Novel Da Vinci Code part 3

40

LANGDON MASIH berkutat dengan pergantian gigi, namun akhirnya dia dapat mengendalikan taksi rampasan itu melaju, menjauh dari Bois de Boulogne. Dia hanya mengalami mati mesin dua kali. Sialnya, kelucuan yang melekat pada keadaan ini dibayangi oleh pangkalan pusat taksi yang terus memanggil-manggil taksi mereka yang bernomor 563 melalui radio, dan minta dijawab segera.

`Voiture cinq-six-trois. Oic etes-vous? Repondez!` Ketika Langdon tiba di pintu keluar taman, dia menelan kelaki-lakiannya dan mengerem mobilnya. `Sebaiknya kau saja yang mengemudi.`

Sophie tampak lega ketika dia akhirnya duduk di belakang kemudi. Dalam beberapa detik saja dia telah membuat mobil itu menderum halus ke arah barat di sepanjang Allee de Longchamp, meninggalkan Taman Kenikmat' an Duniawi di belakang.

`Ke arah mana Rue Haxo?` tanya Langdon, melihat Sophie yang menaikkan jarum speedometer hingga lebih dari seratus kilometer per jam.

Mata Sophie tetap terpusat pada jalan. `Pengemudi taksi tadi mengatakan bahwa jalan itu berdekatan dengan stadion tenis Roland Garros. Aku tahu daerah itu.`

Langdon mengeluarkan lagi kunci berat itu dari sakunya, measakan beratnya pada telapak tangannya. Dia tahu, benda itu merupakan objek penuh risiko. Sangat mungkin itu merupakan kunci bagi kebebasannya sendiri.

Beberapa saat sebelum ini, ketika dia menceritakan kepada Sophie soal Templar, Langdon telah menyadari bahwa kunci ini, selain mempunyai segel embos Biarawan di atasnya, juga memiliki suatu ikatan lain yang lebih halus dengan Biarawan Sion. Palang dengan lengan seimbang merupakan simbol dari keseimbangan dan harmoni, namun juga simbol dari Templar. Semua orang telah melihat lukisan Templar yang mengenakan tunik putih dengan hiasan palang berlengan seimbang berwarna merah. Memang, lengan-lengan palang Templar sedikit melebar pada setiap ujungnya, namun semuanya tetap memiliki panjang yang sama.

Salib persegi. Betul-betul seperti kunci ini.

Langdon merasa khayalannya mulai menjadi liar ketika dia membayangkan apa yang mungkin mereka temukan nanti. Holy Grail. Dia hampir saja tertawa terbahak membayangkan keanehan itu. Grail dipercaya berada di suatu tempat di Inggris, terkubur di sebuah kamar tersembunyi, di bawah salah satu dari banyak gereja Templar. Grail telah disembunyikan di sana paling tidak sejak tahun 1500.

Era Mahaguru Da Vinci.

Untuk menjaga keamanan dokumen-dokumen berkekuatan itu, Biarawan telah terpaksa memindahkannya berulang-ulang pada abad-abad awal. Kini para ahli sejarah menduga bahwa Grail telah pernah dipindahkan sebanyak enam kali ke tempat-tempat yang berbeda sejak kedatangannya di Eropa dari Jerusalem. `Penampakan` Grail yang terakhir adalah pada tahun 1447, ketika selumlah saksi menggambarkan sebuah kebakaran yang terjadi dan hampir menelan dokumen-dokumen itu sebelum semuanya dibawa ke ternpat aman dalam empat peti besar yang masing-masing memerlukan enam orang untuk menggotongnya. Setelah itu, tak seorang pun pernah mengaku melihat Grail lagi. Yang tersisa adalah bisik-bisik bahwa Grail tersembunyi di Inggris Raya, negeri Raja Arthur dan Kesatria Meja Bundar.

Di mana pun itu, ada dua fakta yang tertinggal:

Leonardo tahu di mana Grail berada selama masa hidupnya. Tempat persembunyian itu mungkin tidak berubah hingga kini. Karena alasan ini, orang-orang yang berminat pada Grail masih mempelajari dengan tekun karya-karya seni Da Vinci dan buku hariannya dengan harapan mendapat petunjuk rahasia tentang tempat penyimpanan Grail sekarang. Beberapa orang menyatakan bahwa pegunungan di latar belakang lukisan Madonna of the Rocks sesuai dengan topografi dari serangkaian gua di perbukitan di Skotlandia. Yang lainnya yakin bahwa penempatan yang mencurigakan dari para murid di lukisan The Last Supper merupakan semacam kode. Namun ada juga yang menyatakan bahwa hasil sinar X pada Mona Lisa mengungkap bahwa perempuan itu memang telah dilukis mengenakan leontin berbatu lapis lazuli milik Isis-sebuah detail yang konon ditambahkan belakangan oleh Da Vinci pada lukisan tersebut. Langdon belum pernah melihat bukti leontin itu. Dia juga tidak dapat membayangkan bagaimana semua itu dapat mengungkap keberadaan Holy Grail. Namun, pencinta Grail masih tetap mendiskusikannya ad nauseam melalui media buletin internet dan ruang-ruang percakapan maya di seluruh dunia.

Semua orang suka konspirasi.

Dan, teori konspirasi itu terus berdatangan. Yang paling baru, tentu saja, merupakan penemuan yang menggemparkan bahwa lukisan Da Vinci yang terkenal, Adoration of the Magi, rnenyembunyikan rahasia gelap di bawah lapisan catnya. Pendiagnosa seni. Italia, Maurizio Seracini, telah menyingkap kebenaran yang belum pasti itu. New York Times Magazine memuat cerita mengheboh'kan itu dengan judul `The Leonardo Cover-Up`.

Seracini telah mengungkap tanpa ragu bahwa sketsa Adoration yang berwarna cat kelabu kehijauan memang pekerjaan Da Vinci, namun lukisan itu sendiri bukan karyanya. Yang benar adalah, sebagian pelukis tak dikenal telah menambahi sketsa Da Vinci seperti yang terjadi pada banyak lukisannya setelah dia meninggal. Yang lebih membingungkan adalah apa yang tersimpan di bawah sapuan para penipu itu. Foto-foto yang diambil dengan reflectografy infra merah dan sinar X menunjukkan bahwa si pelukis kasar ini, sambil mengisi sketsa Da Vinci, telah membuat perubahan mencurigakan atas gambar aslinya ... seolah ia melencengkan maksud Da Vinci yang sesungguhnya. Apa pun yang ada di bawah lap'tsan itu, lukisan itu harus dipamerkan. Meskipun demikian, petugas Galeri Uffizi di Florence yang merasa malu atas kejadian itu langsung membuang lukisan itu ke gudang di seberang jalan. Para pengunjung di galeri Ruang Leonardo sekarang dapat melihat sebuah pemberitahuan menyesatkan dan tanpa permohonan maaf di tempat Adoration tadinya tergantung.

KARYA INI SEDANG DIPROSES TES DIAGNOSTIK DALAM PERSIAPAN UNTUK RESTORASI

Di dunia hitam para pencari Grail modern yang aneh, sosok Leonardo da Vinci tetap merupakan teka-teki besar. Karya-karya seni Da Vinci tampak menyampaikan sebuah rahasia, namun tetap saja tersembunyi, mungkin di bawah lapisan cat, mungkin terkodekan langsung di atas lukisan, atau mungkin tidak di mana pun. Mungkin, kebanyakan dari petunjuk-petunjuk yang memancing minat itu bukan apa-apa, hanya janji kosong yang membuat orang-orang yang penasaran kecewa dan diejek oleh senyum Mona Lisa yang terkenal itu.

`Mungkinkah,` tanya Sophie, menyadarkan Langdon dari lamunannya, `kunci yang kau pegang itu membawa kita ke tempat persembunyian Holy Grail?`

Suara tawa Langdon terdengar dipaksakan, juga bagi diri Langdon sendiri. `Aku betul-betul tak dapat membayangkannya, Lagi pula, Grail dipercaya disembunyikan di sekitar Inggris, bukan di Prancis.` Langdon memberi Sophie sejarah singkat.

`Tetapi, Grail tampaknya merupakan satu-satunya hasil akhir yang masuk akal,` tegas Sophie. Kita punya kunci pengaman yang ekstrem, dicap dengan segel Biarawan Sion, diberikan kepada kita oleh anggota Biarawan Sion, sebuah kelompok yang, baru saja kaukatakan, merupakan penjaga Holy Grail.`

Langdon tahu pendapat Sophie itu masuk akal, namun secara naluriah Langdon tidak dapat menerimanya. Kabar angin menyatakan 6ahwa anggota Biarawan pernah bersumpah bahwa suatu hari kelak mereka akan membawa Grail kembali ke Prancis, ke tempat peristirahatan terakhir, namun tidak ada bukti sejarah yang tampak bahwa hal itu telah terjadi. Kalaupun Biarawan telah berhasil membawa Grail kembali ke Prancis, alamat Rue Haxo no. 24 di dekat sebuah stadiun tenis sulit diterima sebagai tempat peristirahatan terakhir yang layak baginya. `Sophie, aku betulbetul tidak melihat bagaimana kunci ini memiliki hubungan dengan Grail.`

`Karena Grail itu mungkin masih ada di Inggris?`

`Bukan itu saja. Lokasi Holy Grail merupakan rahasia yang paling terjaga dalam sejarah. Anggota Biarawan menungu berpuluh-puluh tahun untuk membuktikan diri mereka dapat dipercaya sebelum diangkat ke jajaran yang tertinggi dalam persaudaraan itu dan mengetahui tempat Grail. Rahasia itu terjaga oleh sebuah sistem yang rumit dari pengetahuan yang terbagibagi. Dan, walaupun persaudaraan itu sangat besar, hanya empat orang anggota pada setiap zamannya yang tahu di mana Grail disembunyikan mahaguru dan tiga senechaux-nya, pengawalnya. Kemungkinan bahwa kakekmu salah satu dari mereka adalah sangat tipis.

Kakekku salah satu dari mereka, pikir Sophie, sambil menekan pedal gas. Dia mempunyai gambaran yang tercetak dalam benaknya

bahwa kakeknya memang salah satu anggota persaudaraan itu, tak diragukan lagi.

`Dan, kalaupun kakekmu ada di jajaran tertinggi, dia tidak boleh mengungkap apa pun kepada siapa pun di luar keanggotaan mereka. Tidak mungkin kakekmu memasukkanmu ke dalam lingkaran itu.`

Aku sudah masuk ke sana, pikir Sophie, sambil mengingat ritual di ruang bawah tanah itu. Dia bertanya-tanya, apakah ini waktu yang tepat untuk mengatakan kepada Langdon apa yang telah disaksikannya pada malam itu di puri Normandia. Sudah sepuluh tahun sekarang, namun dia masih saja merasa malu untuk mengatakannya. Hanya dengan memikirkannya saja dia sudah merasa ngeri. Suara sirene terdengar dari kejauhan dan dia merasa keletihan yang menyelubunginya semakin tebal.

`Di sana!` kata Langdon merasa sangat gembira melihat kompleks besar stadion tenis Roland Garos di kejauhan.

Sophie mengemudikan mobil meliuk-liuk ke arah arena tenis itu. Setelah melewati beberapa jalan kecil, mereka menemukan persimpangan Rue Haxo. Mereka memasuki dan menelusurinya dari arah nomor bangunan terkecil. Jalan itu telah menjadi daerah industri; di tepi jalan tampak kegiatan bisnis.

Kita mencari nomor 24, Langdon mengingatkan dirinya sendiri setelah diam-diam matanya memindai puncak menara sebuah gereja. jangan keterlaluan. Sebuah gereja Templar yang terlantar di daerah ini?

`Itu dia!` seru Sophie sambil menunjuk.

Mata Langdon mengikuti ke sebuah bangunan di depan mereka. Apa itu?

Bangunan itu modern. Sebuah benteng penyimpanan dengan sebuah lampu neon berbentuk palang berlengan seimbang menghiasi bagian depannya. Di bawah palang itu tertera:

BANK PENYIMPANAN ZURICH

Langdon bersyukur tidak memberi tahu Sophie bahwa tadi dia berharap menjumpai gereja Templar. Kariernya sebagai ahli simbol membuatnya cenderung menarik makna tersembunyi dari setiap keadaan, walau sesungguhnya tidak selalu ada. Dalam hal ini, Langdon betul-betul lupa bahwa salib damai, berlengan seimbang, itu telah diadopsi sebagai simbol sempurna bagi bendera negara netral Swiss.

Paling tidak misteri itu sudah terpecahkan.

Sophie dan Langdon memegang kunci untuk membuka sebuah kotak penyimpanan pada bank Swiss.

41

DI LUAR puri Gandolfo, udara pegunungan berhembus naik ke puncak tebing dan melintasi jurang dalam, mengirimkan udara dingin pada Uskup Aringarosa ketika dia melangkah keluar dari Fiatnya. Seharusnya aku mengenakan pakaian yang lebih hangat dari pada jubah ini, pikirnya, sambil melawan refleksnya untuk menggigil. Dia sama sekali tidak boleh tampak lemah dan takut.

Puri itu gelap, kecuali jendela-jendelanya yang terletak di paling atas bangunan itu yang berkilau tak menyenangkan. Perpustakaan itu, pikir Aringarosa. Mereka bangun dan sedang menunggu. Dia menundukkan kepalanya melawan tiupan angin, dan terus berjalan tanpa menoleh, serta hanya mengerling pada kubah gedung observatorium itu.

Pendeta yang menyambutnya di pintu tampak mengantuk. Dia pendeta yang juga menyambutnya lima bulan lalu. Namun malam ini dia menyambut Aringarosa dengan kurang ramah. `Kami mengkhawatirkan Anda, Uskup,` kata pendeta itu, sambil melihat jam tangannya dan lebih tampak gelisah daripada khawatir.

`Maafkan saya. Akhir-akhir ini penerbangan tidak dapat dipercaya.`

Pendeta itu menggumamkan sesuatu yang tak terdengar, kemudian berkata, `Mereka menunggu di atas. Saya akan mengawal Anda ke atas.`

Perpustakaan itu merupakan ruangan persegi yang luas, dan berlapis kayu warna gelap dari lantai hingga langit-langitnya. Pada semua sisi, menjulang rak-rak buku penuh buku. Lantainya terbuat dari pualam kuning dengan hiasan tepi dari kayu balsa, satu pengingat yang indah bahwa gedung ini pernah berfungsi sebagai istana.

`Selamat datang, Uskup,` suara seorang lelaki terdengar dari seberang ruangan.

Aringarosa mencoba melihat siapa yang baru saja menyapanya, namun sinar dalam ruangan itu sangat redup-jauh lebih redup dibandingkan dengan saat kunjungannya yang pertama kali, ketika semuanya terang benderang. Malam kebangunan yang sebenarnya. Malam ini, orang-orang itu duduk dalam keremangan, seolah mereka malu akan apa yang akan segera menjadi jelas terpapar.

Aringarosa masuk perlahan, bahkan seperti raja. Dia dapat melihat bentuk tubuh ketiga orang itu, duduk pada sebuah meja panjang agak jauh ke dalam ruangan itu. Siluet lelaki yang duduk di tengah segera dikenalinya-Sekretaris Vatikan yang sangat gemuk, yang menguasai segala urusan hukum di dalam kota Vatikan. Dua lainnya adalah kardinal tinggi dari Italia.

Aringarosa melintasi ruangan perpustakaan itu menuju ke arah mereka. `Dengan rendah hati, saya mohon maaf atas keterlambatan ini. Kita berada dalam zona waktu yang berbeda. Kalian tentu letih.`

`Sama sekali tidak,` kata sekretaris itu, lengan-lengannya terlipat di atas perut besarnya. `Kami senang Anda telah datang jauh-jauh ke sini. Yang kami lakukan hanyalah bangun dan menemui Anda. Anda mau minum kopi atau penyegar lainnya?`

`Saya lebih senang kita tidak menjadikan ini sebagai pertemuan sosial. Saya harus mengejar pesawat yang lainnya. Mari kita segera selesaikan urusan kita.`

`Tentu saja,` kata sekretaris itu. `Anda telah bertindak lebih cepat dari yang kami bayangkan.`

`Begitu?`

`Anda masih punya waktu satu bulan lagi.`

`Anda telah menyampaikan maksud Anda lima bulan yang lalu,` kata Aringarosa. `Mengapa saya harus menunggu lebih lama?`

`Memang. Kami sangat senang dengan langkah Anda.`

Mata Aringarosa menjelajahi meja panjang itu hingga ke sebuah tas hitam besar. `Apakah itu yang saya minta?`

`Betul.` Suara sekretaris itu terdengar tidak tenang. `Walau harus kami katakan, kami prihatin pada permintaan itu. Itu tampak terlalu ....`

`Berbahaya,` salah satu kardinal menyelesaikan kalimat itu. `Anda yakin, kami tidak bisa mentransfer ini untuk Anda ke mana saja? Jumlahnya besar sekali.`

Kebebasan memang mahal. `Saya tidak mengkhawatirkan apa pun. Tuhan bersamaku.`

Tuan rumahnya sekarang betul-betul tampak bingung. `Jumlahnya persis sesuai dengan yang saya minta?` tanya Aringarosa.

Sekretaris itu mengangguk. `Satuan besar surat obligasi ditarik dari Bank Vatikan. Dapat dinegosiasikan untuk diuangkan di mana saja di seluruh dunia.`

Aringarosa berjalan ke ujung meja dan membuka tas itu. Di dalamnya ada dua tumpuk tebal surat obligasi, masing-masing dengan segel Vatikan dan tulisan PORTATORE, membuat obligasi itu dapat diuangkan oleh siapa pun yang membawanya.

Sekretaris itu tampak tegang. `Saya harus mengatakan, Uskup, kami semua akan merasa lebih nyaman jika derma ini berupa uang tunai saja.`

Aku tidak bisa mengangkat uang sebanyak itu, pikir Aringarosa sambil menutup tas itu. `Surat berharga dapat dinegosiasikan untuk diuangkan. Anda mengatakannya sendiri begitu tadi.`

Para kardinal saling bertatapan cemas, dan akhirnya salah satu dari mereka berkata, `Ya, tetapi surat-surat ini dapat dilacak langsung ke Bank Vatikan.`

Aringarosa tersenyum dalam hati. Memang inilah alasan Guru menganjurkan Aringarosa mengambil uang dalam bentuk obligasi Bank Vatikan. Terjamin seperti asuransi. Sekarang, kita semua ada di dalamnya bersama-sama. `Ini transaksi sah yang sempurna,` Aringarosa membela diri. `Opus Dei merupakan prelatur pribadi Kota Vatikan dan Yang Mulia Sri Paus dapat mengedarkan uang kapan pun dia anggap sesuai. Dalam hal ini tak ada pelanggaran hukum.`

`Betul, tetapi :...` Sekretaris itu mencondongkan tubuhya ke depan dan kursinya berderit karena beban di atasnya. `Kami tidak tahu apa yang akan Anda lakukan dengan surat-surat berharga itu, dan jika tindakan itu tidak legal ....`

`Mengingat apa yang Anda minta kepada saya,` Aringarosa menjawab, `apa yang saya lakukan dengan uang ini bukan urusan Anda.`

Ruangan itu menjadi sunyi, lama sekali.

Mereka tahu aku benar, pikir Aringarosa. `Sekarang, saya kira, Anda punya sesuatu untuk saya tanda tangani.`

Mereka semua terlonjak, bersemangat mendorong kertas itu ke arah Aringarosa, seolah mereka mengira ia akan pergi begitu saja.

Aringarosa mengamati kertas di depannya. Di atasnya tertera segel kepausan. `Ini sama dengan salinan surat yang Anda kirim kan kepada saya?`

`Betul.`

Aringarosa heran betapa dingin perasaannya ketika menan datangani dokumen itu. Bagaimanapun, ketiga tuan rumahnya tampak mendesah lega.

`Terima kasih, Uskup,` sekretaris itu berkata. `Pelayanan Anda kepada Gereja tak akan dilupakan.`

Aringarosa mengambil tas itu, merasakan ada janji dan otoritas dalam beratnya. Keempat orang itu saling tatap untuk sesaat, jangan-jangan masih ada yang akan dibicarakan. Namun tampaknya tidak ada lagi. Aringarosa memutar tubuhnya dan melangkah ke arah pintu.

`Uskup?` salah satu dari kardinal itu memanggil Aringarosa ketika uskup itu tiba di ambang pintu:

Aringarosa berhenti, menoleh. `Ya?` `Ke mana Anda akan pergi setelah' ini?.`

Aringarosa merasa pertanyaan ini lebih bersifat spiritual daripada geografis. Namun begitu dia tidak berniat untuk berbicara soal moral pada jam seperti ini. `Paris,` katanya, dan pergi ke luar pintu.

42

BANK PENYIMPANAN Zurich adalah bank Geldschrank yang buka 24 jam, menawarkan pelayanan anonim modern dalam tradisi nomor rekening Swiss. Memiliki kantor cabang di Zurich, Kuala Lumpur, New York, dan Paris, bank tersebut akhir-akhir ini telah memperluas pelayanannya, menawarkan pelayanan wasiat dengan kode komputer tanpa nama dan backup digital nirwajah.

Nasabah yang ingin menyimpan barang apa pun, dari sertifikat saham hingga lukisan berharga, dapat menyimpannya tanpa nama, dengan serangkaian teknologi tinggi yang melindungi rahasia nasabah, dan dapat mengambil simpanannya itu kapanpun, juga tanpa nama.

Ketika Sophie menghentikan taksinya di depan gedung tujuan mereka itu, Langdon menatap arsitektur gedung yang kokoh itu dan merasa bahwa Bank Penyimpanan Zurich merupakan perusahaan yang hanya punya sedikit rasa humor. Gedung itu berbentuk empat persegi panjang tak berjendela, tampak dibuat dari baja. Menyerupai tembok metal yang luar biasa, gedung besar itu berdiri menjorok ke belakang dari jalan raya. Pada bagian depannya terdapat neon berbentuk palang dengan lengan sama panjang setinggi lima belas kaki.

Reputasi Swiss dalam kerahasiaan bank telah menjadi ekspor yang paling menguntungkan bagi negeri itu. Fasilitas seperti ini telah diperdebatkan dalam komunitas seni, karena ia memberikan tempat yang sempurna bagi para pencuri benda seni untuk menyembunyikan barang-barang curian mereka, jika perlu selama bertahun-tahun, hingga pencarian benda hilang itu berhenti. Karena benda-benda simpanan itu terlindungi dari penyelidikan polisi berkat hukum kerahasiaan pribadi dan dikaitkan dengan nomor rekening dan bukannya nama orang, maka para pencuri akan tenang-tenang saja karena tahu benda curian mereka aman dan tak dapat dihubung-hubungkan dengan mereka.

Sophie menghentikan taksinya di depan gerbang yang luar biasa yang memblokir pintu depan bank tersebut-sebuah jalur melandai bertepi semen yang menurun di bawah gedung itu. Sebuah kamera video terpasang di atas, langsung mengarah ke mereka. Langdon merasa bahwa kamera itu, tidak seperti yang terpasang di Louvre, betul-betul asli.

Sophie menurunkan kaca jendela dan mengamati podium elektronik di luar, di sisi pengemudi. Sebuah layar LCD memberikan petunjuk dalam tujuh bahasa. Baris teratas adalah bahasa Inggris.

MASUKKAN KUNCI

Sophie mengambil kunci emas yang dibuat dengan sinar laser itu dari sakunya dan memerhatikan kembali podium tersebut. Di bawah layar ada sebuah lubang segi tiga.

`Saya merasa ini akan cocok,` kata Langdon.

Sophie mencocokkan batang segi tiga kunci itu ke lubang tersebut, kemudian memasukkannya. Kunci emas itu menyusup hingga seluruh batangnya tenggelam. Ternyata kunci itu tidak perlu diputar. Dalam sekejap, pintu gerbang itu terayun membuka.

Sophie melepas injakan kakinya dari pedal rem, kemudian meluncurkan mobilnya ke arah gerbang dan podium kedua. Di beakang Sophie, pintu gerbang pertama tertutup kembali, memerangkap mereka seperti dalam bubu ikan.

Langdon tidak suka berada dalam keadaan terperangkap seperti ini. Mudah-mudahan gerbang kedua juga dapat terbuka. Podium elektronik kedua memberikan petunjuk yang sama.

MASUKKAN KUNCI

Ketika Sophie memasukkan kuncinya, gerbang kedua itu langsung .terbuka. Sesaat kemudian mereka telah melesat dan masuk ke perut gedung.

Garasi pribadi itu kecil dan remang-remang, dan hanya muat kira-kira untuk dua belas mobil. Di ujung garasi, Langdon melihat pintu masuk gedung. Permadani merah terbentang di atas lantai semen, mengantar pengunjung ke sebuah pintu besar yang tampaknya terbuat dari besi.

Ini seperti pesan ganda, pikir Langdon. Selamat datang dan jangan mendekat.

Sophie memarkir taksinya di tempat lowong di dekat pintu masuk dan mematikan mesin. `Sebaiknya tinggalkan pistolmu disini.

Dengan senang hati, pikir Langdon sambil mendorong pistol itu ke bawah bangku.

Sophie dan Langdon merah ke arah lempengan pembuka, namun pada dinding di lagi. Kali ini tidak ada petunjuk.

`Untuk menahan orang-orang yang lamban rnengerti,` kata Langdon.

Sophie tertawa, tarnpak gugup. Kemudian dia memasukkan kunci itu ke dalam lubangnya, dan pintu itu terbuka ke dalam dengan suara berdengung rendah. Setelah bertukar pandang, me reka masuk. Pintu itu tertutup dengan dentaman ringan di belakang mereka. keluar dan berjalan di atas permadani baja itu. Pintu itu tak punya pegangan sampingnya ada lubang kunci

Ruang depan Bank Penyimpanan Zurich berdekorasi luar biasa. Langdon belum pernah melihat dekorasi seperti ini. Bankbank lain berdekor pualam dan batu granit, namun bank ini rnemilih untuk menghiasi ruangannya dengan metal dan paku.

Siapa dekorator mereka? Langdon bertanya-tanya. Persekutuan Baja'

Sophie merasa merinding juga ketika mengamati lobi itu. Metal kelabu di mana-mana-lantai, dinding, loket-loket, pintu-pintu, bahkan tempat duduk lobi tampak dibuat dengan cetakan besi. Walau begitu, efeknya mengesankan. Pesan yang disampaikan jelas: Anda berjalan memasuki sebuah ruangan besi. Seorang lelaki besar di belakang loket menatap ketika mereka masuk. Dia mematikan televisi kecil yang sedang ditontonnya dan menyapa mereka dengan senyum ramah. Walau lelaki itu begitu berotot dan bersenjata, kata-katanya yang teramat santun menggemakan kerendahan hati seorang pelayan Swiss.

`Bonsoir,` dia menyapa selamat malam. `Ada yang bisa saya bantu?`

Sambutan tuan rumah dalam dua bahasa merupakan trik ramah tamah terbaru dari orang Eropa. Sapaan itu tidak berdasarkan dugaan apa pun dan si tamu bisa menjawab dengan bahasa apa pun yang ia sukai.

Sophie tidak menjawab. Dia hanya meletakkan kunci emas di atas meja di depan lelaki itu.

Lelaki itu langsung berdiri lebih tegak. `Tentu saja. Lift Anda di ujung gang. Saya akan memberi tahu seseorang bahwa Anda sedang menuju ke sana.`

Sophie mengangguk dan mengambil kembali kuncinya. `Lantai berapa?`

Lelaki itu menatapnya aneh. `Kunci Anda akan memberi tahu lift lantai berapa.`

Sophie tersenyum. `Oh, ya.`

Penjaga menatap kedua tamu itu saat mereka berjalan menuju lift, memasukkan kunci mereka, masuk ke dalam lift, kemudian menghilang. Begitu pintu lift tertutup, penjaga itu mengambil telepon. Dia tidak menelepon untuk memberi tahu seseorang atas kedatangan kedua orang ini, karena itu tidak perlu. Sebuah ruang besi telah disiagakan secara otomatis untuk menyambut ketilca kunci nasabah dimasukkan ke lubang kunci di pintu gerbang.

Sebaliknya, penjaga itu menelepon manajer malam. KetiKa telepon tersambung, penjaga itu menyalakan televisi lagi dan menatapnya. Siaran berita yang tadi ditontonnya baru saja berakhir. Itu tidak penting. Dia sekarang menatap dua wajah yang terpampang di televisi.

Manajer malam menjawab. `Dui?` `Kita ada masalah di sini.`

`Ada apa?` tanya manajer itu.

`Polisi Prancis sedang mengejar dua orang pelarian malam ini.`

`Lalu?`

`Keduanya baru saja masuk ke bank kita.`

Manajer itu mengumpat perlahan. `Baik. Aku akan segera menghubungi Pak Vernet.`

Penjaga itu kemudian meletakkan teleponnya dan menelepon lagi. Kali ini dia menelepon interpol.

Langdon heran karena merasa bahwa lift itu bukan naik, tapi justru turun. Dia tidak tahu telah berapa lantai mereka turun ke bawah Bank Penyimpanan Zurich ini sebelum akhirnya pintu lift terbuka. Dia tidak peduli. Dia senang keluar dari lift.

Dengan menunjukkan kecekatan yang mengagumkan, seorang penerima tamu telah siap menyambut mereka. Lelaki itu sudah berumur dan ramah, mengenakan jas flanel yang diseterika rapi yang membuatnya tampak salah tempat-seorang pegawai tua di dunia berteknologi tinggi.

`Bonsoir,` kata orang itu. `Selamat malam. Anda berkenan mengikuti saya, sil vous plait?` Tanpa menunggu jawaban, dia berputar dan berjalan cepat memasuki koridor sempit berdinding metal.

Langdon berjalan bersama Sophie memasuki beberapa koridor, melewati beberapa ruangan besar berisi layar komputer yang berkedap-kedip.

`Uoici, ` tuan rumah mereka berkata ketika mereka tiba di sebuah pintu besi dan membukanya untuk mereka. `Nah, Anda sudah sampai.`

Langdon dan Sophie melangkah memasuki dunia yang lain. Ruangan kecil di depan mereka tampak seperti ruang duduk yang mewah di hotel mahal. Segala dinding besi dan paku telah menghilang, diganti dengan permadani oriental, perabotan dari kayu ek berwarna gelap, dan kursi berbantal. Pada meja lebar di tengah ruangan, dua gelas kristal diletakkan berdekatan dengan sebotol Perrier yang terbuka, gelembungnya masih bergerak-gerak ke atas. Seteko kopi mengepul di sebelahnya.

Mesin jam, pikir Langdon. Serahkan saja pada orang Swiss. Lelaki itu tersenyum mengerti. `Saya kira ini kunjungan Anda yang pertama ke sini. Betul?`

Sophie ragu-ragu, kemudian menganguk.

`Saya mengerti. Kunci-kunci itu sering diwariskan, dan tamu kami yang baru pertama kali berkunjung biasanya bingung pada protokol kami.` Dia menunjuk pada meja minuman. `Ruangan ini adalah milik Anda sepanjang Anda mau menggunakannya.`

`Tadi Anda bilang bahwa kunci sering diwariskan?` tanya Sophie.

`Betul. Kunci Anda seperti nomor rekening di Bank Swiss, yang sering beralih dari generasi ke generasi. Untuk rekening emas kami, penyewaan kotak simpanan tersingkat adalah lima puluh tahun. Dibayar di muka. Jadi kami biasa melihat banyak pergantian keluarga pemegang warisan itu.

`Anda bilang Iima puluh tahun?` tanya Langdon.

`Paling cepat,` jawab tuan rumah mereka. `Tentu saja, Anda dapat menyewa lebih lama lagi, tetapi harus ada pengurusan lagi. Jika tidak ada kegiatan pada sebuah rekening selama lima puluh tahun, isi kotak penyimpan itu secara otomatis dihancurkan. Saya boleh menjelaskan proses membuka kotak penyimpanan Anda?`

Sophie mengangguk. `Silakan.`

Tuan rumah mereka menyapukan tangannya ke sekeliling ruang mewah itu. `Ini ruangan pribadi Anda. Begitu saya meninggalkan ruangan ini, Anda boleh menggunakan waktu yang Anda perlukan di sini untuk melihat dan mengubah isi kotak penyimpanan Anda, yang berada ... di sini.` Dia kemudian mengajak tamunya ke dinding yang jauh dari mereka, tempat sebuah ban berjalan yang lebar memasuki ruangan, hampir sama dengan ban berjalan di tempat pengambilan barang di bandara. `Masukkan kunci Anda di lubang itu ....` Orang itu menunjuk pada sebuah podium elektronik yang besar dan menghadap ke ban berjalan. Podium itu memiliki lubang segi tiga yang telah pernah mereka lihat. `Begitu komputer mengenali tanda-tanda pada kunci Anda, masukkan nomor rekening Anda, dan kotak penyimpanan Anda akan keluar secara otomatis dari tempat penyimpanan di bawah. Jika Anda telah selesai dengan kotak Anda, letakkan kembali pada ban berjalan itu, masukkan kunci Anda lagi, dan prosesnya akan berjalan berbalik. Karena semuanya berjalan secara otomatis, kerahasiaan Anda terjamin, bahkan dari pegawai bank ini. Jika Anda memerlukan apa pun, tekan tombol panggilan di atas meja di tengah ruangan ini.`

Sophie baru saja ingin mengajukan sebuah pertanyaan ketika telepon berdering. Lelaki itu tampak bingung dan malu. `Maaf.` Lalu, dia menghampiri telepon yang terletak di meja, di samping kopi dan Perrier tadi.

`Oui?` jawabnya.

Alisnya berkerut ketika mendengarkan suara penelepon itu. `Oui ... oui ... d accord. ` Dia meletakkan telepon, dan tersenyum kaku pada tamunya. `Maaf, saya harus meninggalkan Anda sekarang. Anggaplah seperti rumah sendiri.` Dia bergerak cepat menuju pintu.

`Maaf,` seru Sophie. `Dapatkah Anda menjelaskan sebelum pergi? Anda tadi mengatakan bahwa kami harus memasukkan nomor rekening?`

Orang itu berhenti di pintu, tampak pucat. `Tentu saja. Seperti bank-bank Swiss lainnya, kotak penyimpanan kami terhubung dengan sebuah nomor rekening, bukan nama orang. Anda punya kunci dan nomor rekening pribadi yang diketahui oleh Anda sendiri. Kunci itu hanya merupakan setengah dari pengenal Anda. Nomor rekening adalah setengah lainnya. Kalau tidak, maka jika Anda kehilangan kunci itu, orang lain dapat menggunakannya.`

Sophie ragu-ragu. `Dan, jika pewarisku tidak memberiku nomor rekening?`

Jantung pegawai bank itu berdetak keras. Kalau begitu Anda tidak punya urusan di sini! Dia melontarkan senyum tenang. `Saya akan meminta orang lain untuk membantu Anda. Dia akan segera datang.`

Sambil pergi, pegawai bank tadi menutup pintu dan memutar kunci besar, mengurung mereka di dalam.

Di kota, Collet sedang berdiri di terminal kereta api Gare du Nord ketika teleponnya berdering.

Dari Fache. `Interpol sudah mendapatkannya,` katanya. `Lupakan kereta api itu. Langdon dan Neveu baru saja memasuki Bank Penyimpanan Zurich cabang Paris. Aku mau orang-orangmu ke sana sekarang.`

`Sudah ada petunjuk tentang apa yang Sauniere coba katakan kepada agen Neveu dan Langdon?`

Suara Fache terdengar dingin. `Jika kau dapat menangkapnya, Letnan Collet, aku dapat menanyakan itu secara pribadi pada mereka.`

Collet mencatat petunjuk. `Rue Haxo nomor 24. Segera, Kapten.` Kemudian dia memutuskan hubungan dan mengontak anggotanya melalui radio.

43

ANDRE VERNET.......Presiden Bank Penyimpanan Zurich cabang Paris-tinggal di flat mewah di atas bank tersebut. Walau dia mendapatkan akomodasi mewah, dia masih saja memimpikan memiliki apartemen di tepi sungai di L'ile Saint-Louis, tempat dia dapat berhandaihandai dengan kalangan cognoscenti sejati, bukannya di sini, tempat dia hanya bertemu dengan orang-orang kaya bertangan kotor.

Saat aku pensiun nanti, Vernet berkata pada dirinya sendiri, aku akan mengisi gudang bawah tanahku dengan anggur Bordeaux yang langka, menghiasi ruang dudukku dengan sebuah karya Fraginard dan mungkin sebuah Boucher, dan menghabiskan hari-hariku dengan berburu perabotan antik dan buku-buku langka di Quartier Latin.

Malam ini, Vernet baru terbangun enam setengah menit yang lalu. Walau begitu, dia kini sudah harus bergegas melewati koridor bawah tanah bank tersebut. Toh, dia tampil begitu berkilau, seakan penjahit dan penata rambut pribadinya baru saja mendandaninya. Ia berbusana tanpa cela dalam setelan suteta.

Sambil berjalan, ia menyemprotkan pewangi napas dan mengeratkan dasinya. Terbiasa dibangunkan untuk melayani nasabah internasional yang memiliki zona waktu berbeda, Vernet telah mengatur kebiasaan tidurnya mengikuti cara para prajurit Maasai, sebuah suku Afrika yang terkenal karena kemampuan mereka untuk terbangun dari tidur yang terlelap sekalipun dan, dalam sekejap, sudah siap total untuk maju berperang.

Siap tempur, pikir Vernet, sambil takut jika perbandingan itu benar-benar tepat untuk malam ini. Kedatangan seorang nasabah kunci emas selalu menuntut perhatian tambahan, tapi kedatangan seorang nasabah kunci emas yang dicari Polisi Judisial akan menjadi masalah yang sangat rumit. Bank ini sudah cukup sering berkelahi dengan penegak hukum tentang hak kerahasiaan nasabah mereka yang tanpa bukti dituduh sebagai penjahat.

Lima menit, Vernet berkata pada dirinya sendiri. Aku harus mengeluarkan orang-orang ini dari bankku sebelum polisi datang. Vernet dapat mengatakan kepada polisi bahwa buronan itu memang telah masuk ke banknya, seperti yang dilaporkan, tetapi karena bukan nasabah dan tidak punya nomor rekening, mereka diusir keluar. Dia berharap penjaga sialan itu tidak menelepon interpol. Bijaksana rupanya tidak termasuk ke dalam kosa kata seorang penjaga malam yang dibayar 15 euro per jam.

Dia berhenti di ambang pintu, lalu menarik napas panjang dan mengendurkan otot-ototnya. Kemudian dia memaksakan senyuman segar, membuka pintu, dan menyelinap ke dalam ruangan itu seperti angin hangat.

`Selamat malam,` katanya, menatap nasabahnya. `Saya Andre Vernet. Ada yang dapat saya ban ....` Sisa kalimatnya tertahan di antara jakunnya. Perempuan di depannya sama sekali merupakan tamu yang tak terduga baginya.

`Maaf, apakah kita saling kenal?` tanya Sophie. Dia tidak mengenal bankir itu, namun bankir itu tampak seperti baru saja melihat hantu.

`Tidak ...,` presiden bank itu bergagap. `Saya rasa ... tidak. Pelayanan kami anonim.` Dia menghembuskan napas dan memaksakan senyuman. `Asisten saya mengatakan bahwa Anda memiliki kunci emas tetapi tidak punya nomor rekening? Boleh saya tahu bagaimana Anda mendapatkan kunci itu?`

`Kakekku memberikannya padaku,` jawab Sophie sambil menatap tajam lelaki itu. Kegugupannya semakin jelas sekarang. `Betulkah? Kakek Anda memberikan kunci itu tetapi tidak memberikan nomor rekening?`

`Saya rasa dia tidak punya waktu,` kata Sophie. `Dia dibunuh malam ini.`

Kata-kata Sophie membuat orang itu terhuyung ke belakang. `Jacques Sauniere meninggal?` tanyanya, matanya penuh ketakutan. `Tetapi ... bagaimana?`

Sekarang Sophie yang terhuyung, termangu karena sangat terkejut. `Anda mengenal kakek saya?`

Bankir Andre vernet juga tampak heran, kemudian dia berpegang pada bibir meja untuk menahan tubuhnya. `Jacques dan aku bersahabat dekat. Kapan ini terjadi?`

`Malam tadi. Di dalam Louvre.`

vernet berjalan ke arah bangku kulit dan duduk di atasnya. `Aku harus bertanya kepada kalian berdua, sangat penting.` Dia menatap Langdon dan kembali ke Sophie. `Apakah kalian ada hubungannya dengan kematiannya?`

`Tidak!` aku Sophie. `Sama sekali tidak.`

Wajah vernet muram, dan dia berhenti sejenak, mempertimbangkan sesuatu. `Foto kalian sudah disebar oleh interpol. Karena itulah aku mengenalimu. Kau dicari karena pembunuhan.`

Sophie merosot. Fache telah menyiarkan melalui interpol? Tam paknya sang kapten lebih bersemangat daripada yang diperkirakan Sophie. Sophie kemudian dengan cepat mengatakan kepada Vernet siapa Langdon dan apa yang terjadi di dalam Louvre malam ini. Vernet tampak kagum. `Dan, dalam keadaan sekarat, kakek` mu masih sempat meninggalkan pesan dan menyuruhmu mencari Langdon?`

`Ya. Dan kunci ini.` Sophie meletakkan kunci itu di atas meja di depan Vernet, dengan segel Biarawan Sion menghadap ke bawah.

Vernet menatap kunci itu namun tidak bergerak untuk menyentuhnya. `Dia hanya meninggalkanmu kunci ini? Tidak ada lagi? Tidak secarik kertas?`

Sophie tahu, dia begitu tergesa-gesa ketika di dalam Louvre, namun dia yakin tidak melihat apa pun lagi di balik Madonna of the Rocks. `Tidak. Hanya kunci ini.`

Vernet mendesah putus asa. `Aku khawatir, setiap kunci secara elektronik dipasangkan dengan sepuluh angka yang berfungsi sebagai password. Tanpa nomor itu, kuncimu tidak ada artinya.`

Sepuluh angka. Sophie dengan enggan menghitung kemungkinan kriptograf. Ada sepuluh milyar kemungkinan pilihan. Walaupun dia menggunakan parallel processing computers yang paling canggih milik DCPJ, dia akan memerlukan waktu bermingguminggu untuk memecahkan kode itu. `Ayolah, Monsieur, dengan mempertimbangkan keadaan ini, kau bisa membantu kami.`

`Maafkan aku. Aku betul-betul tak dapat berbuat apa pun. Para nasabah memilih sendiri nomor rekening mereka melalui terminal pengaman. Artinya, nomor rekening itu hanya dikenali oleh nasabah itu sendiri dan komputer. Ini satu-satunya cara kami untuk memastikan kerahasiaan nasabah. Dan keamanan pegawai kami juga.`

Sophie mengerti. Toko-toko yang baik melakukan hal yang sama. PEGAWAI TIDAK PUNYA KUNCI TEMPAT PENYIMPANAN. Bank ini pastilah tidak mau mengambil risiko seseorang mencuri, kunci dan menyandera seorang pegawai untuk mendapatkan nomor rekening.

Sophie duduk dekat Langdon, menatap kunci itu, kemudian ke Vernet. `Kau tahu kira-kira apa yang disimpan kakekku di bankmu?`

`Sama sekali tidak. Itulah makna dari bank Geldschrank. ` `Monsieur Uernet,` Sophie mendesak, `waktu kami sangat singkat. Aku akan berterus terang, jika boleh.` Sophie meraih kunci emas itu dan menggoyang-goyangkannya, menatap mata orang itu saat memperlihatkan segel Biarawan Sion. `Anda tahu arti simbol ini?`

Vernet menatap segel fleur-de-lis dan tak bereaksi. `Tidak, tetapi hanyak nasabah kami mencetak timbul logo perusahaannya atau inisial pada kunci mereka.`

Sophie mendesah, masih tetap menatapnya dengan tajam. `Ini simbol dari perkumpulan rahasia, dikenal dengan nama Biarawan Sion.

Kembali Vernet tidak memperlihatkan reaksi. `Aku tidak tahu apa-apa tentang ini. Kakekmu memang temanku, tetapi kami hanya berbicara umumnya tentang pekerjaan.` Orang itu memperbaiki dasinya, tampak gugup sekarang.

`Monsieur vernet,` Sophie mendesak, suaranya terdengar tegas. `Kakekku meneleponku tadi malam dan mengatakan bahwa dia dan aku dalam bahaya. Dia bilang akan memberiku sesuatu: Dia memberiku kunci bankmu. Sekarang, dia sudah meninggal. Apa pun yang dapat kaukatakan kepada kami akan sangat membantu.`

Vernet mulai berkeringat. `Kita harus keluar dari gedung ini. Aku khawatir polisi akan segera tiba. Penjagaku merasa harus menelepon interpol.`

Sophie takut juga. Dia mencoba untuk terakhir kalinya. `Kakekku bilang dia harus mengatakan yang sebenarnya tentang keluargaku. Kau tahu itu?`

`Mademoiselle, keluargamu tewas dalam kecelakaan mobil ketika kau masih kecil. Aku menyesal sekali. Aku tahu kakekmu sangat mencintaimu. Dia beberapa kali mengatakan betapa dia sangat sedih ketika kau memutuskan hubungan dengannya.`

Sophie tidak tahu bagaimana harus menanggapinya. Langdon bertanya, `Apakah isi kotaknya ada hubungannya dengan Sangreal?`

Vernet menatapnya dengan aneh. `Aku tidak tahu apa itu.` Saat itu juga telepon genggam Vernet berdering, dan dia langsung meraihnya dari ikat pinggangnya. `Oui?` Dia lalu mendengarkan

sesaat. Tarikan wajahnya seperti terkejut dan serius. `Polisi? Begitu cepat?` Dia mengumpat dan memberi beberapa petunjuk cepat dalam bahasa Prancis, dan mengatakan bahwa dia akan tiba di lobi segera.

Setelah menutup teleponnya, Vernet menoleh kembali ke arah Sophie. `Polisi telah bereaksi jauh lebih cepat daripada biasanya. Mereka sudah ke sini saat kita berbicara.`

Sophie tidak ingin pergi dengan tangan kosong. `Katakan kepada mereka kita sudah pergi. Jika mereka ingin menggeledah bank ini, minta surat izin penggeledahan. Itu akan mengulur waktu mereka.`

`Dengar,` kata Vernet, `Jacques adalah temanku, dan bankku tidak memerlukan keadaan seperti ini. Jadi karena dua alasan itu, aku tidak akan membiarkan penangkapan ini terjadi di tempatku. Beri aku waktu sejenak dan aku akan tahu apa yang harus kulakukan untuk menolong kalian meninggalkan bank ini tanpa diketahui. Selebihnya, aku tidak mau terlibat.` Dia berdiri dan bergegas menuju pintu. `Tetaplah di sini. Aku akan atur dan akan segera kembali.`

`Tetapi kotak penyimpanan itu,` Sophie mengingatkan. `Kami tidak bisa pergi begitu saja.`

`Tidak ada yang dapat kulakukan,` kata Vernet, bergegas ke pintu, `Maafkan aku.`

Tatapan Sopie mengikutinya sebentar, bertanya-tanya apakah mungkin nomor rekening itu terkubur di salah satu dari suratsurat dan paket kakeknya yang tak terhitung jumlahnya itu. Kakeknya telah mengirim semua itu selama beberapa tahun dan Sophie tetap membiarkannya tak terbuka.

Tiba-tiba Langdon berdiri, dan Sophie merasakan adanya cahaya kepuasan yang tak terduga pada mata Langdon.

`Robert, kau tersenyum.` `Kakekmu memang genius.` `Maaf?`

`Sepuluh angka?`

Sophie tidak tahu apa yang Langdon katakan.

`Nomor rekening itu,` kata Langdon, seringai miring yang biasa itu mulai menghiasi wajahnya. `Aku sangat yakin, dia telah meninggalkannya pada kita.`

`Di mana?`

Langdon mengeluarkan foto kejadian kejahatan di Louvre tadi dan meletakkannya di atas meja. Sophie hanya perlu membaca baris pertama untuk mengetahui Langdon benar.

13-3-2-21-1-1-8-5 O, Draconian devil! Oh, lame saint!

PS. Cari Robert Langdon

`SEPULUH ANGKA,` kata Sophie, firasat kriptologinya tergelitik ketika dia mempelajari cetakan itu.

13-3-2-21-1-1-8-5

Grand-pere menulis nomor rekeningnya di atas lantai Louvre!

Ketika Sophie melihat untuk pertama kalinya deret Fibonacci di atas lantai parket, dia menduga tujuan deret tersebut hanyalah agar DCPJ menghubungi kriptografer dan melibatkan Sophie. Kemudian dia tahu nomornomor itu juga sebuah petunjuk bagaimana memecahkan baris lainnya-sebuah deret yang tak teratur ... sebuah anagram angka. Sekarang, dia betul-betul kagum. Nomor-nomor itu ternyata mempunyai arti yang lebih penting lagi. Mereka hampir yakin bahwa ini adalah kunci terakhir untuk membuka kotak penyimpanan misterius kakeknya.

`Dia pakar dari double-entendres,` kata Sophie, menoleh ke arah Langdon. `Dia suka pada semua yang memiliki arti berlapis-lapis. Kode di dalam kode.`

Langdon bergerak ke arah podium elektronik di dekat ban berjalan. Sophie menggenggam foto tadi dan mengikutinya. Podium itu memiliki tombol-tombol nomor seperti di ATM. Layarnya menampakkan logo palang, logo bank ini. Di samping nomor-nomor itu ada lubang kunci segi tiga. Sophie tidak membuang waktu dan segera memasukkan kuncinya ke lubang itu. Layar itu langsung berubah.

NOMOR REKENING:

- - - - - - - - - -

Kursornya berkedip. Menunggu.

Sepuluh angka. Sophie membaca angka-angka dalam foto itu, dan Langdon mengetiknya.

NOMOR REKENING:

1332211185

Ketika Langdon telah mengetik angka terakhir, tampilan layar itu berubah lagi. Sebuah pesan dalam beberapa bahasa muncul. Bahasa Inggris ada di baris teratas.

PERHATIAN:

Sebelum Anda menekan tombol 'enter', harap periksa kebenaran nomor rekening Anda. Demi keselamatan Anda sendiri, jika komputer tidak mengenali nomor rekening Anda, sistem ini akan mati secara otomatis.

`Fonction terminer,` kata Sophie dengan mengerutkan dahinya. `Tampaknya, kita hanya mempunyai satu kesempatan.` Mesin ATM standar memungkinkan pengguna untuk mencoba sebanyak tiga kali pengetikan nomor PIN sebelum bank menyita kartu mereka. Ini jelas bukan mesin penarik uang tunai biasa.

`Nomor itu tampak sudah benar,` kata Langdon meyakinkan. Ia dengan hati-hati meneliti deretan nomor yang diketiknya dan mencocokkannya dengan yang tertera pada kertas. Dia menunjuk ke arah tombol ENTER. `Mulai.`

Sophie mengulurkan telunjuknya ke arah tombol itu, namun ragu-ragu. Sebuah pikiran aneh memasuki benaknya sekarang. `Ayo,` desak Langdon. `Vernet akan segera kembali.` `Tidak.` Sophie menarik kembali jarinya. `Ini bukan nomor rekening yang betul.`

`Tentu saja betul! Sepuluh angka. Yang mana lagi?` `Terlalu acak urutannya.`

Terlalu acak? Langdon sangat tidak setuju. Setiap bank menganjurkan nasabahnya untuk memilih nomor PIN yang acak sehingga tidak seorang pun dapat menerkanya. Tentu saja nasabah di sini juga akan dianjurkan hal yang sama.

Sophie menghapus semua angka yang baru saja diketiknya dan menatap Langdon. Tatapannya sangat percaya diri. `Tidak terlalu kebetulan bila nomor rekening yang acak ini bisa diatur ulang sesuai dengan deret Fibonacci.`

Langdon sadar bahwa Sophie benar. Sebelumnya, Sophie pernah mengatur kembali nomor rekening ini menjadi deret Fibonacci. Sophie kembali pada tombol-tombol itu lagi, memasukkan nomor yang berbeda, seolah semua itu ada dalam benaknya. `Lagi pula, mengingat kakekku mencintai simbolisme dan kode-kode, wajar saja jika dia memilih nomor rekening yang punya arti baginya, sesuatu yang mudah diingatnya.` Sophie selesai mengetik deret itu, dan tersenyum simpul. `Sesuatu yang tampak acak ... tetapi sesungguhnya tidak.`

Langdon melihat ke layar.

NOMOR REKENING:

1123581321

Langdon segera tahu, begitu dia melihat urutan nomor-nomor itu, Sophie benar.

Deret Fibonacci 1-1-2-3-5-8-13-21

Jika deret Fibonacci ditulis dalam satu rangkaian nomor sepuluh angka, maka deret itu tidak akan kasat mata. Mudah diingat, tetapi tampak acak. Sebuah kode sepuluh angka yang sangat hebat yang tak akan dilupakan oleh Sauniere. Lagi pula, itu merupakan penjelasan sempurna mengapa nomor-nomor acak di atas lantai Louvre dapat diatur kembali untuk membentuk deret yang terkenal itu.

Sophie mengulurkan jarinya dan menekan ENTER.

Tidak ada yang terjadi.

Setidaknya tak ada yang dapat mereka lihat.

Pada saat itu, di bawah mereka, di ruang bawah tanah yang besar dari bank ini, sebuah cakar robot bergerak seperti hidup. Bergeser pada sebuah sistem transport bersumbu ganda yang menempel pada langit-langit, robot itu bergerak mencari koordinasi yang sesuai. Pada lantai semen di bawahnya, ratusan peti plastik sama bentuk berjajar ... seperti deretan peti mati dalam sebuah ruang bawah tanah.

Cakar robot itu menderum berhenti pada sebuah titik yang tepat di atas lantai. Cakar itu turun, dan sebuah mata elektrik memeriksa urutan kode pada peti di bawahnya. Kemudian, dengan ketepatan komputer, cakar itu mencengkeram hendel berat sambil mengangkat peti itu lurus ke atas. Roda gigi baru tersambung, dan cakar itu memindahkan kotak itu ke sisi lain, kemudian ke atas ban berjalan yang diam.

Sekarang, lengan robot meletakkan perlahan-lahan peti itu, dan masuk kembali.

Begitu lengan itu masuk kembali, ban berjalan menderum hidup ....

Di atas, Sophie dan Langdon bernapas lega ketika melihat ban berjalan itu bergerak. Mereka berdiri di samping ban berjalan itu, dan merasa seperti turis letih pada ban berjalan di bandara yang menunggu koper misterius yang isinya tak diketahui.

Ban berjalan itu memasuki ruangan pada sisi kanan mereka melalui lubang sempit di bawah pintu geser. Pintu metal itu bergeser, dan sebuah kotak plastik terlihat, muncul di atas ban yang berjalan naik. Kotak itu berwarna hitam, dari plastik kaku, dan jauh lebih besar daripada yang dibayangkan Sophie. Ia tampak seperti kotak pembawa hewan peliharaan di bandara, namun tanpa lubang udara.

Kotak itu meluncur dan berhenti tepat di depan mereka. Langdon dan Sophie berdiri di sana, diam dan menatap kotak misterius itu.

Seperti segala yang ada di bank ini, peti ini buatan pabrikpengunci metal, stiker kode di atasnya, dan hendel yang kuat. Sophie berpikir kotak itu seperti kotak peralatan raksasa.

Sophie tidak mau membuang waktu. Dia segera melepaskan dua kaitan yang menghadap ke arahnya. Kemudian dia menatap Langdon. Bersama-sama mereka mengangkat tutup berat itu dan membiarkannya jatuh terlentang.

Mereka melangkah maju, dan melongok ke dalam peti itu. Pada pandangan pertama, Sophie mengira peti itu kosong. Lalu dia melihat sesuatu. Berada di dasar peti. Hanya satu benda. Kotak kayu berplitur itu seukuran kotak sepatu. Engselnya berukir. Kayunya berwarna ungu tua mewah, dengan urat kayu yang kuat. Kayu mawar, Sophie tahu. Kayu kesukaan kakeknya. Tutupnya bertatahkan gambar bunga mawar yang indah. Sophie dan Langdon saling bertatapan dengan bingung. Sophie membungkuk dan meraih kotak itu, lalu mengangkatnya keluar. Astaga, berat!

Sophie membawanya dengan hati-hati ke meja besar, kemudian meletakkannya. Langdon berdiri di sampingnya. Mereka berdua menatap kotak harta kecil yang tampaknya telah dikirimkan oleh kakek Sophie untuk mereka ambil itu.

Langdon menatap dengan kagum pada tutup kotak yang terukir dengan tangan itu sekuntum mawar dengan lima kelopak.

Dia sering melihat jenis mawar seperti itu. `Mawar berkelopak lima,` dia berbisik, `merupakan simbol Biarawan untuk Holy Grail.`

Sophie menoleh dan menatap Langdon. Langdon dapat melihat apa yang dipikirkan Sophie, dan dia ternyata juga memikirkan hal yang sama. Ukuran kotak itu, berat isinya, dan sebuah simbol Biarawan untuk Holy Grail, semuanya tampak menyiratkan satu kesimpulan yang tak dapat diperkirakan. Cawan Kristus ada di. dalam kotak kayu ini. Lagi-lagi Langdon berkata pada dirinya sendiri, itu tidak mungkin.

`Ukurannnya sempurna,` bisik Sophie, `untuk menyimpan ... sebuah cawan.`

Tidak mungkin sebuah cawan.

Sophie menarik kotak itu ke arahnya di seberang meja, bersiap untuk membukanya. Ketika dia menggerakkannya, sesuatu yang tak terduga terjadi. Kotak itu mengeluarkan suara memancar yang aneh.

Langdon heran. Ada cairan di dalamnya? Sophie juga tampak bingung. `Kau dengar tadi Langdon mengangguk, bingung. `Cairan?`

Sophie perlahan mulai membuka pengaitnya dan mengangkat tutupnya.

Benda di dalamnya tidak menyerupai apa pun yang pernah dilihat Langdon. Satu hal segera menjadi jelas bagi mereka berdua. Ini jelas-jelas bukan cawan Kristus.

45

`POLISI TELAH memblokir jalan,` kata Andre Vernet, sambil berjalan masuk ke dalam ruang tunggu itu. `Mengeluarkan kalian akan sulit.` Sambil menutup pintu di belakangnya, Vernet melihat peti plastik yang kuat itu di atas ban berjalan. Ia menghentikan langkahnya. Tuhanku! Mereka telah mengetahui nomor rekening Sauniere?

Sophie dan Langdon berada di meja, merubung apa yang terlihat seperti sebuah kotak perhiasan dari kayu yang besar. Sophie segera menutup kotak itu. `Akhirnya, kami mendapatkan nomor rekeningnya,` katanya.

Vernet tak dapat berkata apa pun. Ini mengubah segalanya. Dengan sopan, dia mengalihkan matanya dari kotak itu dan mencoba memikirkan langkahnya setelah ini. Aku harus mengeluarkan mereka dari bank ini! Namun, dengan polisi yang telah memblokir jalan, Vernet hanya dapat membayangkan satu cara untuk keluar. `Mademoiselle Neveu, jika saya berhasil membawa kalian keluar dari bank ini, apakah kalian akan membawa benda itu atau mengembalikannya ke ruang besi?`

Sophie mengerling pada Langdon, kemudian kembali ke Vernet. `Kami perlu membawanya.`

Vernet mengangguk. `Baiklah. Kalau begitu, apa pun benda itu, saya sarankan untuk membungkusnya di dalam jasmu saat kita bergerak melalui gang-gang itu. Saya akan lebih senang jika tak seorang pun melihatnya.`

Ketika Langdon menanggalkan jasnya, Vernet bergegas kembali ke ban berjalan itu, menutup peti plastik yang sekarang sudah kosong, kemudian mengetik serangkaian perintah sederhana. Ban berjalan itu bergerak lagi, kembali ke ruang besi. Lalu dia menarik keluar kunci emas itu dan memberikannya kepada Sophie. `Kesini. Cepat.`

Ketika mereka tiba di bagian dok pengangkutan dibelakang, Vernet dapat melihat kilatan lampu polisi memeriksa garasi di bawah tanah. Dia mengerutkan keningnya. Mungkin mereka menutup jalur itu juga. Apakah aku betul-betul mau mencoba melakukannya? Dia sekarang berkeringat.

Vernet menunjuk pada salah satu truk kecil berlapis baja rnilik bank itu. Transport sur merupakan pelayanan berikutnya yang ditawarkan Bank Penyimpanan Zurich. `Masuklah di bagian kargo,` katanya sambil membuka pintu belakang yang berat dan menunjuk pada ruang baja berkilat. `Aku akan segera kembali.` Ketika Sophie dan Langdon naik, Vernet bergegas ke kantor pengawas melintasi dok pengangkutan, kemudian masuk, mengambil kunci truk, dan menyambar jas dan topi seragam pengemudi. Setelah menanggalkan jas dan dasinya, dia mengenakan seragam tadi. Sambil berjalan ke luar, dia meraih pistol pengemudi dari raknya, lalu menguncinya dan memasukkannya ke dalam sarungnya. Kembali ke truk, Vernet menekan topi pengemudinya sedalam mungkin dan melongok ke Sophie dan Langdon yang berdiri di dalam kotak lapis baja yang kosong.

`Kalian akan lebih suka ini menyala,` kata Vernet sambil menjangkau ke dalam dan menyalakan tombol lampu di dinding sehingga sebuah lampu kecil menyala pada atap truk. `Dan, sebaiknya kalian duduk. Jangan bersuara sampai keluar dari gerbang`

Sophie dan Langdon duduk di atas lantai metal. Langdon mengayun-ayun benda berharga itu dalam jas wolnya. Vernet menutup pintu berat itu, lalu mengunci mereka di dalam. Setelah itu dia duduk di belakang kemudi dan menyalakan mesin.

Ketika mobil lapis baja itu bergerak ke jalur atas, Vernet dapat merasakan keringatnya mulai mengumpul di balik topi pengemudinya. Ternyata di depan ada lebih banyak kilatan mobil polisi daripada yang dia bayangkan tadi. Ketika truk itu menambah kecepatan, gerbang dalam mengayun ke dalam, memberinya jalan keluar. Vernet melaju ke luar, kemudian berhenti menunggu pintu di belakangnya tertutup kembali sebelum dia melanjutkan perjalanan dan melewati sensor berikutnya. Gerbang kedua terbuka, dan jalan keluar siap dilewati.

Kecuali bagi mobil polisi yang memblokir jalur atas. Vernet mengusap alisnya dan meluncur lagi.

Seorang petugas bertubuh kurus melangkah ke luar dan memberi isyarat padanya untuk berhenti beberapa meter dari jalan yang ditutup. Empat mohil patroli diparkir di luar gedung bagian depan.

Vernet menghentikan mobilnva. Dia menarik topi pengemudinya lebih ke bawah. Dia membuat wajahnya sekasar yang diperbolehkan oleh pendidikan budayanya. Dia tidak bergerak dari belakang kemudi, hanya membuka jendela dan menatap ke bawah pada agen polisi yang wajahnya galak dan pucat.

`Ada apa?` tanya Vernet dalam bahasa Prancis. Nadanya kasar. `Saya Jerome Collet,` kata agen itu. `Letnan Polisi Judisial.` Dia bergerak ke bagian kargo truk itu. `Ada apa di dalamnya?` `Mana aku tahu,` jawab Vernet dalam bahasa Prancis yang kasar. `Aku hanya pengemudi.`

Collet tampak tak terkesan. `Kami sedang mencari dua orang kriminal.`

Vernet tertawa. `Kalau begitu kau datang ke tempat yang tepat, geberapa dari bedebah-bedebah di sini punya begitu banyak uang. Mereka pasti kriminal.`

Agen itu mengacungkan foto ukuran paspor, foto Robert Langdon. `Apakah orang ini ada di bankmu malam ini?`

Vernet menggerakkan bahunya. `Tidak tahu. Aku hanya orang bawahan di dok. Mereka tidak mengizinkan aku berdekatan dengan nasabah. Kau harus masuk dan tanya kepada petugas di meja depan:`

`Bankmu meminta surat izin penggeledahan sebelum kami boleh masuk.`

Vernet membuat tarikan wajah jijik. `Administrasi. Jangan buat aku mulai.`

`Harap buka trukmu,` kata Collet sambil menunjuk kargo. Vernet menatap agen itu dan memaksakan tawa yang menjengkelkan. `Membuka truk? Kaupikir aku punya kunci? Kaupikir mereka memercayai kami? Kau harus melihat berapa aku dibayar.` Kepala agen itu miring ke satu sisi. Keraguannya terlihat. `Kau tidak punya kunci trukmu sendiri?`

Vernet menggelengkan kepalanya. `Tidak untuk membuka kargo. Hanya kunci start. Truk ini dikunci oleh mandor di dok pemuatan. Lalu truk ini diam di dok. Pada saat itu, seseorang membawa kunci kargo ke tempat tujuan. Begitu kami mendapat pemberitahuan bahwa kunci itu sudah ada pada penerima, barulah saya boleh membawa truk ini. Tidak boleh satu detik pun sebelumnya. Aku tidak pernah tahu apa yang kuangkut.`

`Kapan truk ini dikunci?`

`Pastilah beberapa jam yang lalu. Aku mengemudi ke St. `Thurial malam ini. Kunci kargo sudah ada di sana.`

Agen itu tidak menjawab. Matanya menyelidik seolah mencoba membaca pikiran vernet.

Setetes keringat siap-siap meluncur turun ke hidung Vernet. `Boleh?` katanya sambil menghapus hidungnya dengan lengan bajunya dan menunjuk mobil polisi yang menutup jalannya. `Jadwalku ketat.`

`Apa semua pengemudi memakai Rolex?` tanya agen itu sambil menunjuk pergelangan tangan vernet.

Vernet melihat ke bawah dan melihat tali jam yang berkilauan dari jam tangannya yang sangat mahal itu. Jam tangannya mengintip dari bawah lengan jasnya. Sialan. `Jam murahan ini? Aku membelinya seharga dua puluh euro dari seorang pedagang kaki lima Taiwan di St. Germain des Pres. Aku mau menjualnya empat puluh euro. Minat?`

Agen itu terdiam dan akhirnya melangkah ke tepi. `Tidak, terima kasih. Selamat jalan.`

Vernet tidak bernapas lagi hingga truk itu betul-betul berada lima puluh meter di jalan. Dan sekarang, dia punya, masalah lain. Muatannya itu. Ke mana aku akan membawa mereka?

46

SILAS TERBARING menelungkup di atas kasur kanvas di kamarnya, membiarkan luka cambukan di punggung mengering terkena udara. Sesi kedua Disiplin malam ini membuatnya lemah dan pusing. Dia belum membuka ikatan cilice nya, dan dia dapat merasakan darah menetes di bagian dalam pahanya. Namun, dia tidak membenarkan diri untuk membukanya.

Aku telah mengecewakan Gereja.

Lebih buruk lagi, aku sudah mengecewakan Uskup.

Malam ini seharusnya menjadi penyelamatan Uskup Aringarosa. Lima bulan yang lalu, Aringarosa kembali dari pertemuan di Observatorium Vatikan. Di sana dia mengetahui sesuatu yang membuatnya sangat berubah. Setelah bersedih selama beberapa minggu, akhirnya Aringarosa menceritakan berita itu kepada Silas.

`Tetapi ini tidak mungkin!` seru Silas. `Aku tidak bisa menerimanya!`

`Betul,` kata Aringarosa. `Tak masuk akal, tetapi betul. Hanya dalam waktu enam bulan.`

Kata-kata uskup itu menakutkan Silas. Dia berdoa memohon pembebasan, dan bahkan pada hari-hari kelabu itu, kepercayaannya kepada Tuhan dan The Way tak pernah goyah. Hanya satu bulan kemudian, awan-awan itu terkuak secara ajaib dan cahaya kemungkinan memancar keluar.

Campur tangan Tuhan, begitu Aringarosa menyebutnya. Uskup Aringarosa terlihat penuh harapan lagi. `Silas,` dia berbisik. `Tuhan telah melimpahkan kesempatan untuk melindungi The Way. Peperangan kita, seperti semua peperangan, akan meminta pengorbanan. Kau mau menjadi prajurit Tuhan?`

Silas jatuh berlutut di depan Uskup Aringarosa - orang yang telah memberinya kehidupan baru - dan berkata, `Aku domba Tuhan. Gembalakan aku sesuka hatimu.`

Ketika Aringarosa menjelaskan kesempatan yang telah muncul dengan sendirinya itu, Silas tahu ini pastilah karena tangan Tuhan. Keyakinan yang menakjubkan! Aringarosa menghubungkan Silas dengan seorang lelaki yang mengajukan rencana itu-seorang yang menyebut dirinya Guru. Walau Guru dan Silas tidak pernah bertemu muka, setiap kali mereka berbicara lewat telepon, Silas terpesona, baik karena keyakinan Guru yang mendalam maupun karena keluasan kekuasaannya. Guru tampaknya seorang lelaki yang tahu semua, lelaki dengan mata dan telinga di segala tempat. Bagaimana Guru mendapatkan informasi itu, Silas tidak tahu. Namun Aringarosa telah begitu percaya kepada Guru, dan uskup ini meminta Silas untuk juga memercayainya. `Lakukan apa yang Guru perintahkan,` kata Uskup kepada Silas, `dan kita akan menang.`

Menang. Sekarang Silas menatap lantai kosong dan takut kemenangan telah menghindari mereka. Guru telah ditipu. Batu kunci itu merupakan jalan buntu yang memperdayakan. Dan, dengan penipuan itu, segala harapan telah hilang.

Silas berharap bisa menelepon Uskup Aringarosa dan memperingatkannya, namun Guru telah menghapus jalur komunikasi langsung malam ini. Untuk keamanan kita.

Akhirnya, setelah mengatasi keragu-raguan yang luar biasa, Silas merangkak, lalu bangun dan mengambil jubahnya yang tergeletak di atas lantai. Dia merogoh telepon genggam dari sakunya, Dengan tertunduk malu, dia memutar nomor.

`Guru,` dia berbisik, `semua sudah hilang.` Dengan jujur Silas mengatakan kepada lelaki itu bagaimana dia diperdaya. `Kau kehilangan kepercayaanmu terlalu cepat,` Guru menjawab. `Aku baru saja menerima berita. Sangat tidak terduga, namun menyenangkan. Kehidupan rahasia. Jacques Sauniere telah memberikan informasi sebelum dia mati. Aku akan meneleponmu segera. Pekerjaan kita malam ini belum selesai.`

47

NAIK MOBIL kargo di dalam ruangan yang remang-remang adalah seperti dipindahkan ke dalam sebuah sel pengasingan. Langdon berusaha mengatasi rasa cemas yang selalu menghantuinya saat dia berada dalam ruangan tertutup.

Vernet mengatakan dia akan membawa kita ke tempat yang jauh lagi aman di luar kota. Di mana? Seberapa jauh?

Kaki Langdon telah menjadi kaku karena duduk bersilang di atas lantai metal. Dia mengganti posisinya, mengerenyit ketika merasakan darahnya mengalir kembali ke bagian bawah tubuhnya. Pada lengannya, dia masih memegangi harta karun aneh yang mereka ambil dari bank tadi.

`Kurasa kita sedang berada di jalan tol sekarang,` bisik Sophie.

Langdon juga merasakan itu. Setelah terhenti dengan menakutkan di atas jalur bank tadi, truk itu kini telah bergerak, berkelok ke kiri dan kanan selama satu atau dua menit, dan sekarang melaju dalam kecepatan tertinggi. Di bawah mereka, roda-roda tahan peluru menderu di atas jalan halus. Langdon memaksakan diri memusatkan perhatiannya pada kotak kayu mawar dalam tangannya. Sekarang dia meletakkan bungkusan berharga itu di atas lantai, membuka bungkusan jasnya dan mengeluarkan kotak itu, lalu mendekatkannya pada tubuhnya sendiri. Sophie mendekatkan posisinya sehingga mereka duduk bersebelahan. Tiba-tiba Langdon merasa mereka seperti dua orang anak yang mengerumuni hadiah Natal.

Berlawanan dengan warna hangat dari kayu mawar kotak itu, bunga mawar di bagian dalamnya tampak diukir pada kayu yang pucat, kemungkinan abu-abu, yang bersinar terang pada cahaya remang-remang. Mawar itu. Seluruh tentara dan agama telah dibangun di atas simbol ini, seperti memiliki perkumpulan rahasia. The Rosicrucians. Kesatria Palang Mawar.

`Ayo,` kata Sophie. `Bukalah.`

Langdon menarik napas dalam. Menyentuh tutupnya, dia sekali lagi mengerling kagum pada kotak kayu yang terukir rumit itu. Setelah melepas kaitannya, dia pun membuka tutupnya, menyingkap misteri yang ada di dalam.

Langdon telah berkhayal tentang beberapa hal yang mungkin mereka temukan di dalam kotak itu, tetapi dia jelas salah total. Benda itu terletak aman di dalam kotak yang bagian dalamnya dilapisi dengan sutera tebal. Langdon tidak tahu benda apa itu.

Dibuat dari pualam putih yang halus, benda itu adalah sebuah silinder batu kira-kira seukuran kaleng penyimpan bola tenis. Walaupun begitu, benda ini lebih rumit dari sekadar pilar batu; ia tampaknya tersusun dari beberapa bagian. Lima cakram pualam berukuran donat ditumpuk dan direkatkan satu sama lain dalam bingkai kuningan yang halus. Benda itu tampak seperti semacam pipa, kaleidoskop multi putaran. Setiap ujung dari silinder itu direkatkan dengan sebuah penutup, juga dari pualam, sehingga tidak mungkin untuk melihat ke dalamnya. Karena mendengar suara benda cair di dalamnya, Langdon menyimpulkan bahwa silinder itu berongga di tengah.

Konstruksi silinder itu begitu menakjubkan. Walau begitu, ukiran di sekeliling silinder itulah yang menarik perhatian utama Langdon. Masing-masing cakram telah diukir dengan sangat hatihati dengan serangkaian huruf berbeda yang sama keseluruhan abjad. Silinder berhuruf itu mengingatkan Langdon pada mainannya di masa kanak-kanak-sebuah gulungan benang dengan tabung berhuruf yang dapat diputar untuk mengeja berbagai kata. `Mengagumkan, bukan?` bisik Sophie.

Langdon menatapnya. `Aku tidak tahu. Apa gerangan ini?` Sekarang ada sinar pada mata Sophie. `Kakekku pernah membuat seperti ini sebagai hobi. Benda ini diciptakan oleh Leonardo da Vinci.`

Walau dalam keremangan, Sopie dapat melihat Langdon terkejut.

`Da Vinci?` Langdon bergumam sambil melihat lagi silinder itu.

`Ya. Namanya cryptex. Menurut kakekku, cetak birunya berasal dari buku harian rahasia Da Vinci.`

`Untuk apa ini?`

Mengingat apa yang terjadi malam ini, Sophie tahu jawabannya mungkin memiliki implikasi menarik. `Itu tempat penyimpanan,` katanya. `Untuk menyimpan informasi rahasia.`

Mata Langdon menjadi lebih lebar.

Sophie menjelaskan bahwa membuat benda seperti yang ditemukan Da Vinci ini adalah salah satu hobi kakeknya yang terbaik. Sebagai seorang pengrajin berbakat yang menghabiskan waktu berjam-jam di bengkel kayu dan metalnya, Jacques Sauniere menikmati peniruan karya para pakar, Faberge, para ahli pekerjaan tangan halus, dan ahli yang kurang artistik tetapi jauh lebih praktis, Leonardo da Vinci.

Bahkan pandangan sekilas pada buku harian Da Vinci sudah bisa mengungkapkan mengapa orang termasyhur itu, selain terkenal hebat, juga terkenal buruk karena tidak melakukan tindak lanjut atas penemuannya. Da Vinci telah membuat cetak biru dari ratusan penemuan yang tak pernah dilaksanakannya sendiri.

Salah satu kegiatan pengisi waktu Sauniere adalah menghidupkan ide-ide Da Vinci yang kurang jelas, jam, pompa air, cryptex, dan bahkan patung kesatria Prancis yang ditiru secara lengkap, yang sekarang berdiri gagah di atas meja kerja di kantor Sauniere. Patung itu dirancang oleh Da Vinci pada tahun 1495 sebagai perkembangan dari studi pertamanya dalam anatomi dan kinesiologi. Mekanisme internal robot kesatria itu memiliki sendi dan tendon yang akurat, dan dirancang untuk dapat melakukan sit up, melambaikan tangan, dan menggerakkan kepala dengan leher yang lentur sambil membuka dan menutup rahang yang sempurna. Sophie selalu percaya, kesatria berbaju besi ini merupakan benda terindah yang pernah dibuat kakeknya ... itu sebelum Sophie melihat cryptex yang ada di dalam kotak kayu mawar itu.

`Kakekku membuatkan aku satu yang seperti ini ketika aku masih kecil,` kata Sophie. `Tetapi aku belum pernah melihat yang dihiasi begini banyak dan besar.`

Mata Langdon tidak pernah lepas dari kotak itu. `Aku belum pernah mendengar tentang cryptex.`

Sophie tidak heran. Kebanyakan penemuan Leonardo yang tidak diwujudkannya belum pernah dipelajari dan bahkan tidak bernama juga. Kata cryptex mungkin juga merupakan kreasi kakeknya, sebuah nama yang tepat untuk alat ini yang menggunakan ilmu kriptologi untuk menyimpan informasi yang tertulis pada gulungan bermuatan itu atau codex.

Sophie tahu, Da Vinci merupakan pionir kriptologi, walau dia jarang mendapatkan pujian dalam hal itu. Para instruktur Sophie di universitas, ketika menyajikan metode-metode enkriptologi komputer untuk melindungi data, memuji ahli kriptologi modern seperti Zimmerman dan Schneier, namun lupa menyebutkan bahwa Leonardolah yang telah menciptakan salah satu bentuk dasar dari kunci umum enkripton berabad-abad yang lalu. Kakek Sophie, tentu saja, yang mengatakan itu kepadanya.

Ketika mobil lapis baja mereka meluncur di atas jalan tol, Sophie menjelaskan kepada Langdon bahwa cryptex merupakan solusi Da Vinci terhaciap dilema pengiriman pesan yang aman dalam jarak jauh. Di zaman tanpa telepon atau email, siapa pun yang ingin menyampaikan informasi pribadi kepada seseorang yang jauh tidak punya pilihan lain kecuali menulisnya dan memercayakannya kepada seorang kurir untuk membawa surat tersebut. Sialnya, jika si kurir menduga bahwa surat itu berisi informasi berharga, dia dapat menerima uang yang jauh lebih banyak dengan menjual informasi tersebut kepada musuh daripada mengirimkannya secara benar.

Banyak pemikir besar dalam sejarah telah mencipkatan solusi kriptologi untuk menjawab tantangan perlindungan data. Julius Caesar menemukan sebuah pola penulisan kode yang dinamakan Kotak Caesar; Maria, Ratu Scotlandia, menciptakan sebuah sandi rahasia pengganti dan mengirim komunikasi rahasia dari penjara; seorang ilmuwan cerdas Arab, Abu Yusuf Ismail al-Kindi, melindungi rahasianya dengan sebuah pengganti sandi rahasia polialfabetik yang tersusun dengan cerdik.

Namun, Da Vinci menyingkirkan matematika dan kriptologi demi solusi mekanikal. Cryptex. Sebuah wadah yang dapat dibawabawa, yang dapat menyimpan dan menjaga surat-surat, peta, diagram, apa saja. Begitu satu informasi tersegel di dalam cryptex, hanya orang yang mengetahui passwordnya yang dapat membukanya.

`Kita membutuhkan password,` kata Sophie sambil menunjuk pada lempengan-lempengan bertulisan itu. `Sebuah cryptex bekerja mirip sekali dengan kunci sepeda kombinasi. Jika kau meluruskan lempengan-lempengan itu pada posisi yang benar, kuncinya akan bergeser membuka. Cryptex ini memiliki lima lempengan bertulisan. Ketika kau memutarnya ke arah urutan yang benar, tabung di dalamnya menjadi lurus, dan silinder akan terpisah secara utuh.`

`Dan bagian dalamnya?`

`Begitu silinder itu terpisah, kau akan melihat rongga pada bagian tengah wadah itu, yang dapat digunakan untuk menyimpan gulungan kertas berisi informasi yang ingin kau rahasiakan.`

Langdon tampak ragu. `Kau bilang kakekmu membuat yang seperti ini untukmu ketika kau masih kecil?`

`Ya, agak lebih kecil. Pada beberapa kali ulang tahunku, kakek memberiku sebuah cryptex dan sebuah teka-teki. Jawaban tekateki itu adalah password untuk membuka cryptex itu. Begitu aku tahu, aku akan dapat membukanya dan menemukan selembar kartu ulang tahun.`

`Susahnya untuk mendapatkan selembar kartu.`

`Kartu-kartu itu selalu berisi teka-teki atau petunjuk yang lain. Kakekku senang menciptakan perburuan harta karun yang rumit di sekitar rumah. Petunjuk yang saling berkait itulah yang membawaku ke hadiah ulang tahunku yang sesungguhnya. Setiap perburuan harta karun merupakan ujian bagi sifat dan kebaikan, juga untuk meyakinkannya bahwa aku pantas mendapatkan hadiah itu. Dan, ujian itu tidak pernah mudah.`

Langdon menatap benda itu lagi, masih tampak ragu. `Tetapi, mengapa tidak langsung membongkarnya saja? Atau memukul hancur? Metalnya kelihatan lunak, dan pualam juga batu yang lunak.`

Sophie tersenyum. `Da Vinci terlalu pandai untuk itu. Dia merancang cryptex sedemikian rupa sehingga jika kau membukanya secara paksa, informasi di dalamnya akan rusak sendiri. Lihat.`

Sophie meraih kotak itu dan berhati-hati mengangkat silinder itu. `Segala informasi yang disisipkan pertama-tama harus ditulis di atas gulungan kertas papirus.`

`Bukan kulit binatang?`

Sophie menggelengkan kepalanya. `Papirus. Aku tahu, kulit domba lebih tahan lama dan lebih biasa pada zaman itu, tetapi ini memang kertas papirus. Semakin tipis, semakin baik.` `Baik.`

`Sebelum disisipkan ke dalam wadah cryptex, papirus itu harus digulung dan dimasukkan ke dalam botol kaca tipis.` Dia lalu menggoyangkan cryptex itu, dan suara berkumur terdengar dari dalam. `Sebotol cairan.`

`Cairan apa?`

Sophie tersenyum. `Cuka.`

Langdon ragu-ragu sejenak, kemudian dia mulai menganggukangguk. `Cemerlang.`

Cuka dan papirus, pikir Sophie. Jika ada yang berniat membuka paksa cryptex, botol kaca tipis itu akan pecah, dan cuka akan dengan cepat menghancurkan papirus itu. Saat dikeluarkan, pesan rahasia itu tinggal berupa bubur kertas saja.

`Kau bisa lihat,` kata Sophie, `satu-satunya jalan mengambil informasi di dalam itu adalah dengan cara mengetahui password lima huruf itu. Dan, dengan lima lempengan, masing-masing dengan 26 huruf, berarti ada 26 pangkat 5.` Sophie segera menghitung permutasi itu. `Kira-kira 12 juta kemungkinan.` `Terserah kau sajalah,` kata Langdon yang tampaknya memiliki kira-kira 12 juta pertanyaan berkeliaran dalam kepalanya. `Kaupikir, informasi apa yang ada di dalamnya?`

`Apa pun itu, pastilah kakekku sangat ingin menyimpannya sebagai rahasia.` Dia terdiam, menutup kotak itu dan menatap mawar berkelopak lima yang terukir di atasnya. Ada yang di pikirkannya. `Apakah tadi kau bilang bahwa Mawar adalah simbol dari Grail?`

`Tepat. Dalam simbol Biarawan, Mawar dan Grail adalah sama.`

Sophie mengerutkan alisnya. `Itu aneh, karena kakekku selalu mengatakan bahwa Mawar berarti kerahasiaan. Dia biasa menggantung sekuntum mawar pada pintu ruang kerjanya di rumah ketika dia sedang berbicara di telepon dengan orang penting dan tidak mau diganggu olehku. Kakek menganjurkanku melakukan hal yang sama.` Sayang, kata kakeknya, daripada kita saling mengunci pintu, kita bisa menggantungkan sekuntum mawar -la fleur des secrets pada pintu kita ketika kita membutuhkan privasi. Ini cara kita untuk saling menghormati dan memercayai. Menggantungkan sekuntum mawar adalah adat kuno bangsa Romawi.

`Sub rosa,` kata Langdon. `Orang Romawi menggantungkan sekuntum mawar saat rapat untuk menunjukkan bahwa rapat itu rahasia. Para peserta rapat tahu, apa pun yang dikatakan di bawah mawar itu - atau sub rosa - harus selalu dirahasiakan.`

Langdon menjelaskan dengan cepat bahwa arti rahasia yang ditimbulkan Mawar bukanlah satu-satunya alasan bagi Biarawan untuk menggunakannya sebagai simbol untuk Grail. Rosa rugosa, salah satu jenis mawar tertua, mempunyai lima kelopak dan segi lima yang simetris, persis seperti bintang penunjuk Venus, yang memberi Mawar kaitan ikonografi yang kuat dengan keperempuanan. Lagi pula, Mawar mempunyai ikatan erat dengan konsep `penunjuk yang terpercaya` dan navigasi bagi seseorang. Mawar Kompas rnembantu para pengembara menentukan arah, seperti juga Garis Mawar, garis-garis bujur dalam peta. Dengan alasan ini, Mawar merupakan simbol yang berarti Grail pada banyak tingkatan kerahasiaan, keperempuanan, dan petunjuk - cawan feminin dan bintang penunjuk yang membawa ke kebenaran rahasia.

Ketika Langdon selesai menjelaskan, tiba-tiba tarikan wajahnya tampak tegang.

`Robert? Kau baik-baik saja?`

Matanya melebar melihat kotak kayu mawar itu. `Sub ... rosa,` dia tercekat. Kebingungan yang menakutkan menyapu wajahnya. `Tidak mungkin.`

`Apa?`

Perlahan Langdon menaikkan matanya. `Di bawah tanda Mawar,` dia berbisik. `Cryptex ini ... kupikir aku tahu ini apa.`

48

LANGDON HAMPIR tak dapat memercayai pikirannya sendiri. Namun, mengingat siapa yang telah memberikan batu silinder ini, bagaimana dia telah memberikannya kepada mereka, dan sekarang, ukiran Mawar pada kotak itu, Langdon hanya dapat merumuskan satu kesimpulan.

Aku sedang memegang batu kunci Biarawan.

Legenda itu begitu spesifik.

Batu kunci adalah sebuah batu bersandi yang terletak di bawah tanda Mawar itu. `Robert?` Sophie menatapnya. `Ada apa?` Langdon perlu beberapa sesaat untuk menyusun pemikirannya. `Apakah kakekmu pernah berbicara denganmu tentang la clef de voute?`

`Kunci pembuka lemari besi?` Sophie menerjemahkan.

`Bukan, itu terjemahan harfiah. Clef de voute adalah istilah arsitektur biasa. Voute tidak ada hubungannya dengan ruang besi bank, tetapi dengan kolong di bawah atap yang melengkung. Seperti langit-langit berkubah.`

`Tetapi langit-langit berkubah tidak memerlukan kunci.`

`Sebenarnya memerlukan. Setiap kubah batu memerlukan sebuah pusat, batu berbentuk irisan pada puncak yang mengunci potongan-potongannya sehingga menyatu dengan kuat dan menahan semua bebannya. Batu ini, di dunia arsitektur, merupakan kunci kubah itu. Dalam bahasa Inggris, kami menyebutnya keystone, batu kunci.` Langdon menatap mata Sophie, mencari cahaya pengertian.

Sophie menggerakkan bahunya, melihat ke bawah pada cryptex itu. `Tetapi ini sama sekali bukan batu kunci.`

Langdon tidak tahu harus mulai dari mana. Batu kunci sebagai teknik untuk membangun kubah batu telah merupakan salah satu rahasia yang paling terjaga dari zaman persaudaraan Masonic. Tingkat Kelengkungan Istana. Arsitektur. Batu Kunci. Semua itu saling berkaitan. Pengetahuan rahasia tentang bagaimana menggunakan sebuah batu kunci beririsan untuk membuat kubah adalah bagian dari kearifan yang telah menjadikan anggota Mason sebagai tukang-tukang yang ahli, dan rahasia itu sangat dijaga. Batu kunci selalu mempunyai tradisi kerahasiaan. Namun, batu silinder di dalam kotak kayu mawar itu jelas berbeda. Batu kunci Biarawan jika ini memang yang mereka pegang sekarang-tidak seperti yang dibayangkan Langdon.

`Batu kunci Biarawan bukan keahlianku,` Langdon mengaku. `Ketertarikanku pada Grail hanya sebatas simbolisasinya. Jadi aku cenderung mengabaikan cerita-cerita berlebihan tentang bagaimana sesungguhnya menemukan benda itu.`

Alis Sophie terangkat. `Menemukan Holy Grail?`

Langdon mengangguk ragu, lalu berkata dengan hati-hati. `Sophie, menurut adat Biarawan, batu kunci merupakan sebuah peta berkode ... sebuah peta yang mengungkap tempat disembunyikannya Holy Grail.`

Wajah Sophie memucat. `Dan, kaupikir ini adalah peta itu?` Langdon tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Bahkan baginya, itu tampak tidak masuk akal. Namun batu kunci merupakan satu-satunya kesimpulan logis yang dapat ditariknya. Sebuah batu berkode, tersembunyi di bawah gambar Mawar. Gagasan bahwa cryptex dirancang oleh Leonardo da Vinci mantan Mahaguru Biarawan Sion - menyorotkan petunjuk lain yang menggoda, bahwa ini memang batu kunci Biarawan. Sebuah cetak biru milik mantan mahaguru .., dihidupkan kembali oleh anggota Biarawan yang lainnya. Kaitan itu terlalu gamblang untuk dinafikan.

Dalam sepuluh tahun terakhir, para ahli sejarah mencari batu kunci itu di gereja-gereja Prancis. Para pencari Grail telah menyimpulkan bahwa la clef de voute adalah benar-benar sebuah batu kunci -batu iris dalam istilah arsitektur- sebuah batu yang dipahat dengan tulisan dan disisipkan ke dalam atap kubah sebuah gereja. Di bawah tanda Mawar. Dalam arsitektur, tidak ada kekurangan pada mawar. Jendela mawar. Relief mawar. Dan, tentu saja, sebuah cinquefoils-bunga berhias lima kelopak yang sering ditemukan di puncak kubah, tepat di atas batu kunci. Tempat tersembunyi itu tampaknya sangat sederhana. Peta menuju Holy Grail itu diletakkan sangat tinggi di kubah pada gereja tua yang terlupakan, mengejek para jemaat gereja yang buta yang berlalulalang di bawahnya.

`Cryptex ini tidak mungkin batu kunci itu,` bantah Sophie. `Tidak cukup tua. Aku yakin, ini buatan kakekku. Tidak mungkin merupakan bagian dari legenda Grail.`

`Sebetulnya,` Langdon menjawab, merasa tergelitik karena kegembiraan beriak di dalam benaknya. `batu kunci itu dipercaya baru dibuat oleh Biarawan mungkin dua dekade yang lalu.`

Mata Sophie berkilat tak percaya. `Tetapi jika cryptex ini akan mengungkap tempat persembunyian Holy Grail, mengapa kakekku memberikannya kepadaku? Aku tidak tahu bagaimana membukanya atau harus kuapakan. Aku bahkan tidak tahu apa itu Holy Grail.`

Langdon terkejut juga ketika dia tahu Sophie benar. Dia belum punya kesempatan untuk menjelaskan kepada Sophie tentang apa Holy Grail itu sesungguhnya. Cerita itu harus ditunda. Saat ini, mereka memusatkan perhatian pada batu kunci itu. Jika ini memang itu ...

Di antara suara derum roda tahan peluru di bawah mereka, Langdon dengan cepat menjelaskan kepada Sophie semua yang pernah didengarnya tentang batu kunci itu. Kata orang, selama berabad-abad, rahasia terbesar Biarawan - yaitu lokasi Holy Grail tak pernah tertulis. Demi keamanan, rahasia itu selalu diwariskan secara lisan kepada senechal penerus dengan upacara rahasia. Namun, selama abad terakhir ini, mulai ada bisik-bisik bahwa peraturan Biarawan telah berubah. Mungkin itu disebabkan oleh kemampuan alat elektronik baru untuk menyadap. Anggota Biarawan bersumpah tidak akan pernah lagi membicarakan tempat penyimpanan suci itu.

`Lalu bagaimana mereka mewariskan rahasia itu?` tanya Sophie.

`Dari situlah batu kunci itu berasal,` Langdon menjelaskan. `Ketika satu dari empat anggota tertinggi meninggal, tiga yang tersisa akan memilih anggota dari lapisan di bawahnya menjadi calon berikutnya untuk dinaikkan menjadi senechal, prajurit baru. Alih-alih memberitahukan kepada senechal baru itu tempat Grail disembunyikan, mereka memberinya sebuah ujian yang dengan itu ia bisa membuktikan bahwa ia benar-benar pantas.`

Sophie tampak bingung dengan ini, dan Langdon tiba-tiba ingat bagaimana kakek Sophie selalu membuat perburuan harta karun bagi cucunya preuves de merite. Diakui, batu kunci itu merupakan konsep yang sama. Lagi pula, ujian semacam ini sangat biasa dilakukan dalam perkumpulan rahasia. Yang paling terkenal adalah kelompok Mason. Anggotanya baru dinaikkan ke tingkat yang lebih tinggi setelah terbukti mampu menjaga rahasia serta menempuh ritual-ritual dan ujian kepatutan selama bertahun-tahun. Tugas-tugas itu semakin sulit hingga mencapai puncaknya dengan pelantikan calon yang berhasil sebagai anggota Mason tingkat ke-32.

`Jadi, batu kunci itu merupakan sebuah preuve 'de merite, bukti kepatutan;` kata Sophie. `Jika seorang senechal Biarawan yang naik itu dapat membuka cryptex ini, dia membuktikan dirinya layak untuk mendapatkan informasi yang berada di dalamnya.

Langdon mengangguk. `Aku lupa, kau sudah berpengalaman dengan hal seperti ini.`

`Tidak hanya dengan kakekku saja. Dalam kriptologi, tes itu disebut `bahasa swaotorisasi'. Artinya, jika kau cukup pandai untuk membacanya, kau diizinkan untuk tahu apa yang dikatakannya.`

Langdon ragu-ragu sesaat. `Sophie, jika ini memang batu kunci itu, akses kakekmu terhadapnya menyiratkan bahwa dia sangat berkuasa di Biarawan Sion. Mugkin saja dia salah satu dari empat anggota tertinggi itu.`

Sophie mendesah. `Dia berkuasa dalam sebuah perkumpulan rahasia. Aku yakin itu. Aku dapat menyimpulkan bahwa perkumpulan itu tak lain dari Biarawan.`

Langdon bingung. `Kau sudah tahu dia anggota sebuah kelompok rahasia?`

`Aku pernah melihat sesuatu yang seharusnya tidak kulihat, sepuluh tahun yang lalu. Sejak itu kami tidak berbicara.` Sophie terdiam, lalu, `Kakekku bukan saja anggota jajaran tertinggi kelompok itu ... aku yakin, dia anggota tertinggi itu sendiri.`

Langdon tidak dapat memercayai apa yang didengarnya. `Mahaguru? Tetapi ... . tidak mungkin kau mengetahuinya!`

`Aku tidak mau membicarakannya,` Sophie memalingkan wajahnya. Tarikan wajahnya memperlihatkan bahwa dia terluka. Langdon duduk terpaku. Jacques Sauniere? Mahaguru? Walau memang sangat mengherankan jika informasi itu benar, Langdon merasa hal ini hampir sempurna masuk akal. Lagi pula, mahaguru sebelumnya juga seorang tokoh penting yang berjiwa seni. Bukti dari kenyataan itu telah dinyatakan beberapa tahun yang lalu di Bibliotheque National di Paris, dalam surat-surat yang dikenal sebagai Les Dossiers Secret, dokumen rahasia.

Setiap' ahli sejarah Biarawan dan Grail membual bahwa mereka pernah membaca Dossiers. Pada katalog nomor 4 Im 249, Dossiers Secret telah dibuktikan keasliannya oleh banyak spesialis dan diyakinkan tanpa terbantahkan apa yang telah diduga oleh para ahli sejarah itu sejak lama: Mahaguru Biarawan mencakup Leonardo da Vinci, Botticelli, Sir Isaac Newton, Victor Hugo, dan, yang baru, Jean Cocteau, seniman Paris ternama.

Mengapa tidak Jacques Sauniere?

Keraguan Langdon diperkuat dengan kenyataan bahwa dia telah dijadwalkan akan bertemu dengan Sauniere malam ini. Mahaguru Biarawan itu meminta bertemu denganku? Mengapa?

Untuk ngobrol tentang seni? Tiba-tiba itu semua menjadi tak masuk akal. Lagi pula, jika naluri Langdon benar, berarti Mahaguru Biarawan Sion itu baru saja mewariskan batu kunci legendaris itu kepada cucunya, dan bersamaan dengan itu menyuruh cucunya mencari Robert Langdon.

Tak dapat dimengerti.

Imajinasi Langdon tidak dapat menjelaskan tingkah laku Sauniere. Kalaupun Sauniere takut akan mati, masih ada tiga senechaux lainnya yang semuanya memegang rahasia itu, dan karena itu keamanan Biarawan terjamin. Mengapa Sauniere mengambil risiko sebesar itu dengan memberikan batu kunci kepada cucu perempuannya, apalagi kenyataannya mereka sedang tidak akur? Dan, mengapa melibatkan Langdon ... sepenuhnya orang asing?

Ada potongan puzzle yang hilang di sini, pikir Langdon. Jawabannya tampaknya harus menunggu. Suara mesin yang melambat membuat mereka mendongak. Suara kerikil terinjak roda mobil. Mengapa dia berhenti? Langdon bertanya-tanya. Vernet sudah berjanji untuk membawa mereka ke luar kota untuk keselamatan mereka. Truk itu melambat sekali dan berjalan ke suatu tempat yang tak rata. Sophie menatap Langdon dengan cemas. Ia bergegas menutup kotak cryptex itu dan menguncinya. Langdon mengenakan kembali jasnya.

Saat truk berhenti, mesinnya masih tetap menyala ketika kunci pintu belakang mulai berputar. Ketika pintu terbuka, Langdon terkejut melihat mereka berhenti di hutan, betul-betul jauh dari jalan. Vernet muncul, matanya bersinar tegang. Di tangannya tergenggam sepucuk pistol.

`Maafkan saya untuk ini,` katanya. `Saya tak punya pilihan.`

49

ANDRE VERNET tampak kagok dengan pistol di tangannya. Tetapi matanya bersinar yakin sehingga Langdon merasa tidak bijaksana untuk mencoba-coba.

`Saya takut harus memaksa,` kata Vernet, sambil mengacungkan pistolnya kepada mereka berdua di bagian belakang truk yang mesinnya masih menyala. `Letakkan kotak itu.` Sophie mendekap kotak itu ke dadanya. `Kamu mengaku berteman dengan kakekku.` `Saya punya kewajiban untuk melindungi milik kakekmu,` jawab Vernet. `Itulah yang sedang saya lakukan. Sekarang, letakkan kotak itu di lantai.`

`Kakekku memercayakan ini kepadaku!` Jelas Sophie.

`Kerjakan,` perintah Vernet, sambil menaikkan pistolriya.

Sophie meletakkan kotak tersebut di kakinya.

Langdon melihat laras pistol itu teracung ke arahnya sekarang.

`Pak Langdon,` kata Vernet, `bawa kotak itu kepadaku. Ingat, saya meminta kamu karena saya tidak ragu menembakmu.` Langdon menatap bankir itu tidak percaya. `Mengapa kau lakukan ini?`

`Menurutmu mengapa?` Vernet membentak, aksen Inggrisnya terdengar tepat. `Untuk melindungi milik nasabahku.`

`Kami nasabahmu sekarang.` kata Sophie.

Wajah Vernet menjadi sedingin es, sebuah perubahan yang menakutkan. `Mademoiselle Neveu, saya tidak tahu bagaimana kamu mendapatkan kunci dan nomor rekening itu malam ini, tetapi jelas ini adalah penipuan. Jika saya tahu tingkat kejahatanmu, saya tidak akan mau menolongmu keluar dari bank.` `Sudah kukatakan,` kata Sophie, `kami tidak ada hubungannya dengan kematian kakekku!`

Vernet menatap Langdon. `Lagi pula, dari radio kudengar bahwa kau dicari bukan hanya karena membunuh Jacques Sauniere, tetapi juga tiga orang lainnya?`

`Apa!` Langdon seperti tersambar petir. Tiga pembunuhan lainnya? Jumlah itu lebih mengejutkan daripada fakta bahwa dia merupakan tersangka utama. Tampaknya ini bukan sebuah kebetulan. Ketiga senechaux? Mata Langdon menatap kotak kayu mawar itu. Jika senechaux sudah terbunuh, Sauniere tidak punya pilihan. Dia harus mewariskan batu kunci itu kepada seseorang.

`Polisi dapat menjelaskannya jika aku membawamu,` kata Vernet. `Aku telah melibatkan bankku terlalu jauh.`

Sophie mendelik pada Vernet. `Kau sebenarnya tidak bermaksud membawa kami ke polisi. Kau seharusnya membawa kami kembali ke bank, bukannya ke sini sambil menodongkan pistolmu.

`Kakekmu menyewaku untuk satu alasan menjaga miliknya aman dan rahasia. Apa pun isi kotak itu, aku tidak beiniat menjadikannya barang bukti pada penyelidikan polisi. Pak Langdon, berikan kotak itu.`

Sophie menggelengkan kepalanya. `Jangan.`

Pistol meletus, dan sebuah peluru merobek dinding di atas Langdon. Bagian belakang truk itu menggema ketika selongsong peluru jatuh berdenting di atas lantai kargo.

Sialan! Landon membeku.

Vernet berbicara dengan lebih tegas. `Pak Langdon, ambil kotak itu.` .

Langdon memungut kotak itu.

`Sekarang bawa kepadaku.` vernet mengancangkan bidikan mematikan, berdiri di atas tanah di belakang bumper belakang. Pistolnya teracung ke arah kargo sekarang.

Dengan kotak di tangannya, Langdon bergerak melintasi palka ke arah pintu yang terbuka.

Aku harus melakukan sesuatu! Pikir Langdon. Aku terancam menyerahkan batu kunci milik Biarawan! Ketika Langdon bergerak ke arah pintu, posisinya yang lebih tinggi daripada Vernet menjadi lebih nyata, dan dia mulai bertanya-tanya apakah mungkin dia memanfaatkan keadaan itu. Pistol Uernet terangkat, setinggi lutut Langdon. Posisi yang sangat baik untuk menendang, mungkin? Sialnya, begitu Langdon mendekat, Vernet tampak merasakan bahaya tersebut dan melangkah mundur, memosisikan dirinya lagi kirakira sejauh enam kaki. Betul-betul tak terjangkau.

Vernet memerintahkan. `Letakkan kotak itu di dekat pintu.` Karena tidak melihat pilihan, Langdon berlutut dan meletakkan kotak kayu mawar itu di ujung palka, tepat di depan pintu yang terbuka itu.

`Sekarang berdiri.`

Langdon mulai berdiri tetapi terhenti, melihat selongsong peluru di atas lantai di samping ambang pintu truk itu.

`Berdiri, dan menjauh dari kotak itu.`

Langdon terhenti sesaat, melihat ke ambang pintu besi itu. Kemudian dia berdiri. Sambil melakukan itu, dia diam-diam menggeser selongsong peluru tadi hingga ke birai sempit yang merupakan bendul bawah pintu. Sekarang dia sudah berdiri sepenuhnya, lalu melangkah mundur.

`Kembali ke dinding belakang dan berputar.` Langdon mematuhinya.

Vernet dapat merasakan jantungnya berdetak keras. Sambil mengarahkan pistol dengan tangan kanannya, dia meraih kotak kayu itu dengan tangan kirinya. Dia baru tahu bahwa kotak itu ternyata terlalu berat. Aku perlu dua tangan. Dia menatap kedua tawanannya, kemudian memperhitungkan risikonya. Mereka berdua berada betul-betul lima belas kaki jauhnya dari pintu, di ujung dalam palka kargo, menghadap ke dinding. Vernet mengambil keputusan. Dengan cepat dia meletakkan pistolnya pada bumper, mengangkat kotak itu dengan dua tangannya, dan meletakkannya di atas tanah, kemudian langsung meraih pistolnya lagi dan mengarahkannya kembali ke dalam palka. Tawanannya tidak ada yang bergerak.

Sempurna. Sekarang yang tersisa hanyalah menutup kembali dan mengunci pintu kargo. Sambil meninggalkan kotak itu di tanah sebentar, ia meraih pintu metal itu dan mulai mendorongnya sampai tertutup. Ketika pintu itu terayun melewatinya, Uernet mengulurkan tangannya untuk menangkap grendel tunggal yang harus diselipkan ke tempatnya. Pintunya tertutup dengan debam, dan Uernet dengan cepat memegang grendel itu, menariknya ke kiri. Grendel itu bergeser beberapa inci dan, tak terduga, terganjal, tidak mau rapat dengan klepnya. Ada apa? Uernet menariknya lagi, tetapi grendel itu tidak mau mengunci. Alatnya tidak sejajar dengan benar. Pintu itu tidak benar-benar tertutup! Merasa panik, Uernet mendorong bagian luar pintunya. Tetapi pintu itu tidak mau menutup rapat. Ada yang mengganjalnya! Vernet berputar dan mendorong lagi dengan seluruh kekuatan bahunya, namun kali ini pintu itu justru memantul balik dengan keras, menghantam wajah vernet dan membuatnya terjatuh ke tanah. Hidungnya sangat sakit. Pistolnya terlepas ketika ia memegangi wajahnya dan merasakan darah hangat mengalir dari hidungnya.

Robert Langdon mendarat ke tanah di dekatnya. Vernet mencoba untuk bangun, tetapi dia tidak dapat melihat. Pandangan matanya kabur dan dia merasa terhuyung ke belakang lagi. Sophie Neveu berteriak. Sesaat kemudian, Vernet merasa debu dan asap mengurungnya. Dia mendengar kerekah ban truk di atas kerikil, lalu duduk, hanya untuk melihat ban lebar truk itu tidak berhasil membelok. Lalu ada suara tumbukan ketika bumper depan truk menabrak sebuah pohon. Suara mesin menderum, dan pohon itu melengkung. Akhirnya, bumper itu menyerah, dan setengah terlepas. Mobil lapis baja itu bergerak menjauh dengan bumper depan yang terseret. Ketika truk mencapai tepian jalan, secercah cahaya menyinari langit malam, mengikuti truk itu melaju semakin jauh.

Vernet melihat kembali ke tanah tempat truk tadi terparkir. Walau dalam cahaya bulan yang temaram, dia dapat melihat tidak ada apa pun di sana.

Kotak kavu itu pun sudah tiada.

50

MOBIL SEDAN Fiat tak bertanda meninggalkan Puri Gandolfo, meliuk-liuk menuruni jalan melalui Perbukitan Alban, memasuki lembah di bawahnya. Di bangku belakang, Uskup Aringarosa tersenyum, merasakan beratnya suratsurat berharga di dalam tas di atas pangkuannya dan bertanya-tanya berapa lama lagi dia dan Guru dapat melakukan pertukaran.

Dua puluh juta euro.

Jumlah itu akan membelikan untuk Aringarosa kekuasaan yang jauh lebih bernilai daripada uang itu.

Ketika mobil itu meluncur cepat menuju Roma, Aringarosa kembali bertanya-tanya mengapa Guru belum juga meneleponnya. Dia lalu menarik keluar telepon genggam dari saku jubahnya dan memeriksa sinyal penerima. Sangat lemah.

`Sinyal telepon selular terputus-putus di sini,` kata sopir sambil melirik Uskup Aringarosa dari spion. `Kira-kira dalam lima menit kita akan keluar dari daerah pegunungan, dan sinyal itu akan bertambah baik.`

`Terima kasih.` Aringarosa tiba-tiba merasa khawatir. Tidak ada sinyal di gunung? Mungkin saja Guru telah mencoba menghubunginya selama ini. Mungkin ada yang tidak beres.

Dengan cepat, Aringarosa memeriksa pesan suara pada telepon genggamnya. Tidak ada. Kemudian dia menyadarinya, Guru tidak mungkin meninggalkan pesan rekaman. Guru sangat hati-hati dalam berkomunikasi. Tidak seorang pun mengerti lebih baik daripada Guru tentang risiko berbicara terbuka di dunia modern ini. Penyadap elektronik telah memainkan peran utama dalam hal bagaimana dia mengumpulkan sejumlah informasi rahasia yang mengagumkan.

Karena alasan itu, dia bersikap ekstra hati-hati.

Sayangnya, sikap hati-hati Guru itu mencakup tindakan tidak memberi Aringarosa nomor apa pun yang dapat dihubunginya. Hanya aku yang memulai hubungan, Guru telah memberitahunya. jadi, tetaplah dekat dengan teleponmu. Sekarang, menyadari bahwa mungkin saja teleponnya tidak berfungsi dengan baik, Aringarosa mengkhawatirkan apa yang mungkin dipikirkan Guru jika dia sudah berkali-kali meneleponnya tanpa jawaban.

Dza akan mengira ada yang tidak beres.

Atau bahwa aku gagal mendapatkan surat-surat berharga itu. Uskup Aringarosa mulai agak berkeringat.

Atau lebih buruk lagi ... bahwa aku mengambil uang itu dan lari!

51

WALAU HANYA mampu berjalan dengan kecepatan enam puluh kilo meter per jam, truk lapis baja dengan bumper depan setengah lepas itu terus menggaruk jalan di pinggiran kota yang sunyi dengan derum menggerus dan menebarkan percikan-percikan ke kap mobil. Kita harus keluar dari jalan, pikir Langdon.

Dia hampir tidak dapat melihat ke mana mereka menuju. Satu lampu depan truk yang menyala telah menjadi pusat penerangan dan telah menebarkan sinar miring ke hutan di sisi jalan raya pinggiran kota. Tampaknya, baja pada `truk lapis baja` ini hanya berlaku pada bagian palka kargo, tidak untuk bagian depan.

Sophie duduk di bangku penumpang, menatap kosong pada kotak kayu mawar di atas pangkuannya.

`Kau tidak apa-apa?` tanya Langdon. Sophie tampak gemetar: `Kau memercayai Vernet?`

`Tentang tambahan tiga pembunuhan itu? Tentu saja. Itu menjawab banyak pertanyaantentang betapa besar usaha kakekmu untuk memberikan batu kunci itu, sama besarnya dengan keinginan Fache untuk menangkapku.`

`Bukan, maksudku tentang Vernet mencoba melindungi banknya.`

Langdon mengerling. `Kemungkinan lain?` `Mengambil batu kunci itu untuk dirinya sendiri.`

Langdon tidak memikirkan kemungkinan itu. `Bagaimana Vernet tahu isi kotak itu?`

`Banknya menyimpan kotak itu. Dia juga mengenal kakekku. Mungkin saja dia tahu berbagai hal. Dia mungkin memang menginginkan Grail.`

Langdon menggelengkan kepalanya. Tampaknya Vernet bukan orang seperti itu. `Menurut pengalamanku, hanya ada dua alasan orarrg mencari Grail. Mereka naif dan percaya bahwa mereka mencari Cawan Kristus yang sudah lama hilang...`

`Atau?`

`Mereka tahu yang sebenarnya dan terancam karenanya. Ada banyak kelompok di sepanjang sejarah yang mencari dan ingin menghancurkan Grail.`

Kesunyian di antara mereka diperjelas dengan suara bumper yang menggesek aspal. Mereka telah berjalan beberapa kilometer sekarang. Ketika Langdon melihat percikan api dari depan truk itu, dia bertanya-tanya apakah hal itu tidak berbahaya. Jika mereka berpapasan dengan mobil lain, pastilah itu akan menarik perhatian. Langdon mengambil keputusan.

`Aku akan mencoba meluruskan bumper itu.` Langdon menghentikan truk.

Akhirnya sunyi senyap.

Ketika Langdon berjalan ke bagian depan truk, dia merasa was-was. Dia telah melihat laras pistol yang kedua malam ini, dan dia selamat lagi. Dia menghirup udara malam dalam-dalam dan mencoba memikirkan semua kejadian yang menimpanya. Setelah merasa terbebani sebagai buron, Langdon mulai merasa beratnya tanggung jawab baru, yaitu kemungkinan bahwa dia dan Sophie memegang serangkaian sandi yang mengantarkan ke sebuah misteri yang paling abadi sepanjang masa.

Seolah beban ini masih kurang besar, Langdon sekarang tahu bahwa segala kemungkinan untuk mengembalikan batu kunci itu kepada Biarawan telah hilang. Berita tentang tiga pembunuhan tambahan itu mempunyai implikasi yang menakutkan. Biarawan telah disusupi orang luar. Mereka mencurigakan. Persaudaraan itu jelas diawasi, atau ada musuh dalam selimut di antara lapisanlapisannya. Tampaknya itu menjelaskan mengapa Sauniere memindahkan batu kunci itu kepada Sophie dan Langdon-orang luar persaudaraan itu, orang yang dia tahu tidak mencurigakan. Kita sama sekali tidak dapat mengembalikan batu kunci kepada kelompok persaudaraan itu. Kalaupun Langdon tahu bagaimana mencari anggota Biarawan, kemungkinan besar orang yang mengaku dirinya sebagai anggota persaudaraan itu adalah justru musuh. itu sendiri. Untuk sesaat, setidaknya, batu kunci itu ada di tangan Sophie dan Langdon, tidak penting apakah mereka menginginkannya atau tidak.

Ujung depan truk itu tampak lebih payah daripada yang diperkirakan Langdon. Lampu depan kiri telah hilang, dan yang kanan tampak seperti bola mata yang menggantung keluar dari kelopak matanya. Langdon membenarkannya, tapi lampu itu keluar lagi. Satu-satunya kabar baik adalah bumper itu telah hampir putus. Langdon menendangnya dengan keras dan merasa dia mampu melepas bumper itu dari truk.

Ketika dia berkali-kali menendang metal yang melintir itu, Langdon ingat akan percakapan pertamanya dengan Sophie. Kakekku meninggalkan pesan telepon, cerita Sophie tadi. Katanya dia perlu memberitahukan kebenaran tentang keluargaku. Pada saat itu, percakapan itu tidak ada artinya, namun sekarang, setelah tahu bahwa Biarawan Sion terlibat, Langdon merasa munculnya kemungkinan baru yang mengejutkan.

Bumper itu tiba-tiba terlepas dan terhempas. Langdon berhenti untuk bernapas. Setidaknya truk itu tidak lagi tampak seperti kembang api. Dia memungut bumper itu dan menyeretnya jauh ke hutan sambil memikirkan ke mana tujuan mereka setelah ini. Mereka tidak tahu bagaimana membuka cryptex itu, atau mengapa Sauniere memberikannya kepada mereka. Sialnya, keselamatan mereka malam ini tampaknya tergantung justru pada jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.

Kita perlu pertolongan, akhirnya Langdon memutuskan. Pertolongan dari seorang profesional.

Di dalam dunia Holy Grail dan Biarawan Sion, itu artinya hanya satu orang. Tantangannya adalah, tentu saja, menawarkan gagasan itu kepada Sophie.

Sementara itu, di dalam truk berlapis baja, Sophie menunggu Langdon kembali. Dia dapat merasakan beratnya kotak kayu mawar itu di atas pangkuannya, dan dia membencinya. Mengapa kakekku memberikan ini kepadaku? Dia sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukannya pada kotak itu.

Berpikir, Sophie! Gunakan otakmu. Grand-pere sedang berusaha mengatakan sesuatu padamu!

Dia membuka kotak itu dan memperhatikan lempenganlempengan cryptex. Bukti kepatutan. Dia dapat merasakan tangan kakeknya sedang bekerja. Batu kunci itu merupakan peta yang dapat diikuti hanya oleh orang yang layak. Itu betul-betul suara kakeknya.

Sophie mengeluarkan cryptex itu dari kotaknya, lalu mengusapkan jemarinya mengelilingi lempengan-lempengan itu. Lima huruf. Dia memutarnya satu persatu. Alat itu berputar halus. Dia menyejajarkan cakram-cakram itu sedemikian rupa sehingga huruf-huruf pilihannya berbaris di antara dua panah kuningan yang sejajar pada setiap ujung silinder. Lempengan-lempengan itu sekarang menampilkan sebuah kata yang terdiri atas lima huruf, kata yang sangat dikenal Sophie.

G-R-A-I-L.

Perlahan, Sophie memegang kedua ujung silinder itu dan menariknya, sambil menambahkan tekanan perlahan. Cryptex itu tidak bergerak. Dia mendengar kecipak cuka di dalamnya dan berhenti menarik. Kemudian dia mencoba lagi.

V I-N-C-I.

Lagi, tidak ada pergerakan. V-O-U-T E

Tidak juga. Cryptex itu masih tetap terkunci rapat.

Dia mengerutkan dahinya, lalu menyimpan cryptex itu kembali di dalam kotak dan menutupnya. Saat melihat ke luar pada Langdon, Sophie merasa bersyukur Langdon bersamanya malam ini. P.S Cari Robert Langdon. Alasan kakeknya untuk melibatkan Langdon sekarang menjadi jelas. Sophie tidak siap untuk mengerti maksud kakeknya, dan karena itu kakeknya meminta Robert Langdon sebagai pemandunya. Seorang guru untuk mengajarnya. Sialnya bagi Langdon, malam ini dia harus berperan lebih dari seorang guru. Dia telah menjadi sasaran Bezu Fache ... dan beberapa kekuatan tak terlihat yang berniat menguasai Holy Grail. Apa pun Grail itu nantinya.

Sophie bertanya-tanya apakah menemukan Grail seharga hidupnya.

Ketika truk berlapis baja itu berjalan lagi, Langdon senang karena truk itu sekarang melaju lebih lancar. `Kau tahu arah ke Versailles?`

Sophie menatap Langdon. `Mau melihat-lihat?`

`Tidak, aku punya rencana. Di sana ada ahli sejarah agama yang kukenal. Dia tinggal di dekat Versailles. Aku tidak ingat di mana tepatnya, tetapi kita bisa mencarinya. Aku pernah berkunjung ke sana beberapa kali. Namanya Leigh Teabing. Dia mantan ahli sejarah bangsawan Inggris.`

`Dan dia tinggal di Paris?`

`Semangat hidup Teabing adalah Grail. Ketika kabar angin tentang batu kunci milik Biarawan itu muncul kira-kira lima belas tahun yang lalu, dia pindah ke Prancis untuk menyelidiki gereja-gereja dengan harapan dapat menemukan Grail. Dia menulis beberapa buku tentang batu kunci dan Grail. Dia mungkin dapat membantu kita mengetahui bagaimanan membuka itu dan apa yang harus kita lakukan pada silinder itu.`

Mata Sophie bersinar waspada. `Kau memercayainya?` `Memercayainya untuk apa? Bahwa dia tak akan mencuri informasi itu?

`Dan tidak akan melaporkan kita.`

`Aku tidak bermaksud menceritakan padanya bahwa kita dicari polisi. Aku berharap dia mau menerima kita sampai kita tahu bagaimana mengatasi semuanya.`

`Robert, kau tidak sadar bahwa semua televisi di Prancis mungkin telah menyiarkan foto kita? Bezu Fache selalu menggunakan media dalam pekerjaannya. Dia akan membuat kita tidak dapat berkeliaran tanpa diketahuinya.`

Hebat. Pikir Langdon. Penampilan pertamaku di tv Prancis adalah dalam siaran `Orang yang Paling Dicari di Paris. ` Paling tidak Jonas Faukman akan senang; setiap kali Langdon membuat berita, bukunya akan melonjak laris.

`Kau berteman cukup baik dengan orang ini?`

Langdon ragu apakah Teabing senang menonton televisi, apalagi pada jam seperti ini, namun pertanyaan itu pantas dipertimbangkan. Naluri Langdon mengatakan bahwa Teabing betulbetul dapat dipercaya. Sebuah pelabuhan aman yang ideal. Mengingat keadaan ini, Teabing akan menawarkan diri untuk mengambil risiko dengan menolong mereka semaksimal mungkin. Bukan hanya karena dia pernah berutang budi pada Langdon, namun dia adalah peneliti Grail, dan Sophie mengakui bahwa kakeknya betul-betul mahaguru dari Biarawan Sion. Jika Teabing mendengar itu, dia akan sangat bersedia membantu mereka dalam hal ini.

`Teabing bisa menjadi kawan yang dapat diandalkan,` kata Langdon. Tergantung dari berapa banyak yang ingin kau katakan padanya.

`Fache mungkin telah menawarkan uang untuk penangkapan kita.`

Langdon tertawa. Percayalah, uang adalah hal terakhir yang dibutuhkan orang ini.` Leigh Teabing kaya dalam ukuran sebuah negara kecil. Sebagai keturunan Duke of Lancaster Pertama dari Inggris, Teabing mendapatkan uangnya dengan cara lama-waris. Rumahnya di luar Paris adalah sebuah istana abad XVII dengan dua danau pribadi.

Langdon pertama kali bertemu dengannya beberapa tahun yang lalu melalui British Broadcasting Corporation. Teabing mendatangi BBC untuk menawarkan film dokumentasi sejarah, yang akan membongkar sejarah Holy Grail yang menggemparkan kepada penonton sebuah stasiun televisi besar. Produser BBC menyukai pemikiran Teabing yang cemerlang, penelitiannya, dan nama baiknya, tetapi mereka menilai konsep itu terlalu mengguncangkan dan sulit dicerna, sehingga mereka khawatir BBC akan kehilangan reputasinya sebagai stasiun tv dengan kualitas jurnalisme yang baik. Seperti disarankan Teabing, BBC memecahkan kekhawatirannya dengan mengundang tiga orang ahli sejarah yang ternama dari seluruh dunia, yang semuanya membenarkan sifatsifat mengagumkan dari Holy Grail lewat penelitian mereka sendiri.

Langdon adalah salah satu dari pakar yang dipilih itu.

BBC telah menerbangkan Langdon ke rumah Teabing di Paris untuk pembuatan film itu. Dia duduk di depan kamera di ruang duduk Teabing yang mewah dan menceritakan sejarahnya. Dia mengakui keraguannya ketika pertama kali mendengar cerita yang berbeda tentang Holy Grail, kemudian menggambarkan betapa penelitian selama bertahun-tahun telah membuktikan bahwa cerita itu benar. Akhirnya, Langdon menawarkan beberapa hasil penelitiannya -- serangkaian kaitan simbologis yang sangat mendukung pernyataan yang tampak kontroversial itu.

Ketika acara itu disiarkan di Inggris, walau didukung oleh pernyataan yang kompak dari para pelakunya dan bukti-bukti yang terdokumentasi dengan baik, gagasan itu ternyata sangat menyinggung pemikiran Kristen yang populer sehingga segera menimbulkan perlawanan yang sengit. Acara itu tidak pernah disiarkan di Amerika Serikat, namun reaksi tersebut menggema melintasi Atlantik. Tak lama berselang, Langdon menerima sepucuk kartu dari seorang teman lama, seorang uskup Katolik dari Philadelphia. Kartu itu hanya bertuliskan: Et tu, Robert? kau juga, Robert?

`Robert,` tanya Sophie, `kau yakin kita dapat memercayai orang ini?`

`Pasti. Kami berteman, dia tidak memerlukan uang, dan aku kebetulan tahu dia membenci pihak berwenang Prancis. Pemerintah Prancis membebaninya dengan pajak yang luar biasa karena dia membeli tempat bersejarah. Dia tidak mungkin bekerja sama dengan Fache.`

Sophie menatap ke luar pada jalan gelap. `Jika kita pergi ke orang itu, seberapa banyak kau akan memberikan informasi kita?` Langdon tampak tak siap. `Percayalah. Leigh Teabing lebih tahu tentang Biarawan Sion dan Holy Grail dibandingkan siapa pun di bumi ini.`

Sophie menatap tajam. `Lebih dari kakekku?` `Maksudku, orang di luar persaudaraan itu.`

`Bagaimana kautahu Teabing bukan anggota persaudaraan?` `Teabing telah menghabiskan hidupnya untuk menyiarkan kebenaran tentang Holy Grail. Anggota Biarawan bersumpah untuk menjaga kerahasiaannya.`

`Terdengar seperti konflik kepentingan, bagiku.`

Langdon mengerti kekhawatiran Sophie. Sauniere telah memberikan cryptex rahasia langsung kepada Sophie, dan walau dia tidak tahu apa isinya atau apa yang harus dilakukannya, dia ragu untuk melibatkan orang yang benar-benar tidak dikenalnya. Mengingat kemungkinan informasi itu tertutup, naluri mungkin merupakan hal yang baik untuk didengar. `Kita tidak perlu langsung mengatakan tentang batu kunci itu kepada Teabing. Atau sama sekali tidak. Kita bisa saja ke rumahnya hanya untuk bersembunyi dan berpikir. Mungkin ketika kita berbicara dengannya tentang Grail, kau akan mulai tahu mengapa kakekmu memberikan itu kepadamu.`

`Kepada kita,` Sophie mengingatkan.

Langdon merasa sedikit bangga walau bertanya-tanya lagi mengapa Sauniere melibatkannya.

`Kautahu sedikit banyak di mana Pak Teabing tinggal?` tanya Sophie.

`Rumahnya disebut Puri Villette.`

Sophie berputar dan menatap Langdon dengan tatapan meragukan. `Puri Villette itu?`

`Ya, itulah. Kau tahu?`

`Aku pernah melewatinya. Itu di daerah puri. Dua puluh menit dari sini.`

Langdon berkerut dahinya. `Sejauh itu?`

`Ya. Kau jadi punya waktu cukup untuk menceritakan apa sebenarnya Holy Grail itu.`

Langdon terdiam. `Aku akan menceritakannya di rumah Teabing. Kami berdua mengkhususkan diri pada area legenda yang berbeda, sehingga jika kau berada di antara kami, kau akan mendapatkan cerita yang lengkap.` Langdon tersenyum. `Lagi pula, Grail sudah merupakan kehidupan Teabing, dan mendengarkan cerita tentang Holy Grail dari mulutnya akan seperti mendengarkan teori relativitas dari mulut Einstein sendiri.`

`Semoga saja Leigh tidak berkeberatan dengan tamu tengah malam.`

`Untuk dicatat, namanya Sir Leigh.` Langdon membuat kesalahan itu hanya satu kali. `Teabing orang yang unik. Dia dinobatkan sebagai `ksatria' oleh Ratu beberapa tahun yang lalu setelah menyusun sebuah sejarah yang panjang tentang House of York.`

Sophie menatapnya. `Kau bercanda? Kita akan mengunjungi seorang knight?`

Langdon tersenyum aneh. `Kita sedang dalam masalah Grail, Sophie. Siapa yang dapat menolong kita kalau bukan seorang kesatria?`

52

PURI VILLETTE terhampar seluas 185 ha, terletak dua puluh menit dari barat laut Paris di sekitar Versailles. Dirancang oleh Franqois Mansart pada tahun 1668 untuk Count of Aufflay, Puri Villette merupakan salah satu puri bersejarah yang penting di Paris. Dilengkapi dengan dua danau persegi dan taman rancangan Le Notre, Puri Villette lebih sebagai puri yang sederhana daripada sebuah rumah mewah besar. Tempat tinggal itu lebih terkenal dengan nama la Petite Versailles----Versailles Kecil

Langdon menghentikan truk lapis baja itu di sebuah perhentian yang mengerikan di ujung jalan yang sepanjang satu mil. Jauh di dalam gerbang pengamanan yang mengagumkan, tempat kediaman Sir Leigh Teabing menjulang di atas sebuah padang rumput. Tanda yang terpasang di pintu gerbang itu tertulis dalam bahasa Inggris:

MILIK PRIBADI. DILARANG MASUK.

Seolah menyatakan bahwa rumahnya merupakan sebuah kepulauan Britania, Teabing tidak hanya mencantumkan tanda itu dalam bahasa Inggris, tetapi juga memasang sistem entry interkom pada pintu gerbang di sisi sebelah kanan truk sisi sebelah tempat duduk penumpang untuk setiap mobil Eropa, kecuali Inggris.

Sophie melihat interkom yang salah tempat itu dengan aneh. `Bagaimana jika seseorang datang tanpa penumpang?`

`Jangan bertanya.` Langdon sudah sangat mengenal Teabing. `Dia lebih suka segalanya seperti di negerinya saja.`

Sophie menurunkan jendelanya. `Robert, lebih baik kau saja yang bicara.`

Langdon menggeser duduknya, mencondongkan tubuhnya ke arah Sophie untuk menekan tombol interkom. Ketika dia menekan tombol itu, hidung Langdon mencium bau parfum Sophie, dan dia baru sadar betapa dekat posisi mereka. Langdon menunggu, kemudian ada suara aneh, sementara sebuah telepon mulai berdering melalui speaker kecil.

Akhirnya, interkom itu terhubung dan suara beraksen Prancis dari seseorang yang terganggu berkata: `Puri Villette. Siapa yang datang?`

`Ini Robert Langdon,` seru Langdon, menjulur melintasi pangkuan Sophie. `Aku teman Sir Leigh Teabing. Aku memerlukan bantuannya.`

`Tuanku sedang tidur. Juga aku tadi. Apa urusan Anda dengan Tuanku?`

`Ini urusan pribadi. Salah satu hal yang sangat menarik perhatiannya.` -

`Kalau begitu dia pasti akan senang menerima Anda besok pagi.

Langdon memindahkan berat tubuhnya. `Ini sangat penting.` `Begitu juga dengan waktu tidur Sir Leigh. Jika Anda temannya, maka Anda tahu dia tidak terlalu sehat.`

Sir Leigh Teabing menderita polio sejak kecil. Sekarang dia mengenakan penyangga kaki dan berjalan menggunakan tongkat ketiak. Namun Langdon menganggapnya sangat bersemangat dan menarik pada saat terakhir kali mengunjunginya. Sir Leigh sama sekali tidak terlihat lemah. `Jika Anda mau, tolong sampaikan saya punya informasi baru yang belum jelas tentang Grail. Informasi tersebut tidak dapat menunggu sampai besok.`

Lama tak ada jawaban.

Langdon dan Sophie menunggu. Mesin truk menggerum keras. Satu menit penuh berlalu.

Akhirnya seseorang berbicara. `Teman baikku, aku berani mengatakan bahwa kau masih dalam standar waktu di Harvard.` Suara itu nyaring dan ringan.

Langdon menyeringai, mengenali aksen Inggris yang kental. `Leigh, maafkan aku karena telah lancang membangunkanmu pada jam seperti ini.

`Pelayanku bilang bahwa kau tidak saja di Paris, tetapi juga berbicara tentang Grail.`

`Kupikir itu bisa membuatmu bangun dari tempat tidurmu.` `Aku sudah bangun.`

`Kau mau membukakan pintu gerbang untuk teman lama?` `Mereka yang mencari kebenaran lebih dari sekadar teman. Mereka saudara.`

Langdon menaikkan bola matanya ke arah Sophie. Dia sudah sangat terbiasa dengan kegemaran Teabing akan drama kuno. `Aku memang akan membuka pintu gerbang,` kata Teabing, `tetapi pertama-tama aku harus yakin bahwa kau jujur. Sebuah tes untuk kehormatanmu. Kau akan menjawab tiga pertanyaan.` Langdon menggeram, berbisik pada Sophie. `Sabarlah denganku di sini. Aku sudah katakan, orang ini agak unik.` `Pertanyaan pertama,` kata Teabing, nada suaranya seperti Herkules. `Apakah aku akan menjamumu dengan kopi atau teh?` Langdon tahu bagaimana perasaan Teabing tentang fenomena kopi orang Amerika. `Teh,` Langdon menjawab. `Earl Grey` `Bagus sekali. Pertanyaan kedua. Susu atau gula?`

Langdon ragu.

`Susu,` bisik Sophie pada telinga Langdon. `Kupikir orang Inggris suka susu pada tehnya.`

`Susu,` kata Langdon. Sunyi.

`Gula?`

Teabing tidak menjawab.

Tunggu! Langdon sekarang ingat minuman pahit yang pernah disajikan untuknya pada kunjungannya yang terakhir. Pertanyaan ini, dia sadar, pastilah sebuah jebakan. `jeruk nipis!` dia berseru. `Earl Grey dengan jeruk nipis. `

`Betul.` Teabing terdengar senang sekali sekarang. `Dan, akhirnya, aku harus menanyakan pertanyaan yang paling menyedihkan.` Teabing terdiam, kemudian berbicara dengan nada sopan. `Pada tahun berapa pendayung Harvard terakhir kalinya mengalahkan pendayung Oxford di Henley?`

Langdon tidak tahu, namun dia dapat membayangkan hanya satu alasan pertanyaan ini diajukan. `Tentu saja parodi seperti itu tidak pernah terjadi.`

Pintu gerbang itu terbuka. `Hatimu memang jujur, temanku. Kau boleh masuk.`

53

`MONSIEUR VERNET!` manajer malam Bank Penyimpanan Zurich merasa lega mendengar suara presiden banknya di telepon. `Anda pergi ke mana tadi, Pak? Polisi di sini. Semua orang menunggu Anda!`

`Aku punya masalah kecil,` kata presiden bank itu, terdengar sedih. `Aku perlu bantuanmu segera.` .

Anda punya lebih dari sekadar masalah kecil, pikir manajer itu. Polisi telah mengepung keseluruhan bank itu dan mengancam dengan mendatangkan kapten DCPJ sendiri dan membawa surat izin penggeledahan yang diminta bank tadi. `Bantuan apa yang harus saya lakukan, Pak?`

`Truk lapis baja nomor tiga. Aku harus menemukannya.`

Dengan bingung, manajer itu memeriksa daftar pengiriman. `Ada di sini, Pak. Di bawah, di dok pemuatan.`

`Tidak. Truk itu dicuri oleh kedua buronan polisi itu.`

`Apa? Bagaimana mereka bisa keluar?`

`Aku tidak dapat menjelaskan dengan rinci di telepon, tetapi kita ada masalah yang kemungkinan besar dapat mendatangkan kerugian pada bank.`

`Apa yang harus saya lakukan, Pak?`

'`Aku mau kau mengaktifkan transponder darurat pada truk itu.`

Mata manajer malam itu bergerak ke kotak pengendali LoJack di seberang ruangan. Seperti banyak mobil lapis baja, setiap truk bank telah dilengkapi dengan peralatan radio-kontrol yang dapat diaktifkan secara jarak jauh dari bank. Manajer itu hanya pernah menggunakan satu kali sistem darurat itu, setelah terjadi suatu pembajakan, dan alat itu berfungsi dengan sempurna-mencari lokasi truk itu dan mengirimkan kordinasi kepada yang berwenang secara otomatis. Namun, malam iri, manajer itu menarik kesan bahwa dia perlu bersikap lebih bijaksana. `Pak, Anda tahu bahwa jika saya mengaktifkan sistem Lo Jack, alat transponder itu akan sekaligus menginformasikan kepada pihak yang berwenang bahwa kita punya masalah.`

Vernet terdiam beberapa detik. `Ya, aku tahu. Kerjakan saja. Truk nomor tiga. Aku perlu tahu lokasi truk itu secara tepat.

Aku tunggu sekarang.` `Segera, Pak.`

Tiga puluh detik kemudian, empat puluh kilometer jaraknya dari bank, tersembunyi di bawah truk berlapis baja, sebuah transponder kecil berkedip menyala.

54

KETIKA LANGDON dan Sophie mengendarai truk lapis baja itu di sepanjang jalan yang kirikanannya diapit pepohonan, ke arah rumah itu, Sophie merasa otot-ototnya menjadi lebih kendur. Dia merasa lega telah keluar dari jalan umum, sehingga dia dapat memikirkan beberapa tempat lainnya yang aman bagi mereka, selain tempat tinggal berpintu gerbang milik orang asing yang ramah itu.

Mereka membelok mengikuti jalan yang memutar, dan tampaklah Puri Villette di sebelah kanan. Bertingkat tiga dengan panjang setidaknya enam puluh meter, gedung itu dihiasi dinding batu kelabu yang disinari oleh lampu sorot di luar. Bagian depan gedung yang kasar itu rapi sejajar, menghadap ke taman yang indah dan danau yang bening.

Lampu dari dalam rumah baru saja dinyalakan.

Langdon tidak menghentikan mobilnya di depan pintu. Dia meneruskannya hingga ke tempat parkir yang berada di bawah pepohonan yang selalu rindang. `Jangan sampai mobil ini terlihat dari luar,` kata Langdon.

`Atau, Leigh bertanya-tanya mengapa kita datang dengan truk berlapis baja yang hancur begini.`

Sophie mengangguk. `Bagaimana dengan cryptex ini? Kita tidak dapat meninggalkannya di sini, bukan? Tetapi jika Leigh melihatnya, dia pasti akan bertanya.`

`Jangan khawatir,` kata Langdon, lalu dia menanggalkan jasnya sambil keluar dari truk itu. Dia kemudian membungkus kotak kayu itu dengan jasnya dan membawa bungkusan itu seperti menggendong bayi.

Sophie tampak ragu. `Hampir tidak kentara.`

`Teabing tidak pernah menanyakan apa-apa pada tamunya; dia lebih suka mempersilakan tamunya masuk. Aku akan menemukan tempat untuk menyembunyikan ini di dalam, sebelum dia menemui kita.` Langdon terdiam sejenak. `Sebenarnya, aku harus mengatakan ini sebelum kau bertemu dengan Sir Leigh. Dia punya selera humor yang biasanya dianggap orang agak ... aneh.`

Sophie ragu apakah masih ada yang lebih aneh daripada semua yang dialaminya malam ini.

Jalan kecil menuju pintu rumah itu dibuat dari bebatuan bulat yang diatur dan dipasang dengan tangan. Lalu jalan itu membelok menuju pintu dari kayu ek dan ceri yang diukir dan diberi hiasan pengetuk dari kuningan seukuran buah anggur. Sebelum Sophie dapat meraih pengetuk itu, pintu besar itu sudah terbuka ke dalam.

Seorang pelayan lelaki yang tampak kuno dan anggun berdiri di depan mereka, sambil memperbaiki dasi putih dan jas tuxedonya walau sesungguhnya dia sudah sangat rapi. Pelayan itu tampak berusia sekitar lima puluhan, dengan penampilan yang necis dan tarikan wajah yang tegang. Langdon merasa seakan kehadiran mereka sangat mengganggunya.

`Sir Leigh akan segera turun,` katanya. Aksen Prancisnya sangat kental. `Beliau sedang berganti pakaian. Beliau tidak suka menyambut tamu dengan hanya mengenakan baju tidur. Boleh saya ambil jas . Anda?` Dia mengerutkan dahinya sambil melihat gulungan jas di tangan Langdon.

`Tidak perlu. Aku tidak apa-apa,` kata Langdon. `Tentu saja. Silakan lewat sini.`

Pelayan itu membawa mereka melewati sebuah ruang depan yang serba pualam ke sebuah ruang duduk yang sangat mewah, dan diterangi dengan lembut oleh lampu-lampu antik zaman Ratu Victoria. Udara di dalam ruangan itu beraroma kuno, walau anggun. Aroma tembakau dari pipa, daun teh, sherry untuk masak, dan aroma tanah yang berasal dari arsitektur bebatuan. Pada dinding yang jauh, di antara dua cerobong surat dari metal, terletak perapian yang cukup besar untuk memanggang seekor sapi jantan, yang tersusun dari bebatuan yang ditata kasar. Si pelayan berjalan ke arah perapian tersebut, berjongkok dan menyentuh sebuah korek api sambil mempersiapkan balok kayu ek dan rantingranting. Tak lama kemudian api menyala.

Pelayan itu berdiri, merapikan jasnya. `Tuanku meminta Anda untuk berlaku seperti di rumah sendiri.` Setelah itu dia pergi meninggalkan Langdon dan Sophie sendirian.

Sophie bingung juga harus memilih duduk di mana di antara kursi-kursi antik di dekat perapian itu. Apakah dia akan duduk di kursi panjang beludru zaman Renaissance, atau kursi goyang cakar elang yang tampak sudah berkarat, atau sepasang bangku gereja dari batu yang mungkin saja diambil dari sebuah kuil zaman Bizantinum.

Langdon membuka bungkusan cryptex, berjalan ke arah kursi panjang beludru, lalu menyelipkan kotak kayu itu di bawahnya sehingga tak terlihat dari luar. Kemudian dia mengibaskan jasnya dan mengenakannya lagi. Setelah itu dia tersenyum kepada Sophie dan duduk di atas kursi panjang itu, tepat di atas harta karun yang disembunyikannya.

Aku pilih kursi panjang itu, pikir Sophie, lalu duduk di sam ping Langdon.

Ketika Sophie menatap api yang membesar dan menikmati kehangatannya, dia merasa bahwa kakeknya pasti menyukai ruangan ini. Panel kayu berwarna gelap itu dihiasi dengan lukisanlukisan karya pakar-pakar lama. Sophie mengenali salah satunya, sebuah lukisan Poussin, pelukis kesayangan kakeknya yang kedua. Pada rak di atas perapian, sebuah patung torso Isis dari batu pualam mengawasi ruangan.

Di bawah dewi Mesir itu, di dalam perapian, dua gargoyle batu berukir hewan- berfungsi sebagai penopang kayu bakar. Mulut hewan-hewan ukiran itu terbuka, memperlihatkan kerong kongan mereka yang dalam dan mengancam. Gargoyle selalu membuat Sophie kecil ketakutan, sebelum Sauniere membawanya ke puncak katedral Notre Dame di waktu hujan badai. `Putri, lihatlah makhluk-makhluk bodoh ini,` kata kakeknya, sambil menunjuk pada gargoyle yang berfungsi sebagai ujung talang air, yang menyemburkan air hujan dari mulutnya. `Kau dengar suara lucu yang keluar dari tenggorokan mereka?` Sophie kecil mengangguk, tersenyum karena suara yang seperti berkumur dari mulut hewan-hewan itu. `Mereka berkumur,` kata kakeknya. `Gargariser! Dan, dari situlah mereka mendapatkan nama bodoh itu, gargoyles.` Sejak itu Sophie tidak pernah takut lagi.

Kenangan manis itu membuat Sophie merasa sedih karena kenyataan bahwa kakeknya telah dibunuh mencengkeram perasaannya lagi. Grand pere sudah pergi. Dia membayangkan cryptex itu di bawah kursi panjang dan bertanya-tanya apakah Leigh Teabing tahu bagaimana membukanya. Atau perlukah kita menanyakannya. Kata-kata terakhir kakek Sophie telah menyuruhnya untuk mencari Robert Langdon. Kakeknya tidak mengatakan untuk melibatkan orang lain lagi. Kita perlu tempat untuk bersembunyi, pikir Sophie, memutuskan untuk memercayai penilaian Robert.

`Sir Robert!` sebuah suara berseru dari belakang mereka. `Aku lihat kau bepergian dengan seorang nona?`

Langdon berdiri. Sophie juga terloncat dari duduknya. Suara itu datang dari puncak tangga yang berkelok ke lantai dua yang gelap. Pada puncak anak tangga, sesosok bayangan bergerak, hanya siluetnya yang tampak.

`Salamat malam,` seru Langdon. `Sir Leigh, perkenankan aku memperkenalkan Sophie Neveu.`

`Sebuah kehormatan bagiku,` kata Teabing sambil bergerak ke tempat yang lebih terang.

`Terima kasih mau menerima kami,` kata Sophie, sekarang dia dapat melihat lelaki itu mengenakan penyangga kaki dari metal dan penopang ketiak. Sir Leigh menuruni anak tangga satu demi satu. `Aku tahu, ini sudah sangat larut,` sambung Sophie.

`Ini tidak terlalu larut, sayangku. Ini terlalu awal.` Sir Leigh tertawa. `Vous n etes pas Americaine?` Sir Leigh menanyakan apakah Sophie bukan orang Amerika.

Sophie menggelengkan kepalanya. `Parisienne.` `Bahasa Inggrismu sangat istimewa.`

`Terima kasih. Aku belajar di Royal Holloway.`

`Pantas saja.` Lalu Teabing terpincang turun lagi melewati kegelapan. `Mungkin Robert telah mengatakan, aku belajar di Oxford saja.` Teabing tersenyum nakal kepada Langdon. `Tentu saja, aku juga melamar ke Harvard sebagai cadangan.`

Akhirnya tuan rumah itu tiba di dasar tangga. Bagi Sophie, Teabing tampak lebih sebagai Sir Elton John daripada seorang kesatria. Berperut gendut dan berwajah kemerahan, Sir Leigh Teabing berambut seperti semak merah dan mata coklat yang riang, yang selalu tampak bercahaya ketika sedang berbicara. Teabing mengenakan celana panjang berlipat dan kemeja dari sutera di bawah rompi wol yang bercorak halus. Walau kakinya ditopang dengan aluminium, Sir Leigh tetap bersikap tabah, berdiri tegak penuh percaya diri, sikap yang tampaknya lebih karena nenek moyangnya yang para bangsawan tinggi daripada dibuatbuat.

Teabing tiba di bawah dan mengulurkan tangan kepada Langdon. `Robert, kau telah kehilangan berat badanmu.`

Langdon tersenyum. `Dan kau menemukannya sebagian.` Teabing tertawa riang, sambil menepuk-nepuk perut bulatnya. `Touche. Satu-satunya kegemaran jasmaniahku akhir-akhir ini tampaknya hanya masak-memasak.` Sekarang dia menoleh kepada Sophie. Dengan lembut dia mengambil tangan Sophie, dan menundukkan kepalanya sedikit, bernapas ringan pada jemari Sophie tanpa menatap matanya. `Mlady.`

Sophie mengerling pada Langdon. Dia ragu apakah sedang berada di zaman lampau atau di rumah sakit gila.

Pelayan yang tadi membukakan pintu masuk rnembawa sebuah nampan teh, yang langsung diaturnya di atas meja di depan perapian.

`Ini Remy Legaludec,` kata Teabing, `pelayanku.`

Pelayan ramping itu mengangguk kaku dan menghilang lagi. `Remy orang Lion,` bisik Teabing, seolah itu aib yang menyedihkan. `Tetapi saus buatannya sangat lezat.`

Langdon tampak senang. `Aku tadinya mengira kau mendatangkan pelayan dari Inggris.`

`Oh, tidak! Aku tidak mau juru masak Inggris. Hanya orang Prancis, si pengumpul pajak.` Leigh menoleh kepada Sophie. `Pardonnez-moi, Mademoiselle Neveu. Yakinlah, ketidaksukaanku terhadap Prancis hanya dari segi politik dan sepak bola mereka saja. Pemerintah Anda mencuri uangku, dan kesebelasan sepak bola Anda akhir-akhir ini mempermalukan kami.`

Sophie tersenyum manis.

Teabing menatapnya sesaat dan kembali ke Langdon. `Ada yang telah terjadi. Kalian berdua tampak gemetar.`

Langdon mengangguk. `Kami telah melewatkan malam yang sangat menarik, Leigh.`

`Tak diragukan. Kalian datang di depan pintuku di tengah malam dan mengatakan tentang Grail. Katakan, apakah ini memang tentang Grail, atau kau mengatakan itu hanya supaya dapat membangunkanku dari tidur di tengah malam?`

Cenderung keduanya, pikir Sophie, sambil membayangkan cryptex yang tersembunyi di bawah bangku.

`Leigh,` kata Langdon. `Kami ingin berbicara denganmu tentang Biarawan Sion.`

Alis lebat Teabing tegak karena tergugah minatnya. `Para Pengawal. Jadi ini memang tentang Grail. Kau katakan tadi, kau datang membawa informasi? Ada yang baru, Robert?`

`Mungkin. Kami tidak terlalu yakin. Mungkin kami punya gagasan yang lebih baik jika kami dapat memperoleh beberapa informasi darimu lebih dulu.`

Teabing menggoyangkan jarinya. `Selalu orang Amerika yang cerdik. Baiklah. Aku siap melayani kalian. Apa yang dapat kukatakan?`

Langdon mendesah. `Aku berharap kau akan mau berbaik hati untuk menjelaskan kepada Nona Neveu sifat sesungguhnya dari Holy Grail.`

Teabing menatap terpaku. `Dia tidak tahu?` Langdon menggelengkan kepalanya.

Senyuman yang terkembang pada wajah Teabing bisa dikatakan hampir nakal. `Robert, kau telah membawa padaku seorang perawan?`

Langdon mengedipkan matanya, dan menatap Sophie. `Perawan adalah kata yang digunakan oleh peminat Grail bagi semua orang yang belum pernah mendengar cerita Grail yang sesungguhnya.`

Teabing menoleh bersemangat kepada Sophie. `Sebanyak apa yang telah kau ketahui, Nona.`

Dengan cepat Sophie mengatakan secara garis besar apa yang telah didengarnya dari Langdon sebelum ini-Biarawan Sion, Templar, dokumen Sangreal, dan Holy Grail, yang banyak orang mengatakannya bukanlah sebuah mangkuk ... melainkan sesuatu yang jauh lebih berarti.

`Itu saja?` Teabing menatap Langdon marah. `Robert, kukira kau pria terhormat. Kau telah mencuranginya habis-habisan!` `Aku tahu, kukira mungkin kau dan aku dapat ....` Langdon tampaknya memutuskan untuk tidak menggoda Sophie terlalu lama. Teabing sekarang menatap Sophie dengan mata jenakanya. `Kau betul-betul perawan Grail, Nona. Dan, percayalah padaku, kau tidak akan melupakan saat pertamamu.`

55

SOPHIE DUDUK di atas kursi panjang di samping Langdon. Dia meminum tehnya dan makan kue scone. Dia merasakan pengaruh kafein dan makanan yang menyenangkan: Sir Leigh Teabing tampak berseri wajahnya ketika melangkah kaku ke depan perapian. Penopang kakinya berdentingan pada batu perapian.

`Holy Grail,` kata Teabing, suaranya terdengar seremonial. `Umumnya orang menanyakan padaku di mana Grail itu sekarang. Aku khawatir itu pertanyaan yang tidak akan pernah dapat kujawab.` Dia menoleh dan menatap langsung pada Sophie. `Namun ... pertanyaan yang lebih relevan adalah: Apakah Holy Grail itu?`

Sophie merasa ada suasana akademis yang meninggi dari kedua orang teman lelakinya itu sekarang.

`Untuk mengerti Grail sepenuhnya,` Teabing melanjutkan, `pertama-tama kita harus mengerti Alkitab. Sejauh mana kau mengerti Perjanjian Baru?`

Sophie menggerakkan bahunya. `Sama sekali tidak mengerti. Aku dibesarkan oleh pria yang memuja Leonardo da Vinci.` Teabing tampak terkejut dan juga senang. `Sepotong jiwa yang tercerahkan. Istimewa! Kalau begitu, kau pasti tahu bahwa Leonardo adalah salah satu dari penjaga rahasia Holy Grail. Dan, dia menyembunyikan berbagai petunjuk dalam karya seninya.` `Ya, Robert telah mengatakannya padaku.`

`Dan, pandangan Da Vinci pada Perjanjian Baru?` `Aku tidak tahu.`

Mata Teabing bersinar riang ketika dia menunjuk ke rak buku di seberang ruangan. `Robert, bisa tolong? Di dasar rak. La Storia di Leonardo.`

Langdon bergerak ke seberang ruangan, menemukan sebuah buku seni besar, kemudian membawanya, lalu meletakkannya di atas meja di hadapan mereka. Teabing memutar buku itu hingga menghadap ke Sophie. Dia membuka sampul tebalnya dan menunjuk ke arah serangkaian kutipan pada bagian dalam dari sampul belakang. `Dari buku catatan Da Vinci tentang polemik dan spekulasi,` kata Teabing, sambil menunjukkan satu kutipan yang khusus. `Kupikir kau akan merasa ini relevan dengan diskusi kita.`

Sophie membaca kata-kata itu.

Banyak orang menjual angan-angan

dan mukjizat-mukjizat semu, mengelabui orang-orang bod

LEONARDO DA VINCI

`Ini ada satu lagi,` kata Teabing, sambil menunjuk pada kutipan yang lain.

Kelalaian membuta menyesatkan kita

O! Makhluk hidup celaka, buka mata kalian.'

-LEONARDO DA VINCI

Sophie merasa agak merinding. `Da Vinci berbicara tentang Alkitab?`

Teabing mengangguk. `Perasaan Leonardo tentang Alkitab berhubungan langsung dengan Holy Grail. Kenyataannya, Da Vinci melukis Grail yang asli, yang akan kutunjukkan kepadamu sebentar lagi, tetapi pertama-tama kita harus berbicara tentang Alkitab.` Teabing tersenyum. `Dan, segala yang kauingin tahu tentang Alkitab dapat disimpulkan oleh doktor agama yang terkenal, Martyn Perry.` Teabing berdaham dan menyatakan, `Alkitab tidak datang dengan cara difaks dari surga.`

`Maaf?`

`Alkitab adalah buatan manusia, Nona. Bukan Tuhan. Alkitab tidak jatuh secara ajaib dari awan. Orang membuatnya sebagai catatan sejarah dari hiruk-pikuk zaman, dan itu telah melibatkan penerjemahan, penambahan, dan revisi yang tak terhitung. Sejarah tidak pernah punya versi pasti buku itu.`

`Okay. `

`Yesus Kristus merupakan tokoh sejarah dengan pengaruh luar biasa, mungkin pemimpin yang paling membingungkan dan paling melahirkan inspirasi yang pernah ada di dunia. Seperti Messiah yang diramalkan, Yesus melebihi raja-raja, memberi inspirasi kepada jutaan orang, dan mendirikan filosofi baru. Sebagai keturunan Raja Salomo dan Raja David, Yesus berhak mewarisi takhta Raja Yahudi. Dapat dimengerti, kehidupan-Nya dicatat oleh ribuan pengikut di seluruh bumi ini.` Teabing terdiam sejenak untuk menghirup tehnya, kemudian meletakkan cangkirnya kembali di atas bibir perapian. `Lebih dari delapan puluh kitab Injil telah dipertimbangkan untuk masuk dalam Perjanjian Baru, namun akhirnya hanya relatif sedikit yang dipilih untuk dicantumkandi antaranya Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.`

`Siapa yang memilih kitab Injil mana untuk dicantumkan?` tanya Sophie.

`Aha!` Teabing meledak bersemangat. `Ironi mendasar dari Kristen! Alkitab yang kita kenal sekarang ini disusun oleh kaisar Roma yang pagan, Konstantin Agung.`

`Kukira Konstantin penganut Kristen,` kata Sophie.

`Tak benar,` Teabing terbatuk. `Dia seorang pagan seumur hidup. Dia dibaptis pada ranjang kematiannya, ketika dirinya terlalu lemah untuk melawan. Di masa Konstantin, agama resmi Romawi adalah pemujaan matahari-kelompok pemujaan Sol Invictus, atau Matahari Tak Tertandingi-dan Konstantin adalah pendeta kepalanya. Celaka baginya, sebuah guncangan religius tumbuh dan mencengkeram Roma. Tiga abad setelah penyaliban Yesus Kristus, para pengikut Kristus tumbuh berlipat-lipat. Kaum Kristen dan pagan mulai berperang, dan konflik itu tumbuh sedemikian besar sehingga mengancam akan membelah Roma menjadi dua. Konstantin memutuskan bahwa sesuatu harus dilakukan. Pada tahun 325 Masehi, ia memutuskan untuk menyatukan Romawi dalam sebuah agama tunggal. Kristen.`

Sophie terkejut. `Mengapa seorang kaisar pagan memilih Kristen sebagai agama resmi.`

Teabing tergelak. `Konstantin adalah pebisnis kawakan. Dia dapat melihat bahwa Kristen sedang bangkit, dan ia sekadar bertaruh pada kuda pemenang. Para sejarawan masih memuji kecemerlangan Konstantin yang mengalihkan kaum pagan pemuja matahari menjadi Kristen. Dengan meleburkan simbol-simbol, tanggal-tanggal, serta ritus-ritus pagan ke dalam adat-istiadat Kristen yang sedang tumbuh, dia telah menciptakan sejenis agama hibrid yang dapat diterima oleh kedua belah pihak.`

`Transmogrifikasi,` ujar Langdon. `Jejak-jejak agama pagan dalam simbologi Kristen tak terbantahkan. Cakram matahari kaum Mesir kuno menjadi lingkaran halo para santo Katolik. Berbagai piktogram Isis yang sedang menyusui putcanya yang lahir karena mukjizat, Horus, menjadi cetak biru bagi berbagai penggambaran modern kita akan Perawan Maria yang sedang menyusui Bayi Yesus. Dan, nyaris semua unsur dalam ritus Katolik-mitra, altar, doksologi, dan komuni, atau tindakan `makan Tuhan`--- diambil langsung dari agama-agama misteri pagan di masa awal.`

Teabing mengerang. `Jangan biarkan seorang simbolog mulai bicara tentang ikon-ikcn Kristen. Tak ada yang asli dalam Kristen.

Mithra, Tuhan pra-Kristen-disebut Putra Tuhan dan Cahaya Dunia-lahir dan mati pada 25 Desember, dikubur dalam sebuah makam batu, dan kemudian dibangkitkan dalam tiga hari. Omongomong, 25 Desember juga hari lahir Osiris, Adonis, dan Dionysus. Krishna yang baru lahir dihadiahi emas, dupa, dan kemenyan. Bahkan hari suci mingguan orang Kristen dicuri dari kaum pagan.`

`Apa maksudmu?`

`Aslinya,` kata Langdon, `Kristen menghormati Sabat Yahudi pada hari Sabtu, tapi Konstantin menggesernya agar bertemu dengan hari kaum pagan memuliakan matahari.` Dia mengambil jeda, menyeringai. `Hingga hari ini, kebanyakan jemaat gereja menghadiri layanan Gereja pada Minggu pagi tanpa sadar sama sekali bahwa mereka sedang melakukan penghormatan mingguan pada dewa matahari kaum pagan ---Sun-day, hari matahari.`

Kepala Sophie berputar tak karuan. `Dan segala hal ini berhubungan dengan Grail?`

`Memang,` kata Teabing. `Bersabarlah sejenak. Selama fusi agama-agama itu, Konstantin perlu memperkuat tradisi Kristen baru, dan dia mengadakan sebuah pertemuan ekumenikal termasyhur, yang dikenal dengan nama Konsili Nicea.`

Sophie hanya mendengarnya sebagai tempat lahir Pengakuan Iman Nicea.

`Dalam pertemuan ini,` kata Teabing, `banyak aspek dari Kristen diperdebatkan dan ditetapkan berdasarkan voting-tanggal Paskah, peranan para uskup, administrasi sekramen, dan, tentu saja, ketuhanan Yesus.`

`Aku tak mengerti. Ketuhanan Yesus?`

`Sayangku,` tegas Teabing, `hingga saat itu dalam sejarah, Yesus dipandang oleh para pengikut-Nya sebagai nabi yang dapat mati ... seorang lelaki agung yang punya kekuatan, tapi tak lebih dari seorang manusia. Seorang fana, manusia biasa.`

`Bukan Putra Tuhan?`

`Benar,` sahut Teabing. `Penetapan Yesus sebagai `Putra Tuhan' secara resmi diusulkan dan ditetapkan melalui voting oleh Konsili Niicea.`

`Tunggu dulu. Maksudmu, keilahian Yesus adalah hasil voting.' `Sebuah voting yang ketat, sebenarnya,` tambah Teabing, `Walau begitu, menetapkan keilahian Kristus penting sekali bagi penyatuan lebih jauh kekaisaran Romawi dan bagi basis kekuatan Vatikan yang baru. Dengan secara resmi memuja Yesus sebagai Putra Tuhan, Konstantin mengubah Yesus menjadi dewa yang berada di luar cakupan dunia manusia, sebuah entitas dengan kekuatan yang tak tertandingi. Ini bukan hanya menyisihkan tantangan selanjutnya dari kaum pagan terhadap Kristen, tapi membuat para pengikut Kristus kini dapat menebus diri mereka hanya melalui pembuatan sebuah saluran suci - Gereja Katolik Roma.`

Sophie melirik Langdon, dan Langdon memberinya sebuah anggukan lembut tanda pembenaran.

`Semua ini masalah kekuasaan,` lanjut Teabing. `Kristus sebagai Juru Selamat adalah amat penting bagi berfungsinya Gereja dan negara. Banyak sarjana mengklaim bahwa Gereja masa awal benar-benar mencuri Yesus dari para pengikut asli-Nya, dengan membajak pesan-pesan manusiawi-Nya, mengaburkannya dalam jubah ketuhanan yang tak tertembus, dan menggunakannya untuk meluaskan kekuasaan mereka. Aku telah menulis beberapa buku mengenai topik ini.`

`Aku menduga, orang-orang Kristen yang taat mengirimimu surat-surat permusuhan setiap hari?`

`Mengapa mereka mau melakukan itu?` sergah Teabing. `Mayoritas besar orang Kristen terdidik mengetahui sejarah iman mereka. Yesus memanglah seorang manusia agung dan berkuasa. Manuver politik bawah tangan dari Konstantin tidak memupuskan keagungan hidup Kristus. Tak ada yang mengatakan bahwa Kristus adalah tokoh gadungan, atau menyangkal bahwa Dia berjalan dimuka bumi dan mengilhami jutaan orang untuk memperbaiki hidup mereka. Yang kita katakan di sini hanyalah, Konstantin mengambil keuntungan dari pengaruh dan arti penting Kristus yang besar. Dan dalam melakukan itu, dia telah membentuk wajah Kristen seperti yang kita kenal sekarang.`

Sophie menatap sekilas buku seni di hadapannya, bergairah untuk terus maju dan melihat lukisan Holy Grail dari Da Vinci. `Masalahnya adalah ini,` kata Teabing, kini bicaranya lebih cepat. `Karena Konstantin meningkatkan status Yesus hampir empat abad setelah kematian Yesus, ribuan dokumen yang mencatat kehidupan-Nya sebagai manusia biasa sudah terlanjur ada. Untuk menulis ulang buku-buku sejarah, Konstantin tahu bahwa ia perlu mengambil sebuah langkah berani. Dari sinilah timbul sebuah momen paling menentukan dalam sejarah Kristen.` Teabing berhenti sejenak, menatap Sophie. `Konstantin menitahkan dan membiayai penyusunan sebuah Alkitab baru, yang meniadakan semua kitab Injil yang berbicara tentang segala perilaku manusiawi Yesus, serta memasukkan kitab-kitab Injil yang membuat-Nya seakan Tuhan. Kitab-kitab Injil terdahulu dianggap melanggar hukum, lalu dikumpulkan dan dibakar.`

`Sebuah catatan menarik,` tambah Langdon. `Siapa pun yang memilih kitab-kitab Injil yang terlarang dan bukannya versi Konstantin akan dianggap sebagai kaum bidah, heretic. Kata heretic diambil dari momen sejarah tersebut. Kata Latin haereticus berarti `pilihan'. Mereka yang `memilih' sejarah asli dari Kristus adalah kaum heretic pertama di dunia.`

`Untungnya bagi para sejarawan,` kata Teabing, `beberapa kitab Injil yang dicoba untuk dimusnahkan oleh Konstantin berhasil diselamatkan. Dead Sea Scrolls, Gulungan-Gulungan Laut Mati, ditemukan pada tahun 1950-an tersembunyi di sebuah gua dekat Qumran di gurun Yudea. Dan, tentu saja, Gulungan Koptik pada tahun 1945 di Nag Hammadi. Sebagai tambahan dari penuturan kisah Grail sejati, dokumen-dokumen ini berbicara tentang kependetaan Kristus dalam keadaan-keadaan yang amat manusiawi. Tentu saja Vatikan, dalam memelihara tradisi misinformasi mereka, mencoba amat keras untuk menekan pengabaran gulungan-gulungan naskah ini. Mengapa tidak? Gulungan-gulungan itu menggaris bawahi ketidak cocokan dan pemalsuan sejarah yang mencolok, jelas-jelas membenarkan bahwa Alkitab modern disusun dan diedit oleh manusia yang memiliki sebuah agenda politis untuk mempromosikan keilahian seorang lelaki bernama Yesus Kristus dan memanfaatkan pengaruh-Nya untuk mengukuhkan basis kuasa mereka sendiri.`

`Namun,` sanggah Langdon, `amatlah penting untuk mengingat bahwa hasrat Gereja modern untuk menekan dokumendokumen ini datang dari kepercayaan tulus yang lahir dari pandangan mapan mereka akan Kristus. Vatikan terbangun dari orangorang yang teramat saleh, yang sungguh-sungguh percaya bahwa dokumen-dokumen yang bertentangan ini tak bisa lain adalah kesaksian palsu.`

Teabing tergelak, sambil menyantaikan dirinya pada sebuah kursi di hadapan Sophie. `Seperti yang dapat kaulihat, profesor kita ini punya hati yang jauh lebih lunak terhadap Roma daripada hatiku. Walau begitu, ia benar mengenai kaum pendeta yang meyakini dokumen-dokumen penentang ini sebagai kesaksian palsu. Itu dapat dimengerti. Alkitab versi Konstantin telah menjadi kebenaran mereka selama berabad-abad. Tiada seorang pun yang lebih terindoktrinasi kecuali pendoktrin itu sendiri.`

`Maksud dia,` kata Langdon, `adalah bahwa kita memuja tuhan-tuhan dari para leluhur kita.`

`Maksudku,` sergah Teabing, `adalah bahwa nyaris segala yang diajarkan para leluhur kita tentang Kristus adalah palsu. Sebagai mana kisah-kisah Holy Grail ini.`

Sophie memandang lagi kutipan Da Vinci di depannya. Kebodohan membutakan telah menyesatkan kita. O! Orang-orang bodoh, bukalah mata kalian!

Teabing meraih buku ini dan membuka lembar demi lembar hingga ke tengahnya. `Dan akhirnya, sebelum aku tunjukkan padamu lukisan-lukisan Da Vinci tentang Holy Grail, aku ingin kau melihat ini sekilas.` Ia membuka buku itu tepat pada sebuah grafis warna-warni yang membentang sepenuh halaman. `Aku pikir kau mengenali lukisan ini?`

Dia bercanda, bukan? Sophie menatap lukisan paling masyhur sepanjang masa, The Last Supper, lukisan legendaris Da Vinci dari dinding Santa Maria delle Grazie di Milan. Lukisan yang meluntur itu menggambarkan Yesus dan para murid-Nya pada saat Yesus mengumumkan bahwa salah satu dari mereka akan mengkhianati-Nya. `Ya, aku tahu lukisan itu.`

`Mungkin kau mau memanjakanku dalam permainan ini? Tolong tutup matamu.`

Merasa ragu, Sophie menutup matanya: `Di mana Yesus duduk?` tanya Teabing. `Di tengah.`

`Bagus. Apa makanan yang disantap Yesus dan para murid Nya?`

`Roti.` Jelas.

`Bagus sekali. Dan apa minumnya?` `Anggur. Mereka minum anggur.`

`Hebat. Dan satu pertanyaan final. Berapa banyak gelas anggur di atas meja?`

Sophie berhenti sejenak, menyadari bahwa ini pertanyaan menjebak. Dan setelah makan malam, Yesus mengambil secangkir anggur, berbagi dengan para murid-Nya. `Satu cangkir,` katanya. `Cawan suci.` Mangkuk Kristus. Holy Grail. `Yesus membagi-bagikan secawan anggur, sebagaimana yang dilakukan kaum Kristen modern pada komuni.`

Teabing mendesah. `Buka matamu.`

Sophie membuka matanya. Teabing menyeringai angkuh. Sophie memandang ke bawah, ke lukisan itu, melihat dengan takjub bahwa setiap orang di meja itu memegang segelas anggur, termasuk Kristus sendiri. Tiga belas cawan. Selain itu, cawan-cawan itu tampak kecil, tak bertangkai, dan terbuat dari kaca. Tak ada satu pun cawan sesungguhnya dalam lukisan itu. Tiada Holy Grail.

Mata Teabing berkedip-kedip. `Tidakkah sedikit aneh menurutmu, mengingat bahwa baik Alkitab dan legenda kita yang lazim tentang Holy Grail merayakan momen ini sebagai kemunculan pasti dari Holy Grail. Anehnya, Da Vinci tampak lupa untuk melukis Cawan Kristus.`

`Tentunya para sarjana seni telah mencatat hal ini.`

`Kau akan terkejut jika mengetahui berbagai anomali yang dicakupkan Da Vinci dalam lukisan ini, yang kebanyakan sarjana tak melihatnya atau sekadar memilih untuk mengabaikannya.

Gambar ini, sesungguhnya, adalah kunci keseluruhan misteri Holy Grail. Da Vinci membentangkan semuanya secara terbuka dalam The Last Supper.`

Sophie memindai karya itu dengan bersemangat. `Apakah lukisan ini mengatakan pada kita apa Holy Grail itu sesungguhnya?` `Bukan apa,` bisik Teabing. `Tapi siapa dia. Holy Grail bukanlah sebuah benda. Sesungguhnya, Holy Grail adalah ... seseorang.`

56

SOPHIE MENATAP Teabing lama, kemudian menoleh kepada Langdon. `Holy Grail seorang manusia?`

Langdon mengangguk. `Seorang perempuan.` Dari wajah Sophie yang tampak kosong, Langdon tahu, Sophie tidak mengerti. Dia ingat mempunyai reaksi yang sama ketika dia pertama kalinya mendengar pernyataan itu. Namun itu sebelum dia mengerti simbologi di balik Grail sehingga kaitannya dengan simbol perempuan menjadi jelas.

Tampaknya Teabing mempunyai pemikiran yang sama. `Robert, mungkin ini saatnya simbolog memberi penjelasan?` Kemudian Leigh berjalan ke ujung meja, menemukan secarik kertas, dan meletakkannya di depan Langdon. Langdon mengeluarkan sebuah pena dari sakunya. `Sophie, kau mengenal ikon modern untuk lelaki dan perempuan?` Lalu Langdon menggambar simbol umum lelaki dan sambil perempuan yang biasa.

`Tentu saja.`

`Ini,` lanjutnya, `bukanlah simbol-simbol asli bagi lelaki dan perempuan. Banyak orang salah menduga bahwa simbol lelaki berasal dari sebuah perisai dan anak tombak, sementara simbol perempuan ditandai oleh sebuah cermin yang memantulkan kecantikan. Sebenarnya, simbolsimbol itu berasal dari simbol-simbol astronomi planet dewa Mars dan planet dewi Venus. Simbol-simbol aslinya jauh lebih sederhana.` Langdon menggambar ikon lain pada kertas itu.

`Ini simbol asli untuk lelaki,` kata Langdon kepada Sophie. `Sebuah lingga tidak sempurna.`

`Sangat langsung ke tujuan,` kata Sophie. `Seperti yang seharusnya,` tambah Teabing.

Langdon melanjutkan. `Ikon ini resmi dikenal sebagai bilah pedang, dan itu mewakili agresi dan dunia lelaki. Sebenarnya, simbol lingga ini masih digunakan di bidang militer modern sebagai lambang pangkat.`

`Betul.` Teabing tersenyum. `Semakin banyak penis kau punya, semakin tinggi pangkatmu. Anak lelaki tak pernah dewasa.` Langdon mengedipkan matanya. `Kita lanjutkan. Simbol perempuan, mungkin sudah kaubayangkan, merupakan lawannya.` Langdon menggambar simbol pada kertas itu. `Ini disebut chalice. `

Sophie menatapnya, tampak terkejut.

Langdon dapat melihat Sophie mulai menangkap hubungan itu. `Chalice` sambung Langdon, `mirip dengan cawan atau bejana, dan lebih penting, itu menyerupai bentuk rahim perempuan. Simbol ini berhubungan dengan keperempuanan, dunia perempuan dan kesuburan.` Langdon menatap langsung pada Sophie sekarang. `Sophie, legenda mengatakan kepada kita bahwa Holy Grail adalah chalice, sebuah tempat minum yang dipakai dalam upacara keagamaan ---- sebuah cawan. Tetapi, penggambaran Grail sebagai cawan merupakan kiasan untuk menyamarkan kesejatian Holy Grail. Jadi, legenda menggunakan cawan sebagai metafora bagi sesuatu yang jauh lebih penting.`

`Seorang perempuan,` kata Sophie.

`Tepat,` Langdon tersenyum. `Grail sebenarnya adalah simbol kuno untuk dunia keperempuanan, dan Holy Grail mewakili perempuan suci dan dewi, yang tentu saja sekarang sudah hilang, dihapuskan oleh Gereja. Kekuatan perempuan dan kemampuannya untuk melahirkan kehidupan pernah sangat disucikan, tetapi itu merupakan ancaman bagi kebangkitan Gereja yang dikuasai lelaki, dan karena itulah perempuan suci diibliskan dan diangggap kotor. Lelaki-lah, bukan Tuhan, yang menciptakan konsep dosa asal, yaitu ketika Hawa mencicipi apel dan menyebabkan jatuhnya ras manusia. Perempuan, yang pernah menjadi pemberi kehidupan yang suci, sekarang merupakan musuh.`

`Aku harus menambahkan,` kata Teabing, `bahwa konsep perempuan sebagai pernbawa kehidupan merupakan dasar dari agama kuno. Melahirkan anak merupakan peristiwa mistis dan penuh kekuatan. Sedihnya, filosofi Kristen memutuskan untuk menggelapkan kekuatan penciptaan perempuan dengan mengabaikan kebenaran biologis dan menjadikan lelaki sebagai pencipta. Kitab Kejadian mengatakan bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Perempuan menjadi bagian lelaki dan penuh dosa. Kitab Kejadian merupakan awal dari berakhirnya pemujaan terhadap dewi.`

`Grail,` kata Langdon, `merupakan simbol dari dewi yang hilang. Ketika Kristen hadir, agama-agama pagan lama ternyata tidak mati begitu saja. Legenda pencarian Grail yang hilang sebenarnya merupakan cerita-cerita tentang permintaan yang terlarang untuk mencari perempuan suci yang hilang. Para kesatria yang mengaku mencari cawan berbicara menggunakan kode-kode untuk melindungi diri mereka sendiri dari Gereja yang telah menaklukkan perempuan, menghilangkan Dewi, membakar orangorang kafir, dan melarang penghormatan kaum pagan kepada perempuan suci.`

Sophie menggelengkan kepalanya. `Maaf, ketika kau mengatakan bahwa Holy Grail adalah seseorang, kupikir itu bukan orang yang sebenarnya.`

`Memang orang,` kata Langdon.

`Dan bukan hanya sembarang orang,` Teabing mencetus, sambil berdiri dengan bersemangat. `Seorang perempuan yang membawa rahasia yang begitu kuatnya sehingga, jika terbongkar, akan mengancam merusak dasar Kristen!`

Sophie tampak terkejut sekali. `Apakah perempuan ini terkenal dalam sejarah?`

`Sangat,` Teabing mengambil tongkat ketiaknya dan berjalan menuju gang. `Dan jika kita berpindah ke ruang kerjaku, temanteman, aku akan merasa terhormat untuk memperlihatkan kepada , kalian lukisan Da Vinci tentang perempuan itu.`

Melewati dua kamar, di dapur, Remy Legaludec berdiri diam di depan televisi. Siaran berita menyiarkan foto lelaki dan perempuan ... yang sama dengan dua orang tamu yang baru saja dijamu teh olehnya.

57

SELAGI BERDIRI pada penghalang jalan di luar Bank Penyimpanan Zurich, Letnan Collet bertanya-tanya apa yang membuat Fache begitu lama untuk mendapatkan surat izin penggeledahan. Para bankir itu pastilah menyembunyikan sesuatu. Mereka menyatakan bahwa Langdon dan Neveu memang datang ke bank mereka tetapi sudah diminta pergi karena tidak mempunyai nomor rekening yang benar.

Tetapi mengapa kami tidak boleh masuk dan mencari mereka?

Akhirnya, handphone Collet berdering. Dari pos komando di Louvre. `Kita sudah dapat surat penggeledahan?` tanya Collet.

`Lupakan bank itu, Letnan,` kata agen itu. `Kita baru saja mendapatkan petunjuk. Kita tahu di mana tepatnya Langdon dan Neveu bersembunyi.`

Collet terduduk di atas kap mobilnya. `Kau bercanda.`

`Aku punya alamat di pinggiran kota. Sekitar Versailles.`

`Kapten Fache sudah tahu?`

`Belum. Dia sibuk dengan telepon penting.`

`Aku segera berangkat. Minta Kapten menelponku begitu dia selesai.` Collet mencatat alamat itu dan meloncat masuk mobilnya. Ketika dia keluar dari bank, dia sadar telah lupa menanyakan siapa yang memberi tahu DCPJ tentang alamat di mana Langdon berada. Bukannya hal itu penting. Collet telah mendapat kesempatan untuk menebus keraguannya dan kesalahannya tadi. Dia akan membuar penangkapan yang paling penting dalam kariernya.

Collet menghubungi lima mobil polisi untuk mengikutinya. `Jangan gunakan sirene, bung. Langdon tidak boleh tahu kita datang.`

Empat puluh kilometer dari situ, sebuah Audi hitam keluar dari sebuah jalan pedesaan dan diparkir dalam kegelapan di tepi sebuah Iapangan. Silas keluar dan melongok melalui jeruji pagar besi tempa yang mengelilingi kompleks di depannya. Dia menatap jalan melandai panjang yang diterangi cahaya bulan menuju puri di kejauhan.

Lantai bawah terang benderang. Aneh, untuk jam seperti ini, pikir Silas, tersenyum. Informasi yang diberikan Guru sangat akurat. Aku tidak akan meninggalkan rumah ini tanpa batu kunci itu, dia bersumpah. Aku tidak akan mengecewakan Uskup dan Guru.

Silas memeriksa pengunci pistol Heckler Koch 13 mm-nya, kemudian dia mendorongnya melewati jeruji dan menjatuhkannya di atas tanah berlumut di dalam kompleks itu. Kemudian, dia menggenggam ujung pagar, mengangkat dirinya ke atas dan melewati pagar, lalu jatuh ke atas tanah di baliknya. Tanpa peduli terhadap rasa sakit yang disebabkan oleh cilice, Silas menarik pistolnya dan mulai berjalan di sepanjang jalan berumput menuju rumah itu.

58

RUANG KERJA Teabing tidak seperti ruang kerja yang pernah dilihat oleh Sophie pada umumnya. Enam atau tujuh kali lebih besar dari ruang kerja yang termewah sekalipun, cabinet de travaille sang kesatria ini mirip dengan sebuah laboratorium ilmiah yang aneh, perpustakaan arsip, dan pasar loak dalam rumah. Diterangi oleh tiga lampu gantung tinggi, lantai keramiknya yang tak berbatas dihiasi oleh beberapa meja kerja besar yang terkubur di bawah buku-buku, benda-benda seni, artifakartifak, dan, yang mengejutkan, setumpuk perlengkapan elektronik-komputer, proyektor, mikroskop, mesin fotokopi, dan scanner tipis.

`Aku mengubah ruang dansaku,` kata Teabing, tampak malu ketika dia menyeret dirinya masuk ke ruangan itu. `Aku tidak ada waktu untuk berdansa.`

Sophie merasa sepanjang malam ini seolah berada di tengah-tengah antara dunia nyata dan mimpi. Tidak ada satu hal pun yang dapat diduganya. `Ini semua untuk pekerjaanmu?`

`Mempelajari kebenaran telah menjadi kecintaanku,` kata Teabing. `Dan Sangreal adalah kekasih favoritku.`

Holy Grail adalah seorang perempuan, pikir Sophie. Benaknya menjadi sebuah susunan gagasan yang saling membelit namun tidak masuk akal. `Kau bilang mempunyai lukisan perempuan yang kausebut Holy Grail itu:`

`Ya, bukan aku yarig menyebut perempuan itu Holy Grail. Kristus sendiri yang mengatakannya begitu.`

`Yang mana lukisan itu?` tanya Sophie, sambil mengamati dinding-dinding di situ.

`Hmmm ...` Teabing seakan lupa akan janjinya. `Holy Grail. Sangreal. Cawan.` Tiba-tiba dia bergerak dan menunjuk ke dinding yang jauh. Pada dinding itu tergantung kopi lukisan The Last Supper sepanjang delapan kaki, betul-betul sama dengan gambar yang tadi dilihat Sophie dalam buku. `Nah, itu perempuannya!`

Sophie yakin ada yang tidak dimengertinya. `Itu lukisan yang sama dengan yang baru saja kauperlihatkan padaku.`

Teabing mengedipkan matanya. `Aku tahu, tapi ukuran besar ini jauh lebih menarik. Bukan begitu?`

Sophie menoleh kepada Langdon mencari pertolongan. `Aku tak paham.`

Langdon tersenyum. `Holy Grail memang muncul dalam lukisan The Last Supper. Leonardo telah memasukkannya dengan jelas.`

`Tunggu dulu,` kata Sophie. `Kau bilang Holy Grail itu perempuan. The Last Supper adalah lukisan tiga belas lelaki.` `Benarkah?` Teabing mengangkat alisnya. `Coba lihat dengan lebih teliti.`

Dengan tidak yakin, Sophie mendekati lukisan itu, mengamati tiga belas tokoh di dalamnya-Yesus Kristus di tengah, enam murid di sebelah kiri-Nya, dan enam murid lain di sebelah kanan-Nya.`Mereka semua lelaki,` jelas Sophie.

`Oh?` kata Teabing. `Bagaimana dengan yang duduk di tempat kehormatan, di sebelah kanan the Lord?`

Sophie memeriksa tokoh yang duduk tepat di sebelah kanan Yesus. Dia memusatkan perhatiannya pada tokoh tersebut. Ketika dia mempelajari wajah dan tubuh tokoh itu, gelombang kekaguman menerpanya. Tokoh tersebut berambut merah tergerai, kedua lengan lembutnya terlipat, dan dadanya memberi isyarat. Tidak diragukan lagi ... itu perempuan.

`Itu perempuan!` seru Sophie.

Teabing tertawa. `Kejutan, kejutan. Percayalah, ini bukan kesalahan. Leonardo ahli dalam membedakan jenis kelamin tokoh dalam lukisannya.`

Sophie tidak dapat melepaskan tatapannya dari perempuan di samping Kristus. The Last Supper seharusnya merupakan lukisan tiga belas lelaki. Siapa perempuan ini? Walau Sophie telah pernah melihat gambar klasik ini beberapa kali, dia belum pernah melihat ketidaksesuaian yang mencolok itu.

`Semua orang tidak melihatnya,` kata Teabing. `Pendapat kita yang telah terbentuk sebelumnya tentang gambar ini begitu kuat sehingga pikiran kita memagari keganjilan itu dan mengesampingkan mata kita.`

`Hal itu disebut skotoma,` tambah Langdon. `Kadang-kadang otak kita bekerja demikian pada simbol-simbol yang kuat.` `Alasan lain yang membuatmu tidak melihat perempuan itu adalah,` kata Teabing, `banyak foto-foto dalam buku seni dibuat sebelum tahun 1954, ketika rincian-rincian masih tersembunyi di bawah debu yang melekat dari beberapa pelukisan-ulang yang restoratif dikerjakan oleh tangan-tangan ceroboh pada abad XVIII. Kini, setidaknya, lukisan dinding itu sudah dibersihkan hingga lapisan asli lukisan Da Vinci muncul.` Dia menunjuk pada foto itu. `Et voila! Ini dia!`

Sophie bergerak mendekati gambar itu. Perempuan di sebelah kanan Yesus itu muda dan tampak saleh, dengan wajah serius, rambut merah indah, dan lengan-lengan terlipat tenang. Inikah perempuan yang sanggup menghancurkan Gereja sendirian?

`Siapa dia?`

`Itu,` jawabTeabing, `adalah Maria Magdalena.`

Sophie menoleh. `Pelacur itu?`

Teabing terkesiap, seolah dunia baru saja melukai perasaannya. `Magdalena bukan seperti itu. Konsepsi yang salah itu merupakan warisan dari kampanye negatif yang disebarkan oleh Gereja awal. Gereja harus menghapus nama Maria Magdalena untuk menutupi rahasia yang berbahaya-perannya sebagai Holy Grail.` `Perannya?`

`Seperti yang kusebutkan tadi,` Teabing menjelaskan, `Gereja ketika itu harus meyakinkan dunia bahwa nabi yang dapat mati itu, Yesus, adalah seseorang yang memiliki sifat Tuhan. Karena itu, segala kitab Injil yang menjelaskan aspek keduniaan dari kehidupan Yesus harus dihilangkan dari Alkitab. Celaka bagi para editor terdahulu itu, satu tema keduniaan yang sangat mengganggu terus berulang dalam kitab-kitab itu. Maria Magdalena.` Teabing terdiam sejenak. `Lebih khusus lagi, pernikahannya dengan Yesus Kristus.`

`Maaf?` Mata Sophie mengarah ke Langdon, kemudian kembali ke Teabing.

`Ini menurut catatan sejarah,` kata Teabing, `dan Da Vinci jelas sangat tahu kenyataan itu. The Last Supper secara khusus berseru kepada penikmat lukisan bahwa Yesus dan Maria adalah pasangan suami istri.

Sophie menatap ke lukisan dinding itu lagi.

`Perhatikanlah, Yesus dan Magdalena berpakaian seperti pantulan mereka masing-masing.` Teabing menunjuk pada dua tokoh di tengah lukisan dinding itu.

Sophie terkagum-kagum. Cukup yakin, pakaian mereka berwarna sebaliknya. Yesus mengenakan jubah merah dan mantel panjang biru; Maria Magdalena mengenakan jubah biru dengan mantel merah. Yin dan Yang.

`Yang lebih aneh lagi,` kata Teabing, `perhatikan bahwa Yesus dan pasangannya tampak sangat berdekatan dan saling bersandar satu sama lain, seolah mereka menciptakan ruang negatif yang tergambar jelas di antara rnereka.`

Bahkan sebelum Teabing menunjukkan kontur lukisan itu, Sophie sudah melihatnya -simbol yang tak dapat diragukan pada bagian yang tampak terang pada lukisan itu. Itu adalah simbol yang sama dengan yang sudah digambarkan Langdon tadi untuk mewakili Grail, cawan, dan rahim perempuan. `Akhirnya,` kata Teabing, `jika kau dapat melihat Yesus dan Magdalena sebagai elemen-elemen komposisional dan bukannya manusia, kau akan dapat melihat bentuk lain yang lebih jelas lagi di depan matamu.` Dia terdiam. `Sebuah huruf alfabet.` Sophie langsung dapat menemukannya. Mengatakan bahwa huruf itu di depan mata adalah terlalu menyederhanakan persoalan. Bagaimanapun, huruf itu segera dapat dilihat Sophie. Berkilauan di tengah lukisan, begitu jelas dan besar, tak diragukan lagi, huruf M.

`Agak terlalu sempurna jika dikatakan itu hanya kebetulan saja, bukan?` tanya Teabing.

Sophie terpesona. `Mengapa huruf itu ada di situ?`

Teabing mengangkat bahunya. `Teori konspirasi akan mengatakan, itu adalah singkatan dari Matrimonio atau Maria Magdalena. Jujur saja, tak seorang pun yakin akan hal itu. Satusatunya yang meyakinkan hanyalah bahwa huruf M yang tersembunyi itu bukanlah kekeliruan. Karya-karya seni yang berhubungan dengan Grail, yang tak terhitung jumlahnya, menyisipkan huruf M, kadang sebagai cap air, di bawah sapuan cat, atau sebagai sindiran komposisional. Huruf M yang paling tampak jelas adalah, tentu saja, hiasan altar pada Our Lady of Paris di London, yang dirancang oleh mantan Mahaguru Biarawan Sion, Jean Cocteau.`

Sophie mempertimbangkan informasi itu. `Aku akui, M yang tersembunyi itu membangkitkan rasa ingin tahu, walau aku juga percaya tidak ada yang mengakui . bahwa itu membuktikan bahwa Yesus menikahi Magdalena.`

`Tidak, tidak,` kata Teabing, sambil berjalan ke meja penuh buku di dekatnya. `Seperti kukatakan tadi, pernikahan Yesus dan Maria Magdalena merupakan bagian dari catatan sejarah.` Dia mulai mengaduk-aduk buku-buku koleksinya. `Lagi pula, Yesus sebagai lelaki yang menikah adalah lebih masuk akal daripada pandangan standar kitab suci kita, yang menyatakan Yesus seorang bujangan.`

`Mengapa?` tanya Sophie.

`Karena Yesus orang Yahudi,` kata Langdon, menyela ketika Teabing masih mencari-cari bukunya. `Dan menurut kepantasan sosial pada zaman itu, jelas terlarang bagi seorang lelaki Yahudi untuk tidak menikah. Menurut adat Yahudi, tidak menikah itu terkutuk, dan kewajiban seorang ayah Yahudi adalah mencarikan istri yang pantas bagi anak lelakinya. Jika Yesus tidak menikah, paling tidak salah satu kitab Injil akan mengatakannya dan memberikan beberapa penjelasan tentang kelajangannya yang tak biasa itu.

Teabing menemukan sebuah buku besar dan menariknya keluar dari tumpukan. Sebuah edisi bersampul kulit seukuran poster, seperti sebuah atlas besar. Pada sampulnya tertulis The Gnostic Gospels, Injil Kaum Gnostik. Teabing membukanya, dan Langdon serta Sophie ikut melihatnya. Sophie dapat melihat buku itu berisi foto-foto dari dokumen-dokumen kuno yang mengagumkan, papirus tersobek-sobek dengan tulisan tangan. Sophie tidak mengenali bahasa kuno itu, namun halaman-halaman di sebelahnya berisi terjemahannya.

`Ini adalah fotokopi dari Nag Hammadi dan GulunganGulungan Laut Mati, yang tadi kuceritakan,` kata Teabing. `Ini catatan Kristen paling awal. Yang membingungkan adalah, tulisan di sini tidak sesuai dengan kitab-kitab Injil dalam Alkitab.` Teabing kemudian membuka bagian tengah buku, lalu menunjuk sebuah bagian. `Injil Philip selalu awal yang baik.`

Sophie membaca bagian itu:

`Dan teman Sang Juru Selamat adalah Maria Magdalena. Kristus mencintainya lebih daripada cinta-Nya kepada seluruh muridnya, dan Yesus sering menciumnya di mulut. Murid-murid yang lain tersinggung kerenanya, dan mengungkapkan ketidak setujuan mereka. Mereka berkata kepada Yesus, `Mengapa Engkau lebih mencintainya daripada kami semua?`

Kata-kata itu mengejutkan Sophie, namun tidak cukup meyakinkan. `Ini tidak menyebut-nyebut soal perkawinan.`

`Au contraire, sebaliknya,` Teabing tersenyum, sambil menunjuk pada baris pertama. `Seperti yang akan dikatakan oleh setiap sarjana Aramaic padamu, kata teman, pada zaman itu, secara harfiah berarti pasangan hidup.`

Langdon mengiyakan dengan sebuah anggukan.

Sophie membaca baris pertama itu lagi. Dan teman Sang Juru Selamat adalah Maria Magdalena.

Teabing membuka-buka halaman buku itu dan menunjukkan beberapa bagian lainnya yang, mengejutkan Sophie, betul-betul menunjukkan bahwa Maria Magdalena mempunyai hubungan mesra dengan Yesus. Saat Sophie membaca bagian itu, dia ingat pada seorang pendeta yang marah yang menggedor pintu rumah kakeknya ketika dia masih anak sekolah.

`Apakah ini rumah Jacques Sauniere?` tanya pendeta itu, sambil mendelik ke bawah pada Sophie kecil ketika gadis cilik itu membuka pintu. untuknya. `Aku ingin berbicara dengannya, tentang editorial yang ditulisnya.` Pendeta itu mengangkat sebuah koran.

Sophie memanggil kakeknya, dan kedua lelaki itu menghilang ke ruang kerja kakeknya dan pintu tertutup. Kakekku menulis sesuatu dalam koran itu? Sophie langsung berlari ke dapur dan membuka koran pagi. Dia menemukan nama kakeknya pada sebuah artikel pada halaman dua. Dia membacanya. Sophie tidak mengerti apa yang dikatakan di sana, tetapi itu kira-kira tentang pemerintah Prancis yang, di bawah tekanan para pendeta, telah menyetujui larangan sebuah film Amerika yang berjudul The Last Temptation of Christ, yaitu tentang Yesus yang bercinta dengan seorang perempuan bernama Maria Magdalena. Artikel kakeknya mengatakan bahwa Gereja arogan dan keliru karena telah melarang film itu beredar.

Tidak heran jika pendeta itu marah sekali, pikir Sophie.

`Ini sebuah pornografi! Pelanggaran!` teriak pendeta itu, sambil keluar dari ruang kerja kakeknya dan bergegas keluar pintu.

`Bagaimana kau bisa mendukungnya! Orang Amerika ini, Martin Scorsese, adalah pelaku bidah, dan Gereja tidak akan mengizinkannya untuk naik mimbar di Prancis!` Pendeta itu membanting pintu dan pergi.

Ketika Kakeknya masuk ke dapur, dia melihat Sophie dengan koran di tangannya, dan mengerutkan dahinya. `Kau cepat sekali.` Sophie berkata, `Kaupikir Yesus Kristus mempunyai kekasih?` `Tidak, sayangku. Aku mengatakan, Gereja seharusnya tidak diizinkan untuk mengatakan gagasan mana yang boleh dan tidak boleh kita nikmati.`

`Apakah Yesus punya kekasih?`

Kakeknya terdiam beberapa saat. `Apakah buruk sekali jika Dia memang punya kekasih?`

Sophie memikirkannya, kemudian dia mengangkat bahunya. `Aku tidak keberatan.`

Sir Leigh Teabing masih berbicara. `Seharusnya aku tidak membuatmu bosan dengan referensi-referensi yang begini banyak tentang hubungan Yesus dan Magdalena. Itu telah diselidiki ad nauseam oleh sejarawan modern. Namun, aku ingin menunjukkan yang berikut ini.` Dia bergerak ke bagian lain. Ini dari Injil Maria Magdalena.

Sophie belum pernah tahu ada sebuah kitab Injil yang berisi kata-kata Magdalena. Dia membaca teks itu:

Dan Peter berkata, Apakah Sang Penyelamat betul-betul berbicara dengan seorang perempuan tanpa sepengetahuan kami? Apakah kami akan berpaling padanya dan semua mendengarkannya? Apakah dia lebih menyukai dia daripada kami?`

Dan Levi menjawab, `Peter, kau selalu tidak sabar. Sekarang aku melihatmu menentang perempuan itu seakan seorang musuh. Jika Sang Penyelamat menghormati dia, siapa sebenarnya kau hingga berani menolak perempuan itu? Pastilah Sang Penyelamat mengenalnya dengan baik. Karena itulah dia mencintainya lebih daripada kita. `

`Perempuan yang mereka bicarakan,` Teabing menjelaskan, `adalah Maria Magdalena. Peter cemburu padanya.`

`Karena Yesus lebih sayang pada Maria?`

`Tidak hanya itu. Taruhannya lebih dari sekadar masalah kasih sayang. Di titik ini dalam kitab-kitab Injil, Yesus menduga Dia akan segera ditangkap dan disalib. Sehingga, dia memberi Maria instruksi bagaimana cara melanjutkan Gereja-Nya setelah Dia tiada. Sebagai akibatnya, Peter mengungkap ketidakpuasannya karena merasa dinomorduakan di bawah seorang perempuan. Aku berani berkata, Peter agak bias gender.`

Sophie berusaha mengikuti uraian itu. `Ini Santa Peter itu? Fondasi Yesus membangun Gereja-Nya?`

`Memang Peter yang itu, kecuali satu hal. Menurut kitabkitab Injil yang tak diubah ini, bukan Peter yang diberi petunjuk oleh Kristus untuk mendirikan Gereja Kristen, tetapi Maria Magdalena.`

Sophie menatapnya. `Maksudmu, Gereja Kristen seharusnya dikepalai oleh seorang perempuan?`

`Itu rencananya. Yesus betul-betul memihak pada perempuan. Dia menyiapkan masa depari Gereja-Nya akan dipimpin oleh Maria Magdalena.`

`Dan Peter tidak setuju,` kata Langdon, sambil menunjuk pada The Last Supper. `Itu dia Peter. Kau dapat melihat bahwa Da Vinci sangat tahu bagaimana perasaan Peter kepada Maria Magdalena.`

Lagi, Sophie tak dapat berbicara. Dalam lukisan itu, Peter mengancam dengan mencondongkan tubuhnya ke arah Maria Magdalena dan mengiriskan tangannya yang seakan pisau menyembelih leher Maria. Gerakan yang sama terdapat pada lukisan Madonna of the Rocksi

`Dan di sini juga,` kata Langdon, sambil sekarang menunjuk pada kelompok di dekat Peter. `Agak menyebalkan, bukan?` Sophie mengernyitkan matanya dan melihat sebuah tangan menjulur keluar dari kerumunan para murid. `Apakah tangan itu memegang sebilah belati?`

`Ya. Lebih aneh lagi, jika kau hitung tangan-tangan itu, kau akan tahu bahwa tangan itu milik ... tak seorang pun. Tangan itu tidak bertubuh. Anonim.`

Sophie mulai merasa bingung. `Maaf, aku masih tidak mengerti bagaimana semua ini membuat Maria Magdalena sebagai Holy Grail.`

`Aha!` Teabing berseru lagi: `Di situ letak pokoknya!` Dia memutari meja itu sekali lagi dan menarik selembar kartu besar, menebarkannya untuk Sophie. Kartu itu merupakan gambar silsilah yang rumit. `Sedikit orang yang tahu bahwa Maria Magdalena, sebelum menjadi tangan kanan Kristus, sudah merupakan perempuan yang berkuasa.`

Sophie sekarang dapat melihat judul pohon silsilah itu.

RUMPUN BENJAMIN

`Maria Magdalena di sini,` kata Teabing, sambil menunjuk mendekati puncak pohon silsilah itu.

Sophie terkejut. `Dia dari keluarga Benjamin?`

`Betul,` kata Teabing. `Maria Magdalena adalah keturunan bangsawan.`

`Aku kira Magdalena perempuan miskin.`

Teabing menggelengkan kepalanya. `Magdalena diperlakukan seperti pelacur supaya menghapus kenyataan bahwa dia berasal dari keluarga yang memiliki kekuasaan.`

Sophie mengerling pada Langdon lagi, yang juga mengangguk lagi. Sophie kembali kepada Teabing. `Tetapi mengapa Gereja terdahulu peduli bahwa Magdalena berdarah bangsawan?`

Orang Inggris itu tersenyum. `Anakku sayang, bukan darah bangsawan Maria Magdalena yang sangat menggelisahkan Gereja, tetapi kebersamaan Maria Magdalena dengan Yesus, yang juga berdarah bangsawan. Seperti kautahu, Kitab Matius mengatakan bahwa Yesus adalah keturunan Keluarga David. Pewaris takhta Raja Salomo-Raja Yahudi. Dengan menikah dengan seseorang dari Keluarga Benjamin yang kuat, Yesus telah menggabungkan dua keturunan bangsawan, menciptakan persatuan politis yang kuat yang berpotensi melegitimasi tindakan mengambil alih takhta dan membarui garis raja-raja di bawah garis Salomo.`

Sophie merasa Teabing akhirnya mulai jelas maksudnya. Teabing tampak bersemangat sekarang. `Legenda Holy Grail adalah legenda tentang darah bangsawan. Ketika legenda Grail berbicara tentang `cawan yang mewadahi darah Yesus' ... sebetulnya itu membicarakan Maria Magdalena, rahim perempuan yang berisi garis keturunan bangsawan Yesus.`

Kata-kata itu seperti menggema di seluruh ruangan dansa itu dan memantul kembali, sebelum gema itu utuh, ke dalam benak Sophie. Maria Magdalena mengandung keturunan Yesus Kristus? `Tetapi bagaimana Kristus memiliki garis keturunan, kecuali jika ...?` Sophie terhenti dan menatap Langdon.

Langdon tersenyum lembut. `Kecuali jika mereka memiliki seorang anak.`

Sophie berdiri kaku.

`Dengarlah,` Teabing berkata, `ini pengungkapan terbesar dalam sejarah manusia. Tidak saja Yesus menikah, tetapi Dia juga seorang ayah. Maria Magdalena adalah Cawan Suci. Dia adalah cawan itu, yang mewadahi garis keturunan bangsawan Yesus Kristus. Magdalena adalah rahim yang mengandung garis keturunan itu, dan anggur tempat buah suci itu tumbuh!`

Sophie merasa merinding pada lengannya. `Tetapi rahasia sebesar itu ditutupi selama ini?`

`Ya Tuhan!` seru Teabing. `Garis keturunan Yesus Kristus merupakan sumber dari legenda yang paling masuk akal selama ini ---- Holy Grail. Cerita Magdalena telah diteriakkan dari atapatap rumah selama berabad-abad dengan berbagai metafora dan bahasa. Cerita Magdalena ada di mana-mana, begitu kau membuka matamu.`

`Dan dokumen Sangreal?` kata Sophie. `Apakah dokumendokumen itu berisi bukti bahwa Yesus punya keturunan?` `Memang.`

`Jadi seluruh isi legenda Holy Grail adalah tentang darah biru.?`

`Nyaris secara harfiah,` kata Teabing. `Kata Sangreal berasal dari San Greal atau Holy Grail. Tetapi dalam bentuk tertuanya, kata Sangreal dibagi menjadi dua kata,` Teabing lalu menulis di atas secarik kertas dan memberikannya kepada Sophie.

Sophie membaca apa yang ditulis Teabing.

SANG REAL

Langsung Sophie mengenali terjemahannya.

Sang Real secara harfiah berarti Darah Bangsawan.

59

RESEPSIONIS LELAKI di lobi kantor pusat Opus Dei di Lexington Avenue, New York Ciry, terkejut mendengar suara Uskup Aringarosa di telepon. `Selamat malam, Pak.`

`Apakah aku mendapat pesan?` tanya uskup itu, terdengar cemas tak seperti biasanya. `Ya, Pak. Saya sangat senang Anda menelepon. Saya tidak dapat menghubungi Anda di apartemen. Anda mendapat pesan telepon penting kira-kira setengah jam yang lalu.`

`Ya?` Aringarosa terdengar lega karena berita itu. `Apakah penelepon meninggalkan nama?`

`Tidak, Pak, hanya nomor telepon.` Operator itu menyebutkan nomor itu.

`Diawali dengan nomor tiga puluh tiga? Itu nomor Prancis, bukan?`

`Ya, Pak. Paris. Penelpon mengatakan sangat penting sehingga Anda harus segera menghubunginya.`

`Terima kasih. Aku menunggu-nunggu telepon ini.` Aringarosa segera memutuskan hubungan.

Begitu resepsionis itu memutuskan hubungan, dia bertanyatanya mengapa saluran telepon Aringarosa tidak terdengar jernih. Menurut daftar kegiatan, uskup itu ada di New York minggu ini. Namun dia terdengar begitu jauh, seperti di luar negeri. Lelaki itu mengangkat bahunya. Uskup Aringarosa telah bertingkah sangat aneh beberapa bulan terakhir ini.

Ponselku pastilah tadi tidak bisa menerima telepon, pikir Aringarosa ketika Fiat itu mendekati pintu keluar dari Bandara Ciampiano Charter di Roma. Guru tadi mencoba menghubungiku. Walau Aringarosa sedang memikirkan telepon yang tak dapat diterimanya tadi, dia merasa lebih bersemangat karena Guru merasa cukup percaya diri untuk menelepon langsung ke kantor pusat Opus Dei.

Pastilah semua berjalan lancar di Paris malam ini.

Ketika Aringarosa mulai memutar nomor telepon itu, dia merasa sangat bersemangat karena mengetahui dia akan segera berada di Paris. Aku sudah mendarat sebelum fajar nanti. Aringarosa telah menyewa sebuah pesawat turbo prop untuk melakukan penerbangan pendek ke Prancis. Pesawat terbang komersial bukanlah pilihan sekarang ini, terutama dengan apa yang dibawanya dalam kopernya.

Saluran itu mulai tersambung.

Suara perempuan menjawabnya. `Direction Centrale Police Judiciaire. `

Aringarosa merasa ragu. Ini tidak terduga. `Ah, ya ... Saya diminta untuk menelepon nomor ini?`

`Qui etes-vous?` tanya perempuan itu. `Nama Anda?` Aringarosa tidak yakin apakah dia harus mengatakannya. Polisi Judisial Prancis?

`Nama Anda, Monsieur?` perempuan itu mendesak. `Uskup Manuel Aringarosa.`

`Un moment.` Ada suara klik di saluran

Setelah menunggu lama, suara seorang lelaki terdengar, nadanya kasar dan serius. `Uskup, saya senang akhirnya dapat menghubungi Anda. Anda dan saya punya banyak hal untuk dibicarakan.`

Tidak ada komentar:

Posting Komentar