Novel Da Vinci Code part 2

20

DIAM-DIAM Langdon dan Sophie keluar dari bayangan, bergerak ke koridor Galeri Agung yang sudah kosong dan menuju ke ruang tangga, ke jalan keluar darurat.
Sambil berjalan, Langdon merasa seperti sedang mengumpulkan potongan-potongan jigsaw dalam gelap. Aspek terbaru dari misteri ini adalah yang paling memusingkan: Kapten kepolisian judisial itu! Polisi sedang mencoba menangkapku untuk sebuah pembunuhan.
`Kau pikir,` dia berbisik, `mungkinkah Fache menulis pesan di atas lantai itu?` Sophie tak menoleh. `Tak mungkin.` Langdon tidak terlalu yakin. `Dia tampaknya bersemangat sekali untuk membuatku terlihat bersalah. Mungkin dia pikir, dengan menuliskan namaku di atas lantai akan me` nolong kasusnya?`
`Deret Fibonacci? PS. itu? Semua Da Vinci dan simbolisme dewi? Itu pasti kakekku.` Langdon tahu Sophie benar. Simbolisme dari petunjuk-petunjuk itu bertautan dengan sangat sempurna-pentakel, The Vitruvian Man, Da Vinci, dewi, dan bahkan deret ukur
Fibonacci. Sebuah rangkaian simbolis yang bertalian, seperti yang akan dikatakan oleh ikonografer. Semuanya terikat tak teruraikan. `Dan teleponnya untukku siang itu,` Sophie menambahkan. `Dia mengatakan akan menceritakan sesuatu padaku. Aku yakin pesannya di Louvre itu adalah usaha terakhirnya untuk mengatakan sesuatu yang penting, sesuatu yang dia pikir kau dapat membantuku untuk mengerti.`
Langdon berkerut dahi. O, setan Draconian! Oh, orang suci yang lemah! Dia berharap dapat mengerti arti pesan itu, baik untuk kepentingan Sophie maupun bagi dirinya. Berbagai hal telah betul-betul memburuk sejak dia pertama kali melihat katakata kriptis itu. Loncat palsunya dari jendela kamar kecil tak akan membantu masalahnya dengan Fache sama sekali. Dia sudah menduga kapten polisi Prancis itu akan tidak senang mengejar dan menangkap sabun.
`Pintu itu tidak terlalu jauh,` kata Sophie.
`Kaupikir ada kemungkinan bahwa nomor-nomor dalam pesan kakekmu itu mengandung kunci untuk mengerti baris-baris lainnya?` Langdon pernah memecahkan satu rangkaian naskah
Baconi yang berisi kode rahasia epigrafikal, sementara baris-baris tertentu dari kode itu merupakan kunci untuk memecahkan kode baris yang lainnya.
`Aku sudah memikirkan nomor-nomor itu semalaman. Penjumlahan, hasil bagi, hasil kali. Aku tidak melihat semua itu. Secara matematis, angka-angka itu tersusun secara acak. Lelucon kriptografis.`
`Namun begitu, angka-angka itu adalah bagian dari deret Fibonacci. Tak mungkin kebetulan saja.`
`Memang tidak. Menggunakam angka-angka Fibonacci adalah cara lain kakekku untuk menarik perhatianku-seperti juga menulis pesan itu daiam bahasa Inggris, atau mengatur tubuhnya sendiri menyerupai sebuah karya seni, atau melukis pentakel pada tubuhnya. Semua itu untuk menarik perhatianku.`
`Pentakel itu punya arti bagimu?`
`Ya, aku tidak sempat mengatakannya padamu. Pentakel itu merupakan simbol istimewa antara kakekku dan aku ketika aku tumbuh besar. Kami pernah main kartu Tarot untuk bersenangsenang saja, dan kartu itu selalu menunjukkan pasangan dari pentakel itu. Aku yakin dia mengaturnya, tetapi pentakel itu merupakan kelakar kecil kami.`
Langdon merasa merinding. Mereka memainkan Tarot? Permainan kartu Italia abad pertengahan itu penuh dengan simbolisme tersembunyi yang berlawanan dengan gereja. Tentang Tarot itu, Langdon menuliskannya pada satu bab tersendiri dalam naskahnya. Permainan 22 kartu itu mengandung nama-nama seperti Paus Perempuan, Ratu, dan Bintang. Aslinya, Tarot dibuat sebagai cara rahasia untuk meneruskan ideologi-ideologi yang dilarang Gereja. Sekarang, kemisteriusan Tarot dilanjutkan oleh peramal modern.
Petunjuk Tarot yang sesuai dengan keilahian perempuan adalah pentakel, pikir Langdon, sadar bahwa jika Sauniere telah menyusun tumpukan kartu cucunya sebagai kelakar maka pentakel merupakan kelakar pribadi yang tepat.
Mereka tiba di ruang tangga darurat, dan Sophie berhatihati menarik pintu. Tak ada alarm tet:dengar. Hanya pintu-pintu ke dalam yang dipasangi kabel. Sophie mengajak Langdon menuruni anak tangga yang tinggi ke lantai bawah, dan mempercepat langkah ketika keluar.
`Kakekmu,` ujar Langdon, terburu-buru di belakang Sophie, `ketika dia mengatakan padamu tentang pentakel itu, apakah dia menyebutkan pemujaan dewi atau hal yang tak disukai Gereja Katolik?`
Sophie menggelengkan kepalanya. `Aku lebih tertarik pada matematika ----- Proporsi Agung, PHI, deret angka Fibonacci, hal seperti itulah.`
Langdon terkejut. `Kakekmu mengajarimu angka PHI?` `Tentu saja. Proporsi Agung.` Ekspresinya menjadi malu-malu. `Sebenarnya, dia pernah bercanda dan mengatakan bahwa aku setengah dewi .., kau tahu, karena huruf-huruf itu ada dalam namaku.`
Langdon memikirkannya sebentar, kemudian menggeram. s-o-PHI-e.
Masih menuruni tangga, Langdon memikirkan lagi tentang PHI. Dia mulai menyadari bahwa petunjuk-petunjuk Sauniere lebih konsisten daripada saat pertama kali dia bayangkan.
Da Vinci .., angka-angka Fibonacci ... pentakel.
Luar biasa, semua hal ini terhubungkan, oleh satu konsep yang begitu mendasar, dengan sejarah seni yang merupakan topik yang sering diajarkan Langdon di kelas dalam beberapa periode. PHI.
Langdon tiba-tiba merasa kembali ke Harvard, berdiri di depan kelas `Simbolisme dalam Seni`, menulis angka kesukaannya pada papan tulis.
1,G18
Langdon berpaling menghadap ke para mahasiswanya yang bersemangat. `Siapa yang dapat mengatakan padaku, ini nomor apa?`
Seorang pemuda berkaki panjang dari jurusan matematika, mengangkat tangannya dari belakang. `Itu angka PHL` Dia melafalnya fi.
`Bagus, Stettner,` ujar Langdon. `Semuanya, kenalkan ini PHL` `Jangan dicampuradukkan dengan PI,` tambah Stettner sambil menyeringai. `Kami, mahasiswa matematika senang mengatakan: PHI merupakan satu N yang jauh lebih keren daripada PI!`
Langdon tertawa, namun tak seaorang pun mengerti kelakar itu.
Stettner merosot dari duduknya.
`Angka PHI ini,` Langdon melanjutkan, `satu-koma-enamsatu-delapan, adalah angka sangat penting dalam seni. Siapa yang dapat mengatakan mengapa?`
Stettner mencoba untuk berkelakar. `Karena itu cantik.` Semua orang tertawa.
`Sebenarnya,` kata Langdon, `Stettner benar lagi. PHI pada umumnya dianggap angka tercantik di dunia ini.`
Tawa itu langsung berhenti, dan Stettner pun pongah. Ketika Langdon mengisi proyektor slidenya, dia menjelaskan bahwa PHI diperoleh dari deret Fibonacci-sebuah deret yang terkenal bukan hanya karena jumlah dari angka yang berdekatan sama dengan angka setelahnya, tetapi juga karena hasil bagi dari angka-angka yang berdekatan memiliki sifat yang mengagumkan mendekati angka 1,6I8-PHI!
Lepas dari muasal matematis PHI yang tampak mistis, Langdon menjelaskan, aspek menggelitik akal yang sesungguhnya adalah perannya sebagai dasar dari balok bangunan dalam alam. Tumbuhan, hewan, dan bahkan manusia, semua memiliki sifat dimensional yang melekat dengan kualitas keakuratan pada rasio PHI banding l.
`Keberadaan PHI yang tersebar di alam,` kata Langdon, sambil mematikan lampu, `jelas lebih dari kejadian kebetulan saja, dan begitu pula para pendahulu kita, menganggap angka PHI pastilah telah ditakdirkan oleh sang Pencipta alam ini. Para ilmuwan terdahulu menyebarluaskan satu-koma-enam-satu-delapan sebagai Proporsi Agung. `
`Tunggu dulu,` kata seorang perempuan muda di deretan depan. `Saya jurusan biologi dan saya tidak pernah melihat proporsi agung dalarn alam.`
`Tidak?` Langdon tersenyum. `Pernah belajar hubungan antara betina dan jantan dalam komunitas lebah madu?`
`Tentu. Lebah betina selalu berjumlah lebih banyak daripada lebah jantan.`
`Benar. Dan tahukah Anda jika Anda membagi jumlah lebah betina dengan jumlah lebah jantan di setiap sarang lebah di dunia ini, Anda akan mendapatkan hasil yang sama?`
`Benar?` `Ya. PHL`
Gadis itu terkesiap. `TIDAK MUNGKIN!`
`Mungkin saja!` Langdon balas berteriak, sambil tersenyum ketika mengeluarkan selembar slide bergambar kerang laut spiral. `Kenal ini?`
`Itu sebuah nautilus,` kata gadis jurusan biologi lagi. `Sebuah cephalopod mollusk yang memompa gas ke dalam kerang berongganya untuk menyeimbangkan kemampuan mengapungnya.`
`Benar. Dan dapatkah Anda menerka berapa rasio setiap diameter spiral ke spiral berikutnya?`
Gadis itu tampak tak yakin ketika dia melihat lengkungIengkung konsentris dari kerang nautilus spiral itu.
Langdon mengangguk. `PHI. Proporsi agung. Satu-koma-satuenam-delapan banding satu.`
Gadis itu tampak tercengang.
Langdon melanjutkan dengan slide berikutnya-sebuah tampak dekat dari sebuah kepala biji bunga matahari. `Biji bunga matahari tumbuh dengan melawan spiral. Anda dapat menerka rasio dari setiap diameter rotasi ke rotasi berikutnya?`
`PHI?` semua berkata.
`Tepat sekali.` Langdon mulai memperlihatkan beberapa slide sekarang-bunga cemara berspiral, susunan daun pada tumpukan tumbuhan, segmentasi serangga. Semuanya memperlihatkan kepatuhan yang mengagumkan pada Proporsi Agung.
`Ini mengagumkan!` seseorang berseru.
`Ya,` yang lainnya berkata, `tetapi apa hubungannya dengan seni?`
`Aha!` kata Langdon. `Senang Anda bertanya begitu.` Dia mengambil sebuah slide lagi-selembar kertas perkamen bergambar lelaki bugil karya Da Vinci yang terkenal itu-the Vitruvian Manyang didasarkan pada Marcus Vitruvius, seorang arsitek Roma yang sangat pandai yang memuja Proporsi Agung dalam teks De Architectura.
`Tak seorang pun mengerti lebih baik daripada Da Vinci tentang struktur agung dalam tubuh manusia. Da Vinci bahkan menggali mayat manusia untuk mengukur proporsi struktur tulang manusia yang tepat. Dialah orang pertama yang memperlihatkan bahwa tubuh manusia betul-betul terbuat dari balok-balok bangunan yang rasio proporsionalnya selalu sama dengan PHL` Semua yang berada di kelas itu menatapnya ragu.
`Tidak percaya padaku?` Langdon menantang. `Lain kali, jika Anda sedang mandi, bawa pita ukuran.`
Sepasang pemain football mengikik.`
`Bukan hanya kalian berdua,` Langdon menyarankan, `tetapi semuanya. Lelaki dan perempuan. Cobalah. Ukur jarak dari puncak kepala Anda ke lantai. Kemudian bagi dengan jarak dari pusar ke lantai. Terka, angka berapa yang Anda dapat?`
`Bukan PHI!` salah satu olahragawan itu berseru tak percaya. `Ya, PHI!` jawab Langdon. `Satu-koma-satu-enam-delapan. Mau contoh lain? Ukur jarak dari bahu Anda ke ujung jari Anda, kemudian bagi dengan jarak dari siku Anda ke ujung jari Anda. PHI lagi. Yang lain? Paha ke lantai dibagi dengan lutut ke lantai. PHI lagi. Ruas jari. Jemari kaki. Divisi tulang belakang. PHI. PHI. PHI. Kawan-kawan, masing-masing Anda merupakan penghormatan berjalan terhadap Proporsi Agung.`
Bahkan dalam kegelapan, Langdon dapat melihat semuanya tercengang. Dia merasakan kehangatan yang sudah biasa di dalamnya. Karena itulah dia suka mengajar. `Kawan-kawan, seperti yang dapat Anda lihat, kekacauan di dunia ini punya keteraturan yang mendasar. Ketika orang-orang dahulu menemukan PHI, mereka yakin telah tersandung pada balok bangunan Tuhan untuk dunia, karena itu kemudian mereka memuja Alam. Dan orang dapat mengerti mengapa Tangan Tuhan jelas, dalam Alam. Dan bahkan sampai sekarang jejak-jejak pagan, agama-agama yang mengacu pada Ibu Bumi, masih ada. Banyak di antara kita mengenal alam seperti kaum pagan, namun tidak menyadarinya. Perayaan di bulan Mei adalah contoh sempurna, perayaan musim semi ... bumi hidup kembali untuk mengeluarkan karunianya. Keajaiban misterius yang melekat dengan Proporsi Agung ditulis pada awal waktu. Manusia hanya bermain dalam hukum Alam, dan karena seni adalah cara manusia untuk meniru keindahan tangan Pencipta, Anda dapat membayangkan kita mungkin dapat melihat banyak contoh Proporsi Agung dalam seni pada semester ini.`
Melewati setengah jam berikutnya, Langdon memperlihatkan kepada mereka slide-slide dari karya seni Michelangelo, Albrecht Durer, Da Vinci, dan banyak yang lainnya lagi, mempertunjukkan maksud setiap seniman dan keterkaitannya dengan Proporsi Agung dalam layout karangannya. Langdon mengupas PHI dalam dimensi arsitektur Parthenon Yunani, piramid-piramid Mesir, dan bahkan Gedung PBB di New York. PHI muncul dalam struktur organisasional sonata-sonata Mozart, Fifth Symphony karya Beethoven, juga pada karya-karya Bartok, Debussy, dan Schubert. Angka PHI, kata Langdon pada mereka, bahkan juga digunakan oleh Stardivarius untuk menghitung penempatan yang tepat untuk lubang f dalam konstruksi biola-biolanya yang tersohor itu.
`Sebagai penutup,` kata Langdon, sambil berjalan ke papan tulis, `kita kembali ke simbol-simbol.` Dia menarik lima garis saling berpotongan yang membentuk bintang lima titik. `Simbol ini merupakan salah satu gambaran terkuat yang akan kalian lihat pada masa perkuliahan ini. Dikenal secara resmi sebagai pentagram-atau pentakel, seperti yang disebut orang dulu-simbol ini dipandang agung dan juga ajaib oleh banyak budaya. Ada yang bisa mengatakan mengapa begitu?`
Stettner, jurusan matematika, mengangkat tangannya. `Karena jika Anda menggambar pentagram, garis-garis itu secara otomatis membagi dirinya sendiri menjadi segmen sesuai dengan Proporsi Agung.`
Langdon memberi anggukan bangga pada anak itu. `Bagus sekali. Ya, rasio dari segmen garis dalam pentakel semua sama dengan PHI, sehingga membuat simbol ini jadi ekspresi yang pokok. Untuk alasan ini, bintang lima titik ini telah selalu menjadi simbol kecantikan dan diasosiasikan dengan sempurna dengan dewi dan perempuan suci.`
Gadis-gadis di kelas senang.
`Satu catatan, kawan-kawan. Kita baru menyentuh sedikit Da Vinci hari ini, tetapi kita akan bertemu dengannya lebih banyak lagi semester ini. Leonardo adalah seorang yang terdokumentasi dengan baik sebagai penganut setia jalan kuno dari sang dewi. Besok, saya akan memperlihatkan kepada Anda lukisan dindingnya, The Last Supper, yang merupakan paling menakjubkan bagi perempuan suci salah satu penghormatan yang pernah Anda lihat.`
`Anda bercanda, bukan?` seseorang berkata. `Saya kira, The Last Supper adalah tentang Yesus!`
Langdon mengedipkan matanya. `Ada simbol-simbol tersembunyi pada tempat-tempat yang tak pernah terbayangkan.`

`Ayo,` Sophie berbisik. `Ada apa? Kita hampir sampai. Cepat!` Langdon melihat ke atas, merasa kembali dari lamunan jauh. Dia sadar sedang berdiri pada akhir anak tangga. Dia merasa lumpuh karena mengetahui arti kode itu dengan tiba-tiba.
O, Draconian devil! Oh, lame saint! Sophie menatapnya.
Tak mungkin sesederhana itu, pikir Langdon. Namun dia tahu tentu saja, itu memang sederhana.
Di sana, dalam perut Louvre ... dengan gambaran PHI dan Da Vinci berkelebatan dalam benaknya, Robert Langdon tibatiba dan tak terduga memecahkan kode Sauniere.
`O, setan Draconian!` katanya. `Oh, orang suci yang lemah! Itu jenis kode yang paling sederhana!`
Sophie berhenti di anak tangga di bawah Langdon, menatap ke atas dengan bingung. Sebuah kode? Dia telah merenungkan katakata itu sepanjang malam dan tak melihat adanya kode. Terutama yang sederhana.
`Kau mengatakannya sendiri.` Suara Langdon tergetar karena sangat gembira. `Angka-angka Fibonacci hanya punya arti dalam urutan yang benar. Jika tidak, angka-angka itu hanyalah lelucon matematika.`
Sophie tidak tahu aoa yang dibicarakan. Angka-angka Fibonacci? Dia yakin tujuan p angka-angka itu tidak lebih dari mengikutsertakan Departemen Kriptografi dalam penyelidikan malam ini. Angka-angka itu punya tujuan lain? Dia merogoh sakunya dan menarik hasil cetak komputer tadi, kemudian mempelajari lagi pesan kakeknya itu.
13-3-2-21-1-1-8-5 O,
Draconian devil!
Oh, lame saint!
Kenapa dengan angka-angka itu?
`Deret Fibonacci yang tak beraturan itu merupakan sebuah petunjuk,` kata Langdon, sambil mengambil kertas itu. `Angkaangka ini adalah petunjuk bagaimana memecahkan sisa pesan itu. Dia menulis deret itu dengan tak teratur untuk mengatakan kepada kita supaya menggunakan konsep yang sama pada teks itu. O, Draconian devil? Oh, lame saint? Baris-baris itu tak berarti apa pun. Mereka hanya aksara yang tersusun tak beraturan.`
Sophie hanya memerlukan sebentar saja untuk mengerti maksud Langdon, dan itu tampaknya begitu sederhana hingga dapat ditertawakan. `Kaupikir pesan ini adalah ... une anagramme?` Sophie menatap Langdon. `Seperti sebuah teka-teki kata di koran?` , Langdon dapat melihat keraguan dalam wajah Sophie, dari itu dapat dimengerti. Hanya sedikit orang yang tahu bahwa anagram, walaupun menjadi hiburan usang orang modern, memiliki sejarah yang kaya akan simbolisme.
Pengajaran mistis Kabbalah banyak menggambar anagrammengatur kembali huruf-huruf dari kata berbahasa Ibrani untuk membuat arti baru. Raja-raja Prancis di zaman Renaissance percaya bahwa anagram mengaridung kekuatan magis sehingga mereka menunjuk ahli anagram untuk membantu mereka membuat keputusan yang lebih baik dengan menganalisa kata-kata dalam dokumen penting. Orang-orang Roma sebenarnya menganggap pelajaran anagram sebagai ars magna - seni besar.
Langdon menatap lama mata Sophie. `Maksud kakekmu berada tepat di depan kita. Dia meninggalkan petunjuk lebih dari cukup untuk dilihat.`
Tanpa kata-kata lagi, Langdon menarik pena dan saku jasnya dan mengatur kembali huruf-huruf pada setiap baris pesan.
O, Draconian devil! Oh, lame saint!
Adalah anagram yang sempurna dari .....
Leonardo da Vinci! The Mona Lisa!
21

MONA LISA
Begitu dia berdiri di pintu keluar ruang tangga, Sophie lupa semua usahanya untuk keluar dari Museum Louvre.
Dia heran juga pada anagram itu. Selain itu, dia juga malu karena tak mampu memecahkan pesan itu sendiri. Keahlian Sophie dalam menganalisa kriptografi yang rumit menyebabkannya menganggap remeh permainan kata yang sederhana itu. Dia merasa seharusnya dia telah melihatnya, apalagi dia tidak asing dengan anagram-terutama yang berbahasa Inggris.
Ketika dia masih kanak-kanak, kakeknya sering menggunakan anagram untuk mengasah ejaan bahasa Inggrisnya. Pernah kakeknya menulis kata bahasa Inggris `planets` dan mengatakan bahwa ada 92 kata bahasa Inggris lainnya yang dapat disusun dengan menggunakan huruf-huruf sama. Sophie menghabiskan waktu tiga hari bersama kamusnya untuk menemukan semua kata tersebut.
`Aku tak dapat membayangkan,` kata Langdon, menatap kertas itu, `bagaimana kakekmu menciptakan anagram yang begini rumit dalam menitmenit terakhir hidupnya.`
Sophie tahu penjelasannya, dan kenyataan itu membuat perasaannya semakin tidak nyaman. Aku seharusnya sudah tahu ini! Sekarang dia ingat bahwa kakeknya - seorang pemain kata yang fanatik dan pencinta seni - telah menghibur dirinya sendiri ketika masih muda dengan menciptakan anagram dari karya seni yang terkenal. Salah satu anagramnya menyebabkannya mendapat kesulitan ketika Sophie masih kanak-kanak. Saat diwawancarai oleh majalah seni Amerika, Sauniere menyatakan kebenciannya kepada kaum pergerakan Kubisme modern dengan mengatakan bahwa adikarya Picasso, Les Demoiselles d'Avignon, adalah anagram sempurna untuk vile meaningless doodles, `gambar buruk tak berarti'. Pencinta Picasso tidak senang karenanya.
`Kakekku mungkin menciptakan anagram Mona Lisa sudah lama sekali,` kata Sophie, sambil mengerling pada Langdon. Dan malam ini dia terpaksa menggunakannya sebagai kode darurat. Suara kakeknya memanggil dari kejauhan dengan sangat menakutkan. Leonardo da Vinci! The Mona Lisa!
Mengapa pesan terakhir untuknya membawanya ke lukisan terkenal? Sophie tidak tahu, namun dia dapat mengira satu kemungkinan. Satu yang membuatnya penasaran.
Itu semua bukan pesan terakhirnya ....
Haruskah dia mendatangi lukisan Mona Lisa? Apakah kakeknya meninggalkan pesan lagi di sana? Gagasan itu tampak sangat masuk akal. Lagi pula, lukisan tersohor itu tergantung di ruang Salle des Etats-sebuah ruang menikmati lukisan secara pribadi yang hanya dapat dimasuki dari Galeri Agung. Sekarang Sophie menyadari, pintu-pintu yang terbuka menuju ruangan itu terletak hanya dua puluh meter dari tempat kakeknya ditemukan tewas.
Dia bisa saja telah pergi ke Mona Lisa sebelum tewas.
Sophie melihat lagi pada ruang tangga darurat dan merasa bimbang. Dia tahu, dia seharusnya mengantar Langdon secepatnya, namun kata hatinya mengatakan sebaliknya. Ketika Sophie mengingat masa kecilnya saat mengunjungi Sayap Denon, dia ingat, seandainya kakeknya punya rahasia yang akan dikatakan padanya, kakeknya akan memilih tempat di depan Mona Lisa karya Da Vinci daripada tempat lainnya di bumi ini.
`Dia digantung agak jauh,` bisik kakeknya sambil menggandeng tangan kecil Sophie ketika dia rnembawa Sophie menjelajahi museum yang sepi setelah jam tutup.
Sophie berusia enam tahun saat itu. Dia merasa kecil dan tak penting ketika melihat langit-langit tinggi dan lantai yang memeningkan kepala. Museum yang kosong menakutkannya, walau dia tidak akan membiarkan kakeknya tahu itu. Dia merapatkan gerahamnya dan melepaskan gandengan kakeknya.
`Di sana itu adalah Salle des Etats,` kata kakeknya ketika mereka mendekati ruangan yang paling tersohor di Louvre. Walau kakeknya merasa begitu gembira, Sophie ingin pulang saja. Dia sudah pernah melihat lukisan Mona Lisa dalam buku, dan tidak menyukainya sama sekali. Dia tidak mengerti mengapa orangorang begitu sibuk membicarakannya.
`C'est ennuyeux,` gerutu Sophie.
`Membosankan,` kakeknya mengoreksi. `Bahasa Prancis di sekolah saja. Bahasa Inggris di rumah.`
`Ze Louvre, c'est pas chez moi!` Sophie menantang.
Kakeknya tertawa letih. `Kau benar sekali, Louvre memang bukan rumahmu. Kalau begitu, ayo, berbahasa Inggris hanya untuk bersenang-senang.`
Sophie cemberut dan terus berjalan. Ketika mereka memasuki Salle des Etats, mata Sophie mengamati ruangan sempit itu dan berhenti pada titik kehormatan yang pasti-tepat di tengah dinding sebelah kanan, tergantung sendirian di belakang dinding kaca Plexi yang aman. Kakeknya berhenti di ambang pintu dan menunjuk pada lukisan itu.
`Silakan, Sophie. Tidak semua orang punya kesempatan untuk mengunjunginya sendirian.`
Sophie menelan ketakutannya. Dia bergerak perlahan menyeberangi ruangan itu. Setelah segala apa yang pernah didengarnya tentang Mona Lisa, dia merasa seperti sedang mendekati seorang bangsawan. Tiba di depan kaca pelindung Plexi, Sophie menahan napasnya dan menatap ke atas, langsung melihatnya.
Sophie tidak yakin apa yang seharusnya dia rasakan, namun yang pasti tidak seperti ini. Tidak ada perasaan kagum. Tidak ada keheranan. Wajah tersohor itu tampak seperti apa yang dilihatnya dalam buku. Sophie berdiri, diam, lama sekali, menunggu ada yang terjadi.
`Nah, bagaimana pendapatmu?` bisik kakeknya, mendekati dari belakangnya. `Cantik, bukan?`
`Dia terlalu kecil.`
Sauniere tersenyum. `Kau kecil dan kau cantik.`
Aku tidak cantik, pikirnya. Sophie membenci rambut merah dan bintik-bintik pada pipinya, dan dia lebih tinggi daripada semua anak lelaki di kelasnya. Dia memperhatikan Mona Lisa lagi dan menggelengkan kepalanya. `Dia bahkan lebih jelek daripada yang ada di buku. Wajahnya ... brumeux. `
`Berkabut,` kakeknya memberi petunjuk.
`Berkabut,` Sophie mengulangi, karena dia tahu, percakapan mereka tidak akan berlanjut sebelum dia mengulangi kata baru tadi.
`Itu disebut gaya lukisan sfumato,` katanya, `dan itu sulit sekali. Leonardo da Vinci adalah yang terbaik dalam gaya ini dibanding siapa pun.`
Sophie masih tidak suka pada lukisan itu. `Dia tampak mengetahui sesuatu ... seperti anak-anak di sekolah ketika punya rahasia.`
Kakeknya tertawa. `Itu bagian dari mengapa dia begitu terkenal. Orang-orang senang menerka mengapa dia tersenyum.` `Kakek tahu mengapa dia tersenyum?`
`Mungkin.` Kakeknya mengedip. `Suatu hari nanti akan kuceritakan semuanya.`
Sophie menghentakkan kakinya. `Aku sudah bilang, aku tidak suka rahasia!`
` Putri,` kakeknya tersenyum. `Hidup ini berisi banyak rahasia. Kau tidak bisa memelajarinya semua sekaligus.`
`Aku masuk lagi,` kata Sophie, suaranya terdengar dalam di ruang tangga.
`Ke Mona Lisa?` tanya Langdon kecut. `Sekarang?`
Sophie menghitung-hitung risikonya. `Aku bukan tersangka pembunuhan. Aku akan mengunakan kesempatanku. Aku harus tahu apa yang ingin kakekku sampaikan padaku.`
`Bagaimana dengan kedutaan besar?`
Sophie merasa bersalah karena telah membuat Langdon menjadi pelarian dan kemudian meninggalkannya, namun dia tak punya pilihan. Dia menunjuk ke bawah pada pintu besi. `Pergilah melalui pintu itu, dan ikuti tanda keluar yang menyala. Kakekku pernah membawaku melalui jalan itu. Tanda-tanda itu akan membawamu ke pintu putar. Pintu itu satu arah dan terbuka.` Dia memberikan kunci mobilnya kepada Langdon. `Mobilku SmartCar merah di tempat parkir pegawai. Tepat di luar dinding ini. Kau tahu jalan ke kedutaan besar?`
Langdon mengangguk, menatap kunci di tangannya. `Dengar,` kata Sophie, suaranya melembut. `Kupikir kakekku mungkin meninggalkan pesan padaku di Mona Lisa-semacam petunjuk seperti siapa pembunuhnya. Atau mengapa aku dalam bahaya.` Atau apa yang terjadi pada keluargaku. `Aku harus pergi dan melihatnya.`
`Tetapi jika dia ingin mengatakan mengapa kau dalam bahaya, mengapa dia tidak menuliskannya di atas lantai tempat dia tewas. Mengapa dengan permainan kata yang rumit?`
`Apa pun yang ingin disampaikan kakekku, kupikir dia tidak mau seorang pun mengetahuinya, tidak juga polisi.` Jelas, kakeknya telah melakukan segalanya dengan sisa kekuatannya untuk menyampaikan pesan rahasia langsung pada Sophie. Dia telah menulisnya dalam kode, termasuk inisial rahasia Sophie, dan menyuruhnya untuk mencari Robert Langdon-perintah yang bijak, mengingat simbolog Amerika ini telah berhasil memecahkan kodenya. `Betapa pun aneh kedengarannya,` kata Sophie, `kupikir dia ingin aku pergi ke Mona Lisa sebelum orang lain pergi kesana.
`Aku akan ikut.` .
`Jangan! Kita tidak tahu sampai berapa lama Galeri Agung akan tetap kosong. Kau harus pergi.`
Langdon tampak ragu, seolah rasa keingintahuan akademisnya tertantang untuk mengabaikan pertimbangan yang logis dan membiarkan dirinya kembali ke dalam cengkeraman Fache.
`Pergi, sekarang!` Sophie tersenyum lebar. `Kita bertemu lagi di kedutaan besar, Pak Langdon.`
Langdon tampalc tidak senang. `Aku akan bertemu denganmu di sana dengan satu syarat.`
Sophie terhenti, terkejut. `Apa itu?` `Jangan panggil aku Pak Langdon.`
Sophie melihat ada senyum tersembunyi pada wajah Langdon, dan dia membalasnya. `Semoga berhasil, Robert.`
Ketika Langdon tiba di lantai bawah, hidungnya mencium aroma yang pasti dari minyak jerami dan debu dinding. Di depannya, tanda SORTIE/EXIT menyala dengan gambar anak panah menunjuk ke bawah sepanjang koridor itu.
Langdon melangkah dalam gang.
Di sebelah .kanan terbuka sebuah studio perbaikan. Di dalamnya tampak sederet patung yang sedang diperbaiki. Di sebelah kiri, dia melihat sebuah deretan studio-studio yang sama dengan kelas-kelas seni di Harvard-deretan para-para, lukisan-lukisan, palet-palet, peralatan pembingkaian-sederetan kumpulan bendabenda seni.
Ketika dia berjalan di sepanjang gang, Langdon bertanya tanya, mungkinkah dia saat ini tiba-tiba terbangun di atas tempat tidurnya di Cambridge. Sepanjang malam ini seolah mimpi aneh. Aku akan keluar dari Louvre ... sebagai buron.
Pesan anagram Sauniere yang cerdas masih tetap dalam benaknya, dan Langdon bertanya-tanya apa yang akan ditemukan Sophie pada Mona Lisa ... bisa apa saja. Sophie begitu yakin bahwa kakeknya menginginkannya untuk pergi ke lukisan tersohor itu sekali lagi. Walau tafsir ini masuk akal, tampaknya Langdon sekarang merasa dihanrui oleh sebuah paradoks yang membingungkan.
P. S. Cari Robert Langdon.
Sauniere telah menuliskan namanya di atas lantai, memerintahkan Sophie untuk mencarinya. Tetapi mengapa? Hanya supaya Langdon membantunya memecahkan anagram?
Tampaknya tak masuk akal.
Lagi pula, Sauniere tidak punya alasan untuk tahu bahwa Langdon ahli dalam anagram. Kami tidak pernah bertemu. Lebih penting lagi, Sophie begitu yakin dia bisa memecahkan anagram itu sendiri. Sophielah yang melihat deret angka Fibonacci, dan, tak diragukan, jika diberi sedikit waktu lebih, dia akan sanggup memecahkan kode itu tanpa bantuan Langdon.
Sophie memang seharusnya memecahkan anagram itu sendiri. Langdon tiba-tiba merasa lebih yakin tentang itu, namun kesimpulannya meninggalkan pertanyaan tentang tindakan Sauniere.
Mengapa aku?' Langdon bertanya-tanya, sambil terus berjalan di gang. Mengapa pesan terakhir Sauniere menyuruh cucunya yang tak mengenalku itu untuk mencariku? Menurut Sauniere, apa yang aku tahu?
Tiba-tiba Langdon berhenti. Dengan mata terbelalak dia merogoh sakunya dan menarik keluar kertas tadi. Dia menatap baris terakhir pesan Sauniere.
P.S Cari Robert Langdon
Dia punya firasat pada dua huruf itu.
P.S.
Saat itu juga, Langdon merasa bahwa simbolisme Sauniere yang memusingkan mulai tampak jelas. Seperti kilatan petir, sebuah simbologi dan sejarah yang senilai karier bertahun-tahun menyambar di sekitarnya. Segala yang Jacques Sauniere lakukan malam ini tiba-tiba jelas sekali.
Pikiran Langdon seperti berpacu ketika dia mencoba mengumpulkan implikasi-implikasi dari semuanya ini. Sambil terus berlari, Langdon menatap ke arah dia datang tadi.
Masih adakah waktu?
Dia tahu, itu tidak penting.
Tanpa ragu, Langdon berlari cepat kembali ke tangga tadi.

22

BERLUTUT DI baris terdepan bangku gereja, Silas pura-pura berdoa sambil mengamati keadaan ruangan gereja itu. Saint-Sulpice, seperti umumnya gereja yang lain, telah dibangun dengan bentuk salib Roma raksasa. Bagian pusatnya memanjang, lurus langsung ke altar utama, dan di sana berpotongan dengan bagian yang lebih pendek, bernama transept. Potongan bagian pusat dan transept berada tepat di bawah kubah utama dan dianggap jantungnya gereja ... titik tersuci dan mistis dari gereja itu.
Tidak malam ini, pikir Silas. Saint-Sulpice menyembunyikan rahasianya di tempat lain. Silas memalingkan kepalanya ke kanan, menatap ke transept sebelah selatan, ke area lantai terbuka sesudah deretan bangku gereja, ke objek yang telah digambarkan oleh korbannya.
Di sanalah dia.
Tertanam dalam lantai batu granit kelabu, sebuah garis tipis kuningan mengilap di batu itu ... sebuah garis keemasan melintas miring di atas lantai gereja. Garis itu memiliki tanda-tanda ukuran, seperti penggaris. Itu sebuah gnomon, Silas telah diberi tahu, sebuah alat astronomi pagan seperti petunjuk waktu dengan bantuan sinar matahari. Para turis, ilmuwan, ahli sejarah, dan pagan dari seluruh dunia datang ke Saint-Sulpice untuk melihat garis terkenal itu.
Garis Mawar.
Perlahan, Silas membiarkan matanya mengamati garis kuningan itu, yang melintang pada lantai dari sebelah kanan dirinya ke sebelah kiri, berbelok di depannya membentuk sudut yang aneh, sama sekali tidak sesuai dengan simetri gereja itu. Mengiris altar utama, garis itu tampak bagi Silas seperti menyayat wajah yang cantik. Potongan itu membelah pagar komuni menjadi dua, kemudian menyeberangi lebar gereja, dan akhirnya mencapai sudut transept utara, di mana garis itu menyentuh struktur yang paling tak terduga. .
Sebuah obelisk Mesir yang besar sekali.
Di sini, Garis Mawar membelok sembilan puluh derajat vertikal dan terus langsung menuju ke obelisk itu, naik 33 kaki hingga ke titik puncak piramid, tempat garis itu berakhir.
Garis Mawar, pikir Silas. Persaudaraan itu menyimpan batu kunci pada Garis Mawar.
Beberapa saat sebelumnya, malam ini, ketika Silas mengatakan kepada Guru bahwa batu kunci yang terdahulu disembunyikan di dalam Saint-Sulpice, Guru seperti meragukannya. Namun ketika Silas menambahkan bahwa semua anggota persaudaraan itu mengatakan tempat yang sama, berhubungan dengan garis kuningan yang melintas di Saint-Sulpice, maka Guru terkesiap karena senang. `Kau maksud adalah Garis Mawar!`
Guru cepat mengatakan kepada Silas tentang keanehan arsitektur gereja itu-garis dari kuningan itu yang membelah sanktuari gereja tepat pada sumbu selatan-utara. Itu semacam
alat pengukur waktu dengan bantuan cahaya matahari, sebuah peninggalan kuil pagan yang dulu pernah berdiri tepat di situ. Sinar matahari, yang bersinar melalui oculus pada dinding selatan, bergerak lebih jauh ke arah garis itu setiap hari, menunjukkan berlalunya waktu, dari titik balik matahari yang satu ke titik balik matahari berikutnya.
Garis yang melintang dari utara ke selatan itu terkenal dengan nama Garis Mawar. Selama berabad-abad, simbol Mawar telah dihubungkan dengan peta dan petunjuk dalam arah yang semestinya. Mawar Kompas-tergambar hampir pada semua peta menunjukkan utara, timur, selatan, dan barat. Mulanya dikenal sebagai Mawar Angin, Mawar Kompas menunjukkan 32 arah mata angin, bertiup dari 8 mata angin utama, 8 mata angin setengah, dan 16 mata angin seperempat. Ketika menggambarkan bagian dalam sebuah lingkaran, ke-32 titik kompas ini menyempurnakan 32 kuntum mawar tradisional. Kini, alat navigasi yang mendasar itu masih terus dikenal sebagai Mawar Kompas, arah paling utaranya masih ditandai oleh ujung anak panah ... atau, lebih lazim, disebut sebagai simbol fleur-de-lis.
Pada bola dunia, Garis Mawar-juga disebut garis meridian atau garis bujur-merupakan garis imajinasi yang ditarik dari Kutub Utara ke Kutub Selatan. Tentu saja, jumlah Garis Mawar. tak terhingga karena setiap titik pada bola dunia dapat memiliki tarikan garis bujur yang menghubungkan titik di utara dan di selatan. Pertanyaan bagi para navigator dahulu adalah mana dari garis-garis itu yang disebut Garis Mawar-bujur nol-garis bujur awal mula yang menjadi tolak ukur semua garis bujur di bumi. Sekarang ini garis itu adalah garis Greenwich, Inggris. Namun dulu tidak seperti itu.
Lama sebelum ditentukannya Greenwich sebagai meridian utama, bujur nol dari seluruh dunia melewati Paris, melintasi Gereja Saint-Sulpice. Tanda dari kuningan di gereja ini mengingatkan pada meridian utama dunia yang pertama, dan walau Greenwich pernah, karena kehormatan, melintasi Paris pada tahun 1888, Garis Mawar yang asli masih dapat dilihat sekarang ini.
`Dan legenda itu benar adanya,` kata Guru pada Silas. `Batu kunci Biarawan, konon, diletakkan `di bawah Tanda Mawar` Sekarang, masih berlutut di bangku gereja, Silas mengamati sekitar ruang gereja itu. Dia memasang telinga untuk memastikan bahwa tak ada orang di sana. Untuk sesaat, dia merasa seperti mendengar gesekan di balkon paduan suara. Dia menoleh dan menatap ke atas untuk beberapa detik. Tak ada apa pun.
Aku sendirian.
Dia berdiri, menghadap altar dan memberi hormat tiga kali. Kemudian dia berpaling ke kiri dan mengikuti garis dari kuningan itu ke utara, menuju obelisk itu.
Pada saat itu, di bandara internasional Leonardo da Vinci di Roma, roda pesawat menyentuh landasan, mengejutkan Uskup Aringarosa dari tidurnya.
Aku tertidur, pikirnya, heran karena ternyata dia cukup tenang untuk bisa tertidur.
`Ben venuto a Roma,` terdengar sambutari dari interkom. Aringarosa menegakkan punggungnya, kemudian meluruskan jubah hitamnya dan tersenyum kecil. Ini adalah perjalanan yang menyenangkan. Aku sudah terlalu lama bersembunyi. Malam ini, kekuasaan sudah berpindah. Baru lima bulan yang lalu Aringarosa takut akan masa depan Iman Sejati. Sekarang, seolah seperti dikehendaki Tuhan, masalah itu telah terpecahkan dengan sendirinya. Campur tangan Tuhan.
Jika semua berjalan sesuai rencana malam ini di Paris, Aringarosa akan memiliki sesuatu yang memungkinkannya menjadi orang yang paling berkuasa di kerajaan Kristen.

23

SOPHIE DENGAN terengah-engah tiba di depan pintu kayu besar Salle des Etats-ruangan yang menyimpan Mona Lisa. Sebelum masuk, dengan enggan dia menatap jauh ke gang, kurang lebih dua puluh yard, tempat tubuh kakeknya masih terbaring di bawah sorotan lampu.
Rasa sesal yang mendalam menyergapnya. Dia merasa sedih sekaligus berdosa. Lelaki itu sudah berkali-kali mencoba merengkuh Sophie dalam sepuluh tahun ini, dan Sophie tak tergerak sama sekali-membiarkan surat-surat dan paket-paketnya tak dibuka tersimpan di dasar lacinya dan mengabaikan usaha kakeknya untuk bertemu dengannya. Dia berbohong padaku! Menyimpan rahasia-rahasia yang menakutkan! Apa yang seharusnya kulakukan? Dan dia tak membiarkan kakeknya mendekat. Sama sekali!
Sekarang kakeknya sudah meninggal; ia sekarang berbicara padanya dari alam kubur. Mona Lisa.
Sophie mengulurkan tangannya menyentuh pintu-pintu kayu itu, dan mendorongnya.
Jalan masuk terbuka lebar. Sophie berdiri di ambang pintu sesaat, mengamati ruangan persegi yang besar di depannya. Ruangan itu bermandikan cahaya merah. Salle des Etats merupakan salah satu culs-de-sac-jalan buntu dan satu-satunya ruangan yang tak berada di tengah-tengah Galeri Agung. Pintu ini, satu-satunya jalan masuk, menghadap ke sebuah karya Botticelli setinggi lima belas kaki yang menempel pada dinding di kejauhan. Di bawahnya, di tengah-tangah lantai parket, sebuah dipan berbentuk oktagonal diperuntukkan sebagai peristirahatan yang menyambut ribuan pengunjung. Dipan itu dapat digunakan sebagai pengistirahat kaki sambil menikmati aset Louvre yang paling berharga.
Sebelum melangkah masuk, Sophie sadar harus membawa sesuatu, senter sinar hitam. Dia mengamati gang tempat kakeknya tergeletak di bawah lampu sorot di kejauhan, dikelilingi peralatan elektronik. Jika dia telah menulis sesuatu di sini, hampir pasti dia menulisnya dengan spidol stylus.
Dengan menarik napas dalam, Sophie bergegas ke tempat kejadian perkara itu. Dia tak sanggup melihat tubuh kakeknya; dia hanya memusatkan perhatiannya pada peralatan PTS. Kemudian dia menemukan senter pena ultra violet, dan menyelipkan ke dalam saku sweternya, lalu bergegas kembali ke gang dac menuju ke pintu terbuka Salle des Etats.
Sophie membelok dan melangkahi ambang pintu. Begitu dia masuk, suara langkah kaki terdengar mendekatinya dari bagiar dalam ruangan. ada orang di sini! Sesosok menyerupai hantu muncul dari remang kemerahan. Sophie terloncat mundur.
`Nah, kau di sini!` suara Langdon serak berbisik, ketika bayangannya berhenti di depan Sophie.
Perasaan lega Sophie hanya sebentar. `Robert, aku bilang kau harus pergi dari sini! Jika Fache......`
`Tadi kau ke mana?`
`Aku harus mengambil senter sinar hitam,` bisiknya, sambi memperlihatkan senter itu. `Jika kakekku menuliskan pesan-`
`Sophie, dengar,` Langdon menahan napasnya ketika mata birunya menatap Sophie tajam. `Huruf PS. ... apa itu berarti lain lagi bagimu? Apa saja!?`
Karena takut suara mereka akan menggema di gang, Sophie menarik Langdon masuk ke ruangan Salle des Etats dan perlahan menutup pintu kembarnya, kemudian menguncinya. `Aku sudah katakan, inisial itu berarti Putri Sophie.`
`Aku tahu, tetapi pernahkah kau melihatnya di tempat lain lagi? Kakekmu menggunakan PS. untuk yang lainnya? Sebagai monogram, atau mungkin pada alat-alat tulisnya, atau perlengkapan pribadinya?`
Pertanyaan itu mengejutkan Sophie. Bagaimana Robert tahu itu? Sophie memang pernah melihat inisial PS. sebelum itu, dalam bentuk monogram. Pada satu hari sebelum hari ulang tahunnya yang kesembilan, Sophie diam-diam menyelusuri rumahnya mencari hadiah tersembunyi. Sophie tak pernah suka ada rahasia tersembunyi darinya. Apa yang diberikan kakek untukku tahun ini? Dia menggerayangi laci dan lemari. Apakah kakek memberiku boneka yang kuinginkan? Di mana disembunyikannya?
Karena tak menemukan apa pun di seluruh rumah, Sophie memberanikan diri menyelinap ke kamar tidur kakeknya. Kamar itu sesungguhnya terlarang baginya, namun kakeknya sedang tertidur di sofa di lantai bawah.
Aku hanya akan mengintip sebentar!
Sophie kemudian berjingkat di atas lantai kayu yang berderit. Dia mengintai ke dalam rak-rak di balik pakaian kakeknya. Tak ada apa pun. Kemudian dia mencari di bawah tempat tidur.
Masih belum ada apa pun. Dia bergerak ke ruang kerjanya, dan membuka laci-lacinya satu per satu dan menggerayanginya. Pasti ada sesuatu di sini! Ketika dia mencapai ke dasar laci, dia masih tak menemukan tanda-tanda adanya sebuah boneka. Dengan kecewa dia membuka laci terakhir dan menarik selembar pakaian hitam yang belum pernah dia melihat dikenakan kakeknya. Baru saja akan menutup laci itu, dia melihat kilau emas di bagian belakang. Tampaknya seperti kantong jam saku, namun dia tahu kakeknya tak menggunakan itu. Jantungnya berdebar ketika dia mulai menerka apa isinya.
Seuntai kalung!
Dengan berhati-hati Sophie menarik rantai itu dari laci. Dia terkejut sekali ketika akhirnya dia melihat sebuah kunci emas yang berkilauan. Berat dan berkilauan. Dia memegangnya dengan penuh pesona. Dia belum pernah melihat kunci seperti itu. Umumnya kunci pipih bergerigi, namun yang ini mempunyai batang segi tiga dipenuhi bercak-bercak. Kepala besar emasnya berbentuk salib, namun tidak seperti biasanya. Yang ini bahkan seperti tanda tambah. Di tengahnya, tercetak menonjol, sebuah simbol anehdua huruf saling membelit dengan gambar semacam bunga.
`PS.,` dia berbisik membaca huruf-huruf itu sambil cemberut. `Apakah artinya ini?`
`Sophie?` panggil kakeknya dari ambang pintu.
Dengan terkejut, Sophie menoleh, dan menjatuhkan kunci itu ke atas lantai dengan suara keras. Dia menatap kunci itu, takut menatap wajah kakeknya. `Aku ... sedang mencari hadiah ulang tahunku,` katanya, sambil menunduk, tahu bahwa dia telah mengkhianati amanat kakeknya.
Seolah sudah lama sekali kakeknya berdiri diam di ambang pintu. Akhirnya, kakeknya menghembuskan napas berat. `Pungut kunci itu, Sophie.`
Sophie memungut kunci itu.
Kakeknya masuk. `Sophie, kau harus menghormati rahasia pribadi orang lain.` Dengan lembut, kakeknya berjongkok dan mengambil kunci dari tangan Sophie. `Kunci ini sangat istimewa. Jika kau menghilangkannya ...`
Suara tenang kakeknya justru membuat perasaan Sophie menjadi lebih bersalah. `Maafkan aku, Grand pere. Aku sangat menyesal.` Dia berhenti. `Kukira itu kalung hadiah ulang tahunku.`
Kakeknya menatapnya beberapa detik. `Aku katakan ini sekali lagi, Sophie, karena ini sangat penting. Kau harus menghormati rahasia pribadi orang lain.`
`Ya, Grand pere.`
`Kita akan membicarakan ini lain kali. Sekarang, taman kita perlu dipotong rumputnya.`
Sophie bergegas keluar kamar untuk mengerjakan tugasnya. Keesokan harinya, Sophie tak menerima hadiah ulang tahun dari kakeknya. Dia memang tak mengharapkannya setelah apa yang dilakukannya kemarin. Namun kakeknya bahkan tak mengucapkan selamat ulang tahun padanya sepanjang hari itu. Dengan sedih, dia naik ke tempat tidurnya malam itu. Ketika itu dia menemukan sehelai kartu dengan catatan tergeletak di atas bantalnya. Pada kartu itu tertulis teka-teki sederhana. Sebelum memecahkan teka-teki itu, dia tersenyum. Aku tahu apa ini! Kakeknya pernah melakukan ini di pagi hari Natal.
Perburuan harta karun!
Dengan bersemangat dia membaca dengan teliti teka-teki itu hingga dapat memecahkannya. Jawaban itu membawanya ke bagian lain di rumah itu, yang ternyata ada teka-teki lainnya. Dia berhasil menerkanya juga, dan segera mengejar kartu berikutnya. Dia berlari dengan riang, dan cepat keluar masuk ruangan dalam rumah itu, dari satu petunjuk ke petunjuk lainnya. Dan akhirnya dia menemukan sebuah petunjuk yang membawanya kembali ke kamar tidurnya, dan berhenti mendadak. Di tengah kamarnya berdiri sebuah sepeda merah berkilap dengan pita terikat pada setangnya. Sophie berteriak kegirangan.
`Aku tahu kau menginginkan sebuah boneka,` kakeknya berkata, tersenyum dari sudut kamar. `Kupikir, mungkin kau akan lebih menyukai ini.`
Keesokan harinya, kakeknya mengajari Sophie mengendarai sepeda, dengan berlarian di sampingnya di kaki lima. Ketika Sophie melindas rumput tebal, dia kehilangan keseimbangannya.
Mereka berdua terguling jatuh ke rumput, bergulingan, dan tertawa.
`Grand pere,` kata Sophie sambil memeluknya. `Aku betulbetul menyesal tentang kunci itu.`
`Aku tahu, Sayang. Kau sudah kumaafkan. Aku tak bisa marah terus-menerus kepadamu. Kakek dan cucu selalu saling memaafkan.`
Sophie tahu dia seharusnya tak bertanya, namun dia tak dapat menahannya. `Kunci itu untuk membuka apa? Aku belum pernah melihat kunci seperti itu. Sangat cantik.`
Kakeknya terdiam lama, dan Sophie melihat kakeknya raguragu menjawabnya. Grand pere tak pernah berbohong. `Kunci itu untuk membuka sebuah kotak,` katanya akhirnya. `Tempat . menyimpan banyak rahasia.`
Sophie cemberut. `Aku benci rahasia!`
`Aku tahu, tetapi ini rahasia penting. Dan suatu hari kelak, kau akan belajar menghargainya, seperti aku.`
`Aku melihat huruf-huruf dan bunga.`
`Ya, itu bunga kesukaanku. Namanya fluer-de-lis. Kita punya di taman. Yang putih itu. Di Inggris kita menyebutnya sejenis bunga lili.`
`Aku tahu itu! Kesukaanku juga!`
`Kalau begitu, aku akan buat kesepakatan denganmu.` Alis kakek Sophie terangkat, seperti biasanya jika dia sedang menantang Sophie. `Jika kau dapat menyimpan rahasia kunciku dan tak pernah membicarakannya lagi, denganku atau dengan siapa saja, maka suatu hari kelak aku akan memberikannya kepadamu.`
Sophie tak dapat memercayai telinganya. `Benarkah?`
`Aku berjanji. Jika waktunya tiba, kunci itu menjadi milikmu. Ada namamu di atasnya.`
Sophie cemberut. `Tidak. Hurufnya PS. Namaku bukan PS.!` Kakeknya merendahkan suaranya dan melihat ke sekelilingnya seolah untuk meyakinkan tak seorang pun mendengarnya. `Baik, Sophie, kau harus tahu, P S. adalah sebuah kode. Itu inisal rahasiamu.`
Mata Sophie membesar. `Aku punya inisial rahasia?`
`Tentu saja. Cucu selalu punya inisial rahasia yang hanya diketahui kakeknya.`
`P.S.?`
Kakeknya menggelitiknya. `Princesse Sophie. ` Sophie terkekeh. `Aku bukan putri!`
Kakeknya mengedipkan matanya. `Bagiku kau seorang putri.` Mulai hari itu, mereka tidak pernah membicarakan kunci itu lagi. Dan Sophie menjadi Putri Sophie bagi kakeknya.

Di dalam Salle des Etats, Sophie berdiri terdiam dan merasa sakit karena sangat kehilangan.
`Inisial itu,` Langdon berbisik, sambil menatapnya aneh. `Kau pernah melihatnya?` Sophie merasa mendengar suara kakeknya berbisik di gang museum ini. `Jangan pernah membicarakan kunci itu, Sophie. Tidak denganku, atau siapa pun.` Dia tahu, dia sudah pernah mengkhianatinya dan dimaafkan, dan sekarang Sophie bertanya-tanya apakah dia boleh melanggar kepercayaannya lagi. P.S Cari Robert Langdon. Kakeknya ingin Langdon menolongnya. Sophie mengangguk. `Ya, aku pernah melihat inisial PS. Ketika aku masih kecil.`
`Di mana?`
Sophie ragu. `Di atas sebuah benda vang sangat penting baginya.`
Langdon menatap tajam pada rnata Sophie. `Sophie, ini sangat penting. Apakah inisial itu ada bersama sebuah simbol? Sebuah fleur-de-lis?`
Sophie merasa limbung karena sangat heran. `Tetapi ... bagaimana kau tahu itu?`
Langdon menarik napas dan merendahkan suaranya. `Aku sangat yakin, kakekmu anggota dari perkumpulan rahasia. Sebuah kelompok persaudaraan yang sudah sangat tua dan tertutup.`
Sophie merasa tegang pada perutnya. Dia juga yakin itu. Selama sepuluh tahun dia mercoba melupakan kejadian yang telah membuatnya yakin akan hal itu. Dia telah menyaksikan sesuatu yang tak masuk akal. Yang tak terlupakan.
`Fleur-de-lis itu,` kata Langdon, `jika dikombinasikan dengan inisial PS., merupakan tanda keanggotaan bagi mereka. Lambang mereka. Logo mereka.`
`Bagaimana kautahu itu?` Sophie berdoa, semoga Langdon bukan mau bilang bahwa ia sendiri anggota dari perkumpulan itu.
`Aku pernah menulis tentang kelompok itu,` kata Langdon, suaranya bergetar karena gembira sekali. `Meneliti simbol-simbol rahasia adalah keahlianku. Anggota perkumpulan itu menamakan diri mereka Prieure de Sion, `Biarawan Sion'. Mereka berbasis di Prancis sini, dan menarik orang-orang kuat dari seluruh Eropa sebagai anggota. Mereka salah satu perkumpulan rahasia tertua yang bertahan di bumi ini.`
Sophie tak pernah mendengarnya.
Sekarang Langdon berbicara dengan sangat cepat. `Keanggotaan biarawan itu terdiri atas orang-orang penting dalam sejarah, seperti Botticelli, Sir Isaac Newton, Victor Hugo.` Dia berhenti, sekarang suaranya bernada akademisi. `Dan Leonardo da Vinci.` Sophie terkejut. `Da Vinci anggota kelompok rahasia itu?` `Da Vinci mengetuai Biarawan sebagai mahaguru dari persaudaraan tersebut dari tahun 1510 hingga 1519. Karena itulah, mungkin, kakekmu begitu menyukai karya Leonardo da Vinci. Keduanya memiliki ikatan persaudaraan historis. Dan itu semua sangat sesuai dengan kekaguman mereka pada ikonologi kedewian, paganisme, ketuhanan perempuan, dan kebencian pada gereja. Biarawan memiliki acuan sejarah perempuan suci yang terdokumentasi dengan baik.`
`Maksudmu, perkumpulan ini merupakan kelompok pemuja sebuah dewi pagan?`
`Lebih tepatnya, kelompok pemuja dewi pagan itu. Lebih penting lagi, mereka terkenal sebagai para penjaga sebuah rahasia kuno. Sebuah rahasia yang membuat mereka begitu berkuasa.`
Walau mata Langdon bersinar begitu meyakinkan, Sophie tidak memercayainya. Sebuah kelompok pagan rahasia? Dan pernah dikepalai oleh Leonardo da Vinci? Itu semua terdengar aneh sekali.
Dan walau Sophie tak mau menerimanya, kenangannya kembali pada peristiwa sepuluh tahun silam pada suatu malam saat dia secara tak sengaja memergoki kakeknya dan menyaksikan sesuatu yang hingga kini tak dapat diterimanya. Dapatkah itu menelaskan-?
`Identitas para anggota Biarawan yang masih hidup terjaga kerahasiaannya,` kata Langdon, `tetapi inisial PS. dan fluer-de-lis yang kau lihat ketika masih kecil itu adalah bukti. Itu hanya dapat dihubungkan dengan Biarawan.`
Sekarang Sophie sadar bahwa Langdon tahu jauh lebih banyak daripada yang dia bayangkan sebelumnya. Orang Amerika ini pastilah punya banyak hal yang dapat dibagikan kepadanya, namun di sini bukanlah tempat yang tepat. `Aku tak kan membiarkan mereka menangkapmu, Robert. Banyak yang harus kita diskusikan. Kau harus pergi!`
Langdon mendengar hanya gumam tak jelas dari suara Sophie. Dia tak pergi ke manapun. Dia kini seperti tersesat ke tempat lain. Tempat rahasia-rahasia kuno muncul ke permukaan. Tempat sejarah-sejarah yang terlupakan muncul dari bayang-bayang.
Perlahan, seperti bergerak di dalam air, Langdon memalingkan kepalanya dan menatap remangan merah, ke arah Mona Lisa. The fleur-de-lis .... bunga Lisa ... Mona Lisa.
Itu semua saling berkaitan, sebuah simfoni diam namun menggemakan rahasia-rahasia dari Biarawan Sion dan Leonardo da Vinci.

Beberapa mil dari Louvre, di tepi sungai melewati Les Invalides, pengemudi truk gandengan Trailor kebingungan ketika dia berdiri di bawah ancaman pistol dan diawasi oleh seorang kapten Polisi Judisial, yang menyemburkan kemarahan dan kemudian melemparkan sepotong sabun ke dalam Sungai Seine yang lebar.

24

SILAS MENATAP ke depan ke obelisk Saint-Sulpice, yang setinggi pilar pualam besar. Ototnya menegang karena letih. Dia mengerling ke sekelilingnya sekali lagi untuk meyakinkan dia memang sendirian. Kemudian dia berlutut di depannya, bukan karena sedang menghormat, namun dia memerlukannya begitu.
Batu kunci itu tersembunyi di bawah Garis Mawar.
Pada dasar obelisk Sulpice.
Sekarang dia berlutut, tangannya menggerayangi lantai batu itu. Dia tak melihat adanya retakan atau tanda-tanda keramik yang dapat digerakkan. Kemudian dia mulai mengetuk-ngetuk dengan tulang tinjunya pada lantai. Dia mengikuti garis kuningan yang semakin mendekati obelisk. Dia mengetuk setiap lantai yang berdekatan dengan garis kuningan ke obelisk. Akhirnya, salah satu dari lantai itu bergema aneh.
Adn ruangan di bawah lantai ini!
Silas tersenyum. Para korbannya telah mengatakan yang sebenarnya.
Dia kemudian berdiri, dan mencari sesuatu di sekitar ruangan itu, yang dapat digunakan untuk memecahkan lantai itu.
Tinggi di atas Silas, di atas balkon, Suster Sandrine menahan sengal napasnya. Sesuatu yang paling ditakutkannya telah terbukti. Tamunya ini bukanlah tamu sesungguhnya. Seorang biarawan misterius Opus Dei telah datang ke Saint-Sulpice untuk tujuan yang berbeda.
Sebuah tujuan rahasia.
Kau bukanlah satu-satunya yang punya rahasia, pikirnya. Suster Sandrine Bieil lebih dari sekadar pemelihara gereja. Dia juga pengaman gereja ini. Dan malam ini, roda kuno itu telah dipasang untuk digerakkan. Kedatangan orang asing di dasar obelisk itu merupakan tanda dari kelompok persaudaraan itu. Itu adalah seruan minta tolong tanpa suara.

25

KEDUTAAN BESAR Amerika Serikat di Paris merupakan kompleks yang terpadu terletak di Avenue Gabriel, tepat di sebelah utara ChampsElysees. Kompleks berluas sekitar satu setengah hektare itu merupakan tanah otoritas Amerika Serikat. Artinya, semua yang berdiri di atasnya berada di bawah hukum dan perlindungan selayaknya mereka berada di Amerika Serikat.
Operator jaga malam kedutaan sedang membaca Time edisi internasional ketika suara teleponnya mengusiknya.
`Kedutaan besar Amerika Serikat,` jawabnya.
`Selamat malam.` Penelepon itu berbahasa Inggris dengan aksen Prancis. `Saya membutuhkan bantuan.` Walau kata-kata lelaki itu terdengar sopan, suaranya terdengar kasar dan resmi. `Saya diberi tahu bahwa saya mendapat pesan telepon pada sistem atomatis Anda. Nama saya Langdon. Sialnya saya lupa kode tiga angka untuk mengaksesnya. Jika Anda dapat menolong saya, saya akan sangat berterima kasih.`
Operator itu terdiam, bingung. `Maaf, Pak. Pesan Anda mungkin sudah sangat lama. Sistem itu sudah dihapus dua tahun lalu demi keamanan. Lagi pula, semua kode akses berupa lima angka. Siapa yang memberi tahu Anda tentang pesan tersebut?`
`Anda tak punya sistem telepon otomatis?`
`Tidak, Pak. Segala pesan untuk Anda akan dicatat dengan tulisan tangan oleh bagian pelayanan kami. Siapa nama Anda tadi?`
Namun lelaki itu memutuskan hubungan.

Bezu Fache merasa bingung ketika dia berjalan hilir-mudik di tepi Sungai Seine. Dia yakin telah melihat Langdon memutar nomor lokal, memasukkan kode tiga angka, kemudian mendengarkan rekaman pesan. Tetapi jika Langdon tidak menelepon kedutaan, lalu dia menelepon siapa?
Ketika melihat ke handphone-nya, dia sadar bahwa jawabannya ada dalam telapak tangannya. Langdon menelepon dengan handphone-ku tadi.
Sambil menekan-tekan tombol menu handphone-nya, kemudian mencari nomor telepon terakhir, Fache menemukan nomor yang dituju Langdon tadi.
Nomor telepon Paris dan diikuti oleh kode tiga angka 454. Dia kemudian memutar lagi nomor itu, lalu menunggu ketika saluran itu mulai berdering.
Akhirnya suara seorang perempuan menjawab. `Bonjour, vous etes bien chez Sophie Neveu,` rekaman itu memberi tahu. `Je suis absente pour le moment, mais ... `
Darah Fache mendidih ketika dia menekan nomor 4... 5...4.

26

WALAU LUKISAN begitu terkenal, ternyata ukuran Mona Lisa hanya 31 inci kali 21 inci lebih kecil daripada ukuran posternya yang dijual di toko cendera mata di Louvre. Lukisan itu tergantung pada dinding sebelah barat laut ruang Salle des Etats di balik kaca pelindung Plexi, setebal dua inci. Dilukis di atas panel kayu poplar, lukisan itu beratmosfir halus, dan tampak berkabut-ini dinisbahkan pada keahlian Da Vinci melukis dengan gaya sfumato: membuat bentuk-bentuk lukisan tampak membaur satu sama lain.
Sejak ditempatkan di Louvre, Mona Lisaatau La Joconde, begitu orang Prancis menyebutnya - pernah dicuri dua kali, yang terakhir pada tahun 1911, ketika lukisan itu menghilang dari ruang `salle impenetrable` LouvreLe Salon Carre. Orang-orang Prancis menangisinya dan menulis artikel-artikel dalam koran memohon pencurinya untuk mengembalikannya. Dua tahun kemudian, Mona Lisa ditemukan di dasar sebuah koper, di ruang hotel di Florence.
Langdon, setelah menyatakan dengan jelas kepada Sophie bahwa dia tak mau pergi, lalu berjalan bersama Sophie melintasi Salle des Etats. Mona Lisa masih dua puluh yard di depan mereka ketika Sophie menyalakan senter sinar hitamnya. Seketika itu juga gulungan sinar kebiruan dari senter berukuran pena itu membesar dan menerangi lantai di depan mereka.
Sophie mengayun-ayunkan senter itu ke depan dan ke belakang di lantai seperti penyapu ranjau, mencari setiap petunjuk dalam bentuk tinta menyala.
Langdon berjalan di sampingnya. Dia sudah merasa tergetar karena akan melihat langsung karya seni besar. Langdon merasa tegang ketika melihat bungkusan cahaya keunguan yang berasal dari senter sinar hitam di tangan Sophie. Di sebelah kiri, oktagonal ruangan itu, terdapat sebuah tempat duduk besar, seperti pulau gelap pada lautan parket yang kosong:
Sekarang Langdon dapat melihat panel dari kaca gelap pada dinding. Di belakangnya, dia tahu, di dalam ruang kurungan sendiri, tergantung lukisan yang paling tersohor di dunia.
Langdon tahu, status Mona Lisa sebagai karya seni paling terkenal di dunia tak ada hubungannya dengan senyumannya yang penuh teka-teki itu. Juga bukan karena berbagai interpretasi misterius yang diberikan oleh banyak ahli sejarah seni dan orangorang yang senang konspirasi. Sesungguhnya sederhana saja, Mona Lisa terkenal karena Leonardo da Vinci mengakui bahwa lukisan itu merupakan karya terhalusnya. Da Vinci selalu membawa-bawa lukisan itu ke mana pun dia pergi, dan jika ditanya mengapa begitu, dia akan menjawab bahwa dia sulit berpisah dengan ekspresi yang begitu agung dari kecantikan seorang perempuan.
Walau begitu, banyak ahli sejarah seni mengira bahwa penghormatan Da Vinci pada Mona Lisa tidak ada huhungannya dengan kehebatan artistik lukisan itu. Sebenarnya, dan juga mengherankan, lukisan itu hanya sebuah lukisan bergaya sfumato biasa. Pemuliaan Da Vinci pada lukisan itu, banyak yang mengakui, terbentuk dari sesuatu yang jauh lebih mendalam, seperti ada pesan tersembunyi pada sapuan-sapuan catnya. Mona Lisa, sesungguhnya, merupakan kelakar tersembunyi yang paling terdokumentasi di dunia. Arti ganda lukisan yang merupakan karya besar itu, dan juga sindiran jenakanya, telah terungkap pada bukubuku sejarah seni yang utama. Namun demikian, hebatnya, masyarakat umumnya masih menganggap senyum Mona Lisa merupakan misteri besar.
Tak ada misteri sama sekali, pikir Langdon, sambil melangkah maju dan memperhatikan garis besar lukisan itu yang mulai tampak semakin jelas. Tak ada misteri sama sekali.
Belum lama ini Langdon telah berbagi rahasia Mona Lisa dengan sekelompok penghuni penjara dua belas orang di Penjara Essex County. Seminar Langdon di penjara merupakan bagian dari perluasan program Harvard untuk berusaha membawa pendidikan ke dalam sistem di penjara Kebudayaan bagi Narapidana, begitu teman-teman Langdon di kampus menyebutnya.
Ketika Langdon berdiri di depan sebuah proyektor overhead di dalam perpustakaan penjara, dia berbagi rahasia Mona Lisa dengan para narapidana yang menghadiri kelas itu. Mereka ternyata sangat mengejutkan - kasar, namun cerdas. `Anda mungkin melihatnya,` kata Langdon kepada mereka, sambil berjalan ke arah gambar dari proyektor pada dinding perpustakaan itu, `bahwa latar di belakang wajahnya tak seimbang.` Langdon menunjuk ke ketidaksesuaian yang mencolok. `Da Vinci melukis garis horison pada sebelah kiri jelas lebih rendah daripada yang di sebelah . kanan.`
`Dia mengacaukannya?` tanya salah seorang penghuni penjara. Langdon tertawa. `Tidak. Da Vinci tidak mengacau terlalu sering. Sebenarnya, ini tipuan kecil Da Vinci. Dengan merendahkan daerah dalam di sebelah kiri, Da Vinci membuat Mona Lisa tampak lebih besar jika dilihat dari sebelah kiri daripada dari sebelah kanan. Itu adalah kelakar pribadi Da Vinci. Dari mata sejarah, konsep lelaki dan perempuan telah memberikan sisi-sisi - sisi kiri adalah perempuan, sisi kanan adalah lelaki. Karena Da Vinci sangat menyukai prinsip keperempuanan, dia membuat Mona Lisa tampak lebih anggun dari sisi kiri daripada sisi kanan.`
`Kudengar dia hombreng,` kata seorang lelaki kecil berjenggot kambing.
Langdon mengernyit. `Para ahli sejarah umumnya tidak persis berkata demikian, tetapi benar bahwa dia seorang homoseksual.` `Apakah karena itu dia senang dengan seluruh hal yang feminin.
`Sebenarnya, Da Vinci setuju dengan keseimbangan antara jantan dan betina. Dia percaya bahwa jiwa manusia tak dapat diterangi kecuali jika memiliki kedua elemen jantan & betina itu `
`Maksud Anda, perempuan tetapi punya penis?`
Semua yang hadir tertawa. Langdon ingin memberikan sentuhan etimologi tentang kata hermaphrodite dan kaitannya dengan kata Hermes dan Aphrodite, namun dia tahu itu hanya akan hilang dalam keramaian ini.
`Hei, Pak Langford,` seorang berotot bertanya. `Benarkah Mona Lisa adalah gambar Da Vinci yang mengenakan baju kurung? Kudengar begitu.`
`Itu sangat mungkin,` kata Langdon. `Da Vinci suka berolokolok, dan analisa atas Mona Lisa serta potret-potret diri Da Vinci dengan komputer menegaskan beberapa titik kesamaan pada wajah mereka. Apa pun yang dikerjakan Da Vinci,` kata Langdon, `Mona Lisa-nya bukan lelaki ataupun perempuan. Ia memberi pesan halus tentang androgini. Ia campuran antara keduanya.`
`Anda yakin ini bukan hanya omong kosong Harvard untuk mengatakan bahwa Mona Lisa adalah perempuan berparas jelek?` Sekarang Langdon yang tertawa. `Mungkin Anda benar. Tetapi sebenarnya Da Vinci meninggalkan petunjuk penting bahwa lukisan itu seharusnya memang androgini. Ada yang pernah mendengar dewa Mesir bernama Amon?`
`Tentu saja!` lelaki besar itu berkata. `Dewa kesuburan lelaki!` Langdon terpesona.
`Itu tertulis pada setiap kotak kondom Amon.` Lelaki berotot itu menyeringai lebar. `Gambarnya adalah seorang lelaki berkepala kambing di bagian depan kotak dan berkata bahwa dia adalah dewa kesuburan Mesir.`
Langdon tidak mengenal merek itu, namun dia senang mendengar pabrik-pabrik alat kontrasepsi yang menggunakan hieroglyph dengan benar. `Bagus sekali. Amon memang ditampilkan sebagai seorang lelaki berkepala kambing, dan percampuran serta tanduk melengkungnya berhubungan dengan dialek modern `horny'.` `Omong kosong!`
`Bukan omong kosong,` kata Langdon. `Dan tahukah Anda siapa pasangan Amon? Dewi kesuburan Mesir?`
Pertanyaan itu membuat kelas sunyi beberapa saat.
`Isis,` Langdon memberi tahu mereka, sambil meraih pena hijau. `Jadi, kita punya dewa, Amon.` Dia menuliskannya. `Dan seorang dewi, Isis, yang pictogram kunonya pernah disebut L'ISA.` Langdon selesai menulis dan mundur dari proyektor itu.
AMON L'ISA
`Ingat sesuatu?` tanyanya.
`Mona Lisa ... kurang ajar!` seru seseorang.
Langdon mengangguk. `Bapak-bapak, bukan hanya wajah Mona Lisa yang tampak androginis, tetapi namanya juga merupakan anagram dari kesatuan dewa-dewi. Dan itulah, temantemanku, rahasia kecil Da Vinci, dan alasan dari senyum Mona Lisa yang terkenal itu.`

`Kakekku tadi ke sini,` kata Sophie, sambil tiba-tiba berlutut, sekarang hanya berjarak sepuluh kaki dari Mona Lisa. Dia mengarahkan sinar hitam itu pada sebuah titik di atas lantai parket.
Awalnya Langdon tidak melihat apa pun. Kemudian setelah berlutut di samping Sophie, dia melihat tetesan kecil dari cairan kering yang bercahaya. Tinta? Tiba-tiba Langdon ingat apa kegunaan sinar hitam itu. Darah. Dia merasa merinding. Sophie benar. Jacques Sauniere memang mengunjungi Mona Lisa sebelum tewas.
`Dia tidak akan ke sini tanpa alasan,` bisik Sophie, sambil berdiri. `Aku tahu, dia meninggalkan pesan untukku di sini.` Dengan cepat, Sophie melangkah lagi rriendekati Mona Lisa. Dia menyinari lantai di depan lukisan itu. Dia mengayunkan senter itu ke depan dan belakang di atas parket kosong.
`Tidak ada apa-apa di sini!`
Pada saat itu, Langdon melihat sebuah kilauan samar ungu pada kaca pelindung di depan Mona Lisa. Dia memegang pergelangan tangan Sophie dan perlahan menggerakkan senter itu ke atas, ke lukisan itu.
Mereka berdua seperti membeku.
Di atas kaca, enam kata bersinar keunguan, coreng moreng melintasi wajah Mona Lisa.

27

DUDUK DI meja Sauniere, Letnan Collet menekankan telepon ke telinganya dengan tak percaya. Apa benar yang kudengar dari Fache? `Sepotong sabun? Tetapi bagaimana Langdon tahu tentang titik GPS itu?`
`Sophie Neveu,` jawab Fache. `Dia yang bilang pada Langdon.`
`Apa? Mengapa?`
`Pertanyaan bagus sekali, tetapi aku baru saja mendengar sebuah rekaman yang memastikan Sophie memberi tahu Langdon.`
Collet tak menyahut. Apa yang dipikirkan Neveu? Fache telah membuktikan bahwa Sophie telah mengacaukan pekerjaan DCPJ? Sophie Neveu tidak hanya akan dipecat, tapi juga akan masuk penjara. `Lalu, Kapten ... di mana Langdon sekarang?`
`Apakah alarm kebakaran berbunyi?` `Tidak, Pak.`
`Dan tak seorang pun yang keluar dari gerbang Galeri Agung?`
`Tidak. Kita telah menempatkan seorang petugas keamanan Louvre di gerbang itu. Seperti yang Anda perintahkan.`
`Baik. Langdon pasti masih berada di dalam Galeri Agung.` `Di dalam? Tetapi apa yang dilakukannya?`
`Apakah petugas keamanan itu bersenjata?`
`Ya, Pak. Dia penjaga senior.`
`Suruh dia masuk,` perintah Fache. `Aku tak mau Langdon keluar.` Fache terdiam. `Dan sebaiknya kau katakan kepada penjaga itu bahwa mungkin Agen Neveu juga ada di dalam bersama Langdon.`
`Saya pikir Agen Neveu sudah pergi.` `Kau benar-benar melihatnya pergi?` `Tidak, Pak, tetapi..`
`Nah, tak seorang pun di lingkar luar melihatnya pergi. Mereka hanya melihatnya masuk ke dalam.`
Collet tercengang karena keberanian Sophie Neveu. Dia masih berada di dalam gedung?
`Tangani ini,` perintah Fache. `Aku mau Langdon dan Neveu sudah tertangkap saat aku kembali.`
Ketika truk Trailor bergerak, Kapten Fache mengumpulkan anggota-anggotanya. Robert Langdon telah terbukti menjadi buronan licin malam ini. Dan dengan bantuan Agen Neveu sekarang, dia mugkin menjadi lebih sulit ditangkap daripada yang diperkirakan. Fache memutuskan tidak mengambil risiko lagi.
Dengan menahan kemarahannya, dia memerintahkan separuh pasukannya kembali ke lingkar luar Louvre. Separuhnya lagi dia kirim untuk menjaga satu-satunya tempat di Paris yang memungkinan Langdon bisa lolos.

28

DI DALAM Salle des Etats, Langdon menatap kagum pada enam kata bercahaya pada kaca Plexi. Teks itu tampak melayang-layang di udara, melemparkan sebuah bayangan bergerigi melintasi senyuman misterius Mona Lisa.
`Kelompok Biarawan,` bisik Langdon. `Ini membuktikan bahwa kakekmu salah seorang anggotanya!`
Sophie menatap, Langdon bingung. `Kau mengerti ini?`
`Ini sempurna,` kata Langdon, mengangguk sambil pikirannya teraduk. `Ini sebuah proklamasi dari salah satu filsafat Biarawan yang paling fundamental!`
Sophie tampak tercengang dalam kilauan pesan yang coreng moreng melewati wajah Mona Lisa.
SO DARK THE CON OF MAN
-begitu gelap tipuan lelaki
`Sophie,` kata Langdon. `kebiasaan Biarawan pada pengabdian pemujaan dewi di dasarkan pada sebuah kepercayaan bahwa orang yang berkuasa pada masa awal gereja Kristen memengaruhi dunia dengan menyebarkan kebohongan yang merendahkan perempuan dan meninggikan nilai lelaki.`
Sophie tetap diam, menatap kata-kata itu.
`Biarawan percaya bahwa Constantine dan penerus lelakinya memutar balik dunia dari paganisme matriarkal menjadi Kristen patriarkal dengan cara menyebarkan propaganda yang mensetankan perempuan suci, dengan menghapus dewi dari agama modern untuk selamanya.`
Tarikan wajah Sophie masih tetap tak yakin. `Kakekku menyuruhku ke sini untuk menemukan ini. Dia pasti ingin mengatakan lebih banyak daripada sekadar ini. `
Langdon mengerti maksud Sophie. Sophie mengira ini merupakan kode lagi. Namun, apakah arti tersembunyi itu ada atau tidak, Langdon tak dapat langsung menjawabnya. Benaknya masih terus bergulat dengan kejelasan pesan Sauniere yang muncul itu.
So durk the con of man, pikirnya. Memang begitu gelap.
Tak ada yang dapat menyangkal betapa banyak kebaikan yang dilakukan Gereja modern pada dunia yang kacau ini. Walau demikian, Gereja memiliki sejarah yang penuh kebohongan dan kekejaman. Perang suci yang brutal untuk `mengajar kembali` kaum pagan dan penganut agama pemuja dewi memakan waktu tiga abad, dengan menggunakan cara-cara yang inspiratif sekaligus mengerikan.
Inkuisisi Katolik menerbitkan buku yang boleh jadi bisa disebut sebagai penerbitan yang paling meminta darah dalam sejarah manusia. Malleus Maleficarum, `Godam Para Penyihir', mengindoktrinasi dunia akan `bahaya kebebasan berpikir perempuan` dan mengajari para biarawan bagaimana menemukan, menyiksa, dan menghancurkan mereka. Anggapan `penyihir` oleh Gereja meliputi semua sarjana perempuan, pendeta, gipsi, ahli mistik, Pencinta alam, pengumpul dedaunan, dan segala perempuan yang `secara mencurigakan akrab dengan alam.` Para bidan juga dibunuh karena tindakan mereka yang menggunakan pengetahuan obat-obatan untuk menghilangkan rasa sakit saat melahirkansebuah penderitaan yang, menurut Gereja, merupakan hukuman Tuhan bagi Hawa karena mengambil buah Apel Pengetahuan, sehingga melahirkan terkait dengan gagasan Dosa Asal. Selama tiga ratus tahun perburuan tukang sihir, Gereja telah membakar sekitar lima juta perempuan.
Propaganda dan pertumpahan darah itu berhasil. Kehidupan hari ini merupakan bukti hidup dari itu semua. Kaum perempuan yang pernah dikenal sebagai separuh yang penting dari pencerahan spiritual, telah dimusnahkan dari semua kuil di dunia ini. Tidak ada rabi Ortodoks, pendeta Katolik, maupun ulama Islam yang perempuan. Satu tindakan penyucian dari Hieros Gamos-penyatuan seksual alamiah antara lelaki dan perempuan sehingga masing-masing menjadi utuh secara spiritual telah dianggap sebagai tindakan yang memalukan. Para lelaki suci yang pernah diminta melakukan penyatuan seksual dengan rekan-rekan perempuan mereka untuk mendekatkan diri pada Tuhan; sekarang khawatir desakan seksual alamiah mereka itu dianggap sebagai tindakah setan, setan yang bekerja sama dengan kaki tangan kesayangannya ... perempuan.
Bahkan asosiasi feminin dengan tangan kiri tak luput dari penistaan oleh Gereja. Di Prancis dan Italia, kata untuk `kiri`gauche dan sinistra-menjadi memiliki arti negatif yang dalam,
sementara tangan kanan terdengar sebagai kebaikan, terampil, dan kebenaran. Kini, pikiran radikal dianggap sayap kiri, pikiran irasional dihasilkan otak kiri, dan segala yang jahat disebut sinister.
Zaman dewi telah berlalu. Bandul pendulum telah berayun. Ibu Bumi telah menjadi dunia lelaki, dan dewa perusak dan dewa perang sekarang berperan. Ego kaum lelaki melaju selama dua milenium tanpa tercegah oleh rekan perempuannya. Biarawan Sion percaya bahwa kemusnahan perempuan suci dalam kehidupan modernlah yang mengakibatkan apa yang disebut oleh suku Indian Hopi sebagai koyanisquatsi, `hidup tanpa keseimbangan', suatu ke adaan takstabil yang ditandai oleh perang berbahan bakar testosteron, sebuah keberlebihan dari masyarakat misoginis, dan sebuah rasa tak hormat yang terus tumbuh pada Ibu Bumi.
`Robert!` kata Sophie, bisikannya membangunkan Langdon. `Ada orang datang!`
Langdon mendengar suara kaki mendekat di gang.
`Sini!` Sophie mematikan senter sinar hitam dan seperti menguap dari pandangan mata Langdon.
Untuk beberapa saat, Langdon merasa buta total. Ke mana? Ketika pandangannya menjadi jelas lagi, dia melihat bayangan Sophie berlari ke arah tengah ruangan dan menunduk menghindari sinar di belakang bangku oktagonal yang menerangi lukisan. Langdon baru saja akan berlari di belakang Sophie ketika sebuah suara meledak menghentikannya dengan dingin.
`Arretez!` seorang lelaki memerintahkan dari ambang pintu. Petugas keamanan Louvre bergerak maju melalui pintu masuk Salle des Etats. Pistolnya teracung, terbidik mematikan pada dada Langdon.
Langdon merasa tangannya terangkat ke atas secara naluriah. `Couchez-vous!` perintah petugas itu. `Tiarap!`
Dalam beberapa detik saja, Langdon segera berbaring dengan wajah menghadap lantai. Penjaga itu bergegas mendekati dan menendang tungkai Langdon hingga terentang.
`Mauvaise idee, Monsieur Langdon,` katanya, sambil menekankan pistolnya keras pada punggung Langdon. `Ide buruk, Pak Langdon.`
Dengan wajah menghadap ke lantai parket dan kedua lengan serta tungkai terentang lebar, Langdon menemukan sedikit humor ironis dalam posisinya sekarang. The Vitruvian Man, pikirnya. Tiarap.

29

DI DALAM Saint-Sulpice, Silas membawa ke obelisk itu sebuah tempat lilin dari besi yang diambilnya dari altar. Batang tempat lilin itu akan menjadi alat pemukul yang baik. Silas menatap panel pualam kelabu yang menutupi lubang yang terlihat jelas pada lantai. Dia tahu, dia tidak akan dapat menghancurkan penutup itu tanpa menimbulkan suara yang keras.
Besi dan pualam. Suara itu akan menggema pada kubah di langit-langit
Apakah suster tadi akan mendengarnya? Seharusnya dia sudah tidur sekarang. Walau demikian, Silas tak mau mengambil risiko itu. Dia kemudian mengamati ke sekelilingnya, mencari kain untuk membungkus ujung batang besi itu. Dia tak melihat apa pun kecuali taplak altar dari kain linen. Dia tak mau menggunakannya. Jubahku, pikirnya. Karena tahu bahwa dira sendirian di dalam gereja besar ini, Silas membuka ikatan jubahnya dan menanggalkannya. Ketika melepasnya, dia merasakan tusukan kain wolnya pada luka segai di punggungnya.
Sekarang dia membugil, hanya berbedung pada bagian bawah perutnya. Silas membungkuskan jubahnya itu pada ujung tongkat besi tadi. Kemudian, ia memukulkan ujung besi itu ke bagian tengah lantai keramik. Suara dentam yang terbendung. Batu itu tak pecah. Dia mengulanginya. Dentaman itu berulang, kali ini diikuti oleh suara retak. Pada ayunan ketiga, penutup itu akhirnya pecah, dan serpihan batu jatuh ke lubang di bawah lantai.
Sebuah tempat penyimpanan!
Dengan cepat dia memunguti sisa-sisa serpihan dari lubang itu, kemudian dia melongok ke dalam lubang itu. Darahnya menggelegak ketika dia berlutut di depan lubang itu. Dia mengulurkan tangan pucatnya ke dalam.
Awalnya dia tak merasakan apa pun. Dasar tempat penyimpanan itu kosong, hanya batu halus. Kemudian, ketika meraba lebih dalam lagi, dengan menjulurkan tangannya hingga ke bawah Garis Mawar, dia menyentuh sesuatu! Sebuah lempengan batu yang tebal. Dia mencengkeramnya dan menariknya keluar dengan hati-hati. Ketika berdiri dan memeriksa temuannya, Silas tahu dia sedang memegang sebuah lempengan batu yang dipotong kasar dengan kata-kata terukir di atasnya. Sekejap dia merasa seperti Musa di zaman modern.
Ketika Silas membaca kata-kata yang terukir di atas batu itu, dia merasa heran. Semula dia memperkirakan batu kunci itu adalah sebuah peta, atau serangkaian petunjuk yang kompleks, bahkan mungkin sebuah kode. Ternyata, lempengan batu itu bertuliskan sebuah inskripsi.
Ayub 38:11
Sebuah ayat Alkitab? Silas tercengang karena kesederhanaan yang meragukan ini. Tempat rahasia dari apa yang mereka cari selama ini diungkap dalam sebuah ayat Alkitab? Kelompok persaudaraan itu memperolokkan kelompok kebenaran!
Ayub. Bab tiga puluh delapan. Ayat sebelas.
Walau Silas tak hafal isi ayat sebelas, dia tahu Kitab Ayub menceritakan seorang lelaki yang berhasil mengatasi ujian-ujian dari Tuhan. Tepat, pikirnya, hampir tak sanggup menahan kegembiraannya.
Dia melihat ke belakang, menatap ke bawah ke Garis Mawar yang berkilau, dan tak dapat menahan senyum. Di sana, di atas altar utama, di atas penyangga buku, ada sebuah Alkitab bersampul kulit.
Di balkon, Suster Sandrine gemetar. Beberapa saat yang lalu, ketika lelaki itu tiba-tiba menanggalkan jubahnya, dia hampir saja berlari dan melaksanakan tugasnya. Ketika dia melihat daging Silas yang seputih pualam, Suster Sandrine bingung. Punggung lebar terbukanya penuh dengan luka-luka parut berdarah merah. Bahkan dari kejauhan pun dia dapat melihat bahwa luka itu masih baru.
Lelaki ini baru saja dicambuki dengan kejam!
Suster Sandrine juga melihat cilice berdarah melekat pada paha lelaki itu, dan luka di bawahnya menetes. Tuhan macam apa yang menghendaki tubuh luka-luka seperti ini? Ritual Opus Dei, Suster Sandrine tahu, adalah sesuatu yang tak akan pernah dia pahami. Namun itu bukan urusannya saat ini. Opus Dei mencari batu kunci itu. Bagaimana mereka tahu, Suster Sandrine tak dapat membayangkannya. Yang dia tahu, dia tak punya waktu untuk memikirkannya.
Sekarang biarawan berdarah itu mengenakan lagi jubahnya, perlahan. Sambil mengempit temuannya, dia bergerak ke arah altar, menuju Alkitab itu.
Sambil menahan napas dan tak bersuara, Suster Sandrine meninggalkan balkon dan berlari ke gang menuju kamarnya. Dengan berlutut dan tangannya menahan tubuhnya, dia merogoh ke bawah tempat tidurnya dan menarik sebuah amplop yang telah disembunyikannya selama bertahun-tahun.
Dia membukanya, dan menemukan empat nomor telepon Paris.
Dengan gemetar, dia mulai menelepon.

Di bawah, Silas meletakkan lempengan batu itu di atas altar dan meraih Alkitab bersampul kulit itu dengan tangan penuh semangat. Jemari putih panjangnya berkeringat ketika dia membalik lembar-lembar halaman Perjanjian Lama itu. Akhirnya, dia menemukan Kitab Ayub. Dia mencari bab 38. Sambil jarinya menyelusuri teks itu, dia mengira-ngira kata-kata yang akan dibacanya.
Kata-kata itu akan menunjukkan jalannya!
Dia menemukan ayat sebelas, kemudian membacanya. Hanya ada tujuh kata. Merasa bingung, dia membacanya lagi. Dia merasa ada yang sangat salah: Ayat itu berbunyi seperti ini:
SAMPAI DI SINI KAU BOLEH DATANG, TAPI JANGAN LEWAT

30

CLAUDE GROUARD, penjaga keamanan itu, mendidih marah ketika berdiri di dekat tawanannya yang tak berdaya di depan Mona Lisa. Bajingan ini telah membunuh jacques Sauniere! Sauniere sudah seperti ayah bagi GROUARD dan tim keamanannya.
Gouard tak ingin apa pun kecuali menarik pelatuk pistolnya dan mengubur sebutir peluru dalam punggung Robert Langdon. Sebagai penjaga senior, Gouard adalah salah satu dari beberapa penjaga yang membawa pistol berisi peluru. Namun, dia mengingatkan dirinya bahwa membunuh Langdon akan membawanya berhadapan dengan kesengsaraan berhubungan dengan Bezu Fache dan sistem penjara Prancis.
Gouard menarik walkie-talkie-nya dari ikat pinggangnya dan berniat meminta bantuan. Apa yang didengarnya hanyalah gangguan penerimaan. Pengamanan elektronik tambahan di ruangan ini selalu bermasalah dengan komunikasi para penjaga. Aku harus bergeser ke ambang pintu. Dengan masih tetap mengarah kan senjatanya pada Langdon, Gouard mulai bergerak perlahan ke arah pintu masuk. Pada langkah ketiganya, ada sesuatu yang langsung menghentikannya.
Apa itu!
Sebuah fatamorgana yang tak jelas muncul di dekat tengah ruangan. Sebuah siluet. Ada orang lain lagi di ruangan ini? Seorang perempuan tengah bergerak dalam kegelapan, berjalan cepat jauh ke arah dinding kiri. Di depannya, sinar keunguan terayun ke depan dan ke belakang di atas lantai, seolah sedang mencari sesuatu dengan menggunakan senter berwarna.
`Siapa itu?` tanya Grouard dalam bahasa PRANCIS, dengan merasakan adrenalinnya memuncak untuk kedua kalinya dalam tiga puluh detik terakhir ini. Tiba-tiba dia tidak tahu harus membidikkan senjatanya ke mana, atau ke arah mana dia harus bergerak.
`PTS,` jawab seorang perempuan tenang, masih tetap menyinari lantai dengan senternya.
Police Technique et Scientifique, Grouard sekarang berkeringat. Kupikir semua agen telah pergi! Sekarang dia mengenali sinar ungu itu sebagai sinar ultra violet, yang biasa dibawa oleh tim PTS. Namun dia tetap tak mengerti mengapa DCPJ mencari bukti di ruangan ini.
`Nama Anda!` bentak Grouard, masih dalam bahasa Prancis. Nalurinya mengatakan ada sesuatu yang salah. `Jawab!`
`Ini aku,` ada suara menjawab tenang dalam bahasa Prancis juga. `Sophie Neveu.`
Nama itu ternyata tersimpan dalam benak Grouard. Sophie Neveu? Itu nama cucu perempuan Sauniere, bukan? Anak perempuan itu pernah datang ke sini, tetapi itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Ini tak mungkin dia! Dan kalaupun itu memang Sophie Neveu, dia sulit memercayai perempuan itu; Grouard telah mendengar kabar angin tentang perselisihan Sauniere dan cucu perempuannya ini.
Anda mengenal saya,` seru perempuan itu. `Dan Robert Langdon tidak membunuh kakekku. Percayalah.`
Penjaga Grourad tidak mau langsung memercayai hal itu. Aku memerlukan dukungan! Kemudian dia mencoba menyalakan walkie-talkie-nya, namun kembali gangguan udara itu lagi yang terdengar. Pintu masuk masih dua puluh yard jauh di belakangnya. Grouard mulai melangkah ke belakang perlahan-lahan, sambil terus mengarahkan pistolnya pada lelaki itu saja. Ketika Grouard mundur inci per inci, dia dapat melihat perempuan itu melintasi ruangan sambil mengangkat senter UV- nya dan mengarahkannya ke lukisan besar yang tergantung pada dinding di kejauhan di ruang Salle des Etats, tepat di seberang lukisan Mona Lisa.
Grouard terkesiap. Dia tahu, itu lukisan apa. Demi Tuhan, apa yang sedang dilakukannya?
Di seberang, Sophie Neveu merasa ada keringat dingin meleleh pada dahinya. Langdon masih tiarap dengan kaki-tangan terentang di atas lantai. Tunggulah, Robert. Sebentar lagi sampai. Karena tahu penjaga itu tak akan menembak mereka, Sophie sekarang memusatkan perhatiannya pada hal yang sedang dikerjakannya. Dia menyoroti area di sekitar sebuah adikarya-salah satu karya Da Vinci lainnya. Tapi cahaya LJV tidak mengungkap hal yang luar biasa. Tidak 'di lantai, tidak di tembok, bahkan tidak juga di kanvas itu sendiri.
Pasti ada sesuatu di sini!
Sophie merasa sangat yakin bahwa dia telah mengerti apa yang dimaksudkan kakeknya dengan benar.
Apa lagi kira-kira yang dia inginkan?
Adikarya yang diamati Sophie itu adalah sebuah lukisan setinggi lima kaki. Da Vinci melukiskan situasi aneh dari Perawan Suci Maria yang sedang duduk dengan Bayi Yesus, Yohanes Pembaptis, dan Malaikat Uriel di atas bebatuan menonjol yang tampak berbahaya. Ketika Sophie masih kanak-kanak, setiap kali mereka pergi melihat lukisan Mona Lisa, kakeknya pasti memperlihatkan lukisan yang ini juga.
Grand pere, aku di sini! Tetapi aku tidak melihat pesanmu!
Di belakangnya, Sophie mendengar si penjaga sedang berusaha lagi menghubungi rekannya untuk meminta bantuan. Berpikirlah!
Sophie membayangkan lagi pesan yang tertulis pada kaca pelindung lukisan Mona Lisa. So dark the con of man. Lukisan di depannya tidak dilindungi kaca yang dapat ditulisi pesan, dan dia tahu kakeknya tidak akan pernah merusak adikarya ini dengan menulis pesan di atasnya. Dia tercenung. Setidaknya, tidak di depannya. Matanya menatap tajam ke atas, merayapi. kabel panjang yang menjulur dari langit-langit yang menggantung lukisan itu.
Mungkinkan itu? Sophie memegang sisi kiri bingkai kayu berukir itu, kemudian menariknya ke arahnya. Lukisan itu sangat besar dan bagian belakangnya melentur ketika dia menariknya dari dinding. Sophie menyelinapkan kepala dan bahunya ke belakang lukisan itu dan menaikkan senternya untuk memeriksa bagian belakangnya.
Hanya dalam beberapa detik, Sophie sudah tahu bahwa dia salah. Punggung lukisan itu pucat dan kosong. Tidak ada teks berwarna ungu di sini, hanya ada warna kecoklatan karena tuanya lukisan itu dan.....
Tunggu.
Mata Sophie terpaku pada sebuah kilatan yang terang dari sebuah benda metal yang tersangkut di dekat sisi dasar pelindung bingkai kayu itu. Benda itu kecil, sebagian terjepit pada celah tempat kanvas bertemu dengan bingkainya. Seuntai rantai emas terjuntai keluar.
Yang menghentakkan Sophie, rantai itu menempel pada kunci emas yang pernah dilihatnya. Kepalanya besar dan dipahat membentuk salib, dengan sebuah segel berukir yang tak dilihatnya lagi sejak dia berusia sembilan tahun. Sebuah fleur-de-lis dengan inisial PS. Dalam sekejap, Sophie merasa roh kakeknya berbisik di telinganya. Ketika tiba waktunya, kunci itu akan menjadi milikmu. Tenggorokannya tercekat ketika ia sadar bahwa kakeknya, bahkan sesudah mati, tetap memenuhi janjinya. Kunci ini untuk membuka sebuah kotak, kata kakeknya, tempat aku menyimpan banyak rahasia.
Sophie sekarang tahu, semua permainan kata malam ini ditujukan untuk menemukan kunci ini. Kakeknya membawa kunci itu ketika dia dibunuh. Karena tak mau jatuh ke tangan polisi, dia menyembunyikannya di balik lukisan ini. Kemudian kakeknya membuat permainan perburuan harta untuk memastikan hanya Sophie yang akan menemukan kunci itu.
`Tolong!` teriak penjaga itu, pada walkie-talkie-nya.
Sophie mencabut kunci itu dan menyelipkannya ke dalam sakunya bersama senter pena UV- nya. Setelah keluar dari balik lukisan itu, dia dapat melihat si penjaga terus berusaha keras untuk menghubungi temannya lewat walkie-talkie, namun sia-sia. Penjaga itu berdiri di ambang pintu, masih mengarahkan pistolnya pada Langdon.
`Tolong!` teriaknya lagi pada radionya. Gangguan pemancar lagi.
Dia tak dapat terhubung, Sophie tahu. Dia ingat betapa para turis sering menjadi putus asa di ruangan ini ketika mereka berusaha menelepon ke rumah lewat handphone untuk menyombongkan diri bahwa mereka sedang melihat Mona Lisa. Pemasangan kabel pengawasan tambahan pada dinding betul-betul menghalangi hubungan telepon, kecuali jika berada di gang. Sekarang penjaga itu mundur hingga ke jalan keluar, dan Sophie tahu dia harus segera bertindak.
Sambil menatap lukisan besar tempat dia menyelinap di belakangnya tadi, Sophie sadar bahwa Leonardo da Vinci telah menolongnya, untuk kedua kalinya.
Beberapa meter lagi, Grouard berkata pada dirinya sendiri, tetap mengacungkan pistolnya.
`Berhenti, atau aku akan merusak lukisan ini!` Sophie berteriak, suaranya menggema di seluruh ruangan.
Grouard menatapnya dan menghentikan langkahnya. `Ya. Tuhan, jangan!`
Menembus remang kemerahan, Grouard dapat melihat Sophie benar-benar mengangkat lukisan itu lepas dari kabelnya dan menjatuhkannya di atas lantai di depannya. Lukisan setinggi lima kaki itu hampir menyembunyikan keseluruhan tubuhnya. Pikiran pertama Grouard adalah bertanya-tanya mengapa kabel-kabel yang terhubung dengan lukisan itu tak mengeluarkan alarm, tetapi tentu saja sensor-sensor kabel pelindung karya seni itu belum dinyalakan kembali malam ini. Apa yang perempuan itu lakukan!
Ketika Grouard melihatnya, darahnya mendingin.
Kanvas itu mulai menggelembung bagian tengahnya. Kerangka rapuh dari Perawan Suci Maria, Bayi Yesus, dan Yohanes Pembaptis itu mulai berubah bentuk.
`Jangan!` Grouard menjerit, membeku karena ketakutan ketika dia melihat karya Da Vinci yang tak ternilai harganya itu meregang. Sophie menekankan lututnya pada bagian tengah lukisan itu dari belakang! `JANGAN!`
Grouard berlari maju dan mengarahkan pistolnya pada perempuan itu, dan saat itu juga dia tahu bahwa ini hanya gertak sambal. Kanvas itu hanyalah kain, namun tentu saja dapat tertembus - sebuah pelindung tubuh seharga enam juta dolar Amerika.
Aku tak dapat menembak karya Da Vinci!
`Turunkan pistol dan radio Anda,` kata Sophie tenang dalam bahasa Prancis, `atau aku akan melubangi lukisan ini dengan lututku. Saya rasa, Anda tahu bagaimana perasaan kakekku tentang ini.`
Grouard merasa puyeng. `Kumohon ... jangan. Itu Madonna of the Rocks!` Dia menjatuhkan pistol dan radionya, lalu mengangkat tangannya ke atas kepala.
`Terima kasih,` kata perempuan itu. `Sekarang lakukan apa Yang aku minta, dan segalanya akan beres.`
Beberapa saat kemudian, urat nadi Langdon masih berdenyut kuat ketika dia berlari di samping Sophie, menuruni tangga darurat menuju lantai dasar. Tak seorang pun dari mereka yang mengatakan sesuatu sejak mereka meninggalkan penjaga Louvre yang gemetar di Salle des Etats. Pistol penjaga itu sekarang tergenggam erat dalam tangan Langdon, dan dia tak sabar untuk melepaskannya. Senjata itu terasa berat, asing, dan berbahaya.
Ketika menuruni dua anak tangga sekaligus, Langdon bertanya-tanya apakah Sophie tahu betapa berharganya lukisan yang hampir dirusaknya tadi. Hampir seperti Mona Lisa, karya Da Vinci yang dicengkeramnya itu terkenal keburukannya di kalangan ahli sejarah karena terlalu banyak mengandung simbol-simbol paganisme yang tersembunyi.
`Kau memilih sandera yang berharga,` kata Langdon sambil terus berlari.
`Madonna of the Rocks,` jawab Sophie. `Tetapi aku tidak memilihnya. Kakekku yang memilih. Dia meninggalkan benda kecil untukku di belakang lukisan itu.`
Langdon menatap tajam. `Apa? Tetapi bagaimana kau tahu lukisan yang dipilihnya? Mengapa Madonna of the Rocks?`
`So dark the con of man.` Sophie tersenyum penuh kemenangan pada Langdon. `Aku gagal memecahkan dua anagram terdahulu, Robert. Untuk yang ketiga, aku tidak boleh gagal.`

31

`SEMUA TEWAS!` Suster Sandrine tergagap-gagap berbicara melalui telepon di kediamannya di Saint-Sulpice. Dia meninggalkan pesan dalam mesin penjawab. `Kumohon, angkatlah! Mereka semua tewas!`
Tiga nomor telepon pertama dalam daftarnya memberikan hasil yang mengerikan seorang janda histeris, seorang detektif yang kerja lembur di tempat kejadian pembunuhan, dan seorang pendeta muram yang sedang menghibur keluarga yang sedang berduka cita. Ketiga orang yang dihubunginya itu telah meninggal dunia. Dan kini, selagi menghubungi nomor yang keempat, nomor terakhir - nomor yang baru boleh dia putar bila ketiga nomor pertama tak dapat dihubungi - Suster Sandrine terhubung dengan mesin penjawab. Suara di mesin penjawab itu tak memberikan nama, hanya meminta penelepon untuk meninggalkan pesan.
`Panel lantai telah dipecahkan!` dia memohon saat meninggalkan pesannya pada mesin penjawab. `Tiga lainnya telah tewas!`
Suster Sandrine tidak tahu identitas keempat orang yang dilindunginya itu, namun nomor-nomor telepon pribadi itu, yang disembunyikan di bawah tempat tidurnya, hanya boleh dihubungi dengan satu syarat.
Jika panel lantai dipecahkan, kata pembawa pesan yang tak tampak wajahnya kepada Suster Sandrine, itu artinya eselon atas sudah tertemb,us. Salah satu dari kami telah disiksa hingga mati dan dipaksa untuk berbohong. Telepon nomor-nomor itu. Peringatkan yang lain. Jangan terlantarkan kami dalam hal ini.
Itu merupakan alarm tak bersuara. Mudah dan sederhana. Rencana itu mengherankannya ketika dia pertama kali mendengarnya. Jika satu saudara diketahui identitasnya, yang bersangkutan boleh berbohong dengan tujuan memperingatkan yang lainnya. Namun, malam ini, tampaknya lebih dari satu saudara telah terbongkar identitasnya.
`Kumohon, jawablah,` Suster Sandrine berbisik dalam ketakutan. `Di mana kau?`
`Letakkan telepon itu,` sebuah suara berat berkata dari ambang pintu.
Suster Sandrine menoleh ketakutan. Dia melihat pendeta bertubuh besar itu. Lelaki itu membawa tempat lilin besi yang berat. Dengan gemetar, Suster Sandrine meletakkan kembali telepon itu pada tempatnya.
`Mereka semua mati,` kata rahib itu. `Keempatnya. Dan, mereka telah mempermainkan aku. Katakan di mana batu kunci itu.
`Aku tidak tahu!` Suster Sandrine berkata jujur. `Rahasia itu dijaga oleh yang lainnya.` Yang sudah tewas juga!
Lelaki itu maju, kepalan tangan putihnya mencengkeram tempat lilin besi. `Kau suster gereja, tetapi kau mengabdi kepada mereka?`
`Yesus punya satu pesan yang sejati,` kata Suster Sandrine menantang. `Aku tak dapat melihat pesan itu dalam Opus Dei `
Ledakan kemarahan tiba-tiba tampak di balik mata rahib itu. Ia menerjang, menyerang dengan tiba-tiba dengan menggunakan tempat lilin sebagai alat pemukul. Ketika Suster Sandrine roboh, perasaan terakhirnya adalah semacam putus asa yang melimpah.
Keempatnya tewas.
Kebenaran yang berharga itu telah hilang selamanya.

32

ALARM PENGAMAN pada ujung barat Sayap Denon membuat burung-burung dara di dekat Taman Tuileries beterbangan. Saat itu juga Langdon dan Sophie menghambur keluar dari gedung memasuki udara malam Paris. Ketika mereka berlari melintasi plaza menuju mobil Sophie, Langdon dapat mendengar sirene mobil polisi meraung-raung di kejauhan.
`Itu, disitu,` seru Sophie, sambil menunjuk pada sebuah mobil dua tempat duduk berwarna merah dan berhidung mancung.
Dia bercanda, bukan? Itu mobil terkecil yang pernah dilihat Langdon.
`SmartCar,` kata Sophie. `Seratus kilometer dengan satu liter bensin saja.`
Langdon baru saja berhasil menyelipkan tubuhnya ke dalam mobil itu begitu Sophie melesatkan SmartCar melalui tepi jalan, masuk ke pemisah jalan yang berkerikil. Langdon mencengkeram dasbor ketika mobil itu melaju cepat melintasi sebuah kaki lima dan kembali berputar turun melalui sebuah putaran kecil di Cz rrousel du Louvre.
Dalam sekejap, Sophie tampak mempertimbangkan untuk mengambil jalan pintas melintasi putaran itu dengan menerobos lurus ke depan, melanggar pagar keliling, dan membagi lingkaran berumput di tengah.
`Jangan!` teriak Langdon, karena dia tahu pagar sekeliling Carrousel du Louvre dibuat untuk menyembunyikan jurang di tengah yang berbahaya -La Pyramide Inversee- kaca atap piramid yang terjungkir balik yang pernah dilihat Langdon sebelumnya ketika dia berada di dalam museum. Jurang itu cukup besar untuk menelan SmartCar. Untunglah, Sophie memutuskan untuk mengambil jalur yang konvensional saja, dengan membanting keraskeras ban mobil ke kanan, memutari lingkaran dengan semestinya hingga mereka keluar, dan meluncur ke jalur lingkar batas utara, kemudian mempercepat laju ke arah Rue de Rivoli.
Sirene dua nada mobil polisi meraung lebih keras di belakang mereka, dan Langdon dapat melihat lampu mobil mereka dari kaca spion di sampingnya. Mesin SmartCar menggerung protes ketika Sophie memaksa kecepatannya menjauh dari Louvre. Lima puluh yard ke depan, lampu lalu lintas di Rivoli menyala merah. Sophie mengumpat perlahan dan terus membalap mobilnya ke arah lampu itu. Langdon merasa otot-ototnya menegang.
`Sophie?`
Sophie memperlambat mobilnya sedikit saja ketika mereka tiba di perempatan. Sophie mengedipkan lampu besar mobilnya dan melirik cepat ke kiri dan kanan sebelum kemudian mengganti kopling lagi dan membelok ke kiri dengan mengiris tajam melalui perempatan Rivoli yang sepi. Sophie melesat ke barat sekitar seperempat mil, kemudian membelok ke kanan memutari sebuah putaran lebar. Segera mereka melesat keluar ke sisi yang lain dan masuk ke jalan besar Champs-Elysees.
Ketika mereka melaju lurus, Langdon memalingkan tubuhnya ke belakang, menjulurkan lehernya untuk melihat ke jendela belakang ke arah Louvre. Polisi tampaknya tidak dapat mengejar mereka, Lautan sinar biru berbaur dengan museum itu.
Detak jantungnya akhirnya melambat. Langdon kembali ke posisinya. `Seru sekali.`
Sophie tampaknya tak mendengar. Matanya tetap terpaku ke depan di sepanjang jalan utama Champs-Elysees, sepanjang dua mil dengan deretan pertokoan mewah yang sering disebut Fifth Avenue-nya Paris. Kedutaan Besar Amerika Serikat hanya satu mil ke depan, dan Langdon tenang di tempat duduknya.
So dark the con of man.
Kecepatan berpikir Sophie mengagumkan. Madonna of the Rocks.
Sophie telah mengatakan bahwa kakeknya meninggalkan sesuatu baginya di belakang lukisan itu. Sebuah pesan terakhir? Langdon harus mengagumi pilihan tempat persembunyian Sauniere; Madonna of the Rocks merupakan mata rantai yang lain dari rangkaian simbolisme yang saling terkait malam ini. Sauniere, dalam segala hal, tampaknya membangkitkan kembali kecintaannya pada sisi gelap dan nakal Leonardo da Vinci.
Tugas utama Da Vinci melukis Madonna of the Rocks datang dari sebuah organisasi bernama Confraternity of the Immaculate Conception, yang memerlukan lukisan itu sebagai penghias bagian tengah altar berpanel tiga di gereja mereka San Francesco di Milan. Para biarawati memberi Leonardo dimensi khusus dan tema yang mereka inginkan untuk lukisan itu-Perawan Suci Maria, Bayi Yohanes Pembaptis, Uriel, dan Bayi Yesus yang berlindung di dalam sebuah gua. Walau Da Vinci mengerjakan apa yang mereka minta, namun ketika dia mengirimkan karyanya, kelompok itu bereaksi ketakutan. Ternyata Da Vinci telah menambahkan beberapa rincian yang mengejutkan dan mengganggu mereka.
Lukisan itu memperlihatkan Perawan Suci Maria dalam gaun biru, duduk, lengannya merangkul seorang bayi, kemungkinan Bayi Yesus. Di depan Maria, duduk Uriel, juga dengan seorang bayi, kemungkinan Bayi Yohanes Pembaptis. Anehnya, tidak seperti skenario biasa, yaitu Yesus memberkati Yohanes, di sini Bayi Yohanes-lah yang memberkati Bayi Yesus ... dan Yesus tunduk kepada otoritas Yohanes! Yang lebih mengganggu, Maria menahan satu tangannya jauh di atas kepala Bayi Yohanes dan membuat gerakan mengancam yang nyata-jemari Maria tampak seperti cakar elang, mencengkeram kepala yang tak terlihat. Akhirnya, gambar yang paling menakutkan dan jelas: tepat di bawah jemari Maria yang melengkung, Uriel membuat gerakan memotong dengan tangannya-seolah mengiris leher dari kepala tak terlihat yang dicengkeram Maria itu.
Para mahasiswa Langdon selalu terhibur ketika mempelajari bahwa Da Vinci akhirnya meredakan kemarahan Confraterniry dengan membuat lukisan kedua, versi Madonna of the Rocks yang lebih halus. Dalam lukisan kedua itu, semua tampak diatur dengan sikap lebih ortodoks. Versi kedua itu sekarang digantung di London's National Gallery dengan nama Virgin of the Rocks. Walau demikian, Langdon lebih menyukai versi asli yang lebih membangkitkan minat, yang tergantung di Louvre.
Ketika Sophie mempercepat laju mobilnya di sepanjang Champs-Elysees, Langdon bertanya, `Lukisan itu. Apa yang ada di belakangnya?`
Mata Sophie tetap melihat ke jalan. `Akan kuperlihatkan begitu kita aman di dalam kedutaan besar.`
`Kau akan memperlihatkannya padaku?` tanya Langdon terkejut. `Dia meninggalkan sebuah barang fisik?`
Sophie mengangguk singkat. `Dengan embos sebuah fleurde-lis dan inisial PS.`
Langdon tak dapat memercayai telinganya.
Kita akan berhasil, pikir Sophie sambil mengayun stir SmartCar ke kanan, memotong tajam dan melewati Hotel de Crillon yang mewah, rnemasuki area diplomat Paris yang dijejeri pepohonan. Kini, kedutaan besar A.S. berjarak kurang dari satu mil lagi. Sophie akhirnya dapat bernapas biasa kembali.
Bahkan ketika mengemudi, pikiran Sophie tetap terpaku pada kunci di dalam sakunya, kenangannya saat pertama kali melihatnya bertahun-tahun lalu, kepala emas kunci itu yang berbentuk salib, batang segi tiganya, geriginya, segel embos bunganya, dan huruf PS.
Walau kunci itu hampir tidak terpikirkan oleh Sophie selama bertahun-tahun ini, pekerjaannya di bagian komunitas intelijen mengajarkan padanya banyak hal tentang keamanan, dan sekarang kunci dengan hiasan khas itu tak lagi tampak begitu menakjubkan. Sebuah matriks bervariasi yang dibuat dengan menggunakan peralatan laser. Tak- mungkin dipalsukan. Rangkaian rumit bercak-bercak bekas pembakaran sinar laser dari kunci ini harus dilihat dengan mata elektrik. Jika mata itu memutuskan bahwa bercak-bercak heksagonal itu telah ditempatkan, diatur, dan diputar secara benar, maka induk kuncinya bisa terbuka.
Sophie tak dapat membayangkan kunci seperti ini untuk membuka apa, namun dia merasa Robert punya jawaban dan akan mengatakan padanya. Lagi pula, Langdon sudah dapat menjelaskan tentang segel berembos kunci tersebut sebelum melihatnya sama sekali. Tanda salib di atasnya mengisyaratkan bahwa pemiliknya adalah anggota organisasi Kristen, namun Sophie tak mengenal satu gereja pun yang memakai kunci matriks bervariasi yang dibuat dengan menggunakan laser.
Lagi pula, kakekku bukan penganut Kristen ....
Sophie telah melihat cetakan percobaannya sepuluh tahun yang lalu. Ironisnya, ada kunci lain-sebuah kunci yang lebih biasa-yang telah menyingkapkan kepadanya siapa sesungguhnya kakeknya.
Siang itu cukup hangat ketika Sophie mendarat di bandara Charles de Gaulle dan memanggil taksi untuk pulang ke rumah. Grand pere pasti akan terkejut melihatku, pikirnya. Sophie pulang untuk liburan musim semi dari kuliah kesarjanaannya di Inggris, beberapa hari lebih awal. Dia tak sabar untuk menceritakan kepada kakeknya tentang metode enkripsi yang dipelajarinya.
Namun, ketika dia tiba di rumahnya di Paris, kakeknya tidak ada di rumah. Meski kecewa, dia tahu kakeknya tidak mengira cucunya akan pulang hari itu dan tentulah dia sedang bekerja di Louvre. Tetapi ini hari Sabtu siang, Sophie heran juga. Kakeknya jarang bekerja pada akhir pekan. Pada akhir pekan, dia biasanyaSambil tersenyum Sophie berlari ke luar menuju garasi. Cukup jelas, mobil kakeknya tidak di tempat. Ini akhir pekan. Jacques Sauniere benci mengemudikan mobil di dalam kota, dan dia hanya punya satu alasan untuk memiliki sebuah mobil, yaitu puri liburannya di Normandia, di sebelah barat Paris. Setelah beberapa bulan tinggal di London dengan kemacetan lalu lintasnya. Sophie sangat ingin menikmati harumnya alam dan memulai liburannya sesegera mungkin. Saat itu masih sore, dan dia memutuskan untuk berangkat secepatnya untuk mengejutkan kakeknya. Dengan meminjam mobil temannya, Sophie mengemudi ke utara, menyusuri bukit sunyi berkelok-kelok dekat Creully yang dipenuhi tumbuhan merayap berbunga putih. Dia tiba di puri kakeknya pada hampir pukul sepuluh malam. Sophie segera memasuki jalan pribadi menuju tempat peristirahatan kakeknya. Jalan masuk itu lebih dari satu mil panjangnya, dan dia baru berada di separuh perjalanan sehingga belum dapat melihat rumah itu melalui celah pepohonan-sebuah puri batu tua raksasa, terletak di tengah hutan kecil di sisi sebuah bukit.
Sophie tahu kakeknya pasti belum tidur pada jam seperti sekarang ini, dan dia senang melihat rumah itu terang oleh cahaya lampu. Namun, kegembiraannya berubah menjadi keterkejutan ketika dia melihat jalan masuk rumah itu dijejali oleh sejumlah mobil Mercedes, BMW Audi, dan sebuah Rolls-Royce.
Sophie menatap sesaat dan tertawa. Grand pere-ku, seorang pertapa yang terkenal! Ternyata Jacques Sauniere bukanlah seorang pertapa yang sesungguhnya. Jelas, dia sedang berpesta dengan tamu-tamunya saat Sophie kuliah di luar negeri, dan dari jenis mobil yang terlihat, tamu kakek Sophie adalah orang-orang terpandang di Paris.
Karena sangat ingin mengejutkan kakeknya, Sophie bergegas menuju pintu depan. Namun, ketika tiba di sana, dia mendapati pintu tersebut terkunci. Dia mengetuknya. Tak seorang pun membukakan pintu itu. Dengan bingung, dia berjalan memutar dan mencoba pintu belakang. Terkunci juga. Tak ada jawaban. Dengan terheran-heran, dia berdiri sebentar dan mencoba mendengarkan. Saat itu, satu-satunya bunyi yang terdengar hanyalah desau angin Normandia yang sejuk, terdengar seperti rintihan rendah ketika berhembus melintasi lembah itu.
Tak ada suara musik.
Tak ada suara orang berbicara: Tak ada apa pun.
Dalam kesunyian hutan, Sophie bergegas ke samping rumah dan memanjat tumpukan kayu api, mengintai dari jendela ruang duduk. Apa yang dilihatnya di dalam sama sekali tak masuk akal.
`Tak ada seorang pun di sini!`
Keseluruhan lantai bawah tampak kosong dan sunyi. Ke mana orang-orang itu?
Dengan jantung berdebar kuat, Sophie berlari ke gudang dan mengambil kunci cadangan yang disembunyikan kakeknya di bawah kotak kayu. Dia berlari ke pintu depan dan masuk. Ketika dia melangkah ke ruangan depan yang sangat sunyi, panel pengaman mulai berkedip merah-peringatan bagi siapa pun yang masuk untuk segera memasukkan kode yang tepat sebelum alarm menyala.
Kakek mengaktifkan alarm saat pesta?
Sophie segera memasukkan kode dan mematikan sistem alarm. Sophie melangkah semakin dalam, dan melihat ternyata tak ada orang di seluruh rumah ini. Juga di atas. Ketika dia turun lagi ke ruangan kosong, dia berdiri sebentar dalam keheningan, dan bertanya-tanya apa yang mungkin terjadi di sini.
Pada saat itulah ia kemudian mendengarnya.
Suara sayup-sayup. Dan, tampaknya berasal dari bawah. Sophie tak bisa mengerti. Sambil merundukkan badannya, ia menempelkan kupingnya ke lantai dan mendengarkan. Ya, bunyi itu benar-benar berasal dari bawah. Suara itu seperti bernyanyh atau ... mengalunkan labu-lagu pujian? Sophie ketakutan. Yang lebih menakutkan lagi, ia tahu bahwa rumah ini tak punya ruang bawah tanah.
Setidaknya aku belum pernah melihatnya.
Sophie berpaling dan mengamati ruang duduk. Matanya menangkap satu-satunya benda yang tidak berada pada tempat biasanya-permadani antik dari Aubuson kesayangan kakeknya, sekarang terhampar di lantai. Biasanya permadani itu tergantung menutupi dinding timur di samping perapian, namun malam ini permadani itu ditarik turun dari gantungan kuningannya, sehingga dinding di belakangnya terlihat.
Sophie berjalan ke arah dinding kayu telanjang itu, dan dia mendengar nyanyian itu semakin keras. Dengan ragu, dia menempelkan telinganya pada dinding kayu itu. Suara itu lebih jelas sekarang. Orang-orang itu betul-betul sedang menyanyi ... melantunkan kata-kata yang tak dapat dimengerti Sophie.
Ada ruangan di balik dinding ini?
Dia meraba-raba tepian panel-panel itu dan menemukan lubang sebesar jemari. Lubang itu dikerat tak kentara. Sebuah pintu geser. Dengan jantung berdebar keras, dia memasukkan jarinya ke lubang itu dan menggeser pintunya. Tanpa bunyi sama sekali, dinding berat itu bergeser membuka. Dari kegelapan, suara itu bergema.
Sophie menyelinap melalui pintu itu dan menapaki anak tangga batu kasar yang melingkar ke bawah. Dia sudah datang ke rumah ini sejak masih kanak-kanak dan tak pernah tahu akan keberadaan tangga batu ini!
Ketika dia turun, udara menjadi lebih dingin. Suara-suara itu menjadi lebih jelas. Sekarang dia dapat mendengar suara lelaki dan perempuan. Jarak pandangannya terbatas karena terhalang oleh lingkaran tangga itu, namun pada anak tangga terakhir dia dapat melihat lebih jelas. Dia dapat melihat sebidang lantai-dari batu, diterangi oleh sinar jingga yang berkilauan dari api unggun.
Sambil menahan napas, Sophie turun beberapa langkah lagi, dan berjongkok untuk melihat. Dia membutuhkan beberapa detik untuk mengerti apa yang sedang dilihatnya.
Ruangan itu merupakan sebuah gua-sebuah ruangan berdinding kasar yang tampaknya diambil dari granit sisi bukit. Satusatunya cahaya berasal dari obor-obor yang menempel di dinding. Di bawah cahaya obor itu, sekitar tiga puluh orang berdiri membuat lingkaran di tengah ruangan.
Aku sedang bermimpi, kata Sophie pada dirinya sendiri. Sebuah mimpi. Apa lagi kalau bukan mimpi?
Semua orang dalam ruangan itu menggunakan topeng. Yang perempuan mengenakan gaun panjang putih halus dan bersepatu keemasan. Mereka mengenakan topeng berwarna putih sambil membawa bola emas. Sedangkan yang lelaki mengenakan tunik panjang hitam dan topeng berwarna hitam. Mereka tampak seperti buah-buah catur di atas papan catur raksasa. Semua orang dalam lingkaran itu bergoyang ke depan dan ke belakang, dan bernyanyi sebagai penghormatan kepada sesuatu yang ada di lantai di hadapan mereka ... sesuatu yang tak dapat dilihat Sophie.
Nyanyian itu kembali mengeras. Menjadi lebih cepat. Menggelegar. Lebih cepat. Dan lebih cepat lagi. Orang-orang bertopeng itu maju selangkah, kemudian berlutut. Saat itu juga Sophie akhirnya dapat melihat apa yang dihadapi oleh orang-orang bertopeng itu. Dia terhuyung ke belakang karena ketakutan. Dia merasa gambaran itu akan menggenang dalam kenangannya selamanya. Dia merasa mual, dan kemudian berpaling. Dengan berpegangan pada dinding batu, dia bergerak naik. Setelah mendorong kembali pintu itu hingga tertutup, Sophie segera berlari meninggalkan rumah sunyi itu, dan mengemudikan mobilnya dengan air mata berderai, kembali ke Paris.
Malam itu juga, Sophie merasa hidupnya hancur berkeping karena kekecewaan dan pengkhianatan. Dia kemudian mengepak segala benda miliknya dan meninggalkan rumahnya. Di meja makan, dia meninggalkan pesan untuk kakeknya.
AKU TADI KE SANA. JANGAN COBA CARI AKU.
Di samping pesan itu, dia meletakkan kunci cadangan yang tadi diambilnya dari gudang puri kakeknya.

`Sophie!` suara Langdon terdengar. `Berhenti! Berhenti!`
Terjaga dari kenangannya, Sophie menginjak pedal rem, menurunkan kecepatan, kemudian berhenti. `Apa? Ada apa?!` Langdon menunjuk ke depan.
Ketika Sophie melihatnya, darahnya menjadi dingin. Seratus yard ke depan, perempatan telah diblokir oleh dua mobil polisi DCPJ, diparkir menyerong. Tujuan mereka sudah jelas. Mereka telah menutup Avenue Gabriel!
Langdon mendesah muram. `Kukira kedutaan besar sudah terhalang bagi kita malam ini.`
Di jalan, dua petugas DCPJ yang berdiri di samping mobil mereka menatap ke arah Sophie dan Langdon. Tampaknya mereka curiga karena mobil dengan lampu besar menyala itu berhenti tiba-tiba, di jalan yang mereka jaga.
Baik, Sophie, berputarlah dengan sangat lambat.
Sophie memundurkan SmartCarnya, lalu melesat. Ketika itu juga terdengar ban mobil lain berdecit di belakang mereka. Kemudian suara sirene meraung.
Sambil mengumpat, Sophie mengganti gigi persenelingnya.

33

MARTCAR SOPHIE membelah area diplomatik, berkelok-kelok melalui beberapa kedutaan besar dan konsulat, sampai akhirnya melesat keluar tepi jalan dan berbelok ke kanan, kembali ke jalan utama Champs-Elysees.
Langdon duduk di kursi penumpang dengan pucat pasi. Ia menoleh ke belakang, mengamati tanda-tanda keberadaan polisi di belakang mereka. Tiba-tiba Langdon menyesal telah melarikan diri. Kau tidak melarikan diri, dia mengingatkan dirinya. Sophie telah membuatkan keputusan itu baginya ketika perempuan itu membuang keping GPS melalui jendela kamar kecil pria. Sekarang, ketika mereka melesat menjauh dari kedutaan besar, berkelok-kelok melintasi lalu lintas yang masih sepi di Champs-Elysees, Langdon merasa pilihannya semakin memburuk. Walau saat ini, paling tidak untuk sementara ini, Sophie berhasil lolos dari kejaran polisi, Langdon meragukan nasib baik mereka akan dapat bertahan lama. Di belakang kemudi, Sophie merogoh sweternva. Dia mengeluarkan benda kecil dari metal dan mengulurkannya kepada Langdon. `Robert, lihatlah ini. Ini benda yang ditinggalkan kakekku di belakang Madonna of the Rocks.`
Langdon merasa menggigil karena sudah menunggu lama. pia mengambil benda itu dan memeriksanya. Benda itu berat dan berbentuk seperti salib. Naluri pertamanya adalah bahwa dia sedang memegang sebuah pieu pemakaman-sebuah miniatur dari paku besar upacara peringatan yang didesain untuk ditancapkan ke dalam tanah di pemakaman. Namun, dia kemudian melihat, batang dari kunci yang berbentuk salib tersebut berbentuk segi tiga dan prismatik. Batang itu juga memiliki ratusan bercak berbentuk heksagonal yang tampaknya dibuat secara halus dan tersebar acak.
`Ini kunci yang dibuat dengan sinar laser,` kata Sophie kepada Langdon. `Bercak heksagonalnya hanya bisa dibaca dengan mata elektrik.`
Sebuah kunci?
Langdon belum pernah melihat yang seperti ini.
`Lihatlah sisi yang lainnya,` kata Sophie lagi, sambil beralih jalur dan melewati perempatan.
Ketika Langdon memutar kunci itu, dia ternganga. Dia melihat embos melingkar-lingkar di tengah salib, bermodel fleur-delis dengan inisial PS.! `Sophie,` katanya, `ini segel yang pernah kukatakan padamu! Alat resmi dari Biarawan Sion.`
Sophie mengangguk. `Seperti yang pernah kukatakan juga padamu, aku sudah pernah melihat kunci itu sejak dulu. Kakek menyuruhku untuk tidak pernah membicarakannya lagi.`
Mata Langdon masih terpaku pada kunci berembos itu. Pembuatannya dengan teknik tinggi dan simbolisme kunonya memancarkan perpaduan yang menakutkan dari dunia kuno dan modern.
`Kakekku mengatakan bahwa kunci itu untuk membuka sebuah kotak tempat dia menyimpan banyak rahasia.`
Langdon merinding membayangkan rahasia apa yang mungkin disimpan oleh seseorang seperti Jacques Sauniere. Apa yang dilakukan oleh sebuah persaudaraan kuno dengan sebuah kunci futuristik? Langdon tidak tahu. Biarawan Sion ada dengan tujuan tunggal: melindungi sebuah rahasia. Sebuah rahasia dari kekuatan yang sangat besar. Mungkinkah kunci ini ada hubungannya dengan itu? Pemikiran itu terasa berlebihan. `Kautahu ini untuk membuka apa?`
Sophie tampak kecewa. `Aku baru saja mengharapkan kau yang tahu.`
Langdon terdiam ketika dia memutar tanda salib itu dalam tangannya untuk memeriksanya lagi.
`Tampak seperti lambang Kristen,` desak Sophie.
Langdon tidak yakin akan itu. Kepala kunci itu tidak berukuran standar seperti salib Kristen tradisional, tapi lebih berbentuk salib perseg i- dengan panjang yang sama dari keempat lengannya - yang telah ada sejak 1.500 tahun sebelum lahirnya agama Kristen. Salib seperti ini berbeda artinya dengan salib dalam Kristen yang berkaitan dengan Salib Latin yang batangnya lebih panjang. Salib yang terakhir ini pertama kali dibuat oleh orang Roma sebagai alat penyiksaan. Langdon selalu terkejut betapa sedikit penganut agama Kristen yang menatap `tanda salib` (crucifix) yang sadar bahwa sejarah kekerasan simbol mereka tercermin dalam nama simbol itu sendiri: cross dan crucifix berasal dari kata kerja bahasa Latin cruciare, `menyiksa.
`Sophie,` kata Langdon, `apa yang dapat kukatakan padamu adalah, salib dengan panjang lengan yang sama seperti ini dianggap sebagai salib damai. Konfigurasi perseginya membuatnya tidak mungkin digunakan dalam penyaliban, dan keseimbangan vertikal dan horizontalnya mengandung unsur penyatuan alamiah antara lelaki dan perempuan, dan itu membuatnya konsisten secara simbolis dengan filsafat Biarawan.`
Sophie menatapnya dengan bosan. `Kau tidak tahu artinya, bukan?`
Langdon mengerutkari dahinya. `Sama sekali.`
`Baiklah, kita harus keluar dari jalan.` Sophie melihat ke kaca spionnya. `Kita butuh tempat aman untuk memikirkan apa yang dapat dibuka dengan kunci itu.`
Langdon sangat merindukan kamarnya yang nyaman di Ritz. Jelas itu tidak termasuk pilihan Sophie. `Bagaimana dengan tuan rumahku di American University of Paris?`
`Terlalu kentara. Fache pasti akan memeriksa ke sana.`
`Kau pasti mengenal orang yang dapat menolong kita. Kau tinggal di sini.`
`Fache pasti akan memeriksa catatan telepon dan emailku dan juga berbicara dengan rekan-rekan kerjaku. Rekan-rekanku tak dapat dipercaya. Memesan kamar hotel pun tidak mungkin, karena semua hotel akan meminta identitas tamunya.`
Langdon berpikir-pikir lagi, mungkin sebaiknya tadi dia membiarkan Fache menangkapnya saja di Louvre. `Ayo telepon kedutaan besar. Aku bisa menjelaskan keadaan ini dan meminta mereka mengirim seseorang untuk menjemput kita di mana saja.` `Menjemput kita?` Sophie berpaling dan menatap Langdon seolah Langdon gila. `Robert, kau mimpi. Kedutaan besarmu tak punya hak hukum kecuali di dalam properti mereka sendiri. Mengirim seseorang untuk menjemput kita akan dianggap menolong buronan pemerintahan Prancis. Itu tidak mungkin. Jika kau berjalan masuk ke kedutaan besarmu dan meminta perlindungan sementara, itu lain hal, tetapi meminta mereka untuk bertindak melawan pelaksanaan hukum Prancis di lapangan?` Sophie menggelengkan kepalanya. `Telepon kedutaan besarmu sekarang, dan mereka akan menyuruhmu untuk tidak memperburuk keadaan dan menyerahkan diri kepada Fache. Kemudian mereka akan berjanji mengusahakan lewat jalur diplomatik untuk memberikan pengadilan yang adil bagimu.` Sophie mengerling pada deretan toko mewah di tepi Jalan Champs-Elysees. `Bawa uang berapa?`
Langdon memeriksa dompetnya. `Satu dolar Amerika. Beberapa euro. Mengapa?`
`Kartu kredit?` `Tentu saja.`
Ketika Sophie mempercepat laju mobilnya, Langdon merasa Sophie sedang merencanakan sesuatu. Pada ujung Champs-Elysees, berdiri Arc de Triomphe - tugu kemenangan setinggi 164 kaki, untuk mengenang kehebatan Napoleon - yang dikelilingi oleh putaran terbesar di Prancis, sebuah putaran raksasa dengan sembilan jalur.
Mata Sophie menatap kaca spion lagi, ketika mereka mendekati putaran itu. `Sementara ini kita bebas dari mereka,` katanya, `tetapi tidak akan lebih dari lima menit jika kita terus berada di mobil ini.`
Jadi, curi mobil lain, Langdon berpikir, bukankah kita sekarang sudah jadi kriminal. `Apa yang akan kau lakukan?`
Sophie mengarahkan SmartCar ke putaran itu. `Percayalah padaku.`
Langdon tak menjawab. Percaya tak membawanya ke mana pun malam ini. Dia menaikkan lengan jasnya, melihat jam tangannya - jam kuno, sebuah jam Mickey Mouse edisi kolektor yang dihadiahkan orang tuanya ketika dia berulang tahun kesepuluh. Walau dia sering dipandang dengan tatapan aneh, Langdon tidak pernah memiliki jam tangan lainnya. Kartun Disney merupakan perkenalan pertamanya dengan keajaiban bentuk dan warna, dan Mickey sekarang merupakan pengingat sehari-harinya supaya tetap berjiwa muda. Waktu itu, lengan-lengan Mickey condong pada sudut yang aneh, menunjukkan waktu yang sama anehnya.
2:51 pagi.
`Jam tangan yang menarik,` kata Sophie, ketika mengerling pada jam tangan Langdon, sambil mengelilingi putaran lebar itu melawan arah jarum jam.
`Ceritanya panjang,` kata Langdon sambil menurunkan kembali lengan jasnya.
`Aku bisa membayangkan cerita itu,` kata Sophie sambil terenyum kecil dan keluar dari putaran itu, mengarah ke utara, menjauh dari pusat.kota. Setelah baru saja melewati dua lampu hijau, Sophie tiba di perempatan ketiga dan membelok tajam ke kanan, masuk ke Boulevard Malesherbes. Mereka telah meninggalkan area mewah, jalan tiga jalur di sekitar lingkungan diplomatik, dan masuk ke daerah yang lebih gelap, yaitu daerah industri. Sophie membelok cepat ke kiri, dan sesaat kemudian Langdon sadar di mana mereka berada.
Gare Saint-Lazare, sebuah stasiun kereta api.
Di depan mereka, stasiun kereta api beratap kaca menyamai sebuah hanggar pesawat terbang dan rumah kaca. Stasiun kereta api di Eropa tak pernah tidur. Bahkan pada jam seperti ini, enam buah taksi berderet menunggu dekat pintu masuk. Pedagang bergerobak menjual sandwich dan air mineral, sementara anakanak lusuh beransel keluar dari stasiun sambl menggosok-gosok mata, mengamati sekeliling, seolah mencoba mengingat-ingat di kota mana mereka sekarang. Di jalan, sepasang polisi kota berdiri di tepi jalan memberikan arah kepada beberapa turis yang kebingungan.
Sophie memarkir SmartCar-nya di belakang taksi dan parkir di zona merah, bukannya di tempat parkir legal yang terdapat di seberang jalan. Sebelum Langdon sempat bertanya apa yang terjadi, Sophie keluar dari mobilnya. Dia bergegas menuju ke sebuah jendela taksi di depan mereka dan mulai berbicara kepada pengemudinya.
Ketika Langdon juga keluar dari SmartCar, dia melihat Sophie memberikan pengemudi taksi itu setumpuk uang. Pengemudi taksi itu mengangguk dan, yang membuat Langdon bingung, melesat tanpa membawa mereka.
`Ada apa?` tanya Langdon, mendekati Sophie di tepi jalan ketika taksi itu menghilang.
Sophie telah siap bergerak ke pintu masuk stasiun kereta api. `Ayo. Kita beli dua tiket kereta api berikutnya untuk keluar dari Paris.`
Langdon bergegas berjalan di samping Sophie. Apa yang bermula dengan kabur sepanjang satu mil ke kedutaan besar Amerika Serikat, sekarang telah menjadi evakuasi sepenuhnya dari Paris. Langdon semakin tidak menyukai gagasan Sophie.

34

PENGEMUDI MOBIL yang menjemput Uskup Aringarosa dari Bandara Internasional Leonardo da Vinci mengendarai sebuah sedan Fiat kecil berwarna hitam yang tak menarik. Aringarosa mengingat masa ketika semua mobil Vatikan merupakan mobil mewah, yang me makai lempengan penghargaan dan benderabendera yang dihiasi dengan segel Holy See, `Keuskupan Suci'. Hari-hari itu sudah berlalu. Mobil-mobil Vatikan sekarang tak lagi mencolok dan hampir selalu tak bertanda khusus. Vatikan menyatakan ini dilakukan untuk memotong biaya, agar mereka dapat memberikan pelayanan yang lebih baik bagi keuskupan mereka, namun Aringarosa menduga ini lebih sebagai tindakan keamanan. Dunia telah menjadi gila, dan di banyak tempat di Eropa, memamerkan kecintaan Anda pada Yesus Kristus adalah seperti menggambar sasaran banteng pada atap mobil Anda.
Aringarosa mengikat jubah hitamnya ke tubuhnya, kemudian masuk ke bagian belakang mobil dan bersiap menempuh perjalanan panjang ke Puri Gandolfo. Ini sama dengan perjalanan yang dilakukannya lima bulan yang lalu.
Perjalanan ke Roma tahun lalu, dia mendesah. Malam terpanjang dalam hidupku.
Lima bulan yang lalu, Vatikan menelepon Aringarosa dan memintanya untuk segera datang ke Roma. Mereka tidak memberikan penjelasan. Tiket Anda adu di bandara. Keuskupan Suci berusaha keras untuk tetap menjaga kemisteriusannya, walau kepada pendeta tertingginya sendiri.
Pemanggilan yang misterius itu, Aringarosa menduga, mungkin dimaksudkan sebagai kesempatan bagi Paus dan petinggi Vatikan lainnya untuk mendukung kesuksesan besar Opus Dei akhirakhir ini penyelesaian pembangunan gedung Kantor Pusat Dunia mereka di New York City. Architectural Digest telah menyebut gedung Opus Dei itu sebagai `menara Katolik yang berkilauan, bersatu padu dengan indah dengan lingkungan modern`, dan akhir-akhir ini Vatikan tampak condong pada segala dan semua yang mengandung kata `modern`.
Aringarosa tak punya pilihan selain menerima undangan itu, walaupun enggan. Dia bukanlah pemuja pemerintahan kepausan. Dia, seperti juga kebanyakan pendeta konservatif, telah melihat dengan keprihatinan yang muram ketika Paus memasuki tahun pertama jabatannya. Sebuah kebebasan yang belum pernah terjadi sebelumnya, Sri Paus telah menyelamatkan kepausannya dengan cara mengadakan pertemuan pribadi yang paling kontroversial dan tak biasa dalam sejarah Vatikan. Sekarang, alih-alih bersikap rendah hati karena kenaikan kekuasaannya yang tak terduga itu, Sri Paus justru tidak membuang waktu untuk menundukkan semua pihak yang berhubungan dengan kantor tertinggi dalam kerajaan Kristen itu. Untuk menarik sebuah bantuan yang tak pasti dari dukungan liberal di dalam College of Cardinals, Sri Paus mengumumkan bahwa misi kepausannya adalah `peremajaan doktrin Vatikan dan Pembaruan Katolikisme memasuki milenium ketiga.`
Artinya, Aringarosa mengkhawatirkan, orang itu cukup sombong untuk berpikir bahwa ia mampu menulis ulang hukum-hukum Tuhan dan merebut hati orang-orang yang merasa bahwa tuntutan Katolik yang sesungguhnya memang sudah terlalu menyiksa di dunia modern.
Aringarosa telah menggunakan semua pengaruh politiknya terutama dengan melihat jumlah pengikut Opus Dei dan uang mereka di bank-untuk membujuk Sri Paus dan para penasihatnya bahwa memperlunak hukum-hukum Gereja bukan saja durhaka dan pengecut, tetapi juga bunuh diri secara politik. Dia mengingatkan mereka bahwa pelembutan hukum Gereja yang lalu - kegagalan Vatikan - telah mewariskan kerusakan: pengunjung Gereja menjadi lebih sedikit dari sebelumnya, uang donasi mengering, dan tidak ada cukup pastor untuk memimpin gereja.
Masyarakat membutuhkan struktur dan pengarahan dari Gereja, Aringarosa menekankan, bukan memanjakan dan mengikuti kehendak mereka!
Pada malam itu, lima bulan yang lalu, ketika Fiat itu telah meninggalkan bandara, Aringarosa terkejut karena sadar bahwa dia tidak menuju ke Vatikan, namun ke arah timur, naik ke jalan gunung yang berliku-liku. `Kita ke mana ini?` tanyanya pada pengemudi.
`Bukit Alban,` jawab orang itu. `Pertemuan Anda di Puri Gandolfo.`
Rumah musim panas Sri Paus? Aringarosa belum pernah ke sana, dan juga tak pernah ingin. Tambahan pula, sebelum menjadi rumah peristirahan musim panas Paus, benteng abad ke-16 ini dipakai oleh Specula Vaticana - Observatorium Vatikan - salah satu observatorium astronomis tertua di Eropa. Aringarosa tidak pernah merasa nyaman dengan kepentingan historis Vatikan untuk campur tangan dalam ilmu pengetahuan. Apa alasan untuk menggabungkan ilmu pengetahuan dan iman? Sains yang netral tak mungkin bisa diemban oleh seseorang yang terikat iman kepada Tuhan. Dan, iman pun tidak membutuhkan sama sekali konfirmasi fisikal bagi doktrin-doktrinnya.
Akhirnya, itu dia, pikir Aringarosa ketika Puri Gandolfo tampak, muncul di depan langit November yang penuh gemintang.
Dari jalan masuk, Gandolfo tampak sama dengan monster besar yang sedang menimbang-nimbang untuk melakukan loncatan bunuh diri. Berdiri di tepi sebuah tebing, puri itu condong ke arah tempat kelahiran masyarakat Italia-lembah tempat klen Curiazi dan Orazi berperang memperebutkan tanah itu sebelum mendirikan Roma.
Bahkan dalam bayangan, Gandolfo merupakan pemandangan yang layak dikenang-sebuah contoh yang mengesankan dari arsitektur yang bertingkat-tingkat dan tempat perlindungan, dan tampak menggemakan potensi dari pemandangan sisi tebing yang dramatis ini. Sayangnya, Aringarosa sekarang melihat, Vatikan telah merusak gedung itu dengan membangun dua teleskop aluminium besar di atas atapnya. Yang dulu merupakan bangunan besar yang anggun sekarang tampak seperti seorang serdadu yang sombong mengenakan dua topi pesta.
Ketika Aringarosa keluar dari mobil, seorang pendeta muda Jesuit bergegas keluar dan menyambutnya. `Uskup, selamat datarig. Saya Bapa Mangano. Astronom di sini.`
Bagus untukmu. Aringarosa menggumamkan sapaannya dan mengikuti tuan rumahnya masuk ke ruang depan puri-sebuah ruangan terbuka lebar yang dekornya merupakan gabungan takanggun dari seni zaman Renaissance dan gambar-gambar astronomi. Saat mengikuti pengawalnya menaiki anak tangga lebar dari batu gamping pualam, Aringarosa melihat tanda yang menunjukkan pusat konferensi, ruang kuliah ilmu pengetahuan, dan pelayanan informasi bagi turis. Aringarosa kagum ketika memikirkan betapa Vatikan berusaha memberikan petunjuk yang logis dan tegas bagi pertumbuhan spiritual, namun masih mempunyai waktu untuk memberikan kuliah astrofisika pada turis.
`Katakan padaku,` kata Aringarosa pada pendeta muda itu, `kapan ekor mulai menggoyangkan anjing?`
Pendeta itu menatapnya dengan aneh. `Maaf?`
Aringarosa mengibaskan tangannya, memutuskan untuk tidak mengeluarkan masalah yang menyinggung perasaan lagi malam ini. Vatikan sudah gila. Laksana orang tua malas yang merasa lebih mudah jika menyetujui protes anak manja daripada bersikap tegas dan mengajarkan nilai-nilai padanya, Gereja terus melunak pada setiap masalah, mencoba menemukan kembali jati dirinya untuk mengakomodasi kebudayaan yang mulai tersesat.
Koridor lantai paling atas lebar, mengandung banyak petunjuk, dan hanya menuju ke satu arah-ke arah pintu besar dari kayu ek dengan tanda dari kuningan.
BIBLIOTECA ASTRONOMICA
Aringarosa telah mendengar tentang tempat ini - perpustakaan Astronomi Vatikan - yang dirumorkan memiliki lebih dari 25 ribu judul buku, termasuk karya-karya luar biasa dari Copernicus, Galileo, Kepler, Newton dan Secchi. Diduga, tempat ini juga merupakan tempat para pejabat tertinggi Paus mengadakan rapatrapat pribadi ... mereka lebih suka mengadakan pertemuan-pertemuan seperti itu tidak di dalam dinding-dinding kota Vatikan.
Ketika mendekati pintu itu, Uskup Aringarosa tidak akan pernah membayangkan berita yang mengejutkan yang akan didengarnya di dalam, atau rantai kejadian mematikan yang akan dilaksanakan. Satu jam kemudian, ketika dia keluar linglung dari ruang rapat, dampak yang merusak itu ditetapkan. Enam bulan dari sekarang! pikirnya. Tuhan, tolong kami!
Sekarang, duduk di dalam Fiat, Uskup Aringarosa mengepalkan tinjunya begitu memikirkan pertemuan pertama itu. Dia kemudian melepaskan cengkeramannya dan memaksa untuk bernapas dengan lebilh lambat, menenangkan otot-ototnya.
Semuanya akan beres, katanya pada diri sendiri ketika Fiat itu menanjak lebih tinggi ke atas gunung. Dia tetap berharap handphone-nya akan berdering. Mengapa Guru belum meneleponku? Silas seharusnya sudah mendapatkan batu kunci itu sekarang.
Mencoba menenangkan syarafnya, sang uskup bermeditasi pa da batu ametis ungu yang menempel pada cincinnya. Dia merasakan tekstur dari mitrecrozier applique, kopiah keuskupan, dan faset-faset berliannya. Dia mengingatkan dirinya bahwa cincin ini merupakan simbol dari kekuasaan yang jauh lebih kecil daripada yang akan segera didapatkannya.

35

BAGIAN DALAM stasiun Saint-Lazare tampak sama dengan stasiun lainnya di Eropa, sebuah gua besar di luar dan di dalam ruangan yang terbuka lebar yang ditandai dengan berbagai hal yang biasa juga gelandangan-gelandangan yang memegangi tanda dari karton, sekumpulan mahasiswa bermata muram yang tidur di atas ransel besar dan asyik mendengarkan musik dari pemutar MP3 portable, dan sekelompok pembawa barang berseragam biru yang sedang merokok.
Sophie menatap ke atas ke papan pengumuman keberangkatan yang besar. Informasi dalam huruf hitam dan putih itu beralih bergantian, menggulung ke bawah jika informasi baru muncul. Ketika pergantian itu selesai, Langdon menatap informasi yang baru. Baris terbaru menyatakan:
LILLE-RAPIDE-3:OG
`Aku harap kereta api itu akan berangkat lebih awal. Tetapi, Lille akan berhasil.`
Lebih awal? Langdon melihat jam tangannya, 2:59 pagi. Kereta api itu akan berangkat tujuh menit lagi, dan mereka belum juga membeli tiket.
Sophie membawa Langdon ke loket tiket dan berkata, `Beli dua tiket untuk kita dengan kartu kreditmu.`
`Kupikir menggunakan kartu kredit akan dapat terlacak-` `Tepat.`
Mulai saat itu, Langdon memutuskan untuk tidak mengajari Sophie Neveu lagi. Menggunakan kartu Visa-nya, Langdon membeli dua tiket ke Lille dan memberikannya kepada Sophie.
Sophie membawa Langdon keluar ke arah rel kereta, di mana peluit yang biasa dibunyikan dan pengumuman dari PA. sudah terdengar yang memberikan panggilan terakhir untuk segera masuk ke gerbong untuk berangkat ke Lille. Enam belas jalur terpisah berpencaran di depan mereka. Di kejauhan, sebelah kanan, pada peron tiga, kereta api ke Lille sedang mendengus dan mendesahdesah, bersiap untuk berangkat. Namun, Sophie justru menggandeng tangan Langdon dan membawanya ke arah yang berlawanan. Mereka berjalan cepat melintasi sisi lobi, melewati kafe 24 jam, dan akhirnya keluar dari pintu samping ke jalan kecil yang sunyi di sebelah barat stasiun itu.
Sebuah taksi terparkir sendirian di depan pintu. Pengemudinya melihat Sophie dan mengedipkan lampu besar mobilnya.
Sophie melompat masuk ke bangku belakang. Langdon mengikutinya.
Ketika taksi itu meninggalkan stasiun, Sophie mengeluarkan tiket mereka yang tadi dibeli dan menyobeknya.
Langdon mendesah. Tujuh puluh dolar, terbuang sia-sia. Setelah taksi mereka meluncur tenang ke tepi utara yang mendengung monoton di Rue de Clichy, barulah Langdon merasa benar-benar terbebas. Dari jendelanya ke sebelah kanan, dia dapat melihat Montmartre dan kubah Sacre-Coeur yang indah. Pemandangan itu terganggu oleh kilatan lampu mobil polisi yang melaju di samping taksi mereka ke arah yang berlawanan.
Langdon dan Sophie merunduk hingga suara sirene itu menjauh.
Sophie telah mengatakan kepada pengemudi taksi itu untuk keluar kota, dan ketika Langdon melihat rahang Sophie yang mengeras, dia tahu Sophie sedang memikirkan langkah berikutnya.
Langdon memeriksa kunci berbentuk salib itu lagi, dengan memeganginya ke arah jendela, mendekatkannya ke matanya untuk menemukan tanda apa saja di atas kunci tersebut yang menunjukkan di mana kunci itu dibuat. Dalam kilau yang hilang-timbul dari lampu jalanan, Langdon tak dapat menemukan tanda kecuali segel Biarawan tadi.
`Tak masuk akal,` katanya akhirnya. `Yang mana?`
`Bahwa kakekmu begitu bersusah payah memberimu sebuah kunci yang kau tidak tahu apa yang harus dilakukan dengannya.` `Setuju.`
`Kauyakin dia tidak menulis apa pun di balik lukisan itu?` `Aku sudah memeriksa seluruh area. Hanya ada ini. Kunci ini, terjepit di belakang lukisan itu. Aku melihat segel Biarawan itu, menyimpan kunci ini dalam sakuku, kemudian kita pergi.` Langdon mengerutkan dahinya, sekarang mengamati ujung tumpul dari batang segi tiga kunci itu. Tidak ada apa-apa. Dengan memicingkan matanya, dia mendekatkan kunci tersebut ke matanya dan memeriksa tepian kepalanya. Juga tidak ada apa-apa. `Kupikir kunci ini baru saja dibersihkan.`
`Mengapa?`
`Baunya seperti baru digosok dengan alkohol.` Sophie menoleh. `Maaf?`
`Tampaknya ada yang mengolesnya dengan cairan pembersih.` Langdon mendekatkan kunci itu ke hidungnya dan mengendus. `Tercium lebih tajam di sisi yang lain.` Dia membalik kunci itu. `Ya, cairan berbahan dasar alkohol, sepertinya baru saja dibersihkan dengan cairan pembersih atau-` Langdon terdiam. `Apa?`
Langdon mengarahkan kunci itu ke arah cahaya dan melihat permukaannya yang rata pada lengan salib yang lebar. Tampak berkilat di beberapa tempat ... seperti basah. `Apakah kau menelitinya sebelum memasukkannya ke dalam saku?`
`Apa? Aku tidak menelitinya dengan baik. Aku tergesa-gesa.` Langdon menoleh padanya. `Kau masih menyimpan senter hitam tadi?`
Sophie merogoh sakunya dan mengeluarkan senter pena UV. Langdon mengambilnya dan menyalakannya. Ia menyorot bagian punggung kunci tersebut.
`Nah,` kata Langdon, tersenyum. `Kukira kita tahu alkohol apa yang tercium tadi.`
Sophie menatap kagum pada tulisan ungu UI punggung kunci itu.
24 Rue Haxo
Sebuah alamat! Kakekku menuliskan sebuah alamat! `Di mana itu?` tanya Langdon.
Sophie tidak tahu. Kemudian dia menatap ke depan lagi, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan dan dengan riang ber tanya kepada pengemudi taksi itu. `Connaissez-vous la Rue Haxo?` Pengemudi itu berpikir sebentar, kemudian mengangguk. Dia memberi tahu Sophie bahwa jalan itu ada di dekat stadion tenis di lingkar luar sebelah barat Paris. Sophie lalu memintanya membawa mereka ke sana segera.
`Jalan terdekat adalah melewati Bois de Boulogne,` kata pengemudi itu dalam bahasa Prancis. `Tidak apa-apa?`
Sophie mengerutkan dahinya. Dia dapat memikirkan jalan yang tak terlalu berbahava, namun malam ini dia tidak mau terlalu memilih `Oui.` Kita dapat mengagetkan tamu Amerika iri.
Sophie melihat lagi kunci itu dan bertanya-tanya apa yang akan mereka jumpai di Rue Haxo nomor 24. Sebuah gereja? Semacam kantor pusat Biarawan?
Benaknya terisi lagi dengan gambaran ritual rahasia yang pernah dilihatnya di ruang bawah tanah sepuluh tahun lalu. Sophie mendesah panjang. `Robert, ada banyak hal yang harus kukatakan kepadamu.` Sophie terdiam, menatap tajam mata Robert ketika taksi itu ngebut ke arah barat. `Tetapi, sebelum itu, aku ingin kau mengatakan segala yang kau tahu tentang Biarawan Sion.`


36

DI LUAR Salle des Etats, Bezu Fache sangat marah ketika penjaga Louvre, Grouard, menjelaskan bagaimana Sophie dan Langdon melucuti senjatanya. Mengapa kau tidak menembak saja lukisan keramat itu!
`Kapten?` Letnan Collet memotong ke arah mereka dari ruang pos komando. `Kapten, saya baru saja mendengar. Mereka menemukan mobil Agen Neveu.`
`Di Kedutaan?`
`Tidak. Stasiun kereta api. Membeli dua tiket. Kereta apinya baru saja berangkat.` Fache mengusir penjaga Grouard dan mengajak Collet ke ruangan kecil di dekat mereka. Lalu dia berbicara dengan suara berbisik. `Ke mana mereka?`
`Lille.`
`Mungkin itu jebakan.` Fache menarik napasnya, memikirkan sebuah rencana. `Baik. Peringatkan stasiun berikutnya, hentikan kereta api itu dan cari mereka. Mungkin saja mereka ada di sana. Biarkan mobil itu di situ, dan tempatkan polisi berbaju preman untuk mengamati. Mungkin saja mereka kembali mengambil mobil itu. Kirim orang untuk menyelidiki jalan di sekitar stasiun itu, mungkin saja mereka melarikan diri dengan jalan kaki. Apakah ada bis yang beroperasi di sekitar stasiun?`
`Tidak pada jam seperti ini, Pak. Hanya taksi.`
`Bagus. Tanya pengemudi-pengemudi di sana. Tanya apakah mereka melihat sesuatu. Kemudian hubungi petugas pemberangkatan di perusahaan taksi itu dan berikan gambaran tentang pengemudi itu: Aku akan menghubungi interpol.`
Collet tampak terkejut. `Anda akan memasukkan semua ini dalam jaringan?`
Fache menyesali rasa malu yang mungkin timbul, namun dia tak punya pilihan.
Tutup rapat jaring itu, dan tutup sangat erat.
Jam pertama adalah waktu yang menentukan. Pelarian dapat diduga pada jam pertama mereka lolos. Mereka selalu memerlukan hal yang sama. Alat transportasi. Penginapan. Uang tunai. Tiga serangkai yang suci. Interpol punya kekuasaan untuk membuat ketiganya itu menghilang dalam sekejap. Dengan menyebarluaskan foto Langdon dan Sophie ke pemilik otoritas perjalanan di Paris, hotel-hotel, dan bank-bank, interpol akan menutup semua pilihan-tidak ada jalan untuk meninggalkan kota, tidak ada tempat untuk sembunyi, tidak ada cara untuk menarik uang tunai tanpa dikenali. Biasanya, para pelarian menjadi panik di jalan dan melakukan kebodohan. Mencuri mobil. Merampok toko. Menggunakan kartu bank dalam keadaan putus asa. Kesalahan apa pun yang mereka lakukan akan membuat keberadaan mereka diketahui dengan cepat oleh pemerintah daerah setempat.
`Hanya Langdon, bukan?` tanya Collet. `Anda tak menangkap Sophie Neveu, bukan? Dia agen kita sendiri.`
`Tentu saja aku akan menangkapnya juga!` bentak Fache. `Apa gunanya menangkap Langdon jika Sophie dapat mengerjakan semua pekerjaan kotor Langdon? Aku ingin memeriksa file kepegawaian Neveu, teman-temannya, keluarga, kontak pribadi... siapa saja yang mungkin ia minta bantuan. Aku tidak tahu apa yang ia lakukan di luar sana dan apa yang ia pikirkan, tetapi itu akan membuatnya lebih dari sekadar kehilangan pekerjaan!` `Anda mau saya bersiaga di telepon atau di lapangan?` `Lapangan. Pergi ke stasiun dan atur tim itu. Kaupunya kuasa, tetapi jangan bergerak tanpa izinku.`
`Baik, Pak.` Lalu Collet berlari.
Fache merasa kaku ketika dia berdiri di kamar sempit itu. Di luar jendela, kaca piramid itu berkilauan, pantulannya beriak di kolam yang tersapu angin. Mereka lolos dari genggamanku. Katanya pada diri sendiri untuk menenteramkan diri.
Agen yang terlatih di lapangan pun akan merasa sedikit lega dalam situasi tegang ini karena interpol akan turun tangan. Seorang perempuan ahli kriptologi dan seorang guru sekolah? Mereka tidak akan bertahan hingga fajar.

37

TAMAN YANG seperti hutan lebat itu, terkenal dengan nama Bois de Boulogne, disebut dengan banyak nama, namun penduduk Paris mengenalnya sebagai `Taman Kenikmatan Duniawi'. Julukan itu, walau terdengar memuji, sungguh-sungguh merupakan kebalikannya. Siapa pun yang telah melihat lukisan seram Bosch dengan nama yang sama akan mengerti arti tusukan itu; lukisan itu, seperti hutan, gelap dan menyesatkan, sebuah penyucian dosa bagi orang-orang tak waras dan pemuja jimat. Pada malam hari, jalan kecil yang membelit hutan itu akan dipenuhi oleh ratusan tubuh berkilauan yang berderet menunggu penyewa, betul-betul kenikmatan duniawi untuk memuaskan gairah manusia yang paling dalam, lelaki, perempuan, dan segala yang berada di antaranya.
Ketika Langdon mengumpulkan ingataningatannya untuk menceritakan kepada Sophie soal Biarawan Sion, taksi mereka melewati pintu masuk taman itu yang berpepohonan lebat, lalu mengarah ke barat di atas jalan berbatu bulat. Langdon merasa sulit untuk memusatkan pikiran ketika sejumlah kecil penghuni malam hutan itu mulai bermunculan dari balik kegelapan dan mengibar-ngibarkan saputangan sutera mereka ke arah lampu mobil. Di depan, dua orang gadis remaja tanpa pakaian dalam menatap dengan membara ke dalam taksi. Di belakang mereka, seorang lelaki berkulit hitam yang berminyak dan mengenakan G-string berpaling dan memamerkan bokongnya. Di sampingnya, seorang perempuan cantik berambut pirang menyingkap rok mininya untuk memperlihatkan bahwa dia sesungguhnya, bukan perempuan.
Tuhan, tolong aku! Langdon memalingkan tatapannya kembali ke dalam taksi dan menarik napas dalam.
`Ceritakan tentang Biarawan Sion,` kata Sophie.
Langdon mengangguk. Ia tak tahu latar belakang mana yang kurang aneh dari legenda yang akan diceritakannya pada Sophie. Dia bertanya-tanya dari mana memulainya. Sejarah kelompok persaudaraan itu terentang lebih dari satu milenium ... sebuah rentetan mengagumkan dari banyak rahasia, pemerasan, pengkhianatan, dan bahkan penyiksaan brutal yang dilakukan oleh seorang paus yang marah.
`Biarawan Sion,` Langdon mulai, `didirikan di Jerusalem pada tahun 1099 oleh Raja Prancis bernama Godefroi de Bouillon, segera setelah dia menaklukkan kota itu.`
Sophie mengangguk, matanya terpaku pada Langdon.
`Raja Godefroi diduga keras memiliki sebuah rahasia yang sangat kuat rahasia yang telah dimiliki keluarganya sejak zaman Kristus. Karena takut rahasianya akan hilang saat dia meninggal, ia mendirikan kelompok persaudaraan rahasia - Biarawan Sion dan mengharuskan mereka untuk menjaga rahasianya dengan cara mewariskannya secara diam-diam dari generasi ke generasi. Selama masa hidup mereka di Jerusalem, anggota Biarawan menemukan sebuah tempat menyimpan dokumen rahasia yang terkubur di bawah reruntuhan kuil Herod, yang dibangun di atas bekas kuil Salomo. Mereka percaya, dokumen-dokumen tersebut membenarkan rahasia besar Godefroi dan begitu menggemparkan sehingga Gereja ingin menguasainya.`
Sophie tampak tidak yakin.
`Biarawan bersumpah bahwa tak peduli berapa lama waktu yang diperlukan, dokumen-dokumen itu harus dikeluarkan dari bawah reruntuhan kuil itu dan dilindungi selamanya, sehingga kebenaran tak akan mati. Untuk mengeluarkan dokumen-dokumen itu dari bawah reruntuhan, Biarawan membentuk satuan tentarasebuah kelompok yang terdiri atas sembilan kesatria yang disebut `Persekutuan Para Kesatria Miskin Kristus dan Kuil Salomo'.` Langdon terdiam sejenak. `Lebih dikenal sebagai Templar.`
Sophie menatap, terkejut dan mengerti.
Langdon telah cukup sering memberikan kuliah tentang Templar sehingga dia tahu bahwa hampir semua orang di bumi ini pernah mendengar tentang para kesatria itu, paling tidak secara abstrak. Bagi para akademisi, sejarah Templar merupakan hal yang rumit, di mana fakta, legenda, dan kesalahan informasi telah menjadi begitu berkelindan sehingga hampir tidak mungkin untuk menarik kebenaran murni. Akhir-akhir ini, Langdon ragu-ragu bahkan hanya untuk menyebut Templar ketika memberi kuliah, karena itu pasti akan mengakibatkan mahasiswanya menyerangnya dengan pertanyaan-pertanyaan berbelit yang kemudian masuk ke teori-teori konspirasi.
Sophie tampak bingung. `Kau bilang bahwa Templar didirikan oleh Biarawan Sion untuk mengambil sebuah koleksi dokumen rahasia? Kupikir Templar diciptakan untuk melindungi Tanah Suci Palestina.`
`Sebuah salah konsep yang umum. Gagasan untuk melindungi para peziarah adalah samaran yang digunakan Templar dalam menjalankan tugasnya. Tujuan mereka yang sesungguhnya di Tanah Suci adalah mengambil dokumen-dokumen dari bawah reruntuhan kuil itu.`
`Dan mereka menemukannya?`
Langdon menyeringai. `Tidak ada yang tahu pasti, tetapi satusatunya hal yang disetujui oleh para ilmuwan adalah: para kesatria itu menemukan sesuatu di bawah reruntuhan itu ... sesuatu yang membuat mereka makmur dan berkuasa melebihi khayalan tergila yang dapat dibayangkan oleh siapa pun.`
Langdon segera menceritakan sejarah standar Templar yang diterima oleh para ilmuwan. Dia kemudian menjelaskan bagaimana para kesatria itu ada di Tanah Suci selama Perang Salib Kedua dan mengatakan kepada Raja Baldwin II bahwa mereka ada di sana untuk melindungi para peziarah Kristen di jalan. Walau tidak dibayar dan bersumpah siap hidup miskin, para kesatria itu meminta tempat tinggal kepada Raja dan memohon izinnya untuk mendiami kandang kuda di bawah reruntuhan kuil. Raja Baldwin mengabulkan permintaaan mereka, dan para kesatria Templar pun menempati tempat tinggal sederhana mereka di dalam kuil yang telah rusak itu.
Pilihan aneh pada tempat tinggal itu, jelas Langdon, tidak dilakukan secara sembarang. Para kesatria Templar percaya bahwa dokumen-dokumen yang dicari oleh Biarawan terkubur dalamdalam di bawah reruntuhan itu-di bawah the Holy of Holies, sebuah kamar suci yang dipercaya sebagai tempat tinggal Tuhan sendiri. Artinya, pusat dari keyakinan Yahudi. Hampir satu dekade kesembilan kesatria Templar tinggal di reruntuhan itu, menggali diam-diam bebatuan keras di situ.
Sophie menatapnya. `Dan, kau bilang mereka menemukan sesuatu?`
`Mereka memang menemukan sesuatu,` kata Langdon, kemudian menjelaskan bagaimana setelah sembilan tahun Templar akhirnya menemukan apa yang mereka cari. Mereka mengambil harta itu dari kuil dan pergi ke Eropa, tempat pengaruh mereka tampak menguat dalam satu malam saja.
Tidak seorang pun tahu pasti apakah Templar telah memeras Vatikan ataukah Gereja hanya mencoba untuk menutup mulut para kesatria itu, namun Paus Innocent II segera mengeluarkan omong kosong kepausan yang belum ada presedennya, yang memberi Templar kekuasaan tak terbatas serta mengumumkan bahwa mereka berhak `menetapkan hukum bagi mereka sendiri` - sebuah otonomi tentara yang terlepas dari campur tangan para raja dan pendeta tinggi, baik dalam keagamaan maupun politik.
Dengan ketebelece baru dari Vatikan itu, Templar meluas hingga ke angka yang mengejutkan, dalam jumlah maupun kekuatan politik, dengan mengumpulkan tanah-tanah yang luas pada lebih dari selusin negara. Mereka mulai memberikan pinjaman kepada para bangsawan yang pailit dan meminta bunga dalam pengembaliannya. Dengan cara itu, mereka mendirikan bank-bank modern serta semakin memperluas kekayaan dan pengaruh mereka.
Pada tahun 1300-an, sanksi Vatikan telah menolong Templar untuk mengumpulkan kekuatan yang begitu besar sehingga Paus Clement V memutuskan untuk berbuat sesuatu. Bekerja sama dengan Raja Prancis Philippe IV Paus memikirkan sebuah operasi serangan yang terencana dengan cerdik untuk membubarkan Templar dan merampas harta mereka, yang dengan begitu berarti akan mengalihkan kendali atas rahasia itu ke Vatikan. Dalam sebuah muslihat militer yang setaraf dengan muslihat CIA, Paus Clement mengeluarkan perintah rahasia bersegel yang baru boleh dibuka secara serempak oleh prajurit-prajuritnya di seluruh Eropa pada hari Jumat, 13 Oktober 1307.
Pada waktu fajar tanggal 13, dokumen-dokumen itu dibuka, dan isinya yang menakutkan terungkap. Dalam suratnya Clement mengaku bahwa Tuhan telah mengunjunginya dalam mimpi dan memperingatkan bahwa Templar berdosa besar karena memuja setan, homoseksualitas, mencemarkan salib, sodomi, dan .perilaku nista lainnya. Paus Clement telah diminta Tuhan untuk membersihkan bumi dengan mengumpulkan para kesatria itu dan menyiksa mereka sampai mereka mengakui kejahatan mereka terhadap Tuhan. Operasi gaya Machiavelli dari Clement berjalan sangat rapi. Pada hari itu, kesatria-kesatria yang tak terhitung jumlahnya ditangkap, disiksa secara kejam, dan akhirriya dibakar di tiang pembakaran sebagai pelaku bidah. Gema tragedi itu masih menggaung dalam kebudayaan modern; hingga kini, Jumat tanggal 13 dianggap hari sial.
Sophie tampak bingung. `Templar dimusnahkan? Kupikir persaudaraan Templar masih ada hingga kini?`
`Memang, dengan aneka nama. Lepas dari tuduhan palsu dan usaha keras Clement untuk membasmi mereka, Kesatria Templar memiliki teman-teman yang berkuasa, dan beberapa dari mereka berhasil lolos dari pembersihan Vatikan itu. Sesungguhnya yang menjadi sasaran Clement adalah dokumen-dokumen harta terpendam Templar, yang tampaknya merupakari sumber kekuatan mereka. Namun semua itu lepas dari genggamannya. Dokumendokumen itu sudah sejak lama dipercayakan kepada arsitek-arsitek Templar yang tak pernah jelas identitasnya, Biarawan Sion, yang tirai kerahasiaannya telah melindungi mereka dari jangkauan pembantaian Vatikan. Ketika Vatikan mengepung mereka, Biarawan menyelundupkan dokumen-dokumen tersebut melalui seorang guru di Paris pada malam hari ke kapal-kapal Templar di La Rochelle.` `Ke mana dokumen-dokumen itu pergi?`
Langdon menggerakkaii bahunya. `Misteri jawabannya hanya diketahui oleh Biarawan Sion. Karena tetap merupakan sumber penyelidikan dan spekulasi hingga kini, dokumen-dokumen itu dipercaya telah dipindahkan dan disembunyikan lagi beberapa kali. Spekulasi terkini mengatakan bahwa dokumen-dokumen itu ada di Inggris.`
Sophie tampak tak tenang.
`Selama seribu tahun,` Langdon melanjutkan, `legenda rahasia ini telah dialihkan. Keseluruhan dokumen itu, kekuatannya, dan rahasia yang dikandungnya telah menjadi terkenal dengan satu nama - Sangreal. Ratusan buku telah ditulis mengenai itu, dan sedikit saja misteri yang telah membangkitkan minat di kalangan ahli sejarah sebesar misteri Sangreal.
`Sangreal? Apakah kata itu punya hubungan dengan kata Prancis sang atau bahasa Spanyol sangre....artinya darah?` Langdon mengangguk. Darah merupakan tulang punggung Sangreal, namun tidak seperti yang mungkin dibayangkan Sophie. `Legenda itu rumit, tetapi hal penting untuk diingat adalah bahwa Biarawan menjaga bukti itu, dan menunggu waktu yang tepat dalam sejarah untuk mengungkap kebenaran.`
`Kebenaran apa? Rahasia apa yang dapat begitu bertenaga?` Langdon menarik napas dalam. Ia melihat ke luar pada bagian bawah perut Paris, mengerling dalam kegelapan. `Sophie, kata sungreal adalah kata kuno. Sudah selama bertahun-tahun kata itu mengalami perkembangan menjadi kata yang lain ... sebuah kata yang lebih modern.` Dia berhenti sejenak. `Ketika aku mengatakan padamu nama modernnya, kau akan tahu, bahwa kau sudah tahu banyak tentang itu. Kenyataannya semua orang di bumi ini pernah mendengar cerita tentang Sangreal.`
Sophie tampak ragu. `Aku belum pernah dengar tentang itu.` `Tentu sudah.` Langdon tersenyum. `Hanya saja, kau terbiasa mendengarnya disebut dengan nama ` Holy Grail '.`

38

SOPHIE MENGAMATI Langdon di bangku belakang taksi. Dia bercanda! `Cawan Perjamuan Suci?`
Langdon mengangguk, tarikan wajahnya bersungguh-sungguh. `Holy Grail adalah arti harfiah dari Sangreal. Frasa itu turunan dari kata Prancis sangraal, yang berkembang menjadi Sangreal, dan pada akhirnya terbagi menjadi dua kata, San Greal.`
Holy Grail. Sophie heran dia tidak segera melihat hubungan linguistik itu. Walau begitu, keterangan Langdon masih tidak masuk akal baginya. `Kupikir Holy Grail adalah sebuah cawan. Kau baru saja mengatakan bahwa Sangreal merupakan kumpulan dokumen-dokumen yang mengungkap rahasia gelap.`
`Ya, tetapi dokumen-dokumen Sangreal hanya merupakan separuh dari harta Holy Grail. Dokumen-dokumen itu terkubur bersama Grail itu sendiri ... dan menyingkapkan artinya yang sesungguhnya. Dokumen-dokumen itu memberi Templar begitu banyak kekuatan karena halaman-halamannya menyingkapkan sifat asli Grail.`
Sifat asli Grail? Sophie merasa semakin bingung sekarang, Sebelum ini dia mengira bahwa Holy Grail adalah cawan tempat Yesus minum pada Perjamuan Malam Terakhir, dan dengan cawan itu pulalah Yosef dari Arimathea menadahi darah Yesus pada penyaliban. `Holy Grail adalah Cawan Yesus,` kata Sophie. `Mudah saja, bukan?`
`Sophie,` Langdon berbisik, mencondongkan tubuhnya ke arahnya sekarang. `Menurut Biarawan Sion, Holy Grail sama sekali bukan sebuah cawan. Mereka mengaku bahwa legenda Grail legenda cawan - sesungguhnya merupakan kiasan sederhana yang hebat. Artinya, kisah tentang Grail itu menggunakan cawan sebagai metafora untuk sesuatu yang lain, sesuatu yang jauh lebih kuat.` Langdon terdiam sejenak. `Sesuatu yang sangat cocok dengan segala yang coba dikatakan kakekmu kepada kita malam ini, termasuk semua rujukan simbolis ke perempuan suci.`
Sophie tahu dari senyuman sabar Langdon bahwa Langdon mengerti akan kebingungannya, namun mata Langdon masih saja bersinar sungguh-sungguh. `Tetapi, jika Holy Grail bukan sebuah cawan, lalu apa?`
Langdon tahu pertanyaan ini akan muncul, namun dia tidak yakin bagaimana cara memberitahukannya kepada Sophie. Jika dia tidak menjawabnya dengan latar belakang sejarah yang betul, Sophie akan bertambah bingung, tarikan wajahnya sama persis dengan editor Langdon beberapa bulan yang lalu setelah Langdon menyerahkan konsep naskah yang sedang ditulisnya.
`Naskah ini menegaskan apa?` editornya tersedak, sambil meletakkan gelas anggurnya dan menatap makan siang besarnya yang tinggal separuh. `Kau main-main.`
`Aku cukup serius karena aku menghabiskan waktu satu tahun untuk menyelidikinya.`
Jonas Faukman, seorang editor kawakan New York, memegang-megang jenggotnya dengan panik. Faukman yakin, sepanjang kariernya yang membuatnya tersohor itu, dia pernah mendengar beberapa gagasan buku yang liar, namun yang ini membuat diri nya tercengang-cengang.
``Robert,` akhirnya Faukman berkata, `jangan salah mengerti. Aku suka pekerjaanmu, dan kita sudah bekerja sama dengan sangat baik. Tetapi jika aku menyetujui gagasan ini untuk diterbitkan, orang-orang akan memblokir rumahku selama berbulanbulan. Selain itu, reputasimu akan hancur. Demi Tuhan, kau ahli sejarah dari Harvard, bukan penulis kasar yang ingin cepat mendapatkan uang. Di mana kaudapatkan bukti yang cukup meyakinkan untuk mendukung teori seperti ini?`
Dengan tersenyum tenang, Langdon menarik selembar kertas dari saku jas wolnya dan memberikannya kepada Faukman. Kertas itu memuat daftar bibliografi yang terdiri lebih dari lima puluh judul buku-buku-buku tulisan para ahli sejarah yang ternama, beberapa merupakan buku baru, yang lainnya berumur berabadabad-dan banyak di antaranya merupakan buku akademis terlaris. Semua buku itu mengajukan pemikiran yang sama dengan apa yang ditulis Langdon. Ketika Faukman membaca daftar itu, dia tampak seperti orang yang baru saja menyadari bahwa ternyata bumi itu datar. `Aku kenal beberapa penulis ini. Mereka ... betulbetul ahli sejarah!`
Langdon menyeringai. `Seperti yang dapat kau lihat, Jonas, ini bukan teoriku saja. Teori ini sudah ada sejak lama. Aku hanya membuat teoriku berdasarkan teori lama. Belum ada buku yang mengungkap legenda Holy Grail dari sudut pandang simbolisme. Bukti ikonografi yang kutemukan untuk mendukung teori ini, yah, cukup meyakinkan.`
Faukman masih terus menatap daftar itu. `Astaga, salah satu dari buku ini ditulis oleh Sir Leigh Teabing-seorang sejarawan dan bangsawan Inggris.`
`Teabing telah menghabiskan banyak waktunya untuk mempelajari Holy Grail. Aku sudah bertemu dengannya. Dia sungguh merupakan bagian besar dari inspirasiku. Dia seorang yang percaya Jonas, seperti juga orang-orang lain yang tertulis dalam daftarku itu.`
`Kau mengatakan bahwa semua ahli sejarah di sini betulbetul percaya ...` Faukman mendeguk, rupanya tak mampu mengucapkan kata-katanya.
Langdon menyeringai lagi. `Holy Grail adalah harta karun yang paling dicari dalam sejarah manusia. Grail memiliki legenda yang berkembang, peperangan, dan pencarian seumur hidup. Masuk akalkah jika Grail hanya sebuah cawan? Jika begitu, maka peninggalan yang lainnya harus melahirkan daya tarik yang sama atau lebih besar-Mahkota Singgasana, Palang Asli Penyaliban, Gelar-gelar. Kenyataannya tidak demikian. Sepanjang sejarah, Holy Grail telah menjadi yang paling istimewa.` Langdon tersenyum. `Sekarang kautahu mengapa.`
Faukman masih menggoyangkan kepalanya. `Tetapi, setelah semua buku ini menulis tentang hal itu, mengapa teori ini tidak dikenal luas?`
`Buku-buku ini memang tidak mungkin ditandingkan dengan sejarah yang sudah mapan selama berabad-abad, terutama ketika sejarah itu didukung oleh buku terlaris sepanjang masa.`
Mata Faukman membelalak. `Jangan katakan Harry Potter adalah cerita tentang Holy Grail.`
`Maksudku Alkitab.`
Faukman merasa ngeri. `Aku tahu.`

`Laissez-le!` teriak Sophie keras pada pengemudi taksi. `Letakkan itu!`
Langdon tersentak ketika Sophie mencondongkan tubuhnya ke depan melewati tempat duduk dan membentak pengemudi taksi itu. Langdon dapat melihat pengemudi itu sedang memegangi corong radionya dan berbicara.
Sophie lalu menoleh dan memasukkan tangannya pada saku jas wol Langdon. Sebelum Langdon tahu apa yang terjadi, Sophie sudah menarik keluar pistol, mengayunkannya, dan akhirnya menekannya pada kepala pengemudi taksi itu. Lelaki itu segera menjatuhkan corong radionya, dan menaikkan satu tangannya yang bebas ke atas kepala.
`Sophie!` Langdon tercekik. `Apa-apaan........`
`Arretez!` Sophie memerintahkan pengemudi itu untuk berhenti.
Dengan gemetar, pengemudi itu mematuhinya, lalu menghentikan dan memarkirkan mobilnya.
Setelah itu barulah Langdon mendengar suara cempreng dari pangkalan pusat taksi yang keluar dari radio di dasbor taksi. `... qui s'appelle Agent Sophie Neveu ...` suara dari radio itu serak. `Et un Americain, Robert Langdon .... `
Otot Langdon menegang. Mereka sudah menemukan kita?
`Descendez, ` Sophie menyuruh pengemudi itu untuk turun.
Pengemudi yang gemetar itu terus mengangkat tangan di atas kepalanya ketika dia turun dari taksi dan mundur beberapa langkah.
Sophie menurunkan jendelanya dan sekarang mengarahkan pistolnya ke luar, ke sopir yang kebingungan itu. `Robert,` katanya perlahan, `pegang kemudi. Kau mengemudi.`
Langdon tidak mau berdebat dengan perempuan yang memegang pistol. Dia keluar dari mobil dan segera masuk lagi ke belakang kemudi. Pengemudi itu meneriakkan sumpah serapah, sementara tangannya masih terangkat ke atas.
`Robert,` Sophie berkata dari bangku belakang, `aku percaya kau sudah puas melihat hutan ajaib kami.` Langdon mengangguk. Sangat puas.
`Bagus. Antar kita keluar dari sini.`
Langdon melihat peralatan kemudi mobil itu dan tampak ragu. Sialan. Dia meraih tongkat persneling dan pedal kopling. `Sophie? Mungkin kau....`
`Jalan!` Sophie berteriak.
Di luar, beberapa pelacur berjalan mendekat untuk melihat apa yang terjadi. Seorang perempuan menelepon dengan telepon genggamnya. Langdon menekan pedal kopling dan menggeser tongkat persneling ke arah yang diharapkannya, gigi satu. Dia menyentuh pedal gas, mencoba gasnya.
Langdon melepas kopling. Roda-roda terdorong ketika taksi meloncat ke depan, berzigzag liar dan membuat para penonton di sisi jalan berlarian mencari perlindungan. Perempuan bertelepon genggam tadi meloncat masuk hutan, nyaris tertabrak.
`Doucement!` Sophie berkata, ketika mobil itu bergerak maju dengan cepat ke jalan. `Apa yang kau lakukan?`
`Aku sudah mencoba untuk memperingatkanmu,` teriak Langdon di antara suara gemeletik gigi mobil. `Aku biasa mengemudi mobil otomatis!`
39

WALAU KAMAR spartannya di rumah di Jalan Rue La Bruyere telah menjadi saksi atas banyak penderitaan, Silas merasa tak ada yang dapat menandingi penderitaan yang sekarang mencengkeram tubuh pucatnya. Aku ditipu. Semuanya hilang.
Silas telah terperdaya. Para anggota persaudaraan itu telah berbohong. Mereka memilih mati daripada membuka rahasia yang sebenarnya. Silas tidak punya kekuatan untuk menelepon Guru. Bukan saja dia telah membunuh keempat orang terakhir yang tahu di mana kunci itu disembunyikan, tetapi juga telah membunuh seorang biarawati di SaintSulpice. Dia bekerja melawan Tuhan! Dia mengejek pekerjaan Opus Dei!
Kematian perempuan itu telah sangat mempersulit persoalan. Uskup Aringarosa telah menelepon, yang memungkinkan Silas diizinkan ke Saint-Sulpice; apa pendapat abbe ketika dia tahu seorang biarawatinya tewas? Walau Silas telah membaringkan biarawati itu kembali di atas tempat tidurnya, namun luka di kepalanya sangat jelas terlihat. Silas juga bermaksud merapikan kembali lantai keramik yang pecah, namun kerusakan itu juga terlalu parah. Mereka akan tahu bahwa seseorang telah datang ke situ.
Silas telah berencana untuk bersembunyi di dalam Opus Dei ketika tugasnya di sini telah selesai. Uskup Aringarosa akan melindungiku. Silas tak dapat membayangkan adanya kehidupan yang lebih bahagia daripada kehidupan yang berisi meditasi dan doa, jauh di dalam dinding-dinding kantor pusat Opus Dei di New York City. Dia tidak akan pernah keluar lagi. Segala yang dibutuhkannya ada di rumah itu. Tak seorang pun akan merasa kehilangan aku. Sialnya, Silas tahu, seorang uskup besar seperti Aringarosa tidak dapat menghilang begitu saja.
Aku telah membahayakan uskup itu. Silas menatap kosong pada lantai itu dan berpikir untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Lagi pula, bukankah Aringarosa yang memberinya hidup, dulu... di sebuah rumah pendeta yang kecil di Spanyol, dengan mendidiknya dan memberinya tujuan hidup.
`Kawanku,` Aringarosa berkata padanya, `kaulahir sebagai seorang albino. Jangan biarkan seorang pun membuatmu malu karenanya. Kau tidak tahu betapa khususnya kau karena keadaanmu ini? Apakah kau tidak tahu bahwa Nuh sendiri juga seorang albino?`
`Nabi Nuh?` Silas tidak pernah mendengar hal itu. Aringarosa tersenyum. `Betul. Nabi Nuh. Seorang albino. Seperti dirimu, dia berkulit putih seperti malaikat. Ingat ini. Nuh menyelamatkan seluruh kehidupan di planet ini. Kau ditakdirkan untuk mengerjakan hal-hal penting, Silas. Tuhan telah membebaskanmu dengan satu alasan. Kau mendapat panggilan. Tuhan memerlukan bantuanmu untuk melaksanakan pekerjaan-Nya.` Setelah itu, Silas belajar untuk memandang dirinya dalam sinar baru. Aku murni. Putih. Indah. Seperti malaikat.
Pada saat itu, walau dia berada di dalam kamarnya di rumah itu, suara ayahnyalah yang berbisik dari masa lalu.
Tu es un desastre. Un spectre. (Kau adalah malapetaka, Hantu.)
Sambil berlutut di atas lantai kayu, Silas berdoa memohon ampun. Kemudian, setelah menanggalkan jubahnya, dia meraih lagi Disiplin itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar