. Kau telah dilahirkan kembali, dia mengingatkan dirinya sendiri. Pelayanannya kepada Tuhan hari ini telah membebaskannya dari dosa pembunuhan, dan itu merupakan pengorbanan yang dia tahu harus disembunyikannya dalam hati seumur hidupnya.
Ukuran keyakinanmu adalah ukuran sakit yang bisa kautahan, Guru telah mengatakan itu kepadanya. Silas tak asing lagi pada rasa sakit dan, merasa bersemangat untuk membuktikan dirinya kepada Guru, orang yang telah meyakinkan dirinya bahwa tindakannya ini ditakdirkan oleh kekuatan yang lebih tinggi. `Hago la obra de Dios,` bisik Silas, sekarang bergerak ke arah pintu masuk gereja.
Dia berhenti di dalam bayangan pintu masuk yang besar, menarik napas dalam. Dia segera sadar tentang apa yang akan dilakukannya dan apa yang menantinya di dalam.
Batu kunci itu. Itu akan memimpin kita menuju ke tujuan akhir.
Dia menaikkan kepalan tangan putih hantunya dan menggedor pintu itu tiga kali.
Beberapa saat kemudian, gerendel kayu besar itu telah mulai bergerak.
16
SOPHIE BERTANYA-TANYA berapa lama lagi Fache akan sadar bahwa dia belum keluar gedung ini. Melihat bahwa Langdon jelas kewalahan, Sophie ragu apakah dia telah melakukan hal yang benar dengan memojokkan Langdon di sini, di kamar kecil pria.
Apa lagi yang bisa kulakukan?
Dia membayangkan tubuh kakeknya, bugil dan terentang seperti burung elang di atas lantai. Ada masa ketika kakeknya itu sangat berarti baginya, namun malam ini, Sophie terkejut juga karena dia tidak merasa bersedih sama sekali untuk kakeknya. Sekarang Jacques Sauniere merupakan orang asing baginya. Hubungan mereka telah menguap begitu cepat pada suatu malam bulan Maret ketika dia berumur 22 tahun. Sepuluh tahun yang lalu. Ketika itu Sophie pulang beberapa hari lebih awal dari sebuah universitas di Inggris dan secara tidak sengaja melihat kakeknya sedang melakukan sesuatu yang betul-betul tak seharusnya dilihat Sophie. Sophie sama sekali tak dapat memercayainya hingga saat ini.
Jika aku tak melihatnya dengan mataku sendiri ....
Terlalu malu dan bingung untuk memikul upaya kakeknya memberi penjelasan, Sophie segera pindah dan mengambil seluruh uang tabungannya, menyewa sebuah flat kecil dengan beberapa orang teman. Dia bersumpah tidak akan membicarakan apa yang pernah dilihatnya itu dengan orang lain. Kakeknya mencoba untuk menghubunginya, mengiriminya kartu-kartu dan surat-surat, memohon Sophie untuk bertemu dengannya agar dapat dia jelaskan. Menjelaskan bagaimana? Sophie tak pernah menjawab kecuali satu kali----untuk melarang kakeknya menelepon atau berusaha bertemu dengannya di tempat umum. Dia takut penjelasan kakeknya akan lebih mengerikan daripada kejadian itu sendiri.
Hebatnya, Sauniere tak pernah menyerah, dan Sophie sekarang memiliki tumpukan sepuluh tahun surat-surat yang tak pernah dibukanya di dalam lacinya. Sophie menghormati kakeknya
karena dia tak pernah melanggar larangan cucunya untuk menelepon.
Sampai siang tadi.
`Sophie?` Suaranya, mengherankan, terdengar sangat tua pada mesin penjawab Sophie. `Aku telah mematuhi keinginanmu sejak lama ... dan menelponmu sekarang ini membuatku sakit, tetapi aku harus berbicara denganmu. Ada sesuatu yang mengerikan terjadi.`
Sophie berdiri di dapur flatnya, merasa merinding mendengar lagi suara kakeknya setelah bertahun-tahun. Suara lembutnya membawa kembali kenangan masa kanak-kanak Sophie.
`Sophie, kumohon, dengarkan.` Dia berbahasa Inggris, seperti yang dilakukannya ketika Sophie masih kecil. Berbicara bahasa Prancis di sekolah, berbahasa Inggris di rumah. `Kau tidak bisa marah selamanya. Apakah kau tidak membaca surat-surat yang kukirim selama bertahun-tahun ini? Apakah kau belum juga mengerti?` dia berhenti sejenak. `Kita harus segera bicara. Kumohon, kabulkan permintaan kakekmu yang satu ini. Telepon aku
Museum Louvre. Langsung. Aku tahu pasti, kau dan aku sedang dalam bahaya besar.`
Sophie menatap mesin penjawab itu. Bahaya? Apa maksudnya? `Putri ....` Suara kakeknya bergetar karena emosi yang tak dapat dimengerti Sophie. `Aku tahu, aku punya rahasia padamu, dan aku tahu, aku kehilangan cintamu karena itu. Tetapi itu untuk keselamatanmu sendiri. Sekarang kau harus tahu yang sebenarnya. Kumohon, aku harus mengatakan yang sesungguhnya tentang keluargamu.`
Sophie tiba-tiba dapat mendengar hatinya sendiri. Keluargaku? Orang tua Sophie telah meninggal ketika dia baru berusia empat tahun. Mobil mereka meluncur keluar jembatan, masuk ke dalam sungai berarus deras. Nenek dan adik lelakinya juga berada dalam mobil tersebut, dan seluruh keluarga Sophie habis dalam sekejap. Sophie punya satu kotak kliping koran yang memastikan hal itu.
Kata-kata kakeknya itu telah membangkitkan perasaan rindu di seluruh tulang belulangnya. Keluargaku! Dalam kilasan singkat dia dapat melihat gambaran dalam mimpinya yang selalu mem buatnya terbangun tak terhitung berapa kali, ketika dia masih kecil. Keluargaku masih hidup? Mereka pulang? Namun, seperti dalam mimpinya, gambaran itu segera menguap, terlupakan.
Keluargamu sudah mati, Sophie. Mereka tidak akan pulang. `Sophie ...,` kata kakeknya dalam mesin penjawab. `Aku sudah menunggu bertahun-tahun untuk mengatakannya kepadamu. Menunggu saat yang tepat, tetapi sekarang waktu sudah habis. Telepon aku di Louvre. Segera setelah kau mendengar ini. Aku akan menunggu di sini sepanjang malam. Aku khawatir kita berdua dalarn bahaya. Banyak yang harus kautahu.`
Pesan itu berakhir.
Dalam kesunyian, Sophie berdiri gemetar selama beberapa menit. Ketika dia mengingat pesan kakeknya itu, hanya satu hal yang masuk akal, dan yang betul-betul merupakan tujuan awal kakeknya.
Ini hanya pancingan.
Jelas, kakeknya sangat ingin bertemu dengannya. Dia mencoba gala cara. Kebencian Sophie padanya semakin dalam. Sophie curiga mungkin saja kakeknya akhirnya jatuh sakit dan memutuskan untuk mencoba apa saja supaya Sophie mau mengunjunginya terakhir kalinya. Jika demikian, kakeknya telah berhasil. Keluargaku.
Sekarang dia berdiri di kegelapan kamar kecil pria Museum Louvre. Sophie dapat mendengar gema dari pesan teleponnya kemarin siang. Sophie, kita berdua mungkin dalam bahaya. Telepon aku.
Dia tidak menelepon kakeknya. Bahkan dia tak merencanakannya. Sekarang, ternyata keragu-raguannya telah sangat tertantang. Kakeknya terbaring terbunuh di dalam museumnya sendiri. Dan kakeknya telah menulis kode di atas lantai.
Kode untuknya. Dia yakin itu.
Walau dia tidak mengerti arti pesan itu, Sophie yakin ketakjelasan itu adalah bukti tambahan bahwa pesan itu memang untuknya. Kecintaan dan bakat Sophie akan kriptografi muncul karena dia tumbuh dewasa bersama Jacques Sauniere-seorang yang fanatik akan kode-kode dan teka-teki. Berapa banyak hari Minggu yang mereka habiskan untuk mengerjakan kriptogram dan teka-teki silung di koran?
Pada usianya yang kedua belas tahun, Sophie dapat menyelesaikan teka-teki silang dalam Le Monde tanpa bantuan, dan kakeknya menantangnya lagi dengan teka-teki dalam bahasa Inggris, teka-teki matematika, dan kode-kode pengganti. Sophie melahapnya semua. Akhirnya Sophie mengalihkan kecintaannya itu menjadi profesi dengan menjadi seorang ahli pemecah kode pada kepolisian.
Malam ini, bakat kriptografer dalam diri Sophie telah dipaksa untuk menghormati efisiensi kakeknya yang telah menggunakan kode sederhana untuk menyatukan dua orang yang betulbetul tak saling kenal Sophie Neveu dan Robert Langdon. Pertanyaannya adalah mengapa?
Sialnya, dilihat dari kesan bingung dalam mata Langdon, Sophie merasa bahwa orang Amerika itu, seperti juga dirinya, tak tahu apa-apa mengapa kakeknya mempertemukan mereka berdua.
Sophie bertanya lagi. `Anda dan kakekku berencana untuk bertemu malam ini. Untuk apa?`
Langdon tampak benar-benar bingung. `Sekretarisnya mengatur pertemuan itu dan tak mengatakan alasan khususnya, dan saya juga tak bertanya. Saya kira, dia hanya mendengar bahwa saya akan berceramah tentang ikonografi pagan dari katedral-katedral Prancis, dan dia tertarik pada topik tersebut, kemudian dia berpikir akan menyenangkan jika bertemu dan minum-minum sambil mengobrol.`
Sophie tak memercayainya. Kemungkinan alasan itu sangat lemah. Kakeknya tahu lebih banyak tentang ikonografi pagan daripada orang lain di bumi ini. Tambahan pula, dia senang menyendiri, bukan seseorang yang senang mengobrol dengan sembarang profesor Amerika kecuali jika ada alasan penting.
Sophie menarik napas dalam-dalam dan bertanya lagi. `Kakekku menelponku kemarin siang dan mengatakan bahwa dia dan aku berada dalam bahaya besar. Kautahu maksudnya?`
Mata biru Langdon sekarang tersaput keprihatinan. `Tidak, tetapi melihat apa yang telah terjadi ....`
Sophie mengangguk. Melihat kejadian-kejadian malam ini, dia pasti bodoh sekali jika tidak merasa takut. Dia merasa sangat letih. Sophie berjalan ke jendela kaca tebal kecil pada ujung kamar kecil itu dan menatap diam melalui lubang pita alarm yang tertanam dalam kaca itu. Paling tidak, mereka berada di ketinggian empat puluh kaki.
Dia mendesah, dan melihat pemandangan Paris yang mengagumkan. Pada sebelah kirinya, di seberang Sungai Seine, ada Menara Eiffel yang bercahaya. Lurus ke depan, Arc de Triomph. Dan ke sebelah kanan, tinggi di atas Gunung Montmartre yang curam, ada kubah arabesk Sacre-Coeur yang anggun, sementara batunya yang mengkilap memancarkan cahaya putih berkilauan seperti gereja yang gemerlap.
Di sini, dari ujung paling barat di Sayap Denon, jalan umum utara-selatan di depan Place du Carrousel berada hampir sama tinggi dengan bangunan yang hanya terpisahkan oleh jalan sempit dengan dinding luar Louvre itu. Jauh di bawah, beberapa truk pengantar malam hari kota ini diam menunggu giliran. Lampu mereka menyala seperti berkedip mengejek Sophie.
`Aku tidak tahu harus berkata apa,` kata Langdon, sambil mendekat di belakangnya. `Kakekmu jelas mencoba mengatakan sesuatu kepada kita. Maaf, aku tidak terlalu membantu.`
Sophie berpaling dari jendela, merasakan kesungguhan penyesalan pada suara Langdon yang dalam. Walau Langdon sendiri dikelilingi masalah, dia masih mau menolong Sophie. Sifat guru dalam dirinya, pikir Sophie, karena dia telah membaca laporan DCPJ tentang tersangka itu. Adalah seorang ilmuwan yang benci jika tak tahu sesuatu.
Kita sama di situ, pikir Sophie.
Sebagai pemecah kode, Sophie selalu berusaha menarik arti dari data yang tak jelas. Malam ini, dugaan terbaiknya adalah, apakah Langdon menyadarinya atau tidak, Langdon mempunyai informasi yang sangat dibutuhkannya. Putri Sophie, Cari Robert Langdon. Seberapa jelas pesan kakeknya itu? Sophie memerlukan waktu yang lebih banyak bersama Langdon. Waktu untuk berpikir. Waktu untuk memecahkan misteri ini bersama. Sialnya, waktu sudah habis.
Sophie menatap Langdon. Dia hanya dapat mengatakan yang dia tahu. `Bezu Fache akan membawamu ke penjara sebentar lagi. Aku bisa mengeluarkanmu dari museum ini. Tetapi kita harus bertindak sekarang.`
Mata Langdon melebar. `Kaumau aku melarikan diri?`
`Itu hal terpandai yang dapat kaulakukan. Jika kau membiarkan Fache membawamu ke penjara sekarang, kau akan berada berminggu-minggu di dalam penjara Prancis sementara DCPJ dan Kedutaan Besar A.S. bertengkar mengenai pengadilan mana yang akan mengadili kasusmu. Tetapi jika kita keluar dari sini, dan berhasil sampai ke kedutaan besarmu, pemerintahmu akan melindungi hakmu sementara kau dan aku membuktikan bahwa kau tidak bersalah dalam kasus pembunuhan ini.`
Langdon tampak tak percaya sama sekali. `Lupakan! Fache punya penjaga bersenjata di setiap jalan keluar! Walau kita dapat lolos tanpa tertembak, melarikan diri hanya akan membuatku tampak bersalah. Kau harus mengatakan kepada Fache bahwa pesan di atas lantai itu adalah untukmu, dan namaku di situ bukanlah sebuah tuduhan.`
`Aku akan melakukannya,` kata Sophie, terburu-buru, `tetapi setelah kau aman berada di Kedutaan Besar A.S. Hanya berjarak satu mil dari sini, dan mobilku terparkir di luar museum ini. Berurusan dengan Fache di sini seperti main judi. Kau tak tahu? Fache telah menjadikan ini misinya untuk membuktikan kau bersalah. Satu-satunya alasan dia menunda penangkapanmu adalah untuk melaksanakan penyidikannya dengan harapan kau akan berbuat sesuatu sehingga menjadikan kasus ini lebih kuat.`
`Tepat. Seperti melarikan diri!`
Handphone Sophie berdering di dalam saku sweternya. Mungkin Fache. Dia merogoh sakunya dan mematikan teleponnya. `Pak Langdon,` ujarnya cepat, `Aku perlu bertanya padamu untuk terakhir kalinya.` Dan seluruh masa depanmu mungkin tergantung padanya. `Pesan di atas lantai itu jelas bukan bukti kesalahanmu, tetapi Fache mengatakan kepada tim kami, dia yakin kaulah pembunuh itu. Kau dapat menduga kira-kira alasan apa lagi yang membuat Fache yakin kau bersalah?`
Langdon terdiam beberapa detik. `Tidak.`
Sophie mendesah. Berarti Fache berbohong. Mengapa, Sophie tak dapat membayangkannya, namun itu bukan yang terpentingq saat ini. Kenyataannya Bezu Fache berkeras untuk memenjarakan Robert Langdon malam ini juga, apa pun alasannya. Sophie membutuhkan Langdon untuk dirinya sendiri, dan dilema ini yang membuat Sophie hanya punya satu kesimpulan logis.
Aku harus membawa Langdon ke Kedutaan Besar A.S Berpaling ke jendela, Sophie menatap melalui gulungan alarm Yang tertanam dalam kaca besar, empat puluh kaki ke bawah Yang membuat pening. Meloncat dari sini akan membuat kaki Langdon patah. Itu paling mujur.
Sophie membuat keputusan, akhirnya.
Robert Langdon harus kabur dari Louvre, mau tidak mau.
17
`APA MAKSUDMU dia tak menjawab?` Fache tampak ragu. `Kau menelepon ke ponselnya, bukan? Aku tahu dia membawanya.`
Collet telah mencoba menghubungi Sophie selama beberapa menit. `Mungkin baterenya mati, atau deringnya dimatikan.`
Fache tampak tegang setelah berbicara dengan Direktur Kriptograf. Setelah menutup telepon, Fache menuju Collet dan memintanya untuk menelepon Agen Neveu. Sekarang Collet tidak berhasil, dan Fache hilir mudik seperti singa terperangkap.
`Mengapa Kripto menelepon, Pak?` tanya Collet
Fache berpaling. `Untuk mengatakan bahwa mereka tidak menemukan petunjuk tentang draconia dan orang suci yang lemah.` `Itu saja?`
`Tidak, juga untuk mengatakan bahwa mereka baru saja mengenali angka-angka seperti angka-angka Fibonacci, tetapi mereka menduga bahwa deretan itu tak berarti apa apa`
Collet bingung. `Tetapi mereka sudah mengirim Agen Neveu untuk mengatakan itu kepada kita.`
Fache menggelengkan kepalanya. `Mereka tidak mengirim Neveu.`
`Apa?`
`Menurut direktur itu, karena permintaanku, dia menyeranta seluruh timnya untuk melihat gambar yang telah kukirimkan padanya. Ketika Agen Neveu tiba, dia melihat salah satu dari foto Sauniere dan kode itu, kemudian dia meningglkan kantor tanpa kata-kata. Direktur itu mengatakan dia tidak heran dengan sikap Neveu. Mungkin saja dia marah karena foto itu.`
`Marah. Dia tak pernah melihat foto mayat?`
Fache terdiam sesaat. `Aku tidak tahu, dan tampaknya direktur itu juga tidak tahu sampai seorang asistennya mengatakan bahwa tampaknya Sophie Neveu adalah cucu Jacques Sauniere.` Collet tak dapat berkomentar.
`Direktur itu mengatakan bahwa Sophie tak pernah menyebut-nyebut Sauniere padanya, dan dia menduga bahwa Sophie tidak menghendaki perlakuan istimewa karena mempunyai kakek yang ternama.`
Jelas saja dia marah, melibat foto itu. Collet hampir tidak bisa memahami kebetulan yang tak menguntungkan yang dialami perempuan muda itu. Dia harus memecahkan kode yang ditulis oleh anggota keluarganya yang mati. Namun, reaksi Sophie tak masuk akal. `Tetapi dia jelas mengenali angka-angka Fibonacci, karena dia datang ke sini dan mengatakannya kepada kita. Saya tidak mengerti mengapa dia meninggalkan kantor tanpa mengatakan kepada siapa pun bahwa dia sudah tahu tentang angkaangka itu.`
Collet hanya punya satu skenario tentang perkembangan situasi ini: Suaniere telah menulis kode nomor di atas lantai dengan harapan Fache akan melibatkan kiiptografer dalam penyelidikan ini, dengan demikian akan melibatkan juga cucunya. Sedangkan sisa pesannya, apakah itu merupakan cara Sauniere berkomunikasi dengan Sophie? Jika demikian, apa sesungguhnya isi pesan itu untuk Sophie? Dan apa hubungannya dengan Langdon? Sebelum Collet merenung lebih jauh, kesunyi_an museum dipecahkan oleh suara alarm. Lonceng itu seolah terdengar dari dalam Galeri Agung.
`Alarme!` teriak salah satu agen, sambil melihat pemberi tanda itu, pusat keamanan Louvre. `Grande Galerie! Toillets Messiuers!` Fache mendekati Collet. `Di mana Langdon?`
`Masih di kamar kecil pria!` Collet menunjuk pada titik merah berkedip pada skema dalam laptopnya. `Dia pasti telah memecahkan jendela!` Collet tahu, Langdon tidak mungkin berlari
jauh. Walaupun peraturan kebakaran Paris mensyaratkan bahwa jendela di atas lima belas meter pada gedung umum harus dapat dipecahkan dalam keadaan kebakaran, namun meloncat keluar dari jendela lantai dua Louvre tanpa bantuan tangga dan pengait merupakan bunuh diri. Lagi pula, tak ada pepohonan dan rerumputan di ujung sebelah barat dari Sayap Denon itu untuk membantali orang jatuh. Tepat di bawah jendela kamar kecil, dua jalan kecil Place du Carrousel berada beberapa kaki dari dinding luar. `ya Tuhan,` seru Collet, sambil menatap layar monitor. `Langdon bergerak ke birai jendela!`
Namun Fache telah bergerak. Sambil menarik pistol Manurhin MR-93 dari tempat pistol di bahunya, sang kapten berlari ke luar kantor.
Collet menatap layar dengan bingung ketika titik berkedip itu tiba di birai jendela dan bertindak yang betul-betul tak terduga. Titik itu bergerak ke luar gedung.
Apa yang terjadi? Dia bertanya-tanya. Apakah Langdon masih di atas birai atau.....
`Yesus!` Collet terloncat bangun dari duduknya ketika titik itu melesat ke luar dinding. Sinyal itu tampak bergetar sebentar, kemudian titik berkedip itu berhenti tiba-tiba pada kira-kira sepuluh yard di luar batas pinggir gedung ini.
Sambil meraba-raba tombol-tombol kendali, Collet memunculkan peta jalan Paris dan menyesuaikan kembali GPS-nya. Kemudian dia melakukan zoom in Sekarang dia dapat melihat ke beradaan sinyal itu dengan tepat.
Sinyal itu tak lagi bergerak.
Dia tergeletak dan betul-betul berhenti di tengah-tengah Place du Carrousel.
Langdon telah meloncat.
18
FACHE BERLARI ke Galeri Agung ketika radio Collet berbunyi menimpali suara alarm. `Dia meloncat!` Teriak Collet. `Saya melihat sinyal itu berada di luar Place du Carrousel! Di luar jendela kamar kecil! Dan sekarang tak bergerak sama sekali! Yesus, saya kira Langdon telah bunuh diri!`
Fache mendengar kata-kata itu, namun itu tidak mungkin. Dia terus berlari. Gang itu terasa tak berujung. Ketika melewati mayat Sauniere, dia melirik pada pembatas ruangan di ujung gang Sayap Denon itu. Alarm semakin mengeras.
`Tunggu!` suara Collet berteriak lagi dari radio. `Dia bergerak! Tuhanku, dia hidup. Langdon bergerak!`
Fache terus berlari, sambil menyumpahi panjangnya gang itu di setiap langkahnya. `Langdon bergerak lebih cepat. Dia berlari ke Carrousel. Tunggu ... dia semakin cepat. Dia bergerak terlalu cepat!`
Tiba di pembatas ruangan, Fache menyelinap melewatinya, melihat ke pintu kamar kecil, dan berlari ke arahnya.
Suara dari walkie-talkie sudah tak terdengar karena tertimpa suara alarm. `Dia pastilah naik mobil! Saya kira dia di dalam mobil! Saya tak bisa....`
Suara Collet tertelan oleh suara alarm ketika Fache menyerbu ke dalam kamar kecil dengan pistol teracung. Dengan menyipitkan matanya, dia meneliti kamar kecil itu.
Ruangan-ruangan kecil itu kosong. Demikian juga tempat membersihkan diri. Mata Fache segera melihat kaca jendela yang pecah di ujung ruangan. Dia berlari ke tempat terbuka itu dan melihat ke luar. Langdon tak terlihat di mana pun. Fache tak dapat membayangkan ada orang yang berani melakukan ini. Jika dia jatuh dari ketinggian itu, dia pasti terluka parah.
Akhirnya alarm itu dimatikan, dan suara Collet terdengar lagi dari walkie-talkie.
` ... bergerak ke selatan ... semakin cepat ... menyeberangi Seine pada Pont du Carrousel!`
Fache membelok ke kiri. Satu-satunya kendaraan di Pont du Carrousel adalah sebuah truk Trailor bergandengan dua, yang bergerak ke selatan menjauh dari Louvre. Bak besar terbuka truk itu hanya tertutup dengan atap vinyl, tampak seperti tempat tidur ayun raksasa. Fache merinding ketakutan. Truk itu, hanya beberapa saat yang lalu, berhenti pada lampu merah tepat di bawah jendela kamar kecil itu.
Risiko gila, kata Fache pada dirinya sendiri. Langdon tak mungkin tahu apa yang dimuat truk itu di bawah tutup vinylnya. Bagaimana jika truk itu membawa baja? Atau semen? Atau bahkan sampah? Loncat dari ketinggian empat puluh kaki? Itu gila!
`Titik itu kembali!` Collet beseru. `Dia kembali ke Pont des Saints-Peres!`
Tentu saja, truk Trailor yang telah menyeberangi jembatan memperlambat jalannya dan memutar ke Pont des Saints-Peres. Jadilah, pikir Fache. Merasa puas, dia melihat truk itu menghilang di tikungan. Collet telah memberi tahu penjaga-penjaga di luar lewat radio, sehinga mereka segera meninggalkan sisi Louvre dan masuk ke mobil mereka untuk mengejar, sementara dia sendir terus mengabarkan perubahan arah truk tersebut, seperti sebuah permainan.
Sudah selesai, Fache tahu. Para agennya akan mengepung truk tersebut dalam beberapa menit saja. Langdon tak kan pergi ke mana-mana,
Dia kemudian menyimpan senjatanya. Fache keluar dari kamar kecil itu dan berbicara pada Collet lewat radionya. `Bawa mobilku. Aku ingin berada di sana ketika penangkapan itu berlangsung.`
Ketika Fache berlari kecil di gang Galeri Agung, dia bertanya-tanya apakah Langdon selamat ketika meloncat:
Bukan karena itu penting.
Langdon melarikan diri. Bersalah seperti yang didakwakan.
Hanya lima belas yard dari kamar kecil, Langdon dan Sophie berdiri dalam kegelapan Galeri Agung. Punggung mereka menempel ketat pada salah satu pemisah ruangan yang besar yang menyembunyikan kamar kecil dari galeri itu. Mereka hampir tak sempat bersembunyi ketika Fache berlari melewati mereka dengan pistol terhunus, dan kemudian menghilang ke kamar kecil.
Enam puluh detik terakhir bagai bayang-bayang baur. Langdon berdiri di dalam kamar kecil, menolak untuk lari dari tuduhan kejahatan yang tak dilakukannya, ketika Sophie mulai menatap kaca jendela yang tebal dan memeriksa kabel alarm yang mengelilinginya. Kemudian Sophie mengintai ke jalan, seolah menghitung kemungkinan jatuh:
`Dengan sedikit bidikan, kau bisa keluar dari sini,` katanya. Bidikan! Dengan cemas Langdon juga mengintai ke luar jendela.
Di jalan, sebuah truk gandengan dan beroda delapan belas sedang mengarah ke lampu lalu lintas tepat di bawah jendela. Di atas truk besar itu terbentang penutup vinyl biru, menutup bak dengan longgar. Langdon berharap Sophie tidak berpikir seperti yang dia takutkan.
`Sophie, aku tidak mungkin loncat ` `Keluarkan cakram pelacak itu.`
Dengan bingung, Langdon meraba ke dalam sakunya sampai dia menemukan cakram metal kecil itu. Sophie mengambilnya dan segera berjalan ke tempat cuci tangan. Dia mengambil sebatang sabun tebal, menempatkan cakram kecil itu di atasnya, dan menggunakan ibu jarinya untuk menekan cakram itu hingga melesak ke dalam sabun. Ketika cakram itu tenggelam ke dalam permukaan yang lunak, dia menutup kembali lubang itu, sehingga cakram itu tertutup rapi di dalam sabun.
Dia kemudian menyerahkan sabun itu kepada Langdon, dan mengangkat tempat sampah besar yang berat dan berbentuk silinder di bawah tempat cuci tangan itu. Sebelum Langdon dapat memprotesnya, Sophie berlari ke arah jendela, sambil membawa tempat sampah itu seperti seperti sebuah alat penghancur. Dengan tempat sampah besar itulah Sophie kemudian memecahkan kaca jendela yang tebal itu.
Alarm segera berbunyi memekakkan telinga.
`Berikan sabun itu.` Sophie berferiak, hampir tak terdengar karena suara alarm itu
Langdon menekankan sabun itu ke tangan Sophie.
Setelah menggenggam sabun itu, Sophie melongok dari jendela yang sudah hancur, ke arah truk besar di bawahnya. Target itu sangat besar sebuah penutup vinyl besar tak bergerak dan itu berjarak kurang dari sepuluh kaki di sebelah gedung ini. Ketika lampu lalu lintas akan berubah, Sophie menarik napas dalam dan melempar sabun itu ke dalam gelap malam.
Sabun itu jatuh dan mendarat di atas penutup truk, dan meluncur ke bawah masuk ke dalam muatan bersamaan dengan lampu lalu lintas menyala hijau.
`Selamat,` kata Sophie, menarik Langdon ke arah pintu. `Kau baru saja lolos dari Louvre.`
Kabur dari kamar kecil pria, mereka bergerak masuk ke tempat gelap tepat ketika Fache berlari melewati mereka.
Sekarang, dengan alarm yang telah dimatikan, Langdon dapat mendengar suara sirene mobil DCPJ yang menjauh dari Louvre. Eksodus polisi. Fache telah terburu-buru pergi juga, meninggalkan Galeri Agung kosong.
`Ada sebuah tangga darurat kira-kira lima puluh meter di belakang Galeri Agung,` ujar Sophie. `Sekarang para penjaga telah pergi dari posnya. Kita dapat keluar dari sini.`
Langdon memutuskan untuk tidak berkata apa pun sepanjang malam ini. Sophie Neveu jelas jauh lebih pandai daripada dirinya.
19
GEREJA SAINT-SULPICE konon, memiliki sejarah yang paling aneh dibandingkan dengan gedung-gedung lainnya di Paris. Dibangun dari reruntuhan pura kuno dewi Mesir Isis, gereja ini memiliki jejak arsitektural yang cocok dengan Notre Dame. Gereja ini telah menjadi tuan rumah saat pembaptisan Marquis de Sade dan Baudelaire, dan juga saat pernikahan Victor Hugo. Biara yang berada di sampingnya memiliki dokumen sejarah yang lengkap tentang ketidak ortodoksan dan tempat berlangsungnya rapat terlarang dari sejumlah besar perkumpulan rahasia.
Malam ini, bagian tengah yang besar Gereja Saint-Sulpice ini sesunyi kuburan. Satusatunya tanda kehidupan adalah sisa-sisa aro
ma dari sisa misa tadi malam. Silas merasakan ketidaktenangan sikap Suster Sandrine ketika dia membawa Silas ke dalam. Silas tidak heran. Dia terbiasa dengan orang-orang yang tak nyaman dengan penampilannya.
`Kau orang Amerika?` tanya Suster Sandrine.
`Aku lahir di Prancis,` jawab Silas. `Aku mendapatkan panggilanku di Spanyol, dan aku sekarang belajar di Amerika Serikat.` Suster Sandrine mengangguk. Dia adalah perempuan mungil tenang. `Dan kau belum pernah melihat Saint
dengan mata Sulpice?`
`Aku sadar, gereja ini sangat indah.` `Gereja ini lebih indah pada pagi hari.`
`Aku yakin begitu. Tetapi, aku berterima kasih kau memberiku izin malam ini.`
`Abbe memintaku begitu. Kau pastilah mempunyai temanteman yang punya kekuasaari.`
Kau tak tahu itu, pikir Silas.
Ketika Silas mengikuti Suster Sandrine berjalan di gang utama, Silas terkejut karena kesederhanaan gereja ini. Tidak seperti gereja Notre Dame dengan lukisan dinding warna-warni, altar bersepuh emas, dan kayu yang hangat, gereja Saint-Sulpice kaku dan dingin, hampir kosong, mengingatkan pada katedral-katedral di Spanyol. Kekurangan dekorasi membuat bagian dalam ini tampak lebih luas, dan Silas menatap ke atas, ke langit-langit berbentuk kubah yang bertulang. Silas membayangkan dirinya seperti di bawah kapal besar yang terbalik.
Gambaran yang tepat, pikirnya. Kapal persaudaraan itu pun sudah akan terbalik selamanya. Silas merasa sangat bersemangat untuk segera bekerja. Dia berharap Suster Sandrine segera meninggalkannya. Dia seorang perempuan yanga sangat mungil yang dapat dilumpuhkan dengan mudah, namun Silas telah bersumpah tak akan menggunakan kekerasan kecuali betul-betul diperlukan. Dia seorang pendeta perempuan, dan bukan kesalahannya jika kelompok persaudaraan menggunakan gerejanya sebagai tempat menyembunyikan batu kunci mereka. Perempuan itu tidak boleh dihukum karena kesalahan orang lain.
`Aku malu, Suster, kau bangun karena aku.`
`Sama sekali tidak. Kau berada di Paris hanya sebentar. Kau tidak boleh tak melihat Saint-Sulpice. Kau tertarik pada gereja ini karena arsitekturnya atau sejarahnya?`
`Sebenarnya, Suster, aku tertarik pada segi spiritualnya.` Suster Sandrine tertawa senang. `Tentu saja. Aku hanya tak tahu akan mulai dari mana turmu.`
Silas merasa matanya terpusat pada altar itu. `Tur itu tidak penting. Kau baik sekali. Aku bisa melihat-lihat sendiri.`
`Bukan masalah,` kata Suster Sandrine. `Lagi pula, aku sudah bangun.`
Silas berhenti berjalan. Sekarang mereka sudah tiba di depan bangku gereja, dan altar itu hanya lima belas yard ke depannya. Dia memutar tubuh besarnya, sepenuhnya di depan perempuan mungil itu, dan dia dapat merasakan suster itu mundur ketika matanya menatap mata merah Silas. `Jika ini tidak terlalu kasar, Suster, aku tidak terbiasa hanya berjalan-jalan di rumah Tuhan dan melihat-lihat. Kau tidak keberatan jika aku ingin sendirian untuk berdoa sebelum melihat-lihat?`
Suster Sandrine ragu. `Oh, tentu saja, aku akan menunggumu di belakang gereja.`
Silas meletakkan tangan beratnya dengan lembut pada bahu suster itu dan menatap ke bawah. `Suster, aku sudah merasa berdosa karena membangunkanmu. Memintamu untuk terus terjaga adalah keterlaluan. Silakan, kau harus kembali ke tempat tidur. Aku dapat menikmati gerejamu dan bisa keluar sendiri.` Suster Sandrine tampak tak enak. `Kau yakin tak akan merasa diabaikan?`
`Sama sekali tidak. Berdoa adalah kenikmatan dalam kesendirian.`
`Kalau itu keinginanmu.`
Silas mengangkat tangannya dari bahu Suster Sandrine. `Selamat tidur, Suster. Semoga kedamaian Tuhan bersamamu!` `Dan bersamamu juga.` Suster Sandrine menuju ke tangga. `Tolong pastikan pintu tertutup dengan rapat kembali jika kau keluar.`
`Tentu.` Silas melihatnya menaiki tangga dan menghilang. Kemudian dia berputar dan berlutut di bangku gereja terdepan, merasakan cilice menusuk kakinya.
Tuhan, kuserahkan tugas yang kukerjakan hari ini padamu ....
Membungkuk dalam bayangan balkon paduan suara yang berada tinggi di atas altar itu, Suster Sandrine melongok diam-diam melalui birai ke pendeta yang berlutut sendirian itu. Rasa terancam yang tiba-tiba muncul dalam jiwanya membuat dia tak bisa tinggal diam. Seketika itu juga dia bertanya-tanya, janganjangan tamunya ini adalah musuh yang dia telah diperingatkan untuk berhati-hati, dan jangan-jangan malam ini dia harus menjalankan tugas yang telah ditunggunya selama bertahun-tahun ini. Dia memutuskan untuk tetap mengamati setiap gerakan tamunya itu dari dalam kegelapan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar