Novel Da Vinci Code part 5

80

`HARAP MENGENAKAN sabuk pengaman Anda,` kata pilot ketika pesawat Teabing Hawker 731 mulai turun memasuki udara pagi yang muram dan gerimis. `Kita akan mendarat lima menit lagi.`

Teabing merasa gembira pulang ke rumahnya ketika dia melihat perbukitan Kent yang diselimuti kabut yang terentang lebar di bawah pesawat yang sedang menurun itu. Lama penerbangan ke Inggris dari Paris kurang dari satu jam, namun rasanya seperti perjalanan keliling dunia. Pagi ini, musim semi yang hijau dan lembab di tanah airnya tampak sangat ramah menyambut. Waktuku di Prancis telah selesai. Aku kembali ke Inggris dengan kemenangan. Batu kunci itu telah ditemukan. Pertanyaan besar tentu saja masih tersisa, seperti ke mana batu kunci itu akhirnya akan membawa mereka. Di suatu tempat di Inggris Raya ini. Di mana tepatnya, Teabing tidak tahu, tetapi dia sudah mencecap kejayaan itu.

Ketika Langdon dan Sophie saling menatap, Teabing berdiri dan berjalan ke sisi lain di kabin itu, lalu mendorong ke samping sebuah panel dinding yang membuka sebuah tempat penyimpanan rahasia. Dia memutar nomor kombinasinya, membuka kotak penyimpanan itu, dan mengeluarkan dua paspor. `Dokumen perjalanan untuk aku dan Remy.` Kemudian dia membuka sebuah tumpukan tebal berupa uang kertas lima puluhan poundsterling. `Dan dokumentasi untuk kalian berdua juga.`

`Suapan?`

`Diplomasi kreatif. Lapangan terbang eksekutif menagih biaya tertentu. Petugas bea cukai Inggris akan menyapa kita di hanggar dan meminta izin untuk naik ke pesawat. Daripada mengizinkan dia naik, aku akan mengaku datang dengan seorang wanita selebriti Prancis yang lebih suka tidak dikenali orang ketika dia di Inggris - pertimbangan pers, kau tahu - lalu aku akan menawarinya tip yang banyak ini sebagai tanda terima kasih atas kebijaksanaannya.`

Langdon tampak kagum. `Dan petugas itu akan menerimanya?`

`Tidak dari semua orang, tetapi orang-orang di sini sudah mengenalku. Aku bukan pedagang senjata, demi Tuhan. Aku seorang kesatria.` Teabing tersenyum. `Keanggotaan selalu punya keuntungan.`

Remy muncul dan berjalan di gang antara kursi. Pistol Heckler Koch terayun-ayun pada tangannya. `Pak, apa yang harus saya lakukan?`

Teabing menatap pelayannya. `Kau tinggal saja di pesawat bersama tamu kita itu sampai kami kembali. Kita tidak dapat berjalan-jalan di London sambil menyeret orang itu.`

Sophie tampak waspada. `Leigh, saat kubilang bahwa polisi Prancis akan menemukan pesawatmu sebelum kita mendarat, aku bersungguh-sungguh.`

Teabing tertawa. `Ya, bayangkan betapa terkejutnya mereka ketika mereka naik ke sini dan menemukan Remy.`

Sophie tampak heran dengan sikap congkak Teabing. `Leigh, kau membawa sandera terlarang menyeberangi batas internasional. Ini serius.`

`Begitu juga para pengacaraku.` Dia cemberut ke arah biarawan yang tergolek di bagian belakang pesawat. `Binatang itu masuk ke rumahku dan hampir membunuhku. Itu kenyataan, dan Remy akan menguatkannya.`

`Tetapi kau mengikatnya dan menerbangkannya ke London!` kata Langdon.

Teabing mengangkat tangan kanannya dan beraksi seolah-olah sedang bersumpah di sebuah ruang persidangan dan bersumpah. `Yang Mulia, maafkan seorang kesatria tua yang aneh ini karena prasangkanya yang bodoh tentang sistem pengadilan Inggris. Saya sadar seharusnya saya menelepon polisi Prancis, tetapi saya terlalu sombong dan tidak memercayai sikap polisi Prancis yang santai untuk melaksanakan tugas dengan benar. Orang ini hampir membunuh saya. Ya, saya membuat keputusan dengan terburu-buru dengan memaksa pelayan saya untuk membantu saya membawa orang itu ke Inggris, tetapi saya sedang tertekan sekali. Mea culpa. Mea culpa. Keteledoran saya.`

`Pak?` pilot itu memanggil kembali. `Menara pengawas baru saja mengabari. Mereka ada masalah sedikit dengan perbaikan di dekat hanggar Anda, dan mereka memintaku untuk membawa pesawat langsung ke terminal.`

Teabing telah terbang ke Biggin Hill selama sepuluh tahun lebih, dan ini pertama kalinya dia mendapatkan masalah perbaikan. `Mereka mengatakan masalah apa?`

`Pengawas itu tidak terlalu jelas. Semacam kebocoran bahan bakar dari stasiun pompa? Mereka meminta saya untuk memarkir pesawat di depan terminal dan tidak mengizinkan penumpang untuk turun hingga pemberitahuan lebih lanjut. Untuk keamanan. Kita tidak boleh turun dari pesawat hingga semua jelas dari pewenang lapangan udara ini.`

Teabing menjadi curiga. Kebocoran bahan bakar dari stasiun Pompa. Stasiun pompa terletak setengah mil dari hanggarnya. Remy juga tampak memikirkannya. `Pak, ini terdengar tidak seperti biasanya.`

Teabing menoleh kepada Sophie dan Langdon. `Teman-temanku, aku agak mencurigai sesuatu yang tidak enak. Kica agaknya akan disongsong oleh sebuah panitia penyambutan.`

Langdon mendesah perlahan. `Kukira Fache masih menganggap aku buronannya.`

`Harus itu,` kata Sophie, `atau dia terlanjur mendakwa dengan serius sehingga tidak dapat mengakui kesalahannya.` Teabing tidak mendengarkan mereka. Tanpa menghiraukan apa yang dipikirkan oleh Fache, dia harus bertindak cepat. Jangan sampai kehilangan arah ke tujuan utama. Grail sudah sangat dekat. Roda pendaratan turun dengan mengeluarkan suara berdengkang. `Leigh,` kata Langdon dengan suara sangat menyesal, `aku harus menyerahkan diri dan menyelesaikan ini secara hukum. Kau tidak boleh terlibat.`

`Ya ampun, Robert!` Teabing menggelengkan tangannya. `Kaupikir mereka akan membiarkan yang lainnya pergi begitu saja? Aku baru saja membawa kalian secara tidak sah. Nona Neveu menoiongmu lari dari Louvre, dan kita membawa seorang yang terikat di bagian belakang pesawat. Sekarang, kita semua terlibat dalam kasus ini.`

`Mungkin kita bisa mendarat di lapangan udara lainnya?` tanya Sophie.

Teabing menggelengkan kepalanya. `Jika kita terbang lagi, begitu mereka tahu kita ke mana, mereka akan menyambut kita dengan tank tentara.`

Sophie melorot dalam duduknya.

Teabing merasa bahwa jika mereka harus menunda berkonflik dengan polisi Inggris sampai cukup lama hingga mereka menemukan Grail, maka tindakan berani harus diambil. `Beri aku waktu sebentar,` katanya sambil terpincang-pincang menuju kokpit.

`Apa yang akan kaulakukan?` tanya Langdon.

`Rapat penjualan,` kata Teabing, sambil bertanya-tanya berapa dia harus membayar untuk membujuk pilot itu supaya mau melakukan manuver yang sangat tidak biasa.

81

PESAWAT HAWKER siap mendarat.

Simon Edwards - Petugas Pelayanan Eksekutif di lapangan udara Biggin Hill - melangkah bolak-balik di menara pengawas, menoleh gugup ke landasan pacu yang basah oleh hujan. Simon tidak pernah senang dibangunkan di pagi buta di hari Sabtu, namun ini lebih menjengkelkan karena dia dibangunkan untuk mengawasi penangkapan salah satu kliennya yang paling menguntungkan. Sir Leigh Teabing membayar Biggin Hill tidak saja untuk sebuah hanggar pribadi, tetapi juga `biaya setiap kali pendaratan` bagi keberangkatan dan kedatangannya yang sering terjadi itu. Biasanya, lapangan udara itu mendapatkan pemberitahuan sebelumnya tentang jadwal Leigh dan dapat menerapkan protokol yang benar bagi kedatangannya. Teabing menyenangi hal apa adanya. Sebuah limusin Jaguar panjang yang dibuat menurut pesanan menunggu di hanggar pribadi itu. Simon menjaganya supaya tangki bensinnya selalu penuh, bodinya mengilap, dan majalah terbaru Time selalu tersedia di bangku belakang. Seorang petugas bea cukai menunggu di hanggar, siap memeriksa dokumen-dokumen wajib dan barang bawaan. Kadang-kadang petugas bea cukai menerima persenan yang besar dari Teabing atas tutup matanya dari barang bawaan terlarang tapi tak berbahaya, biasanya makanan mewah. Bagaimanapun, banyak peraturan bea cukai yang aneh, dan jika Biggin Hill tidak menampung keinginan pelanggannya, lapangan udara pesaing mereka tentu akan menampungnya. Teabing mendapatkan apa yang dibutuhkannya di Biggin Hill, dan para pegawainya meriuai keuntungan.

Syaraf Edward terasa seperti tercabik ketika dia melihat jet itu muncul. Dia bertanya-tanya apakah kegemaran Teabing menyebarkan kekayaannya telah membuatnya mendapat kesulitan; polisi Prancis tampak sangat serius untuk menahan pelanggannya ini. Edward belum diberi tahu apa kesalahan klien Inggrisnya itu, namun mereka jelas sangat serius. Atas permintaan Prancis, kepolisian Kent telah memerintahkan menara pengawas Biggin Hill untuk meminta pilot langsung menghentikan pesawatnya di depan terminal, bukan di hanggar pribadi kliennya. Pilot itu telah setuju, tampaknya karena dia percaya akan cerita tentang tumpahan minyak di dekat hanggar pribadi itu.

Walau polisi Inggris umumnya. tidak membawa senjata, keadaan ini ternyata telah membuat sebuah tim bersenjata bersiaga di sana. Sekarang, delapan orang polisi berpistol berdiri di dalam gedung terminal, menunggu saat pesawat menghentikan mesinnya. Begitu mesin mati, petugas landasan pacu akan meletakkan pengganjal di bawah roda pesawat sehingga pesawat itu tidak dapat bergerak lagi. Lalu polisi akan muncul dan menahan para penumpang untuk tidak turun dari pesawat sampai polisi Prancis tiba dan menangani masalah ini.

Hawker itu sekarang sudah semakin rendah, tampak hampir menyentuh ujung-ujung pepohonan di sebelah kanan mereka. Simon Edwards turun ke bawah untuk melihat pendaratan itu dari landasan pacu. Polisi Kent tenang, tidak mencolok, dan petugas landasan sudah siap dengan pengganjal ban. Jauh di ujung landasan pacu, hidung Hawker mendongak, dan ban-bannya menyentuh landasan sehingga menimbulkan gumpalan asap. Pesawat itu bersiap mengurangi kecepatan, bergeser dari kanan ke kiri di depan terminal. Badannya yang putih tampak berkilau di udara basah. Tetapi bukannya berhenti dan berbelok ke terminal, jet itu meluncur dengan tenang melewati jalan masuk dan melanjutkan ke arah hanggar pribadi Teabing di kejauhan.

Semua polisi berputar dan menatap Edwards. `Kupikir kau tadi bilang bahwa pilot itu setuju untuk berhenti di terminal!` Edwards bingung. `Dia memang setuju!`

Beberapa detik kemudian, Edwards sudah berada di dalam mobil polisi dan meluncur melintasi landasan pacu ke hanggar pribadi Teabing yang jauh dari situ. Ketika konvoi polisi itu masih berjarak lima ratus yard dari hanggar, Hawker Teabing berjalan perlahan memasuki hanggar pribadinya dan tak terlihat lagi. Ketika mobil-mobil polisi itu akhirnya tiba dan mengerem keras di luar pintu hanggar, polisi menghambur keluar dengan senjata terhunus.

Edwards juga meloncat keluar.

Suara ribut di dalam memekakkan telinga.

Mesin Hawker masih menderum ketika jet itu selesai berputar seperti biasa di dalam hanggar, menempatkan hidungnya terarah ke depan sebagai persiapan penerbangan selanjutnya. Ketika pesawat itu telah betul-betul berputar 180 derajat dan menghadap ke arah depan hanggar, Edwards dapat melihat wajah sang pilot, yang tentu saja tampak bingung dan takut melihat barikade mobil polisi.

Akhirnya pilot itu menghentikan pesawat dan mematikan mesinnya. Polisi bergerak masuk, mengambil posisi mengurung jet itu. Edwards bergabung dengan inspektur polisi Kent, yang bergerak waspada ke arah lubang palka pesawat. .Setelah beberapa detik, pintu pada perut pesawat terbuka.

Leigh Teabing muncul di ambang pintu ketika tangga listrik pesawat itu turun perlahan. Ketika Leigh melihat begitu banyak senjata mengarah padanya, dia bersandar pada tongkatnya dan menggaruk kepalanya. `Simon, apakah aku memenangkan lotere polisi ketika aku pergi?` Suara Teabing lebih terdengar bingung daripada takut.

Simon Edwards melangkah ke depan, mendegut dengan sukar, seperti menelan seekor katak. `Selamat pagi, Pak. Saya mohon maaf karena kebingungan ini. Kami ada kebocoran bahan bakar dan pilot Anda telah setuju untuk menghentikan pesawat di terminal.`

`Ya, ya, tetapi aku memintanya untuk langsung ke sini. Aku sudah terlambat untuk sebuah janji. Aku menyewa hanggar ini, dan omong kosong tentang menghindari kebocoran bahan bakar itu terlalu berlebihan.`

`Saya menyesal kedatangan Anda begitu mendadak, Pak.` `Aku tahu. Aku datang tidak sesuai dengan jadwalku, memang. Pengobatan baruku membuatku tidak nyaman. Karena itu aku datang untuk mengatasi hal itu.`

Para polisi saling berpandangan. Edwards mengedipkan matanya. `Baiklah, Pak.`

`Pak,` inspektur kepala kepolisian Kent berkata sambil melangkah maju. `Saya harus meminta Anda untuk tetap berada di dalam selama setengah jam atau lebih.`

Teabing tampak tidak senang ketika dia menuruni tangga tertatih-tatih. `Aku rasa itu tidak mungkin. Aku ada janji pengobatan.` Teabing mencapai landasan. `Aku tidak mungkin melewatkannya.`

Inspektur kepala itu menghalangi jalan Teabing untuk menjauh dari pesawat. `Saya di sini atas permintaan Polisi Judisial Prancis. Mereka mengatakan Anda membawa kabur buronan dalam pesawat ini.`

Teabing menatap inspektur kepala itu lama, dan tiba-tiba tertawa terbahak. `Apakah ini semacam acara `kamera tersembunyi'? Bagus sekali!`

Inspektur itu bergeming. `Ini serius, Pak. Polisi Prancis juga mengatakan bahwa mungkin Anda pun membawa seorang sandera di dalam pesawat.`

Pelayan Teabing muncul di ambang pintu, di puncak tangga. `Aku merasa seperti seorang sandera bekerja pada Sir Leigh, tetapi beliau meyakinkan aku bahwa aku boleh pergi kapan saja.` Remy melihat jam tangannya. `Pak, kita betul-betul terlambat.` Kemudian dia mengangguk ke arah sebuah limusin Jaguar panjang yang terparkir jauh di sudut hanggar. Mobil besar itu berwarna hitam dengan kaca jendela gelap dan beroda putih. `Aku akan mengambil mobil itu,` kata Remy. Lalu dia mulai menuruni tangga.

`Saya menyesal kami tidak dapat cnembiarkan Anda pergi,` kata inspektur kepala itu. `Harap kembali ke dalam pesawat Anda. Anda berdua. Wakil dari polisi Prancis akan segera mendarat.`

Teabing menatap Simon Edwards. `Simon, demi Tuhan, ini keterlaluan! Kami tidak punya siapa-siapa lagi di dalam pesawat. Hanya yang biasanya saja, Remy pilot kami, dan aku. Mungkin kau dapat bertindak sebagai perantara? Masuklah dan lihat sendiri di dalam pesawat, dan buktikan bahwa pesawat itu kosong.` Edwards tahu, dia terjebak. `Baik, Pak. Saya dapat memeriksanya.`

Inspektur kepala polisi itu tampaknya tahu betul tentang lapangan udara eksekutif, sehingga dia curiga Simon Edwards sangat mungkin akan berbohong tentang penumpang pesawat itu demi menjaga hubungan kerjanya dengan Teabing di Biggin Hills. `Aku yang akan memeriksanya sendiri.`

Teabing menggelengkan kepalanya. `Kau tidak bisa; Inspektur. Pesawat ini milik pribadi, dan sampai kau memegang surat izin penggeledahan, kau tidak bisa mendekati pesawatku: Aku memberimu pilihan masuk akal di sini. Tuan Edwards dapat melakukan pemeriksaan`

`Tidak.`

Sikap Teabing menjadi dingin sekali. `Inspektur, menyesal sekali aku tidak punya waktu untuk bermain-main denganmu. Aku terlambat, dan aku pergi sekarang. Jika kau ingin menghentikanku, kau harus menembakku.` Teabing dan Remy berjalan melewati inspektur kepala dan menuju ke sudut tempat limusin itu diparkir.

Inspektur kepala kepolisian Kent merasa sangat benci kepada Leigh Teabing ketika orang ini begitu saja melewatinya dengan terpincang-pincang. Orang-orang dengan hak-hak istimewa selalu merasa berada di atas hukum.

Mereka tidak berada di atas hukum. Inspektur kepala itu memutar tubuhnya dan membidikkan pistolnya ke punggung Teabing. `Berhenti! Aku akan menembak!`

`Silakan,` kata Teabing tanpa menghentikan langkahnya ataupun melihat ke belakang. `Pengacara-pengacaraku akan merajang buah pelirmu untuk sarapannya. Dan jika kau berani memasuki pesawatku tanpa surat izin penggeledahan, limpamu akan menyusul.`

Terbiasa dengan gertak seperti itu, inspektur itu tidak takut. Secara teknis, Teabing benar dan polisi memang memerlukan surat izin untuk masuk ke pesawatnya. Tetapi karena penerbangan itu berasal dari Prancis, dan karena Bezu Fache yang berkuasa itu memberinya otoritas, inspektur kepala Kent merasa yakin kariernya akan menjadi jauh lebih baik dengan menemukan sesuatu yang tampaknya sangat disembunyikan oleh Teabing di dalam jetnya.

`Hentikan mereka,` perintah inspektur itu. `Aku akan memeriksa pesawat itu.`

Para anggotanya segera berlarian dengan senjata terhunus. Mereka menghalangi Teabing dan pelayannya dengan menggunakan tubuh mereka.

Sekarang Teabing menoleh. `Inspektur, ini peringatan terakhir bagimu. Jangan berpikir kaudapat memasuki pesawat itu. Kau akan menyesal.`

Inspektur itu mengabaikan ancaman itu. Dengan menggenggam pistol, dia berjalan menuju pesawat itu. Setibanya di palka pesawat, dia melongok ke dalam. Sesaat kemudian dia melangkah masuk ke kabin. Apa-apaan ini?

Kecuali pilot yang duduk ketakutan di kokpitnya, pesawat itu memang kosong. Betul-betul tidak ada makhluk hidup satu pun. Dengan cepat dia memeriksa kamar kecil, kursi-kursi, dan area barang muatan. Tidak ada seorang pun yang bersembunyi ... apalagi beberapa orang.

Apa sih yang dipikirkan Bezu Fache? Tampaknya Leigh Teabing telah mengatakan yang sebenarnya.

Inspektur kepala berdiri sendirian di dalam pesawat yang tak berpenumpang itu dan mendegut susah payah. Brengsek. Wajahnya memerah. Dia mundur ke gang sempit, menatap ke hanggar pada Leigh Teabing dan pelayannya, yang sekarang sedang ditodong di dekat limusinnya. `Lepaskan mereka,` perintah inspektur itu. `Kita menerima petunjuk yang salah.`

Mata Teabing mendelik penuh ancaman ke seberang hanggar. `Kau boleh menantikan telepon dari pengacara-pengacaraku. Dan lain kali ingat, polisi Prancis tidak dapat dipercaya.`

Bersamaan dengan itu, pelayan Teabing membukakan pintu di bagian belakang dari limusin panjang itu dan menolong majikan pincangnya masuk ke dalam mobil di bangku belakang. Kemudian pelayan itu berjalan di sepanjang mobil itu, masuk ke belakang kemudi, dan menyalakan mesinnya. Polisi bercerai berai ketika Jaguar itu meninggalkan hanggar.

`Kau memainkannya dengan baik, hebat,` seru Teabing dari bangku belakang ketika limusin itu melaju cepat keluar dari lapangan udara. Lalu matanya beralih ke ruang luas remang-remang di bagian depan. `Semua nyaman?`

Langdon mengangguk lemah. Dia dan Sophie masih berjongkok di lantai mobil bersama dengan biarawan albino yang tersumbat mulutnya.

Beberapa saat sebelumnya, ketika pesawat Hawker berjalan perlahan memasuki hanggar pribadi yang sepi itu, Remy telah membuka pintu lambung pesawat saat pesawat itu berhenti di separuh jalan selama ia berputar. Dengan polisi yang bergerak cepat mendekati hanggar, Langdon dan Sophie turun menyeret si biarawan, kemudian bersembunyi di belakang limusin. Mesin jet lalu menderu lagi, untuk memutar pesawat dan menyempurnakan posisi parkirnya ketika mobil-mobil polisi berdatangan, meluncur masuk ke hanggar.

Sekarang, ketika limusin itu melesat ke arah Kent, Langdon dan Sophie merangkak dan duduk di dalam limo yang panjang, meninggalkan biarawan itu tetap tergolek di lantai. Mereka duduk berhadapan dengan Teabing. Lelaki Inggris itu tersenyum nakal kepada kedua temannya itu, lalu membuka tempat penyimpanan pada bar di dalam limo itu. `Aku boleh menawari kalian minuman? Cemilan? Keripik? Kacang? Seltzer?`

Sophie dan Langdon sama-sama menggelengkan kepala. Teabing menyeringai dan menutup lemari itu lagi. `Jadi, tentang makam kesatria itu ....`

82

`JALAN FLEET?` tanya Langdon sambil menatap Teabing di dalam limo itu. Ada sebuah makam di bawah tanah di Jalan Fleet? Sejauh ini, Leigh dengan cerdik bermain-main tentang di mana ia pikir mereka bisa menemukan `makam kesatria` itu yang, menurut puisi tadi, dapat memberikan password untuk membuka cryptex yang lebih kecil.

Teabing menyeringai dan menoleh pada Sophie. `Nona Neveu, coba perdengarkan sekali lagi pada anak Harvard ini bait yang tadi. Mau?`

Sophie merogoh sakunya dan menarik keluar cryptex hitam, yang terbungkus di dalam lembaran kulit binatang. Semuanya telah memutuskan untuk meninggalkan kotak kayu mawar dan cryptex yang lebih besar di dalam kotak kuat di dalam pesawat, dan membawa apa yang mereka butuhkan saja, yaitu cryptex hitam yang lebih mudah dibawa. Sophie membuka bungkusan itu dan menyerahkan lembaran kulit itu kepada Langdon.

Walau Langdon telah membaca puisi itu tadi beberapa kali di dalam pesawat jet; dia tidak dapat menarik inti yang mengatakan tentang di mana letak makam itu. Sekarang, saat membaca kata-kata itu lagi, dia merenungkannya perlahan-lahan dan berhati-hati, dengan harapan sajak bersuku lima itu akan mengungkap arti yang lebih jelas.

In London lies a knight a Pope interred.

His labour's fruit a Holy wrath incurred.

You seek the orb that ought be on his tomb.

It speaks of Rosy flesh and seeded womb.

Di London terbaring seorang kesatria yang seorang Paus kuburkan.

Buah perbuatannya kemarahan Suci muncul.

Kau mencari bola yang seharusnya ada di atas makamnya.

Itu menyatakan raga Rosy dan rahim yang terbuahi.

Bahasanya tampak cukup sederhana. Ada seorang kesatria dimakamkan di London. Seorang kesatria yang telah melakukan sesuatu yang membuat marah Gereja. Seorang kesatria yang makamnya tidak memiliki sebuah bola yang seharusnya ada. Baris terakhir - raga Rosy dan rahim yang terbuahi - jelas sebuah kiasan bagi Maria Magdalena, Sang Mawar yang mengandung benih Yesus.

Walau bait itu tampak berterus terang, Langdon masih tidak tahu siapa kesatria itu atau di mana dia dikuburkan. Lagi pula, begitu mereka menemukan makam itu, tampaknya mereka masih harus mencari sesuatu yang hilang dari makam itu. Bola yang seharusnya ada di atas makamnya?

`Tidak ada gagasan?` tanya Teabing sambil tertawa kecewa. Namun Langdon merasa, sejarawan bangsawan itu merasa senang karena hanya dia yang tahu. `Nona Neveu?`

Sophie menggelengkan kepalanya.

`Apa yang kalian berdua dapat lakukan tanpa aku?` kata Teabing. `Baiklah, aku akan mengantar kalian kesana. Seharusnya sangat sederhana. Baris pertama adalah kuncinya. Bisa tolong dibaca?`

Langdon membacanya dengan keras. `Di London terbaring seorang kesatria yang seorang Paus kuburkan.`

`Tepat. Seorang kesatria yang seorang Paus kuburkan.` Lalu Teabing menatap Langdon. `Apa artinya itu bagimu?`

Langdon menggerakkan bahunya. `Seorang kesatria yang dikuburkan oleh seorang Paus? Seorang kesatria yang penguburannya dipimpin oleh seorang Paus?`

Teabing tertawa keras. `Oh, ini bagus sekali. Selalu optimistis, Robert. Lalu lihat baris kedua. Kesatria ini jelas melakukan sesuatu yang membuat marah Gereja. Pikirkan lagi. Pertimbangkan dinamika antara Gereja dan Templar. Seorang kesatria yang seorang Paus kuburkan?`

`Seorang kesatria yang seorang Paus bunuh?` tanya Sophie. Teabing tersenyum dan menepuk lutut Sophie. `Bagus sekali, Nona. Seorang kesatria yang seorang Paus kuburkan. atau bunuh.`

Langdon mengingat pengumpulan para Templar yang terkenal pada tahun 1307 ---- Jumat tanggal 13 yang sial ----- ketika Paus Clement membunuh dan menguburkan ratusan kesatria Templar. `Tetapi, itu berarti ada banyak sekali makam para kesatria yang dibunuh oleh para paus?`

`Aha, tidak begitu!` kata Teabing. `Banyak dari mereka yang dibakar pada kayu pancang dan dilempar tanpa upacara penghormatan ke Sungai Tiberias. Tetapi puisi ini menunjuk ke sebuah makam. Sebuah makam di London. Dan hanya ada beberapa kesatria yang dikuburkan di London.` Teabing terhenti, menatap Langdon seolah menunggu matahari terbit. Akhirnya dia gusar. `Robert, demi Tuhan! Gereja yang dibangun di London oleh angkatan bersenjata Biarawan Sion-Knights Templar sendiri!`

`Gereja Kuil?` tanya Langdon sambil menarik napas penuh keheranan. `Dalam gereja itu ada makam dalam tanah?` `Sepuluh dari makam-makam paling mengerikan yang pernah kaulihat.`

Langdon belum pernah mengunjungi Gereja Kuil, walau dia mendapat banyak petunjuk saat melakukan penelitian tentang Biarawan Sion. Dulu pernah menjadi pusat kegiatan semua Templar/Biarawan di Inggris Raya, Gereja Kuil disebut demikian untuk menghormati Kuil Salomo, tempat para Templar mengamoil gelar mereka sendiri, seperti juga dokumen-dokumen Sangreal yang menganugerahi mereka semua pengaruh mereka terhadap Roma. Banyak dongeng menceritakan ritual-ritual rahasia dan aneh yang dilakukan para kesatria itu di dalam Gereja Kuil. `Gereja Kuil ada di Jalan Fleet?`

`Sebenarnya, di pinggir Jalan Fleet, di Jalan Inner Temple tepatnya.` Teabing tampak nakal. `Aku ingin melihat kalian berkeringat sedikit lagi sebelum aku beri tahu.`

`Terima kasih.`

`Tidak satu pun di antara kalian yang pernah ke sana?` Sophie dan Langdon menggelengkan kepala.

`Aku tidak heran,` kata Teabing. `Sekarang gereja itu tersembunyi di belakang gedung-gedung yang lebih besar. Hanya sedikit orang yang tahu bahwa ada gereja di sana. Tempat kuno yang menakutkan. Arsitekturnya betul-betul pagan.`

Sophie tampak heran. `Pagan?`

`Pagan secara panteonis!` seru Teabing. `Gereja itu bulat. Para kesatria Templar mengabaikan layout berbentuk salib dari gereja-gereja tradisional, dan membangun gereja yang benar-benar bulat , untuk penghormatan kepada matahari.` Alis Teabing bergerak-gerak seperti tarian setan. `Tentu saja itu tidak menyenangkan pihak Roma. Mungkin saja mereka juga mendirikan Stonehenge di tengah London.`

Sophie menatap Teabing. `Bagaimana dengan baris puisi yang lainnya?`

Kegembiraan sejarawan itu memudar. `Aku tidak yakin. Itu membingungkan. Kita harus memeriksa setiap makam dari sepuluh makam di sana dengan saksama. Jika beruntung, kita dapat menemukan satu yang tak punya bola.`

Langdon tahu, mereka sudah sangat dekat. Jika bola yang hilang itu mengungkap kata kunci, mereka akan dapat membuka cryptex kedua. Langdon kesulitan untuk membayangkan apa yang akan mereka temukan di dalamnya.

Langdon menatap puisi itu lagi. Ini seperti teka-teki silang kuno. Sebuah kata terdiri atas lima huruf yang mengatakan tentang Grail? Ketika di pesawat tadi, mereka telah mencoba segala kata kunci yang jelas-GRAIL, GRAAL, GREAL, VENUS, MARIA, JESUS, SARAH, namun silinder itu tidak berputar. Tampaknya ada juga kata-kata lima huruf lainnya yang mengacu ke rahim Rose yang terbuahi. Kenyataan bahwa kata itu luput dari pengamatan ahli seperti Leigh Teabing menunjukkan kepada Langdon bahwa itu bukanlah petunjuk Grail yang biasa.

`Sir Leigh?` Remy memanggil melalui bahunya. Sambil mengemudi, Remy melihat mereka dari kaca spion melintasi kaca pembatas yang terbuka. `Anda tadi mengatakan Jalan Fleet dekat Jembatan Blackfriars?`

`Ya, lewat Tanggul Victoria.`

`Maaf. Saya tidak yakin di mana itu. Biasanya kita ke London hanya pergi ke rumah sakit.`

Teabing menaikkan matanya ke Langdon dan Sophie, kemudian menggerutu. `Sumpah, aku kadang-kadang merasa sedang mengasuh anak kecil. Sebentar, ya. Silakan mengambil sendiri minuman dan makanan kecil.` Lalu Teabing merangkak dengan kikuk ke arah pemisah yang terbuka untuk berbicara dengan Remy.

Sophie menoleh kepada Langdon, suaranya tenang. `Robert, tidak ada yang tahu kau dan aku ada di Inggris.`

Langdon tahu, Sophie benar. Polisi Kent akan mengatakan kepada Fache bahwa pesawat itu kosong, dan Fache akan menyimpulkan bahwa mereka masih di Prancis. Kita tidak terlihat. Keberanian Leigh memberi mereka banyak waktu.

`Fache tidak akan menyerah dengan mudah,` kata Sophie. `Sekarang dia sudah berkorban terlalu banyak untuk menangkap kita.`

Langdon berusaha untuk tidak memikirkan Fache. Sophie telah berjanji bahwa dia akan melakukan segalanya, dengan kekuatan yang ia miliki, untuk membebaskan Langdon dari tuduhan begitu semua ini berakhir. Namun, Langdon mulai khawatir jangan-jangan usaha Sophie tidak berguna. Fache mungkin saja menjadi bagian dari komplotan ini. Walau Langdon tidak dapat membayangkan apa kaitannya Polisi Judisial dengan Holy Grail, dia merasa pada malam itu terlalu banyak kejadian kebetulan, untuk tidak menganggap Fache sebagai kaki tangan dari suatu kelompok yang menginginkan Grail juga. Fache seorang yang beragama, dan dia sangat berusaha untuk mendakwakan pembunuhan ini padaku. Sophie lagi-lagi membantah Langdon. Menurutnya, mungkin saja Fache sekadar bersemangat untuk melakukan penangkapan. Lagi pula, bukti yang memberatkan Langdon sangat jelas. Selain namanya tertulis di atas lantai Louvre dan dalam buku agenda Sauniere, Langdon juga ternyata telah berbohong tentang naskahnya dan kemudian melarikan diri. Atas usulan Sophie.

`Robert, aku menyesal telah melibatkanmu begitu jauh,` kata Sophie, sambil meletakkan tangannya di atas lutut Langdon. `Tetapi aku senang kau ada di sini.`

Kata-kata Sophie terdengar lebih pragmatis daripada romantis. Walau begitu, tanpa diduganya, Langdon merasakan ada secercah ketertarikan satu sama lain dalam diri mereka. Langdon tersenyum letih pada Sophie. `Aku akan merasa lebih senang jika aku sudah tidur.`

Sophie terdiam beberapa detik. `Kakekku memintaku untuk memercayaimu. Aku senang akhirnya aku mematuhinya.` `Kakekmu tidak mengenalku sama sekali.`

`Walau begitu, aku hanya dapat berpikir bahwa kau telah melakukan segala yang diinginkan Kakek padaku. Kau menolongku menemukan batu kunci, menjelaskan tentang Sangreal, menceritakan tentang ritual bawah tanah itu.` Sophie terdiam. Lalu, `Entah bagaimana aku merasa lebih dekat dengan kakekku malam ini dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu. Aku tahu, dia akan bahagia karenanya.`

Di kejauhan, garis langit London mulai tampak menembus gerimis pagi. Dulu, langit London pernah didominasi oleh Blg Ben dan Tower Bridge, sekarang horizon itu membungkuk pada Millenium Eye-sebuah roda Ferris ultramodern yang sangat besar yang menjulang setinggi lima ratus kaki dan menyajikan pemandangan kota yang mengagumkan. Langdon pernah berniat menaikinya, tetapi `kapsul untuk menonton`-nya mengingatkan dirinya pada peti mayat dari batu yang tersegel, lalu dia memilih untuk tetap menjejakkan kakinya di tanah dan menikmati pemandangan dari tepi Sungai Thames yang berudara segar.

Langdon merasakan ada usapan pada lututnya, sehingga dia terbangun dari lamunannya. Dia melihat mata hijau Sophie sedang menatapnya. Langdon tahu, tadi Sophie sedang berbicara dengannya. `Apa yang harus kita lakukan pada dokumen-dokumen Sangreal itu jika sudah kita dapatkan, Robert?` bisik Sophie.

`Apa yang kupikirkan adalah sesuatu yang tidak nyata,` kata Langdon., `Kakekmu memberikan cryptex itu padamu, dan kau harus melakukan sesuai nalurimu apa yang kiranya diharapkan oleh kakekmu.`

`Aku meminta pendapatmu. Kau pasti telah menulis sesuatu di dalam naskahmu sehingga kakekku memercayai penilaianmu. Dia menjadwalkan pertemuan pribadi denganmu. Itu aneh.`

`Mungkin saja dia hanya ingin mengatakan bahwa tulisanku semua salah.`

`Mengapa dia menyuruhku mencarimu jika dia tidak menyukai gagasanmu? Dalam naskahmu, apakah kau mendukung gagasan bahwa dokumen Sangreal harus disebarluaskan atau lebih mendukung jika dokumen itu terkubur saja?`

`Tidak keduanya. Aku tidak membuat penilaian pada kedua gagasan itu. Naskah itu berisi ulasan simbologi perempuan suci, menelusuri ikonografinya sepanjang sejarah. Aku betul-betul tidak merasa tahu di mana Grail itu disembunyikan atau apakah itu harus diungkapkan.`

`Namun kau menulis buku tentang Grail, jadi jelas kau menganggap bahwa informasi itu harus disebarkan.`

`Ada perbedaan besar antara mendiskusikan secara hipotetis sebuah sejarah alternatif rentang Kristus, dan ...,` Langdon terdiam.

`Dan apa?` desak Sophie.

`Dan menyajikan kepada dunia ribuan dokumen kuno sebagai bukti ilmiah bahwa Perjanjian Baru merupakan kesaksian palsu.` `Tetapi kau pernah bilang bahwa Perjanjian Baru merupakan hasil buatan manusia.`

Langdon tersenyum. `Sophie, setiap keyakinan di dunia ini berdasarkan pada apa yang dibuat. Itu adalah definisi dari keyakinan-menerima apa yang kita bayangkan itu benar, yang sebenarnya tidak dapat kita buktikan. Setiap agama menggambarkan Tuhan melalui metafora, perumpamaan, dan dibesar-besarkan, sejak zaman Mesir kuno hingga sekolah Minggu sekarang. Metafora adalah cara untuk membantu pikiran kita memproses segala yang tak dapat diproses. Masalah timbul ketika kita mulai sangat percaya pada metafora kita sendiri.`

`Jadi kau lebih suka jika dokumen-dokumen Sangreal tetap terkubur selamanya?`

`Aku seorang sejarawan. Aku anti perusakan dokumen, dan aku akan senang melihat para ilmuwan agama memiliki informasi lebih untuk merenungkan kehidupan Yesus Kristus yang luar biasa itu.`

`Kau membantah kedua sisi dari pertanyaanku.`

`Masa? Alkitab menyajikan sebuah tonggak yang fundamental bagi jutaan orang di planet ini, dengan cara yang sangat sama dengan Quran, Taurat, dan Kitab Pali dalam memberikan petunjuk kepada pemeluk agama lainnya. Jika kau dan aku dapat menemukan dokumentasi yang berlawanan dengan cerita suci yang dipercayai dalam Islam, Yahudi, Budha, dan pagan, apakah kita juga harus mengungkapkannya? Haruskah kita mengatakan kepada penganut agama Budha bahwa kita punya bukti kalau Budha tidak dilahirkan oleh bunga teratai? Atau Yesus tidak dilahirkan oleh seorang perempuan yang betul-betul perawan? Orang-orang yang sungguh-sungguh mengerti keyakinan mereka juga mengerti bahwa cerita-cerita itu merupakan metafora.`

Sophie tampak ragu. `Teman-temanku yang beragama Kristen betul-betul percaya bahwa Kristus memang bisa berjalan di atas air, memang mampu mengubah air menjadi anggur, dan dilahirkan oleh perempuan yang memang masih perawan.`

`Intinya adalah,` kata Langdon. `Perumpamaan agama telah menjadi bagian dari realitas yang dibuat. Dan, hidup di dalam realitas itu menolong jutaan orang untuk bertahan dan menjadi orang yang lebih baik.`

`Tetapi, tampaknya realitas mereka itu palsu.`

Langdon tertawa. `Tidak lebih palsu dari ahli kriptografi matematika yang percaya pada angka imajiner `i` , karena angka itu menolongnya membuka kode itu.`

Sophie mengerutkan keningnya. `Itu tidak adil.` Sesaat berlalu.

`Apa pertanyaanmu tadi?` tanya Langdon. `Aku tidak ingat.`

83

JAM TANGAN Mickey Mouse Langdon menunjukkan pukul 7.30 ketika Langdon keluar dari limusin Jaguar dan memasuki Jalan Inner Temple bersama Sophie dan Teabing. Ketiganya berjalan berkelok-kelok melintasi berbagai gedung ke sebuah halaman kecil di luar Gereja Kuil. Batu yang ditatah kasar berkilauan di timpa hujan, dan burung-burung dara berkukuk di atas gedung itu.

Gereja Kuil tua di London itu keseluruhannya dibangun dengan menggunakan batu dari Caen. Berbentuk bulat dengan bagian muka yang menakutkan, menara di tengah, dan bagian tengah yang menonjol ke luar ke satu sisi, gereja itu lebih mirip kubu militer daripada tempat pemujaan. Diresmikan pada tanggal 10 Februari tahun 1185 oleh Heraclius, Kepala Keluarga Jerusalem, Gereja Kuil bertahan selama delapan abad dari huru-hara politik, Kebakaran Besar London, dan Perang Dunia Pertama; hanya mengalami kerusakan berat karena bom-bom pembakar rumah dari Luftwaffe pada tahun 1940. Setelah perang itu, gereja ini dibangun kembali seperti bentuk aslinya, megah dan dingin.

Kesederhanaan lingkaran, pikir Langdon, sambil mengagumi gedung itu untuk pertama kalinya. Arsitekturnya sederhana dan kasar, lebih mengingatkan kepada Puri San t'Angelo yang kasar di Roma daripada Pantheon yang halus. Ruang tambahan yang kotak menonjol keluar ke arah kanan terlihat tidak menyenangkan, walau itu sedikit menyembunyikan bentuk pagan asli dari bangunan utamanya.

`Ini hari Sabtu pagi,` kata Teabing, sambil terpincang-pincang ke arah pintu masuk, `jadi kukira kita tidak akan berurusan dengan misa.`

Jalan masuk gereja itu merupakan batu ceruk menjorok ke dalam tempat berdirinya pintu kayu besar. Di sebelah kiri pintu itu, tampak tidak sesuai penempatannya, tergantung papan buletin berisi pengumuman jadwal konser dan misa agama.

Teabing mengerutkan keningnya ketika membaca papan itu. `Mereka tidak membuka bagi umum di luar jam-jam misa.` Dia bergerak ke arah pintu dan mencobanya. Pintu itu tidak bergerak. Lalu Teabing menempelkan telinganya pada daun pintu itu, mendengarkan. Setelah sesaat, dia menarik diri. Wajahnya tampak penuh rencana ketika dia menunjuk pada papan buletin. `Robert, bisa tolong periksa jadwal misa? Siapa yang memimpin misa minggu ini?`

Di dalam gereja, seorang lelaki muda pembersih altar hampir selesai memvacum tempat berlutut para penerima komuni ketika dia mendengar ketukan pada pintu gereja. Dia mengabaikannya. Pendeta Harvey Knowles mempunyai kuncinya sendiri dan baru akan datang dua jam lagi. Si pengetuk pintu mungkin hanya seorang turis yang ingin tahu atau seorang pengemis. Petugas altar melanjutkan pekerjaannya, tetapi ketukan di pintu berlanjut. Apa dia tidak bisa membaca jadwal? Tanda di pintu dengan jelas menyatakan bahwa gereja tidak akan dibuka sebelum pukul 9.30 pada hari Sabtu. Petugas altar itu terus melakukan tugasnya. Tiba-tiba, ketukan pada pintu itu berubah menjadi gedoran kuat, seolah orang itu memukuli pintu dengan tongkat metal. Lelaki muda itu mematikan alat penyedot debunya dan berjalan dengan marah ke arah pintu. Tanpa membuka pengait rantai pengamannya dari dalam, dia membuka pintu itu sedikit. Tiga orang berdiri di ambang pintu. Turis, dia menggerutu. `Kami buka pukul 9.30.`

Lelaki gemuk, yang tampil sebagai pemimpin mereka, melangkah ke depan, menggunakan tongkat metalnya. `Saya Sir Leigh Teabing,` katanya, aksennya menunjukkan bahwa dia seorang Inggris yang bermartabat tinggi. `Seperti yang pasti Anda lihat, saya sedang mengantar Bapak dan Ibu Christopher Wren Keempat.` Lalu lelaki gemuk itu bergeser sedikit, mengayunkan tangannya ke arah pasangan pria-wanita di belakangnya. Yang perempuan berpenampilan lembut, dengan rambut merah yang lebat; lelaki di sampingnya jangkung, berambut gelap dan tampak seperti tidak asing.

Petugas altar itu tidak tahu bagaimana merespon mereka. Sir Christopher Wren adalah penderma terbesar bagi Gereja Kuil. Dialah yang memungkinkan terlaksananya restorasi gereja ini setelah peristiwa Kebakaran Besar. Dia juga telah meninggal dunia sejak awal abad ke-18. `Mmm ... saya merasa terhormat bertemu dengan Anda.`

Lelaki bertongkat itu mengerutkan dahinya. `Untung saja kau tidak bekerja di bagian pemasaran, anak muda. Kau tidak begitu meyakinkan. Di mana Pendeta Knowles?`

`Ini hari Sabtu. Beliau baru akan datang nanti.`

Lelaki pincang itu menggerutu perlahan. `Terima kasih banyak. Padahal beliau sudah meyakinkan kami, beliau akan menunggu di sini, tetapi tampaknya kami harus melakukannya tanpa beliau. Tidak akan lama.`

Petugas altar itu tetap menghalangi di ambang pintu. `Maaf, apa yang tidak akan lama?` .

Mata tamu itu sekarang menajam. Ia mencondongkan tubuhnya sambil berbisik, seolah tidak mau mempermalukan seseorang. `Anak muda, kau orang baru di sini. Setiap tahun keturunan Sir Christopher Wren selalu membawa sejumput abu orang tua itu ke dekat altar di gereja ini. Itu bagian dari pesan terakhir dan surat wasiatnya. Tidak seorang pun senang melakukan perjalanan ke sini, tetapi apa boleh buat.`

Petugas altar itu telah bekerja di sini selama dua tahun, namun dia tidak pernah mendengar kebiasaan itu. `Lebih baik jika Anda menunggu hingga pukul 9.30. Gereja ini belum buka, dan saya belum selesai bersih-bersih.`

Lelaki bertongkat itu mendelik marah. `Anak muda, satusatunya sebab masih adanya benda-benda di sini untuk kaubersihkan adalah karena lelaki baik hati yang sekarang ada di dalam kantong perempuan itu.`

`Maaf?`

`Ibu Wren,` lelaki bertongkat itu berkata, `maukah Anda berbaik hati memperlihatkan ke anak muda yang tidak sopan ini sisa abu itu?`

Perempuan itu tampak ragu sesaat lalu, seolah terbangun dari ketidaksadaran, dia merogoh saku sweternya dan menarik keluar sebuah silinder kecil yang terbungkus oleh bahan pelindung.

`Nah, kau lihat?` bentak lelaki bertongkat itu. `Sekarang kau bisa menghormati permintaan terakhir orang itu dan membiarkan kami menebarkan abunya di altar doa, atau akan kukatakan kepada Pendeta Knowles bagaimana kami diperlakukan.`

Petugas altar itu ragu-ragu, dia sangat mengerti akan ketaatan Pendeta Knowles dalam menjalankan tradisi gereja .... Mungkin Pak Knowles sekadar lupa saja tentang kedatangan anggota keluarga ini. Jika demikian, akan lebih sedikit risikonya jika dia membiarkan mereka masuk daripada mengusir mereka pulang. Lagi pula, mereka tadi mengatakan hanya akan sebentar. Apa rugi nya?

Ketika petugas altar itu menggeser tubuhnya untuk membiarkan ketiga orang itu lewat, dia dapat bersumpah, Pak dan Bu Wren betul-betul tampak sama bingungnya seperti dirinya juga. Dengan tidak yakin, petugas yang masih muda itu melanjutkan tugasnya, sambil melihat mereka dengan sudut matanya.

Langdon tak dapat menahan senyumnya ketika mereka bertiga berjalan lebih jauh ke dalam gereja itu. `Leigh,` dia berbisik, `kau berbohong dengan sangat baik.`

Mata Teabing bersinar. `Kelompok Teater Oxford. Mereka masih terus membicarakan aktingku sebagai Julius Caesar. Aku yakin, belum ada yang memerankannya pada babak pertama dari Act Three dengan penjiwaan yang lebih baik.`

Langdon menatapnya. `Kupikir Caesar mati pada babak itu.` Teabing menyeringai. `Ya, tetapi togaku robek terbuka ketika aku jatuh, dan aku harus berbaring di atas panggung selama setengah jam dengan todgerku tergantung keluar. Walau begitu, aku tetap tidak bergerak sama sekali. Aku sangat pandai, asal tahu saja.`

Langdon tampak ngeri. Sayang sekali aku tidak melihatnya. Ketika mereka berjalan melalui ruang tambahan segi empat ke arah pintu lengkung yang membawa mereka ke ruang utama gereja, Langdon heran melihat kekosongan ruangan itu. Walau altarnya tampak seperti yang biasa terdapat pada kapel Kristen lainnya, perabotan lainnya begitu kaku dan dingin, bahkan tidak terlihat hiasan tradisional sekalipun. `Pucat,` bisiknya.

Teabing tertawa. `Gereja Inggris. Anglikan melaksanakan agamanya dengan kaku. Tidak ada yang bisa mengalihkan mereka dari kesengsaraan.`

Sophie menunjuk ke arah ruang terbuka yang luas yang mengarah ke bagian bundar gereja itu. `Kelihatannya seperti sebuah benteng di sana,` dia berbisik.

Langdon setuju. Bahkan dari tempatnya berdiri, dinding ruangan itu tampak kasar.

`Para kesatria Templar adalah pahlawan,` Teabing mengingat' kan, sementara suara penunjang kaki dari aluminiumnya bergema di ruangan yang menggaung itu. `Sebuah perkumpulan militer yang beragama. Gereja mereka merupakan benteng pertahanan mereka dan juga bank mereka.`

`Bank?` tanya Sophie sambil menatap Leigh.

`Oh ampun, ya. Templar menemukan konsep bank modern. Bagi para bangsawan Eropa, melakukan perjalanan dengan mem-. bawa emas sangat berbahaya. Maka, Templar membolehkan para bangsawan itu menyimpan emasnya di Gereja Kuil yang terdekat dan dapat menariknya lagi dari Gereja Kuil mana pun di seluruh Eropa. Yang mereka perlukan hanyalah dokumentasi yang lengkap.` Dia mengedipkan matanya. `Dan sedikit komisi. Mereka merupakan ATM asli.` Teabing menunjuk ke jendela berkaca ornamen warna-warni. Dari situ sinar matahari memantul pada kaca yang menggambarkan seorang kesatria berpakaian putih sedang menunggang seekor kuda berwarna merah muda. `Alanus Marcel,` kata Teabing, `Pimpinan Kuil pada awal tahun 1200. Dia dan penerusnya sesungguhnya memimpin kursi Parlemen Primus Baro Angiae.`

Langdon terkejut. `Baron Pertama dari Realm?`

Teabing mengangguk. `Beberapa orang mengakui, Pimpinan Kuil mempunyai pengaruh lebih besar daripada raja sendiri.` Ketika mereka tiba di luar ruangan bundar, Teabing mengerling pada petugas altar, yang masih memvacum ruang gereja di kejauhan. `Kau tahu,` bisik Teabing pada Sophie, `Holy Grail katanya pernah mampir di gereja ini semalam saat Templar memindahkannya dari tempat persembunyiannya ke tempat lain. Bisakah kaubayangkan keempat peti yang berisi dokumen-dokumen Sangreal ditempatkan di sini bersama peti mati Maria Magdalena? Aku jadi merinding.`

Langdon juga merasa merinding ketika mereka melangkah ke ruangan bundar itu. Matanya mengikuti lengkungan batas pinggir ruangan yang terbuat dari batu berwarna pucat, lalu melihat ukiran-ukiran pada dindingnya yang berupa patung kepala hewan, iblis, monster, wajah manusia yang disakiti, semuanya menatap ke dalam ruangan. Di bawah ukiran-ukiran itu terletak bangku batu tunggal melingkari sekeliling ruangan.

`Teater bundar,` bisik Langdon.

Teabing menaikkan satu tongkatnya, menunjuk ke arah kiri jauh ruangan itu, lalu ke arah kanan jauh. Langdon sudah melihatnya.

Sepuluh kesatria batu.

Lima di kiri, lima di kanan.

Para kesatria itu terukir terlentang di atas lantai, seukuran dengan manusia, dalam pose yang damai. Mereka digambarkan mengenakan pakaian besi lengkap, tameng, dan pedang. Makam patung itu membuat Langdon merasa tidak nyaman, seolah pada zaman itu seseorang telah menyelinap masuk dan menuangkan adukan semen ke atas para kesatria yang sedang tidur. Kesepuluh figur itu rusak berat, namun masing-masing sangat unik - perlengkapan pakaian, posisi kaki dan tangan, ciri pada wajah, dan tanda pada tameng yang berbeda-beda.

Di London terbaring seorang kesatria yang seorang Paus kuburkan.

Langdon merasa gemetar ketika dia masuk lebih dalam ke ruang bulat itu.

Pasti inilah tempat itu.

84

DI GANG yang kotor oleh sampah yang sangat dekat dengan Gereja Kuil, Remy Legaludec menghentikan limusin Jaguar panjangnya di belakang sederetan tong sampah industri. Dia mematikan mesinnya dan memeriksa daerah sekitarnya. Sepi. Dia keluar dari mobil, berjalan ke bagian belakang, dan masuk ke kabin utama limusin itu, tempat si biarawan meringkuk.

Merasakan kehadiran Remy, Silas tersadar dari kerasukannya dalam doa. Mata merahnya lebih tampak ingin tahu daripada takut. Sepanjang malam itu, Remy telah merasa kagum pada kemampuan tahanan ini untuk bersikap tenang. Setelah pergulatan pertama di Range Rover, biarawan itu tampak menerima keadaannya yang tidak menyenangkan dan menyerahkan nasibnya pada kekuasaan yang lebih tinggi.

Remy mengendurkan dasi kupu-kupunya, melepas kancing kerahnya yang tinggi, kaku, dan bersayap, dan merasa seolah dia baru dapat bernapas untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun. Dia membuka lemari minuman di dalam limusin itu dan menuangkan vodka Smirnoff bagi dirinya sendiri. Dia meminumnya dengan sekali teguk, diikuti dengan gelas kedua.

Tak lama lagi aku akan menjadi lelaki yang hidup enak. Setelah mencari-cari di dalam bar, Remy menemukan pembuka botol anggur yang biasa, lalu membuka mata pisaunya yang tajam. Pisau itu biasanya digunakan untuk memotong kertas timah dari tutup botol anggur, namun pagi ini, alat itu akan digunakan untuk sesuatu yang jauh lebih besar. Remy menoleh pada Silas sambil memegang silet berkilauan itu.

Sekarang mata merah itu berkilat ketakutan.

Remy tersenyum dan bergerak ke belakang limusin. Biarawan itu tersentak dan memberontak berusaha melepaskan diri. `Tenanglah,` bisik Remy sambil mengangkat pisau itu.

Silas tidak dapat percaya bahwa Tuhan telah meninggalkannya. Bahkan rasa sakit pada tubuhnya karena diikat telah dianggapnya sebagai latihan spiritual, dengan memohon supaya denyut sakit pada otot-ototnya yang kekurangan aliran darah itu menjadikan dia ingat pada penderitaan Kristus. Aku sudah berdoa sepanjang malam memohon kebebasan. Sekarang, ketika pisau itu turun, Silas mengatupkan matanya rapat-rapat.

Rasa sakit seperti memotong tulang belikatnya. Dia berteriak, tidak percaya bahwa dia akan mati di sini, di bagian belakang sebuah limusin, tanpa mampu membela diri. Aku mengerjakan pekerjaan Tuhan. Guru mengatakan akan melindungiku.

Silas merasa kehangatan menusuk melebar melintasi punggung dan bahunya. Dia dapat membayangkan darahnya sendiri, memancar keluar dari dagingnya. Sekarang rasa sakit yang menusuk memotong melalui pahanya, dan dia merasakan serangan arus bawah seperti yang sudah biasa dirasakannya-cara tubuh bertahan terhadap rasa sakit.

Ketika rasa sakit yang menusuk itu terasa merobek seluruh ototnya, Silas mengatupkan matanya lebih rapat, dan memutuskan bahwa gambaran akhir hidupnya bukanlah ditentukan oleh pembunuhnya. Lalu dia membayangkan seorang Uskup Aringarosa

ketika masih lebih muda, berdiri di depan gereja kecil di Spanyol ... gereja yang dibangun dengan tangannya dan Silas. Awal kehidupanku.

Silas merasa tubuhnya terbakar.

`Minumlah,` bisik lelaki bertuksedo itu. Aksennya Prancis. `Akan membantu melancarkan aliran darahmu.`

Mata Silas terbuka heran. Sesosok bayangan kabur membungkuk padanya, menawarkan segelas cairan. Seonggok pita berperekat yang sudah sobek-sobek tergeletak di lantai di samping pisau sialan itu.

`Minum ini,` lelaki itu mengulangi. `Rasa sakit yang kau rasakan itu hanya aliran darah yang memasuki otot-ototmu.` Silas merasakan denyut panas sekarang berganti menjadi tusukan-tusukan kecil. Vodka itu terasa tidak enak tetapi dia meminumnya juga, merasa bersyukur. Nasibnya malam ini tidak bagus, tapi Tuhan menyelesaikan semuanya dengan sebuah pergantian yang ajaib.

Tuhan tidak meninggalkan aku.

Silas tahu apa yang akan disebut Uskup Aringarosa tentang ini semua.

Campur tangan Tuhan.

`Aku sudah ingin membebaskanmu lebih awal,` kata pelayan itu meminta maaf, `tetapi tidak mungkin. Dengan polisi yang datang ke Puri Villette, kemudian polisi di lapangan udara Biggin Hill, ini merupakan kesempatan pertama yang memungkinkan. Kau mengerti, bukan, Silas?`

Silas tersentak heran. `Kautahu namaku?` Pelayan itu tersenyum.

Sekarang Silas duduk, menggosok-gosok otot-ototnya yang kaku. Perasaannya menyemburkan ketidak percayaan, penghargaan, dan kebingungan. `Apakah kau ... Guru?`

Remy menggelengkan kepalanya, menertawakan kesalahan itu. `Kuharap aku punya kekuasaan itu. Bukan, aku bukan Guru. Seperti kau juga, aku melayaninya. Tetapi Guru selalu memujimu. Namaku Remy`

Silas kagum. `Aku tidak mengerti. Jika kau bekerja pada Guru, mengapa Langdon membawa batu kunci itu ke rumahmu?` `Bukan rumahku. Itu rumah seorang sejarawan Grail yang paling terkenal, Sir Leigh Teabing.`

`Tetapi kautinggal di sana. Anehnya ...`

Remy tersenyum, tampaknya dia tidak heran dengan kebetulan yang terjadi-Langdon memilih rumah itu sebagai tempat pe_ lariannya. `Itu semua sangat dapat diduga. Robert Langdon memegang batu kunci, dan dia membutuhkan bantuan. Tempat mana lagi yang mungkin dipikirkannya selain rumah Leigh Teabing? Karena kebetulan aku tinggal di sana juga, maka Guru menghubungiku lebih dulu.` Dia terdiam sesaat. `Menurutmu, bagaimana Guru bisa tahu begitu banyak tentang Grail?`

Fajar menyingsing sekarang, dan Silas terpaku. Guru telah menempatkan seorang pelayan yang mempunyai akses ke semua yang diselidiki Teabing. Sangat cemerlang.

`Ada banyak yang harus kukatakan padamu,` kata Remy, sambil menyerahkan pistol Heckler Koch yang berisi peluru. Kemudian, melalui partisi yang terbuka, Remy meraih dan mengeluarkan sepucuk revolver kecil seukuran telapak tangan dari kotak penyimpanan sarung tangan. `Tetapi pertama-tama, kau dan aku punya tugas yang harus dikerjakan.`

Kapten Fache turun dari pesawat yang membawanya ke Biggin Hill dan mendengarkan dengan tidak percaya cerita inspektur kepala Kent tentang apa yang terjadi di hanggar pribadi Teabing:

`Aku memeriksa pesawat itu sendiri,` tegas inspektur itu, `dan tidak ada seorang pun di dalam.` Nadanya meninggi. `Dan aku harus menambahkan bahwa jika Sir Leigh Teabing menuntutku, aku akan ....`

`Apakah kau menginterogasi pilotnya?`

`Tentu saja tidak. Dia orang Prancis, dan yurisdiksi kami memerlukan ....`

`Bawa aku ke pesawat itu.`

Tiba di hanggar itu, Fache hanya memerlukan enam puluh menit untuk menemukan ceceran darah pada lantai hanggar dekat tempat limusin diparkir tadi. Fache berjalan ke arah pesawat dan berteriak keras sambil menghadap ke .badan pesawat.

`Ini kapten Polisi Judisial Prancis. Buka pintu!`

Pilot yang ketakutan itu membuka pintu dan menurunkan tangganya.

Fache naik. Tiga menit kemudian, dengan bantuan pistolnya, dia. sudah mendapatkan gambaran tentang biarawan albino yang diikat. Dan sebagai tambahan, pilot itu melihat Sophie dan Langdon telah meninggalkan sesuatu di tempat penyimpanan Teabing di belakang, sebuah kotak kayu atau sejenisnya. Walaupun menyangkal bahwa dia tahu apa isi kotak itu, si pilot mengaku bahwa kotak itu telah menjadi pusat perhatian Langdon selama penerbangan ke London.

`Buka lemari itu.` Fache meminta.

Pilot itu tampak ketakutan. `Aku tidak tahu kombinasinya!` `Sayang sekali. Aku baru saja mau menawarkan agar kau tetap mempunyai izin terbang.`

Pilot itu meremas-remas tangannya. `Aku kenal beberapa orang di bagian pemeliharaan di sini. Mungkin mereka bisa mengebornya?`

`Kau punya waktu setengah jam.` Pilot itu loncat menyambar radionya.

Fache berjalan ke belakang pesawat dan menuang minuman keras untuknya sendiri. Ini masih terlalu pagi, tetapi dia belum tidur .... Sambil duduk di kursi yang sangat lunak, Fache menutup matanya, mencoba membayangkan apa yang terjadi. Kegagalan polisi Kent dupat sangat merugikanku. Sekarang semua orang sedang mencari limusin Jaguar hitam.

Telepon Fache berdering, padahal dia mengharapkan kedamaian sesaat saja. `Allo?`

`Aku dalam perjalanan ke London.` Itu Uskup Aringarosa. `Aku akan tiba dalam satu jam.`

Fache duduk tegak. `Kupikir kau akan terbang ke Paris.`

`Aku sangat khawatir. Aku mengubah rencana.` `Kau tidak boleh begitu.`

`Kau sudah bertemu Silas?`

`Tidak. Penangkapnya berhasil lolos dari polisi Kent sebelum aku mendarat.`

Kemarahan Aringarosa berdering tajam. `Kau meyakinkan aku bahwa kau akan menghentikan pesawat itu!`

Fache merendahkan suaranya. `Uskup, mengingat keadaanmu, aku sarankan kau jangan menguji kesabaranku hari ini. Aku akan menemukan Silas dan yang lainnya secepat mungkin. Kau akan mendarat di mana?`

`Sebentar.` Aringarosa menahan teleponnya, lalu menyambungnya lagi. `Pilot mengatakan dia akan mencoba mendarat di Heathrow Aku satu-satunya penumpangnya, tetapi tujuan baru kami tidak terdaftarkan.`

`Katakan kepada pilot itu untuk mendarat di lapangan udara eksekutif Biggin Hill di Kent. Aku akan mintakan izin untukmu.` `Terima kasih.`

`Seperti yang kunyatakan ketika kita pertama kali berbicara, Uskup, kau harus mengingatnya baik-baik, bahwa kau bukanlah satu-satunya orang yang berisiko kehilangan segalanya.`

85

KAU MENCARI bola yang seharusnya ada di makam itu.

Setiap pahatan kesatria di Gereja Kuil itu berb,aring terlentang, dengan kepala mereka terletak pada sebuah bantal batu segi empat. Sophie merasa ngeri. Kata bola dalam puisi itu membangkitkan ingatan Sophie pada peristiwa di ruang bawah tanah puri kakeknya. Hieros Gamos. Bola.

Sophie bertanya-tanya apakah ritual itu pernah dilakukan di gereja ini. Ruang bundar itu tampak dibuat sesuai dengan pesanan untuk melakukan ritual pagan semacam itu. Sebuah bangku dari batu mengelilingi area kosong di tengah-tengah. Sebuah teater bundar, seperti yang disebut Robert tadi. Sophie membayangkan ruangan ini pada malam hari penuh dengan orang-orang bertopeng, menyanyi di bawah sinar obor, semua menyaksikan `penyatuan suci` di tengah-tengah ruangan.

Sophie berusaha menghilangkan pikiran itu dari benaknya. Dia lalu mendahului Langdon dan Teabing menuju ke kelompok makam kesatria yang pertama. Walau Teabing berkeras

bahwa penyelidikan mereka harus dilakukan dengan sangat cermat, Sophie merasa bersemangat dan bergegas mendahului mereka, berjalan melintas ke arah lima makam-patung kesatria di sebelah kiri.

Sophie meneliti kelompok makam pertama ini. Dia melihat kesamaan dan perbedaan di antara kelimanya. Setiap kesatria terbaring terlentang, tetapi tiga dari lima kesatria kakinya terjulur lurus, sedangkan yang dua lainnya bersilang. Keanehan itu tampaknya tidak ada hubungannya dengan bola yang hilang. Sophie lalu meneliti pakaian mereka. Dia menemukan bahwa dua dari kesatria itu mengenakan tunik di atas baju besi mereka, sedangkan yang tiga lainnya mengenakan jubah panjang semata kaki. Lagi, ini sama sekali tidak ada gunanya. Kemudian Sophie mengalihkan perhatiannya pada perbedaan yang jelas - posisi tangan mereka. Dua orang kesatria memegang pedang, dua lagi berdoa, dan yang satu meletakkan lengannya di sisi tubuhnya. Setelah lama melihat tangan-tangan itu, Sophie menggerakkan bahunya. Dia tidak melihat petunjuk yang jelas tentang bola yang hilang itu.

Karena merasa beban cryptex di dalam sakunya, Sophie lalu melirik pada Langdon dan Teabing: Kedua lelaki itu bergerak lambat, masih berada pada kesatria ketiga, tampaknya juga tidak beruntung. Sophie tidak ingin menunggu. Dia berpaling dari mereka lalu bergerak ke kelompok makam patung kedua. Ketika dia melintasi ruangan terbuka, perlahan dia mengucapkan puisi yang tadi dibacanya, beberapa kali sehingga dia hafal sekarang.

Di London terbaring seorang kesatria yang seorang Paus kuburkan.

Buah perbuatannya kemarahan Suci muncul.

Kau mencari bola yang seharusnya ada di atas makamnya.

Itu menyatakan raga Rosy dan rahim yang terbuahi.

Ketika Sophie tiba pada kelompok kedua, dia melihat kelompok ini sama dengan kelompok pertama. Semuanya terbaring dengan posisi tubuh yang berbeda, mengenakan pakaian besi dan pedang.

Itu sudah semuanya, kecuali makam kesepuluh, terakhir.

Sophie bergegas ke sana, lalu menatap ke bawah.

Tidak ada bantal. Tidak ada baju besi. Tidak ada tunik. Tidak ada pedang.

`Robert? Leigh?` panggil Sophie, suaranya menggema di sekitar ruangan itu. `Ada yang hilang di sini.`

Kedua lelaki itu menoleh dan segera melintasi ruangan menuju ke Sophie.

`Sebuah bola?` seru Teabing gembira. Penopang kaki metalnya berklik-klik dengan cepat seperti staccato dalam musik ketika lelaki gemuk itu melintasi ruangan. `Kita kehilangan sebuah bola?`

`Tidak seperti itu,` kata Sophie, mengerutkan dahinya pada makam kesepuluh. `Tampaknya kita kehilangan keseluruhan kesatria kesepuluh ini.`

Ketika Teabing dan Langdon tiba di samping Sophie, mereka berdua menatap ke bawah dengan bingung pada makam kesepuluh itu. Tidak ada kesatria yang terbaring, tapi hanya sebuah peti mati dari batu yang tersegel. Peti mati itu berbentuk trapesium, menyempit pada bagian kaki dan melebar pada bagian kepala, dengan penutup yang runcing ke atas.

`Mengapa kesatria yang ini tidak diperlihatkan?` tanya Langdon.

`Menarik,` kata Teabing, sambil mengusap-usap dagunya. `Aku sudah lupa tentang keanehan ini. Aku sudah bertahun-tahun tidak ke sini.`

`Peti mati ini,` kata Sophie, `tampaknya diukir pada waktu yang sama oleh pemahat yang sama seperti halnya kesembilan makam itu. Jadi, mengapa kesatria ini terbungkus dalam peti mati, tidak terbuka?`

Teabing menggelengkan kepalanya. `Salah satu misteri gereja ini. Sejauh yang kutahu, tidak ada yang dapat menjelaskan hal ini.`

`Halo?` seru petugas altar tadi, sambil mendekat dengan wajah gelisah. `Maafkan saya jika ini tampak tidak sopan. Tadi Anda bilang ingin menebarkan abu, tetapi Anda kelihatannya hanya melihat-lihat.`

Teabing cemberut pada anak muda itu dan menoleh pada Langdon. `Pak Wren, tampaknya kedermawanan keluarga Anda tidak lagi dapat memberi Anda waktu seperti dulu lagi. Jadi mungkin kita harus mengeluarkan abu itu dan segera melakukannya.` Teabing menoleh pada Sophie. `Ibu Wren?`

Sophie ikut berpura-pura, sambil mengeluarkan cryptex yang terbungkus kulit kambing dari sakunya.

`Sekarang,` Teabing membentak pemuda itu, `bisa 'beri kami privasi?`

Petugas altar itu tidak bergerak. Dia sedang menatap Langdon dengan cermat sekarang. `Anda seperti pernah kulihat.`

Teabing marah. `Mungkin itu karena Pak Wren datang I

Atau mungkin, Sophie sekarang merasa takut, karena pemuda itu melihat Langdon di televisi ketika Langdon berada di Vatikan tahun lalu.

`Aku belum pernah bertemu dengan Pak Wren,` jelas petugas altar itu.

`Anda salah,` Langdon berkata dengan sopan. `Saya percaya Anda dan saya bertemu tahun lalu. Pak Knowles memang tidak memperkenalkan kita dengan resmi, tetapi saya mengenali wajah Anda ketika kami masuk tadi. Sekarang saya merasa sudah mengganggu, tetapi bisakah Anda dapat memberikan waktu beberapa menit lagi kepada saya? Saya datang dari jauh hanya untuk menyebar abu di antara makam-makam ini.` Langdon mengucapkan bagiannya dengan gaya yang meyakinkan seperti Teabing.

Tarikan wajah petugas altar itu bahkan berubah lebih meragukan mereka. `Ini semua bukan makam. `

`Maaf?` kata Langdon.

`Tentu saja ini semua makam,` kata Teabing. `Apa maksudmu?`

Petugas altar itu menggelengkan kepalanya. `Makam selalu berisi jenazah. Ini semua hanya patung. Penghormatan kepada orang-orang yang nyata. Tidak ada satu jasad pun di bawah figurfigur ini.`

`Ini makam!` kata Teabing.

`Hanya dalam buku-buku sejarah yang sudah ketinggalan zaman. Ini memang dulu dipercaya merupakan makam di gereja, tetapi itu ternyata tidak berisi apa pun dan itu diketahui pada waktu renovasi gereja ini pada tahun 1950.` Dia menoleh lagi pada Langdon. `Dan saya heran juga, seharusnya Pak Wren tahu itu, mengingat yang mengetahui hal itu adalah keluarga Anda sendiri.`

Kesunyian yang tidak menyenangkan terjadi.

Namun segera terusik oleh suara pintu terbanting di ruang tambahan gereja.

`Itu mungkin Pak Knowles,` kata Teabing. `Mungkin Anda harus pergi dan melihatnya?`

Petugas altar itu tampak ragu, tetapi dia pergi juga ke ruang tambahan itu, meninggalkna Langdon, Sophie, dan Teabing yang saling bertukar pandang dengan muram.

`Leigh,` bisik Langdon. `Tidak ada jenazahnya? Apa maksud pemuda itu?`

Teabing tampak putus asa. `Aku tidak tahu. Aku selalu berpikir ... tentu saja ini pastilah tempat itu. Aku tidak dapat membayangkan pemuda itu tahu apa yang dikatakannya tadi. Itu tidak mungkin!`

`Aku boleh melihat puisi itu lagi?` kata Langdon.

Sophie mengeluarkan cryptex itu dari sakunya dan dengan hati-hati memberikannya kepada Langdon.

Langdon membuka bungkus kulit kambingnya, memegang cryptex pada tangannya sambil memeriksa puisi itu. `Ya, puisi ini menyatakan tentang sebuah makam. Bukan sebuah patung.`

`Mungkinkah puisi itu salah?` tanya Teabing. `Mungkinkah Jacques Sauniere membuat kesalahan seperti yang baru kulakukan?`

Langdon mempertimbangkannya dan menggelengkan kepalanya. `Leigh, kau tadi mengatakannya sendiri. Gereja ini dibangun oleh Templar, militer bersenjata dari Biarawan Sion. Aku punya firasat bahwa Mahaguru Biarawan memiliki gagasan yang bagus jika para kesatrianya terkubur di sini.`

Teabing tampak sangat heran. `Tetapi tempat ini sempurna.` Dia berjalan kembali ke arah kesatria-kesatria itu. `Kita pasti telah melewatkan sesuatu!`

Ketika petugas altar memasuki ruang tambahan itu, dia heran karena ruangan itu ternyata kosong. `Pak Knowles?` Aku yakin mendengar suara pintu, pikirnya, sambil bergerak ke depan sampai dia melihat pintu masuk.

Seorang lelaki kurus mengenakan tuksedo berdiri di dekat pintu masuk, sambil menggaruk-garuk kepalanya dan tampak bingung karena tersesat. Petugas altar itu marah pada dirinya sendiri karena dia telah lupa mengunci kembali pintu itu ketika dia membiarkan ketiga orang tadi masuk. Sekarang seorang kerempeng yang menyedihkan telah memasuki gereja dari jalanan. Jika dilihat dari penampilannya, orang ini pastilah sedang mencari upacara pernikahan. `Maaf,` seru petugas altar itu, sambil melewati sebuah pilar besar, `kami tutup.`

Suara kebutan kain bergemerisik di belakangnya, dan sebelum ia dapat menoleh, kepalanya ditarik ke belakang. Sebuah tangan kuat membekap keras mulutnya dari belakang, membungkam teriakannya. Tangan yang membekap mulut pemuda itu seputih salju, dan dia berbau alkohol.

Lelaki yang bertuksedo dengan tenang mengeluarkan revolver kecil, yang langsung diarahkannya ke kepala pemuda itu. Petugas altar itu merasa selangkangannya menjadi panas dan sadar bahwa dia telah mengompol.

`Dengarkan baik-baik,` bisik lelaki bertuksedo. `Kau harus keluar dari gereja ini tanpa ribut. Kau harus berlari, tanpa berhenti. Jelas?`

Pemuda itu mengangguk sedalam-dalamnya dengan tangan putih masih membekap mulutnya.

`Jika kau memanggil polisi ...,` Lelaki bertuksedo itu menekankan pistolnya pada kulit pemuda itu, `aku akan mencari dan menemukanmu.`

Setelah itu, pemuda itu berlari sekencang-kencangnya melintasi halaman, tanpa keinginan untuk berhenti sampai kakinya tidak kuat lagi berlari.

86

SEPERTI HANTU, Silas melayang tanpa suara di belakang mangsanya. Sophie Neveu terlambat merasakan kehadirannya. Sebelum Sophie sempat menoleh, Silas sudah menekankan pistolnya pada tulang belakangnya dan melingkarkan tangan kuatnya pada dada Sophie, lalu menariknya hingga punggung Sophie menempel pada tubuh kekarnya. Sophie berteriak kaget. Teabing dan Langdon menoleh, ekspresi mereka tercengang dan takut.

`Apa ...?` Teabing seperti tercekik. `Apa yang kaulakukan pada Remy?`

`Yang harus kaupikirkan hanyalah,` kata Silas tenang, `aku akan pergi dari sini dengan membawa batu kunci.` Misi penyelamatan kembali ini, seperti yang tadi digambarkan Remy, harus bersih dan sederhana: Masuk gereja, ambil batu kunci, dan pergi; tidak ada pembunuhan, tidak ada perkelahian.

Sambil memegang Sophie dengan kuat, Silas menurunkan tangannya dari dada Sophie ke pinggang perempuan itu, dan menyelipkan tangannya ke dalam saku sweternya, merabaraba. Si:as dapat mencium harum lembut rambut Sophie. `Di mana batu kunci itu?` Silas berbisik. Batu kunci itu ada di dalam saku sweternya tadi. Jadi, di mana sekarang? `Di sini,` suara dalam Langdon bergema di ruangan itu. Silas menoleh dan melihat Langdon memegang cryptex hitam di depannya, mengayun-ayunkannya ke depan dan ke belakang seperti seorang matador menggoda hewan bodoh.

`Letakkan di bawah,` perintah Silas.

`Biarkan Sophie dan Leigh meninggalkan gereja ini,` jawab Langdon. `Kau dan aku dapat mengurus ini.`

Silas mendorong Sophie menjauh darinya dan mengarahkan pistolnya pada Langdon, sambil bergerak mendekatinya.

`Jangan mendekat satu langkah pun,` kata Langdon. `Jangan, sebelum mereka meninggalkan gedung ini.`

`Kau tidak dapat memerintahku.`

`Aku tidak sependapat.` Lalu Langdon mengangkat cryptex itu tinggi di atas kepalanya. `Aku tidak akan ragu membanting ini di atas lantai dan sehingga botol kecil di dalamnya juga pecah.`

Walau Silas menggeram keras dari tenggorokannya, dia merasa. takut juga. Ini tidak diduganya. Dia mengarahkan pistolnya pada kepala Langdon dan menjaga suaranya agar tetap tenang seperti tangannya yang tak gemetar. `Kau tidak akan memecahkan batu kunci itu. Kau sangat ingin menemukan Grail seperti juga aku.` `Kau salah. Kau menginginkan ini lebih dariku. Kau telah membuktikannya dengan membunuh orang untuk mendapatkannya`

Empat puluh kaki jauhnya dari kejadian itu, Remy muncul dari bangku gereja di ruang tambahan di dekat pintu lengkung. Remy Legaludec mulai merasa khawatir. Usaha itu tidak berjalan seperti yang telah mereka rencanakan, dan bahkan dari sini, dia dapat melihat Silas tampak tidak yakin mengatasi keadaan itu. Atas perintah Guru, Remy telah melarang Silas untuk menembakkan senjatanya.

`Biarkan mereka pergi,` kata Langdon lagi, sambil tetap memegangi cryptex itu tinggi-tinggi melebihi kepalanya dan menatap pistol Silas.

Mata merah biarawan itu penuh ketakutan dan keputusasaan, dan Remy tegang karena mungkin saja Silas akan menembak Langdon ketika lelaki jangkung itu masih memegangi cryptex. Cryptex itu tidak boleh jatuh!

Cryptex itu akan menjadi tiket kebebasan dan kemakmuran Remy Kira-kira lebih dari setahun yang lalu, Remy adalah seorang pelayan berusia 55 tahun yang tinggal di dalam dinding Puri Villette, melayani keanehan yang tak tertahankan dari Sir Leigh Teabing yang cacat. Lalu dia dibujuk dengan sebuah tawaran yang luar biasa. Hubungan Remy dengan Sir Leigh Teabingseorang sejarawan Grail yang sangat terkemuka di bumi iniakan memberikan kepada Remy segala yang pernah diimpikannya dalam hidup ini. Sejak itu, setiap saat yang dijalaninya di dalam Puri Villette telah membawanya ke arah itu lebih cepat lagi.

Aku sudah begitu dekat, kata Remy pada dirinya sendiri, sambil menatap ke ruang di dekat altar Gereja Kuil dan pada batu kunci di tangan Robert Langdon. Jika Langdon menjatuhkannya, segalanya akan hilang.

Apakah aku akan memperlihatkan wajahku? Guru telah melarangnya dengan keras untuk itu. Remy adalah satu-satunya orang yang mengenali identitas Guru.

`Kauyakin Silas yang harus melakukan tugas ini?` tanya Remy kepada Guru kurang dari setengah jam yang lalu, saat menerima perintah untuk mencuri batu kunci itu. `Aku sendiri mampu.`

Guru memastikan. `Silas telah melakukan tugasnya dengan baik dengan membunuh empat anggota Biarawan. Dia akan menyelamatkan batu kunci itu. Kau harus tetap tak dikenal. Jika ada yang melihatmu, mereka harus mati juga. Jangan ada pembunuhan lagi. Jangan perlihatkan wajahmu.`

Wajahku dapat diubah, pikir Remy Dengan bayaran yang kau janjikan kepadaku, aku akan menjadi orang yang sama sekali baru. Operasi bahkan dapat me ngubah sidik jari, Guru pernah mengatakan itu kepadanya. Dia akan bebas segera-seraut wajah tampan, tak dikenali, berkeringat di bawah matahari pantai. `Aku mengerti,` kata Remy. `Aku akan membantu Silas dari balik kegelapan.`

`Ini untuk kauketahui sendiri, Remy,` kata Guru, `makam yang dicari tidak berada di Gereja Kuil. Jadi, jangan takut. Mereka mencari di tempat yang salah.`

Remy terpaku. ,`Dan kautahu di mana makam itu?`

`Tentu saja. Nanti aku akan mengatakannya padamu. Untuk saat ini, kau harus bertindak cepat. Jika mereka tahu tempat makam yang sesungguhnya, dan meninggalkan gereja sebelum kau membawa cryptex itu, kita dapat kehilangan Grail selamanya.`

Remy tidak peduli pada Grail, namun Guru tidak akan membayarnya sebelum dia menemukan Grail itu. Remy merasa pening setiap kali mengingat sejumlah uang yang akan diterimanya segera. Sepertiga dari 20 juta euro. Cukup banyak untuk menghilang selamanya. Remy telah membayangkan kota pantai Cote d'Azur, tempat dia merencanakan untuk menghabiskan hari-harinya dengan berjemur di bawah matahari sambil dilayani oleh orang lain.

Sekarang Remy sudah berada di Gereja Kuil, tetapi dengan Langdon yang mengancam akan memecahkan cryptex itu, masa depannya masih berada dalam bahaya. Karena tidak tahan membayangkan akan kehilangan segalanya padahal sudah begitu dekat, Remy memutuskan untuk bertindak keras. Pistol di tangannya merupakan senjata yang dapat disembunyikan, kaliber kecil, Jframe Medusa, tetapi sangat mampu membunuh dari jarak dekat.

Remy keluar dari persembunyiannya, lalu berjalan memasuki ruang bundar dan mengarahkan pistol itu tepat pada kepala Teabing. `Orang tua, aku sudah menunggu lama sekali untuk melakukan ini.`

Jantung Sir Leigh Teabing betul-betul berhenti melihat Remy mengarahkan sepucuk pistol padanya. Apa yang dilakukannya? Teabing mengenali Medusa kecil itu sebagai miliknya, yang disimpannya di tempat penyimpanan sarung tangan yang terkunci di limosinnya, untuk keamanannya.

`Remy?` Teabing terbatuk karena sangat terkejut. `Ada apa?` ini.

Langdon dan Sophie tampak sama tercengangnya.

Remy memutar di belakang Teabing dan menyodokkan laras pistolnya ke punggung majikannya, tepat di belakang jantung.

Teabing merasa otot-ototnya tercekam karena takut. `Remy, aku tidak....`

`Akan kujelaskan dengan sederhana,` sergah Remy, sambil menatap Langdon melalui bahu Teabing. `Letakkan batu kunci itu, atau akan kutarik pelatuk pistol ini.`

Langdon tampak lumpuh sesaat. `Batu kunci ini tidak ada artinya untukmu,` bentak Langdon. `Kau tidak mungkin membukanya.`

`Orang sombong yang tolol,` desis Remy `Apakah kau tidak tahu, aku mendengarkan semalam suntuk diskusi kalian tentang puisi itu? Aku mendengar segalanya, dan aku telah membagi informasi itu dengan orang lain. Mereka tahu lebih banyak daripada kalian. Kalian bahkan tidak mencarinya di tempat yang benar. Makam yang kalian cari berada di tempat lain!`

Teabing merasa panik. Apa maksudnya?

`Mengapa kau menginginkan Grail?` tanya Langdon. `Untuk menghancurkannya? Sebelum Hari Akhir?`

Remy berseru pada si biarawan. `Silas, ambil batu kunci dari Pak Langdon.`

Bagitu biarawan albino itu bergerak maju, Langdon melangkah mundur, menaikkan batu kunci itu, tampak siap membantingnya ke lantai.

`Aku lebih senang menghancurkannya,` kata Langdon, `daripada melihatnya berada di tangan yang salah.`

Sekarang Teabing merasa sangat ketakutan. Dia dapat melihat pekerjaan yang sudah dilakukan seumur hidupnya menguap begitu saja di depan matanya. Sc mua mimpinya akan berantakan.

`Robert, jangan!` seru Teabing. `Jangan! Yang kau pegang itu Grail! Remy tidak akan menembakku. Kami telah saling mengenal selama sepuluh....`

Remy mengarahkan pistolnya ke langit-langit dan menembakkan Medusanya. Suara ledakannya sangat keras bagi pistol sekecil itu. Suaranya bergema seperti guntur di dalam ruangan batu itu.

Semua orang membeku.

`Aku tidak sedang main-main,` kata Remy. `Tembakan berikutnya adalah pada punggungnya. Berikan batu kunci itu pada Silas.`

Dengan enggan Langdon mengulurkan cryptex itu. Silas melangkah maju dan mengambilnya. Mata merahnya berkilauan karena merasa puas akan pembalasannya. Lalu dia menyimpan cryptex itu di dalam saku jubahnya, kemudian mundur, masili tetap menodong Langdon dan Sophie dengan pistolnya.

Teabing merasa tangan Remy menjepit di sekitar lehernya ketika pelayannya itu mulai melangkah mundur menuju keluar gedung dengan menyeret tuannya. Pistol Remy masih menempel pada punggung Teabing.

`Lepaskan dia,` pinta Langdon.

`Kami bawa Pak Teabing berjalan-jalan,` kata Remy, masih berjalan mundur. `Jika kau menelepon polisi, dia akan mati. Jika ikut campur, dia akan mati. Jelas?`

`Bawa aku saja,` pinta Langdon lagi. Suaranya serak karena emosi. `Lepaskan Leigh.`

Remy tertawa. `Aku rasa tidak. Dia dan aku memiliki sejarah yang manis. Lagi pula, mungkin saja dia masih berguna.`

Silas juga mundur sekarang, dengan tetap menodongkan pistolnya pada Langdon dan Sophie. Ketika Remy menyeret Teabing ke arah pintu, tongkatnya juga terseret mengikutinya.

Suara Sophie tidak bergetar. `Kau bekerja untuk siapa?` Pertanyaan itu membuat Remy menyeringai. `Kau akan terkejut, Mademoiselle Neveu.`

87

PERAPIAN DI ruang tamu Puri Villette sudah padam, namun Collet masih saja jalan hilir mudik di depannya begitu dia membaca faks dari interpol.

Sama sekali tidak seperti yang diharapkannya.

Andre Vernet, menurut catatan resmi, adalah seorang warga terhormat. Tidak punya catatan kejahatan-bahkan tidak pernah menerima tilang parkir. Belajar di sekolah terkemuka dan di Sorbonne, dia lulus dengan cum laude dari fakultas ilmu keuangan internasional. Interpol mengatakan, nama Vernet sering muncul di media massa, tetapi selalu dalam pemberitaan yang positif. Tampaknya lelaki itu telah menolong merancang parameter keamanan yang membuat Bank Penyimpanan Zurich menjadi terdepan dalam pengamanan elektronik ultramodern. Pemakaian kartu kredit Vernet menunjukkan minat tingginya pada buku-buku seni, anggur mahal, dan CD musik klasik -Paling banyak Brahm- yang dinikmatinya dengan menggunakan sistem stereo high-end yang dibelinya beberapa tahun lalu.

Nol, Collet mendesah.

Satu-satunya bendera merah malam ini dari interpol adalah sekumpulan sidik jari yang tampaknya milik pelayan Teabing. Kepala penyelidikan PTS membaca laporan itu sambil duduk di kursi nyaman di ruangan itu juga.

Collet menatapnya. `Ada?`

Penyelidik itu menggerakkan bahunya. `Sidik jari itu milik Remy Legaludec. Diburu karena kejahatan kecil. Tidak ada yang serius. Tampaknya dia pernah dikeluarkan dari sebuah universitas karena mengakali telepon umum untuk mendapatkan sambungan gratis ... setelah itu dia mencuri kecil-kecilan. Pernah melarikan diri dari tagihan rumah sakit untuk perawatan tracheotomy di unit gawat darurat.` Lalu dia menatap Collet sambil tertawa. `Alergi kacang.`

Collet mengangguk. Ia mengingat sebuah Penyelidikan polisi di sebuah restoran yang lupa mencatat pada menunya bahwa resep sambalnya mengandung minyak kacang. Seorang pelanggan secara tak disangka-sangka telah meninggal dunia karena anaphylactic shock begitu dia menyantap sesendok makanan itu. `Legaludec mungkin saja tinggal di sini untuk menghindari penangkapan itu.` Penyelidik itu tampak senang. `Malam keberuntungannya.`

Collet mendesah. `Baiklah, kau sebaiknya mengirimkan ini kepada Kapten Fache.`

Penyelidik itu pergi tepat ketika agen PTS lainnya masuk dengan tergesa ke ruangan itu. `Letnan, aku menemukan sesuatu di gudang.`

Dari wajah yang tampak cemas itu, Collet hanya dapat menerka. `Mayat?`

`Bukan, Pak. Sesuatu yang lebih ...` Dia ragu. `Tidak terduga.`

Sambil menggosok matanya, Collet mengikuti agen itu keluar menuju gudang. Ketika mereka memasuki ruangan yang pengap dan tinggi itu, si agen menunjuk pada pusat ruangan. Disana sekarang tampak ada tangga kayu yang menanjak tinggi ke kasok, menyandar pada birai loteng jerami yang tergantung tinggi di atas mereka.

`Tangga itu tidak ada di sana tadi,` kata Collet.

`Memang tidak, Pak. Aku yang memasangnya. Saat kami sedang memeriksa sidik jari di dekat Rolls, aku melihat tangga itu tergeletak di lantai. Aku tidak akan tertarik kalau saja anak tangganya tidak tampak baru terpakai dan berlumpur. Tangga ini kelihatannya sering dipakai. Ketinggian loteng jerami itu sesuai dengan panjang tangga ini, jadi kutegakkan dan kupanjati untuk memeriksa di atas sana.`

Mata Collet memanjati anak tangga itu sampai ke loteng jerami. Ada orang yang ke atas sana secara teratur? Dari bawah sini, loteng itu tampak seperti landasan tidak terpakai, namun semua yang ada di sana memang tidak dapat terlihat dari bawah sini.

Seorang agen PTS senior muncul pada puncak tangga, dan melihat ke bawah. `Kau pasti ingin melihat ini, Letnan,` katanya sambil melambai pada Collet dengan tangannya yang bersarung tangan karet, mengajak Collet untuk ke atas dan melihat.

Collet, mengangguk letih, lalu berjalan ke anak tangga terbawah dari tangga tua itu dan mencengkeram anak tangganya. Tangga itu melancip ke atas; semakin Collet memanjat, semakin menyempit tangga itu. Ketika dia hampir tiba di puncak, Collet hampir kehilangan pijakannya pada anak tangga yang tipis. Gudang di bawahnya seperti berputar. Dia segera memusatkan perhatiannya, lalu melanjutkan panjatannya, sampai akhirnya tiba di atas. Agen di atasnya mengulurkan tangannya, menawarkan pergelangan tangannya untuk diraih. Collet meraihnya dan memanjat ke loteng itu dengan kikuk.

`Di sebelah sana,` agen PTS itu berkata, sambil menunjuk pada area yang sangat bersih. Hanya satu set sidik jari yang ada di sini. Kita akan mendapatkan identitasnya segera.`

Collet mempertajam pandangannya melewati area remangremang ke arah dinding. Apa-apaan ini? Pada dinding yang jauh dari tempatnya berdiri, terpasang satu set komputer yang besardua CPU, video monitor berlayar datar dengan pengeras suara, sederetan hard drive, dan audio console multi saluran yang tampaknya memiliki catu dayanya sendiri.

Mengapa ada orang mau bekerja di tempat yang sangat terpencil seperti ini? Collet bergerak ke peralatan itu. `Kau sudah memeriksa sistemnya?`

`Ini pos mendengarkan.` Collet berputar. `Penyadapan?`

Agen itu mengangguk. `Penyadapan yang sangat canggih.` Lalu dia menunjuk pada meja proyek panjang yang tertimbun oleh komponen-komponen eletronik, manual, peralatan, kabel, solder listrik, dan komponen elektronik lainnya. `Orang ini jelas tahu apa yang dikerjakannya. Banyak dari peralatan ini sama canggihnya dengan peralatan kita juga. Mikrofon mini, selular recharging untuk foto elektrik, chip-chip RAM yang berkapasitas tinggi. Bahkan dia juga punya hand drive baru.`

Collet kagum.

`Inilah sistem lengkapnya,` kata agen itu, sambil memberikan kepada Collet sebuah instalasi yang tak lebih besar daripada sebuah kalkulator kantong. Kabel sepanjang sepuluh kaki dengan sepotong kertas timah bekas pembungkus wafer yang menempel pada ujungnya tergantung pada alat itu. `Basisnya merupakan sistem perekaman audio hard disk berkapasitas tinggi dengan batere yang dapat diisi ulang. Sobekan kertas timah pada ujung kabel itu merupakan kombinasi dari mikrofon dan foto elektrik selular yang dapat diisi ulang.`

Collet tahu tentang itu semua. Mikrofon foto seluiar yang seperti timah itu telah merupakan terobosan hebat selama beberapa tahun terakhir ini. Sekarang, sebuah perekam hard disk dapat dilekatkan di belakang sebuah lampu, misalnya, dengan mikrofon timahnya tercetak pada permukaan dasar dan ditata agar sesuai dengan bentuk permukaan itu. Selama mikrofon itu ditempatkan sedemikian rupa sehingga menerima sinar matahari beberapa jam setiap hari, sel-sel foto akan terus mengisi sistem itu. Alat penyadap seperti ini dapat mendengarkan selama jangka waktu tak terbatas.

`Metode penerimaan?` tanya Collet.

Agen itu memberi tanda pada sebuah kabel berpenyekat yang keluar dari komputer, yang menempel pada dinding, melalui lubang di atap gudang. `Gelombang radio yang sederhana. Antene kecil di atap.`

Collet tahu, sistem perekaman seperti ini umumnya ditempatkan di kantor, diaktifkan oleh suara untuk menghemat ruang hard disk, dan merekam percakapan sehari penuh, serta mentransmisikan fail-fail audio yang terpadatkan pada malam hari untuk menghindari pendeteksian. Setelah ditransmisikan, hard drive menghapus diri sendiri dan siap melakukan semuanya lagi keesokan harinya.

Tatapan Collet bergerak ke rak tempat beberapa kaset audio diletakkan, semuanya diberi catatan tanggal dan nomor. Orang ini sangat sibuk rupanya. Lalu Collet menoleh kembali pada agen tadi. `Kautahu target penyadapannya?`

`Letnan,` kata si agen sambil berjalan ke komputer itu dan menampilkan sepotong software. `Ini hal paling aneh ....`

88

LANGDON MERASA sangat letih ketika dia dan Sophie melintasi pintu putar di stasiun bawah tanah Gereja Kuil dan bergegas memasuki labirin terowongan yang jorok dan peron-peron. Perasaan bersalah merobek-robek Langdon.

Aku melibatkan Leigh, dan sekarang dia dalam bahaya besar.

Keterlibatan Remy sangat mengejutkan, namun masuk akal. Siapa pun yang memburu Grail telah mempekerjakan orang dalam. Remy pergi ke rumah Teabing untuk alasan yang sama dengan diriku. Sepanjang sejarah, siapa yang punya pengetahuan tentang Grail selalu menjadi incaran pencuri dan sekaligus ilmuwan. Kenyataan bahwa Teabing memang sudah lama menjadi sasaran membuat Langdon merasa tidak terlalu bersalah karena telah melibatkan Teabing. Kita harus menemukan Leigh. Segera.

Langdon mengikuti Sophie ke peron di sebelah barat. Di sana Sophie bergegas menelepon polisi. Ia mengabaikan peringatan Remy. Langdon duduk di bangku di dekatnya, merasa sangat menyesal.

`Cara terbaik untuk menolong Leigh,` kata Sophie mengulangi pendapatnya sambil memutar nomor, `adalah melibatkan polisi London segera. Percayalah padaku.`

Pada awalnya Langdon tidak setuju pada gagasan ini, tetapi setelah mereka mengatur rencana, pemikiran Sophie mulai tampak masuk akal. Pada saat sekarang ini, Teabing masih aman. Walau Remy dan yang lainnya tahu di mana letak makam kesatria itu, mereka mungkin saja membutuhkan pertolongan Teabing untuk memecahkan petunjuk tentang bola itu. Yang dikhawatirkan Langdon adalah apa yang mungkin terjadi setelah peta Grail ditemukan. Leigh akan menjadi sangat tak berdaya.

Jika Langdon ingin mempunyai kesempatan untuk menolong Leigh, atau untuk melihat batu kunci lagi, maka sangat penting untuk menemukan makam itu dulu. Celakanya, Remy sudah jauh lebih dulu memulai.

Memperlambat Remy adalah tugas Sophie.

Menemukan makam yang benar adalah bagian Langdon. Sophie akan membuat Remy dan Silas menjadi buronan polisi London, yang akan memaksa mereka untuk bersembunyi. Lebih baik lagi, polisi menangkap mereka. Rencana Langdon sendiri tampak kurang meyakinkan-naik kereta api ke dekat King's College, yang diketahui memiliki database teologi elektronik. Perlengkapan penelitian mutakhir, begitu Langdon pernah mendengar. jawaban cepat pada pertanyaan pertanyaan sejarah segala agama. Langdon bertanya-tanya apa yang akan dinyatakan oleh database itu tentang `seorang kesatria yang seorang Paus kuburkan.` Langdon berdiri dan berjalan hilir mudik, berharap hujan akan segera berhenti.

Akhirnya Sophie dapat terhubung dengan polisi London. `Divisi Snow Hill,` kata operator itu. `Bisa dibantu?` `Aku melaporkan sebuah penculikan.` Sophie tahu dia harus berbicara singkat. `Nama?`

Sophie terdiam sejenak. `Agen Sophie Neveu, Polisi Judisial Prancis.`

Titel itu langsung berdampak. `Segera, Bu. Saya akan memanggil seorang detektif untuk berbicara dengan Anda.`

Saat sedang menunggu, Sophie mulai bertanya-tanya apakah polisi akan memercayai penjelasannya tentang penculik-penculik Teabing. Seorang lelaki mengenakan tuksedo. Seberapa mudah mengenali si tersangka? Bahkan jika Remy berganti pakaian, dia ditemani oleh seorang biarawan albino. Tidak mungkin untuk lolos. Lagi pula, mereka mempunyai sandera dan tidak dapat menggunakan transportasi umum. Dia juga bertanya-tanya berapa banyak limusin Jaguar panjang yang ada di London.

Sambungan kepada detektif itu terasa sangat lama. Ayo! Sophie dapat mendengar sambungan itu bersuara klik-klik dan berdesis, seolah sedang dipindahkan.

Lima belas detik berlalu.

Akhirnya seorang lelaki berkata. `Agen Neveu?` Sophie terpaku. Dia segera mengenali suara serak itu. `Agen Neveu,` Bezu Fache bertanya. `Kau di mana?`

Sophie tak dapat berkata-kata. Tampaknya Kapten Fache telah meminta operator kepolisian London untuk memberitahunya jika Sophie menelepon.

`Dengar,` kata Fache kepada Sophie, dalam bahasa Prancis. `Aku telah membuat kesalahan besar tadi malam. Robert Langdon tidak bersalah. Segala tuntutan pada dirinya dicabut. Walaupun begitu, kau berada dalam bahaya. Kau harus datang padaku.`

Sophie ternganga. Dia tidak tahu bagaimana harus menanggapinya. Fache bukanlah jenis orang yang suka meminta maaf untuk apa pun.

`Kau tidak mengatakan padaku,` Fache melanjutkan, `bahwa Jacques Sauniere adalah kakekmu. Aku berusaha memaafkan ketidakpatuhanmu, dan kondisi yang pasti sangat menekanmu. Pada saat ini, bagaimanapun juga, kau dan Langdon harus pergi ke polisi London terdekat untuk perlindungan.`

Dia tahu aku di London? Apa lagi yang diketahui Fache? Sophie mendengar suara bor atau mesin lainnya pada latar belakang. Dia juga mendengar suara klik-klik yang aneh pada saluran telepon. `Apakah kau melacak telepon ini, Kapten?`

Suara Fache terdengar tegas sekarang. `Kau dan aku harus bekerja sama, Agen Neveu. Kita berdua banyak kehilangan dalam kasus ini. Aku membuat kesalahan penilaian tadi malam, dan jika kesalahan itu menyebabkan kematian seorang profesor Amerika dan seorang kriptolog DCPJ, karierku akan berakhir. Aku sudah berusaha untuk menarikmu kembali sejak beberapa jam yang lalu.`

Sebuah tiupan angin hangat berlalu melintasi stasiun ketika sebuah kereta api mendekat dengan sedikit gemuruh. Sophie sangat ingin menumpang kereta api itu. Langdon juga berpendapat demikian; dia sekarang mulai bersiap-siap dan mendekati Sophie. `Orang yang harus kaucari adalah Remy Legaludec,` kata Sophie. `Dia pelayan Teabing. Dia baru saja menculik Teabing di dalam Gereja Kuil dan....`

`Agen Neveu!` Fache berteriak ketika kereta api itu menggemuruh memasuki stasiun. `Ini tidak dapat dibicarakan dalam telepon umum. Kau dan Langdon harus datang sekarang. Demi keselamatanmu sendiri. Ini perintah langsung!`

Sophie menutup telepon dan bergegas bersama Langdon memasuki kereta api.

89

CABIN PESAWAT Hawker milik Teabing yang mewah itu sekarang tertutup dengan serutan besi dan tercium bau udara yang mampat dan bau bensin. Bezu Fache telah mengusir semua orang dan sekarang dia duduk sendirian dengan minumannya dan kotak kayu berat yang ditemukannya dalam lemari besi Teabing.

Fache mengusap-usap ukiran Mawar dengan jemarinya, lalu mengangkat tutup kotak berhias itu. Di dalamnya dia menemukan sebuah silinder dari batu dengan lempenganlempengan berhuruf. Kelima lempengan itu diatur menyusun kata Sofia. Fache menatap lama pada kata itu, kemudian mengangkat silinder itu dari tempat penyimpanannya yang berlapis dan memeriksanya inci per inci. Lalu, sambil menarik kedua ujungnya perlahanlahan, Fache membuka salah satu tutupnya. Silinder itu kosong.

Fache meletakkan silinder itu kembali pada kotaknya. Dari jendela jet dalam hanggar itu, dia menatap kosong ke luar. Dia merenungkan percakapan singkatnya dengan Sophie, juga informasi yang didapatnya dari PTS di Puri Villette. Suara teleponnya mengejutkannya dari lamunannya.

Itu dari operator DCPJ. Petugas itu meminta maaf. Presiden Bank Penyimpanan Zurich telah menelponnya berulang-ulang, dan walaupun dia sudah diberi tahu beberapa kali bahwa Kapten sedang berada di London untuk urusan pekerjaan, presiden itu tetap menelepon. Dengan ketus, Fache mengatakan kepada si petugas untuk menyambungkannya dengan presiden itu.

`Monsieur Vernet,` kata Fache, sebelum presiden itu berbicara, `Saya minta maaf karena tidak menelepon Anda lebih awal. Saya sangat sibuk. Seperti janji saya, nama bank Anda tidak muncul di media. Jadi, apa tepatnya yang Anda khawatirkan?`

Suara Vernet terdengar cemas saat dia menceritakan kepada Fache bagaimana Langdon dan Sophie Neveu telah mengeluarkan sebuah kotak kayu dari bank dan membujuk Vernet untuk membantu mereka melarikan diri. `Lalu ketika saya mendengar di radio bahwa mereka adalah penjahat,` kata Vernet, `saya berhenti dan meminta kotak kayu itu kembali, tetapi mereka menyerang saya dan mencuri truk itu.`

`Anda mengkhawatirkan kotak kayu itu,` kata Fache, sambil menatap ukiran Mawar di atas tutupnya dan sekali lagi dengan lembut membuka tutup kotak itu untuk mengeluarkan silinder putih di dalamnya. `Dapat Anda katakan apa isi: kotak itu?`

`Isinya tidak penting,` seru Vernet. `Saya hanya mengkhawatirkan reputasi bank saya. Kami belum pernah dirampok. Itu juga akan menghancurkan kami jika saya tidak dapat mengembalikan kotak itu atas nama klien saya.`

`Anda mengatakan bahwa Agen Neveu dan Robert Langdon memiliki password dan juga kuncinya. Apa yang membuat Anda menyebut mereka mencuri kotak itu?`

`Mereka membunuh orang tadi malam. Termasuk kakek Sophie Neveu. Kunci dan kata kunci itu pastilah telah mereka rampas dari pemiliknya.`

`Pak Vernet, orang-orang saya telah memeriksa latar belakang Anda dan minat Anda. Anda ielas seorane yang bermartabat dan berbudi. Saya dapat bayangkan, Anda adalah orang terhormat, seperti juga saya. Saya berjanji sebagai petugas Polisi Judisial, bahwa kotak Anda, bersama dengan reputasi bank Anda, berada dalam tangan teraman.`

90

TINGGI DI atas loteng jerami di Puri Villette, Collet menatap komputer itu dengan kagum. `Sistem ini menyadap semua percakapan di seluruh tempat ini?`

`Ya,` kata agen itu. `Tampaknya data-data telah dikumpulkan selama lebih dari setahun ini.`

Collet membaca daftar itu lagi, tanpa bersuara.

COLBERT SOSTAQUE ---- Kepala Penasihat Konstitusional.

JEAN CHAFFEE ---- Kurator, Museum Jeu de Paume.

EDOUARD DESROCHERS ---- Pengarsip Senior, Perpustakaan Mitterrand.

JACQUES SAUNIERE ---- Kurator, Museum Louvre.

MICHEL BRETON ---- Kepala DAS (Badan Intelijen Prancis)

Agen itu menunjuk pada layar monitor. `Nomor empat adalah jelas yang harus kita perhatikan.`

Collet mengangguk dengan kosong: Dia telah melihatnya, serta merta. Jacques Sauniere telah disadap. Dia melihat sisa daftar itu lagi. Bagaimana seseorang dapat menyadap orang-orang penting ini? `Pernah dengar soal file audio?`

`Beberapa. Ini yang terbaru.` Agen itu kemudian mengklik beberapa tombol komputer. Pengeras suaranya gemerisik hidup. Lalu terdengar suara: `Kapten, seorang agen dari Depurtemen Kriptografi tiba. `

Collet tidak dapat memercayai telinganya. `Itu aku! Itu suaraku!` Collet teringat, ketika itu dia duduk di meja kerja Sauniere dan menghubungi Fache di Galeri Agung untuk memberitahukan kedatangan Sophie Neveu.

Agen itu mengangguk. `Banyak penyelidikan kita di Louvre malam ini pasti telah terdengar jika memang ada orang yang tertarik.`

`Kau sudah mengirim orang untuk menyapu penyadapan ini?` `Tidak perlu. Aku tahu persisnya di mana.` Agen itu pergi ke sebuah tumpukan catatan lama dan cetak biru di atas meja kerja. Dia memilih selembar dan memberikannya kepada Collet. `Tampak tak asing?`

Collet kagum. Dia sedang memegang selembar fotokopi dari suatu diagram skematis kuno yang menggambarkan sebuah mesin yang belum sempurna. Dia tidak dapat membaca label-label berbahasa Italia yang ditulis tangan, namun dia tahu apa yang sedang dilihatnya. Sebuah model untuk sebuah patung kesatria Prancis zaman abad pertengahan yang dapat berbicara.

Kesatria yang berdiri di atas meja kerja Sauniere!

Mata Collet bergerak ke arah tepi lembaran fotokopi itu. Di situ seseorang telah menuliskan catatan dengan tinta merah. Catatan itu dalam bahasa Prancis dan tampaknya merupakan petunjuk tentang cara terbaik menyisipkan alat sadap ke dalam patung kesatria itu.

91

SILAS DUDUK di bangku penumpang di dalam limusin Jaguar yang diparkir di dekat Gereja Kuil. Tangannya terasa lembab pada batu kunci yang dipegangnya saat dia menunggu Remy selesai mengikat dan menyumbat Teabing di bagian belakang mobil dengan tali yang ditemukannya di bagasi.

Akhirnya, Remy keluar dari bagian belakang mobil. Ia berjalan mengitari limo itu dan masuk ke bangku pengemudi di samping Silas. `Aman?` tanya Silas.

Remy tertawa. Dia menggoyangkan kepalanya untuk mengusir air hujan dari rambutnya dan melihat dari bahunya, melalui partisi yang terbuka, pada Leigh Teabing yang meringkuk di bagian belakang mobil, hampir tidak tampak di kegelapan. `Dia tidak akan pergi ke mana-mana.`

Silas dapat mendengar teriakan tersumbat Teabing dan dia kemudian sadar bahwa Remy menggunakan pita berperekat yang digunakan untuk menyumbat mulutnya semalam.

`Ferme ta gueule!` teriak Remy melewati bahunya, menyuruh Teabing untuk diam. Tangannya meraih sebuah panel pengendali pada dasbor yang mewah itu, lalu dia menekan sebuah tombol. Sebuah partisi kaca tak tembus cahaya naik di belakang mereka, menutup bagian belakang mobil. Teabing menghilang, dan suaranya juga tak terdengar lagi. Remy mengerling pada Silas. `Aku sudah mendengar rengekan seperti itu cukup lama.`

Beberapa menit kemudian, ketika limo Jaguar yang panjang itu meluncur dengan cepat di jalan, ponsel Silas bedering. Guru. Dia menjawabnya dengan gembira. `Halo?`

`Silas,` aksen Prancis Guru yang akrab di telinganya berkata, `Aku senang mendengar suaramu. Ini artinya kau selamat.`

Silas juga sama nyamannya mendengar suara Guru. Sudah berjam-jam, dan operasi itu telah melenceng dengan liar tentu saja. Sekarang, tampaknya operasi itu sudah kembali ke jalurnya lagi. `Aku mendapatkan batu kunci itu.`

`Ini berita besar,` kata Guru kepada Silas. `Remy bersamamu?`

Silas heran mendengar Guru menggunakan nama Remy. `Ya, Remy membebaskan aku.`

`Seperti yang kuperintahkan kepadanya. Aku minta maaf karena kau harus menderita terlalu lama akibat penangkapan itu.` `Ketidaknyamanan jasmani tidak ada artinya. Yang penting adalah batu kunci itu milik kita sekarang.`

`Ya. Aku membutuhkannya untuk segera diantar. Waktu adalah intinya.`

Silas sangat senang bisa bertatap muka dengan Guru akhirnya. `Ya, Pak, aku akan merasa terhormat.`

`Silas, aku ingin Remy yang mengantarkannya padaku.` Remy? Silas tertunduk. Setelah segala yang dia kerjakan untuk Guru, dia percaya bahwa dialah yang akan menyerahkan batu kunci itu. Guru lebih menyukai Remy?

`Aku merasakan kekecewaanmu,` kata Guru. `Itu berarti kau tidak mengerti maksudku.` Guru merendahkan suaranya menjadi bisikan. `Kau harus percaya bahwa aku sesungguhnya lebih suka menerima batu kunci darimu - seorang lelaki pengikut Tuhan, bukan seorang kriminal - tetapi Remy harus dilibatkan. Dia telah membangkang kepadaku dan membuat kesalahan besar sehingga membahayakan misi kita.`

Silas merasa tenang dan mengerling pada Remy. Menculik Teabing bukanlah bagian dari rencana, dan memutuskan apa yang akan dilakukan terhadap Teabing merupakan masalah baru.

`Kau dan aku adalah pengikut Tuhan,` bisik Guru. `Tujuan kita harus terlaksana.` Lalu Guru terdiam, lama. `Hanya karena alasan inilah aku meminta Remy untuk mengantarkan batu kunci kepadaku. Kau mengerti?`

Silas merasakan kemarahan Guru dalam suaranya dan heran juga kenapa Guru tidak mengerti. Remy terpaksa memperlihatkan wajahnya, Silas berpikir. Dia melakukan apa yang harus dia lakukan. Dia menyelamatkan batu kunci. `Aku mengerti,` akhirnya Silas mengatakannya. '

`Bagus. Demi keselamatanmu sendiri, kau harus menghindar dari jalanan, segera. Polisi akan segera mencari limusin itu, dan aku tidak mau kau tertangkap. Opus Dei mempunyai tempat tinggal di London, bukan?`

`Tentu saja.`

`Kau akan diterima dengan baik di sana?` `Seperti saudara.`

`Kalau begitu, pergilah ke sana dan bersembunyi. Aku akan meneleponmu begitu aku telah memiliki batu kunci dan telah mengatasi masalah baruku.`

`Guru ada di London?`

`Kerjakan apa yang kukatakan, dan segalanya akan beres.` `Ya, Pak.`

Guru mendesah, seolah sangat menyesali apa yang harus dia kerjakan sekarang. `Waktunya aku berbicara dengan Remy.`

Silas menyerahkan ponselnya kepada Remy, dan metasa bahwa ini adalah telepon terakhir yang akan diterima Remy.

Begitu Remy menerima telepon itu, dia tahu bahwa biarawan malang dan sinting ini tidak tahu sama sekali nasib apa yang menunggunya sekarang sehingga dia mau melaksanakan tugasnya. Guru memanfaatkanmu, Silus.

Dan uskupmu merupakan bidak.

Remy masih mengagumi kemampuan Guru membujuk orang lain. Uskup Aringarosa telah memercayakan segalanya kepadanya. Uskup telah dibutakan oleh keputusasaannya sendiri. Aringarosa terlalu bersemangat untuk memercayai Guru. Walau Remy tidak terlalu menyukai Guru, dia merasa bangga karena mendapatkan kepercayaan dari Guru dan menjadi orang penting yang dapat menolongnya. Aku sekarang berhak mendapatkan upahku.

`Dengarkan baik-baik,` kata Guru. `Antarkan Silas ke rumah tinggal Opus Dei. Turunkan dia dari mobil beberapa blok dari situ. Lalu pergi ke Taman St. James's. Tepat di depan Gedung Parlemen dan Big Ben. Kau dapat memarkir limusin itu di Horse Guards Parade. Kita akan bicara di sana.` Dan komunikasi pun terputus.

92

KING'S COLLEGE, didirikan oleh Raja George IV pada tahun 1829, menempatkan Fakultas Teologi dan Studi Keagamaannya berhadapan dengan Parlemen di atas tanah pemberian Raja. Departemen Agama King's College bangga bukan hanya karena memiliki pengalaman pengajaran dan penelitian selama 150 tahun, namun juga karena mendirikan Institut Penelitian dalam Teologi Sistematis pada tahun 1982, yang memiliki perpustakaan elektronik yang terlengkap dan terdepan di dunia untuk penelitian keagamaan.

Langdon masih merasa gemetar ketika dia dan Sophie datang di saat hujan dan masuk ke perpustakaan. Seperti dijelaskan oleh Teabing, ruang penelitian utama merupakan ruang segi delapan yang besar dan didominasi oleh meja bundar raksasa yang dulu pernah digunakan dengan nyaman oleh Raja Arthur bersama kesatria-kesatrianya. Namun, sekarang meja bundar itu ditimbuni oleh dua belas monitor-komputer datar. Di ujung ruangan, seorang petugas perpustakaan baru saja menuangkan teh dari tekonya dan bersiap menjalankan tugasnya hari ini.

`Selamat pagi,` kata petugas perpustakaan itu dengan ceria, sambil meninggalkan tehnya dan berjalan menyambut Sophie dan Langdon. `Ada yang dapat saya bantu?` tanya perempuan itu.

`Ya, terima kasih,` jawab Langdon. `Nama saya...`

`Robert Langdon.` Sambung petugas itu sambil tersenyum ramah. `Saya tahu siapa Anda.`

Sesaat Langdon sempat khawatir jangan-jangan Fache telah menyiarkan wajahnya di televisi Inggris juga, namun senyum petugas perpustakaan itu menyatakan tidak. Langdon masih saja belum terbiasa dengan saat-saat dimana dia menjadi selebriti. Dan lagi-lagi, jika ada orang di bumi ini mengenali wajahnya, pastilah orang itu petugas perpustakaan di bagian referensi religius.

`Pamela Gettum,` kata petugas perpustakaan itu sambil mengulurkan tangannya. Wajahnya tampak terpelajar dan ramah, suaranya berirama, enak didengar. Kacamata tebal berbingkai tulang tergantung pada lehernya.

`Senang berkenalan dengan Anda,` kata Langdon. `Ini teman saya, Sophie Neveu.`

Kedua perempuan itu saling menyapa, dan Gettum segera menoleh pada Langdon. `Saya tidak tahu Anda akan datang.` `Kami juga tidak tahu akan datang. Jika tidak terlalu merepotkan, kami minta tolong untuk menemukan beberapa informasi.`

Gettum bergeser, tampak tidak yakin. `Biasanya pelayanan kami harus didahului oleh surat permohonan atau perjanjian, kecuali Anda tamu dari seseorang di universitas ini. Anda tamu?`

Langdon menggelengkan kepalanya. `Saya menyesal, kami telah datang tanpa pemberitahuan. Seorang teman saya sering memuji universitas ini. Sir Leigh Teabing?` Langdon merasa muram ketika menyebutkan nama temannya itu. `Sejarawan Bangsawan Inggris. Anda mengenalnya?`

Wajah Gettum menjadi ceria sekarang, lalu tertawa. `Ya ampun, ya, saya kenal. Ilmuwan dengan karakter hebat. Seorang yang fanatik! Setiap kali datang, dia selalu mencari informasi yang sama. Grail. Grail. Grail. Saya sangat yakin, sampai mati dia tidak akan berhenti menanyakan itu.` Petugas itu mengedipkan matanya. `Wakru dan uang mampu membeli kemewahan yang menyenangkan, bukan begitu? Seorang Don Quixote yang menyenangkan, beliau itu.`

`Bisakah Anda membantu kami?` tanya Sophie. `Ini sangat penting.`

Gettum mengamati sekeliling perpustakaan yang sunyi itu dan mengedipkan matanya kepada mereka berdua. `Wah, saya tidak bisa mengatakan bahwa saya sedang sibuk sekarang, bukan? Selama Anda mendaftarkan diri, kurasa tidak ada yang keberatan. Apa yang Anda perlukan?`

`Kami sedang berusaha mencari sebuah makam di London.` Gettum tampak ragu. `Kami punya kira-kira 20 ribu makam. Dapat lebih khusus?`

`Makam seorang kesatria. Kami tidak punya namanya.` `Seorang kesatria. Itu khusus. Lebih khusus lagi.`

`Kami tidak punya banyak informasi tentang kesatria yang kami cari,` kata Sophie, `tetapi inilah yang kami ketahui.` Lalu Sophie mengeluarkan secarik kertas yang telah ditulisinya dengan dua baris puisi itu.

Sesungguhnya mereka ragu untuk memperlihatkan keseluruhan puisi itu kepada orang asing. Karena itu Langdon dan Sophie hanya memperlihatkan dua baris pertama, yang menyatakan tentang kesatria itu. Kriptografi terbagi. Begitu Sophie menyebutnya. Ketika seorang agen intelijen memasukkan sebuah kode yang memuat data sensitif, masing-masing kriptografer mengerjakan satu bagian rahasia dari keseluruhan kode itu. Dengan cara ini, ketika mereka masing-masing berhasil memecahkannya, tak satu pun dari kriptografer itu memiliki secara utuh pesan yang sudah terpecahkan itu.

Dalam kasus sekarang, pencegahan dengan cara ini mungkin saja berlebihan; walaupun petugas perpustakaan melihat seluruh puisi itu, dan mengenali makam kesatria itu, dan tahu bola apa yang hilang, informasi itu tidak akan ada gunanya tanpa cryptex itu.

Gettum merasakan keterdesakan dari mata ilmuwan Amerika yang ternama itu, seolah menemukan dengan segera makam itu merupakan masalah yang sangat kriris. Perempuan bermata hijau yang menemaninya juga tampak cemas.

Dengan bingung, Gettum mengenakan kaca matanya dan memeriksa kertas yang baru saja mereka serahkan kepadanya.

In London lies a knight a Pope interred. His labour's fruit a Ho1y wrath incurred.

Gettum menatap tamu-tamunya. `Apa ini? Semacam perburuan harta karun dari Harvard?`

Tawa Langdon terdengar dipaksakan. `Ya, semacam itulah.` Gettum terdiam sejenak, merasa bahwa dia tidak menerima keseluruhan cerita. Walau begitu, dia merasa tertantang dan memikirkan bait itu dengan saksama. `Menurut sajak ini, seorang kesatria telah melakukan sesuatu yang membuat Tuhan marah, namun seorang Paus telah berbaik hati dan menguburkannya di London.`

Langdon mengangguk. `Ingat sesuatu?`

Gettum bergerak ke arah salah satu komputer. `Tidak di tanganku, tetapi mari kita lihat apa yang dapat kita ambil dari database itu.`

Lebih dari dua puluh tahun, Institut Penelitian dalam Teologi Sistematis King's College telah menggunakan software pengenalan karakter secara optis bersama-sama dengan peralatan penerjemahan linguistik untuk mendigitalkan dan memasukkan ke dalam katalog sebuah koleksi teks-teks besar, ensiklopedia keagamaan, biografi religius, naskah-naskah suci dalam belasan bahasa, sejarah-sejarah, surat-surat Vatikan, agenda para pendeta, apa saja yang termasuk tulisan tentang spiritualitas manusia. Karena koleksi besar itu sekarang tersimpan dalam bentuk bit dan byte, tidak lagi dalam bentuk lembaran-lembaran, data itu menjadi lebih mudah dicari.

Gettum sekarang duduk di depan salah satu komputer. Dia melihat secarik kertas tadi dan mulai mengetik. `Untuk memulainya, kita akan melihat sebuah Boolean lurus dengan beberapa kata kunci yang pasti, lalu akan kita lihat apa yang terjadi.` `Terima kasih.`

`Gettum mengetik beberapa kata:

LONDON, KNIGHT, POPE

Ketika Gettum mengklik tombol SEARCH, dia dapat merasai dengung komputer induk yang besar dan terletak di lantai bawah yang sedang mencari data dengan kecepatan 500 MB/detik. `Saya sedang meminta sistem untuk memperlihatkan kepada kita dokumen apa pun yang teks utuhnya berisi ketiga kata kunci tersebut. Hasilnya nanti akan lebih daripada yang kita inginkan, tetapi ini tempat yang tepat untuk memulai pencarian.`

Layar monitor telah menyajikan hasil pertama sekarang.

Lukisan Paus. Lukisan-Iukisan koleksi Sir Joshua Reynolds. London University Press.

Gettum menggelengkan kepalanya. `Tentu ini bukan yang kalian cari.` Lalu dia menggulung ke hasil yang berikutnya.

Tulisan-tulisan London dari Alexander Pope, oleh G. Wilson Knight.

Gettum menggelengkan kepalanya lagi.

Ketika sistem itu terus bekerja, hasil-hasilnya keluar dengan lebih cepat dari biasanya. Lusinan teks muncul, sebagian besar mengacu ke penulis Inggris abad XVIII, Alexander Pope, yang puisi. epik-ejekan dan kontrareligiusnya tampaknya banyak menyebut-nyebut para kesatria dan London.

Gettum melirik cepat ke bidang untuk nomor di bagian bawah layar. Komputer ini, dengan menghitung jumlah terbaru hasil yang muncul dan melipatgandakannya dengan persentase dari sisa database untuk mencari, memberikan perkiraan kasar dari jumlah informasi yang akan ditemukan. Pencarian khusus ini tampaknya akan memunculkan banyak sekali data.

Perkiraan jumlah total data: 2.692

`Kita harus lebih mempersempit parameternya,` kata Gettum, menghentikan pencarian. `Apakah ini sudah merupakan semua informasi yang Anda miliki tentang makam itu? Tidak ada yang lain lagi untuk dapat melanjutkan pencarian?`

Langdon menatap Sophie, tampak tidak yakin.

Ini bukan perburuan harta karun, Gettum merasakannya. Dia sudah mendengar bisik-bisik tentang pengalaman Robert Langdon di Roma tahun lalu. Orang Amerika ini telah diberi izin masuk ke perpustakaan yang paling aman di bumi Arsip Rahasia Vatikan. Gettum bertanya-tanya rahasia apa yang diperoleh Langdon di dalam perpustakaan itu dan apakah tekadnya untuk memburu makam misterius di London sekarang ini ada hubungannya dengan informasi yang didapatnya di Vatikan dulu. Gettum telah menjadi pustakawan cukup lama untuk mengetahui alasan yang paling umum mengapa orang datang ke London mencari kesatria. Grail.

Gettum tersenyum dan memperbaiki letak kacamatanya. `Anda berteman dengan Leigh Teabing, Anda di Inggris, dan Anda mencari kesatria.` Lalu dia melipat tangannya. `Saya dapat memastikan, Anda sedang mencari Grail.`

Langdon dan Sophie saling bertatapan karena terkejut. Gettum tertawa. `Teman-temanku, perpustakaan ini adalah basis bagi pencari Grail. Leigh Teabing di antaranya. Andai saja aku mendapatkan satu shilling untuk setiap waktu yang kugunakan untuk mencari Mawar, Maria Magdalena, Sangreal, Merovingian, Biarawan Sion, dan seterusnra. Semua orang menyukai konspirasi.` Ia lalu menanggalkan kacamatanya dan memandangi Langdon dan Sophie. `Aku perlu lebih banyak informasi.`

Dalam keheningan itu, Gettum merasakan keinginan para tamunya untuk menyimpan rahasia mereka dengan cepat meluntur karena hasrat mereka untuk segera tahu hasil pencarian itu.

`Ini,` Sophie berkata tanpa pikir panjang lagi. `Ini segala yang kami ketahui.` Setelah meminjam pena kepada Langdon, Sophie kemudian menulis dua baris sisa puisi tadi di atas kertas dan memberikannya kepada Gettum.

You seek the orb that ought be on his tomb. It speaks of Rosy flesh and seeded womb.

Gettum tersenyum simpul. jadi, memang Grail, pikirnya, ketika dia melihat tulisan yang menyebut Rose dan rahimnya yang terbuahi. `Aku dapat membantu kalian,` katanya lagi, sambil menatap mereka sekarang. `Boleh aku bertanya dari mana kalian mendapatkan bait ini? Dan mengapa kalian mencari sebuah bola?` `Kau boleh bertanya,` kata Langdon, dengan senyum ramah, `tetapi ceritanya panjang dan kita tidak punya banyak waktu.`

`Terdengar seperti cara sopan untuk mengatakan pikir saja urusanmu sendiri'.`

`Kami akan berutang selamanya padamu, Pamela,` kata Langdon, `jika kau dapat menemukan siapa ksatria itu dan di mana dia dimakamkan.`

`Baiklah,` kata Gettum, lalu mulai mengetik lagi. `Aku akan ikut bermain. Jika ini berhubungan dengan Grail, kita harus melakukan perujukan silang dengan kata kunci Grail. Aku akan menambahkan sebuah parameter perkiraan dan menghapus judul yang memberatkan. Itu akan membatasi hasil kita hanya pada contoh-contoh dari kata-kata kunci - tekstual yang muncul dekat kata yang berhubungan dengan Grail.`

Cari:

Kesatria, London, Paus, Makam

Dalam 100 perkiran kata dari:

Grail, Mawar, Sangreal, Cawan

`Akan makan waktu berapa lama ini?` tanya Sophie. `Beberapa ratus terabytes dengan bidang perujukan silang yang berlipat-lipat?` Mata Gettum berkilauan ketika dia mengklik tombol jari SEARCH. `Paling lama lima belas menit.`

Langdon dan Sophie tidak mengatakan apa-apa, tetapi Gettum merasa bahwa lima belas menitnya akan terasa seperti selamanya bagi tamu-tamunya.

`Teh?` tanya Gettum, sambil berdiri dan berjalan ke arah teko berisi teh yang tadi dibuatnya. `Leigh selalu menyukai tehku.`

93

PUSAT OPUS Dei London merupakan gedung batu bata sederhana di Orme Court nomor 5, menghadap North Walk di Kensington Gardens. Silas belum pernah ke sana, tetapi dia merasakan suasana perlindungan dan suaka ketika dia mendekati gedung itu dengan berjalan kaki. Walau hujan, Remy telah menurunkannya agak jauh supaya limosinnya tidak masuk ke jalan utama. Silas tidak keberatan untuk berjalan kaki. Hujan membersihkannya.

Atas usul Remy, Silas telah melepaskan senjatanya dan membuangnya melalui sebuah lubang saluran pembuangan. Dia senang terbebas dari benda itu. Dia merasa lebih ringan. Kakinya masih terasa sakit karena selalu terikat tadi, tetapi Silas sudah pernah mengalami kesakitan yang lebih pedih. Dia bertanya-tanya tentang Teabing, yang diikat Remy dan ditinggalkan di bagian belakang limusin itu. Orang Inggris itu pastilah sedang merasa kesakitan sekarang.

`Mau kau apakan dia?` tanya Silas kepada Remy ketika mereka menuju ke sini tadi.

Remy menggerakkan bahunya. `Guru yang harus memutuskannya.` Ada nada aneh pada akhir kalimatnya.

Ketika Silas mendekati gedung Opus Dei, hujan mulai bertambah deras, membasahi jubah beratnya, dan memedihkan luka yang dideritanya sejak kemarin. Dia sudah siap meninggalkan dosa-dosanya pada 24 jam terakhir, dan jiwanya sudah bersih. Pekerjaannya telah selesai.

Silas bergerak melintasi sebuah halaman kecil menuju pintu depan. Dia tidak heran melihat pintunya tidak terkunci. Dia membukanya dan melangkah memasuki ruang depan yang sederhana. Sebuah bel listrik terdengar di atas ketika Silas melangkah di atas permadani. Bel itu perlengkapan biasa di gedung ini, karena para penghuninya menggunakan sebagian besar waktu mereka untuk berdoa di kamar. Silas dapat mendengar gerakan di atas pada lantai kayu yang berderit.

Seorang lelaki berjubah datang ke bawah. `Bisa kubantu?` Matanya ramah,. tampaknya tidak terkesan pada penampilan fisik Silas yang menakutkan.

`Terima kasih. Namaku Silas. Aku anggota Opus Dei.` `Warga negara Amerika?`

Silas mengangguk. `Aku di kota ini hanya satu hari ini. Boleh aku beristirahat di sini?`

`Kau tidak perlu bertanya. Ada dua kamar kosong pada lantai tiga. Mau dibawakan teh dan roti?`

`Terima kasih.` Silas memang sangat kelaparan.

Lalu dia pergi ke atas ke sebuah kamar yang sederhana dengan satu jendela. Silas menanggalkan jubah basahnya, lalu berlutut untuk berdoa dengan baju dalamnya saja. Dia mendengar tuan rumahnya naik dan meninggalkan nampan di luar pintu. Setelah selesai berdoa, Silas mengambil makanan dan memakannya, lalu berbaring untuk tidur.

Tiga lantai di bawah, sebuah telepon berdering. Seorang anggota Opus Dei yang tadi menerima Silas mengangkatnya.

`Ini polisi London,` kata penelpon itu. `Kami sedang mencari seorang biarawan albino. Kami mendapat informasi bahwa dia mungkin ada di sana. Anda melihatnya?`

Anggota Opus Dei itu terkejut. `Ya, dia di sini. Ada masalah?`

`Dia di sana sekarang?`

`Ya, di lantai atas lagi berdoa. Ada apa?

`Biarkan dia tetap di tempatnya,` petugas itu memerintahkan. `Jangan katakan apa pun kepada siapa pun. Aku akan mengirim petugas ke sana.`

94

TAMAN ST. JAMES'S adalah area hijau di tengah kota London, sebuah taman umum yang membatasi istana-istana Westminster, Buckingham, dan St. James's. Pernah ditutup oleh Raja Henry VIII dan diisi dengan rusa-rusa untuk diburu, Taman St. James's sekarang dibuka untuk umum. Pada sore yang cerah, penduduk London berpiknik di bawali pepohonan willow dan memberi makan pelikan yang menghuni danau di situ. Nenek moyang pilikan-pelikan itu adalah pemberian Charles II dari kedutaan besar Rusia.

Guru tidak melihat pelikan hari ini. Cuaca yang berangin keras membawa burung-burung layang-layang dari laut. Lapangan rumputnya tertutup oleh burung-burung itu - ratusan burung putih menghadap ke arah yang sama, meniti angin lembab dengan sabar. Walau pagi ini berkabut, taman itu tetap saja menyuguhkan pemandangan yang indah dari Gedung Parlemen dan Big Ben. Menatap lapangan rumput landai, melewati danau bebek dan siluet lembut dari pepohonan willow yang menangis, Guru dapat melihat menara-menara dari gedung yang berisi makam kesatria itu - itulah alasan sesungguhnya mengapa dia meminta Remy untuk datang ke sini.

Ketika Guru mendekati pintu penumpang depan dari limusin yang terparkir, Remy mencondongkan tubuhnya ke samping untuk membuka pintu mobil itu. Guru berhenti di luar, meneguk dari sebotol cognac yang dibawanya. Setelah mengusap mulutnya, ia masuk ke mobil dan duduk di samping Remy, kemudian menutup pintu.

Remy memegang batu kunci seperti memegang sebuah trofi. `Ini hampir hilang.`

`Kau telah berhasil,` kata Guru.

`Kita telah berhasil,` balas Remy, sambil meletakkan batu kunci itu pada tangan Guru yang penuh hasrat:

Guru mengaguminya dengan lama, lalu tersenyum. `Dan senjatanya? Kau sudah mengelapnya?`

`Ya, dan sudah kukembalikan ke kotak sarung tangan tempat aku menemukannya.`

`Bagus sekali.` Guru meneguk cognac lagi dan memberikan botol kecil itu kepada Remy. `Mari minum untuk keberhasilan kita. Akhir itu sudah dekat.`

Remy menerima botol itu dengan rasa terima kasih. Cognac itu terasa asin, tetapi Remy tidak peduli. Dia dan Guru betul-betul menjadi rekanan sekarang. Dia dapat merasakan dirinya naik ke posisi yang lebih tinggi. Aku tidak akan menjadi pelayan lagi. Ketika Remy menatap ke bawah ke arah tanggul di danau bebek itu, Puri Villette terasa bermil-mil jauhnya.

Remy meneguk lagi minuman itu, lalu dia dapat merasakan cognac itu menghangatkan darahnya. Kehangatan pada tenggorokan Remy berubah dengan cepat menjadi panas yang meresahkan.

Sambil mengendurkan dasi kupu-kupunya, dia merasakan seperti pasir yang tidak menyenangkan, lalu memberikan botol itu kepada Guru. `Mungkin aku sudah cukup minumnya,` katanya, lemah.

Sambil mengambll botol itu, Guru berkata, `Remy, seperti ang kautahu, kau satu-satunya yang mengetahui wajahku. Aku ingat memercayaimu.`

`Ya;` kata Remy, merasa demam ketika dia melonggarkan : i asinya lebih lebar. `Dan identitasmu akan ikut bersamaku ke kuburku.`

Guru terdiam lama. `Aku percaya padamu.` Setelah mengantongi batu kunci dan botol itu, Guru mengulurkan tangannya ke tempat penyimpanan sarung tangan lalu mengeluarkan revolver Medusa yang kecil tadi. Sesaat, Remy merasa takut, tetapi Guru hanya menyelipkan pistol itu ke saku celananya.

Apa yang dilakukannya? Tiba-tiba Remy merasa berkeringat. `Aku tahu, aku menjanjikan kebebasan padamu,` kata Guru, suaranya terdengar sesal. `Tetapi mengingat keadaanmu, ini adalah yang terbaik yang dapat kulakukan padamu.`

Tenggorokan Remy membengkak tiba-tiba. Dia jatuh ke depan di tempat kemudi sambil mencengkeram lehernya dan merasakan muntahnya pada kerongkongannya yang menyempit. Dari tenggorokannya, keluar suara jeritan yang terjepit, tidak cukup keras untuk terdengar dari luar mobil. Pengasin dalam cognac itu sekarang bereaksi.

Aku dibunuh!

Dengan tak percaya, Remy menoleh melihat Guru yang duduk di sampingnya dengan tenang, menatap lurus ke depan melewati kaca depan. Pandangan mata Remy mengabur, dan dia megap-megap mencari udara. Aku sudah membuat segalanya mungkin baginya! Tega sekali dia melakukan ini! Apakah Guru memang sudah berniat membunuh Remy sejak lama atau apakah karena tindakan Remy di Gereja Kuil yang membuat Guru kehilangan kepercayaan, Remy tidak tahu. Ketakutan dan kemarahan menjalarinya sekarang. Remy mencoba untuk menyergap Guru, tetapi tubuhnya yang menjadi kaku tak lagi dapat bergerak. Aku telah memercayakan segalanya padamu!

Remy mencoba mengangkat tinjunya yang terkepal untuk membunyikan klakson, tetapi dia malah terpeleset, bergulung ketempat duduk, tergeletak di samping Guru, memegangi lehernya Hujan jatuh semakin deras sekarang. Remy tak dapat lagi melihat tetapi dia dapat merasakan otak yang kehilangan zat asam itu bergantung pada sisa-sisa dari pandangan matanya yang terakhit Ketika dunianya perlahan-lahan menjadi hitam, Remy Legalude masih mendengar suara debur lembut ombak Riviera.

Guru keluar dari limusin. Dia merasa senang karena tidak ad orang yang melihat ke arahnya. Aku tidak punya pilihan, katany pada diri sendiri. Dia heran juga betapa sedikitnya sesal yan dirasakannya untuk apa yang baru saja dia lakukan. Remy m~ nentukan nasibnya sendiri. Guru memang sudah sejak lama mengkhawatirkan bahwa dia harus melenyapkan Remy ketika mi sudah selesai, tetapi karena Remy dengan kurang ajar telah menampakkan diri di Gereja Kuil, maka dia sendiri telah mempercepat keharusan itu. Kunjungan Robert Langdon yang tak terduga ke Puri Villette telah membawa durian runtuh dan sekaligus sebuah dilema yang ruwet. Langdon telah mengantarkan batu kunci langsung ke jantung operasi, yang merupakan kejutan menyenangkan, tetapi Langdon juga telah membawa serta polisi yang membuntutinya. Sidik jari Remy ada di seluruh sudut di Pu Villette, demikian juga pada pos penyadapan di gudang, tempat Remy melakukan penyadapan. Guru merasa beruntung karena selama ini telah berjaga-jaga mencegah keterkaitan antara kegiata Remy dan dirinya. Tidak ada seorang pun yang dapat menyangkutkan Guru pada kejahatan kecuali Remy membocorkannya, da sekarang itu bukan masalah lagi.

Satu lagi buhul longgar yang harus diikat, pikir Guru, sambil berjalan ke pintu belakang limusin. Polisi tidak akan tahu apa yang terjadi ... dan tidak ada saksi hidup yang akan menceritakan kepada polisi. Setelah mengamati sekitar untuk memastikan tidak ada orang yang melihatnya, Guru menarik pintu hingga terbuka dan naik ke ruang belakang yang kosong.

Beberapa menit kemudian, Guru menyeberangi Taman St. James's: Tinggal dua orang lagi. Langdon dan Neveu. Mereka lebih sulit. Tetapi dapat diatasi. Bagaimanapun, pada saat itu Guru harus mengurus cryptex dulu.

Dengan menatap penuh kemenangan saat melintasi taman, Guru dapat melihat tujuannya. Di London terbaring seorang kesatria yang seorang Paus kuburkan. Begitu Guru mendengar puisi itu, dia tahu jawabannya. Walau begitu, tidak mengherankan jika yang lain tidak dapat mengetahuinya. Aku punya keuntungan yang tidak adil. Setelah menyadap percakapan Sauniere selama beberapa bulan terakhir ini, Guru pernah mendengar bahwa mahaguru itu menyebutkan kesatria terkenal ini pada suatu peristiwa, dengan menyatakan penghormatan yang hampir sama tingginya dengan penghormatannya kepada Da Vinci. Rujukan puisi itu kepada kesatria sangat mudah begitu orang melihatnya, namun bagaimana makam ini akan mengungkap batu kunci itu masih merupakan misteri.

Kau mencari bola yang seharusnya ada di atas makamnya. Secara samar-samar, Guru mengingat foto-foto makam terkenal dan, khususnya, ciri-cirinya yang paling menonjol. Sebuah bola besar. Sebuah bola besar yang terpasang di atas makam hampir sama besarnya dengan ukuran makam itu sendiri. Keberadaan bola itu tampak membuat Guru bersemangat tapi sekaligus juga terganggu. Pada satu sisi, bola itu seperti tanda pos. Namun, menurut puisi itu, bagian yang hilang dari puzzle itu adalah sebuah bola yang seharusnya ada di atas makam ... bukan yang sudah ada di sana. Guru harus memeriksa dengan cermat makam itu untuk menyibak jawabannya.

Hujan semakin deras sekarang. Guru menyimpan cryptex itu jauh di dalam saku kanannya supaya tidak basah. Revolver Medusanya ada di dalam saku kirinya, tersembunyi. Dalam beberapa menit, Guru sudah mulai melangkahkan kakinya memasuki sanktuari yang hening dari bangunan terbesar di London yang berusia sembilan ratus tahun itu.

Bersamaan dengan Guru melangkahkan kakinya keluar dari guyuran hujan, Uskup Aringarosa justru menjadi basah karena hujan. Pada landasan pacu di lapangan udara eksekutif di Biggin Hill, Uskup Aringarosa muncul dari pesawat sewaannya yang sempit, sambil mempererat jubahnya untuk menahan dingin. Dia berharap akan disambut oleh Kapten Fache. Namun seorang polisi Inggris yang masih muda muncul dengan membawa sebuah payung.

`Uskup Aringarosa? Kapten Fache harus segera pergi tadi. Dia memintaku untuk melayani Anda. Dia menyarankan untuk membawa Anda ke Scotland Yard, karena dia pikir itu tempat yang teraman.`

Teraman? Aringarosa melihat tas berat yang ditentengnya, yang berisi obligasi dari Vatikan. Dia hampir saja lupa. `Baiklah, terima kasih.`

Aringarosa memasuki mobil polisi, sambil bertanya-tanya di mana Silas mungkin berada. Beberapa menit kemudian, pemindai di dalam mobil polisi itu bersuara serak memberi jawaban. Orme Court nomor 5.

Aringarosa segera mengenali alamat itu. Pusat Opus Dei di London.

Dia menoleh kepada pengemudi. `Antarkan aku ke sana segera!`

95

MATA LANGDON tidak pernah meninggalkan layar komputer sejak awal mereka mulai.

Lima menit. Hanya mendapatkan dua hasil. Keduanya tidak ada hubungannya.

Langdon mulai merasa khawatir.

Pamela Gettum sedang berada di ruang sebelah yang terhubung oleh pintu yang dibukanya, membuat minuman panas. Langdon dan Sophie dengan lancang telah meminta kopi setelah meminum teh yang Gettum tawarkan tadi. Dan dari suara bel mikrowave yang terdengar dari ruang sebelah, Langdon tahu mereka akan segera disuguhi kopi cepat saji Nescafe.

Akhirnya, komputer itu berkedip riang. `Kedengarannya kalian sudah mendapatkan yang lain lagi,` seru Gettum dari ruang sebelah. `Apa judulnya?`

Langdon mengamati layar.

Alegori Grail dalam Literatur Abad

Pertengahan: Sebuah Risalah tentang Sir Gawain dan Kesatria Hijau.

`Alegori Kesatria Hijau,` seru Langdon menjawab Gettum. `Tidak bagus,` jawab Gettum. `Tidak banyak raksasa hijau mitologi yang dikuburkan di London.`

Langdon dan Sophie duduk sabar di depan layar monitor. Ketika komputer berkedip lagi, ternyata hasilnya di luar dugaan.

DIE OPERN VON RICHARD WAGNER

`Opera-opera Wagner?` kata Sophie.

Gettum menjulurkan kepalanya lagi dari pintu penghubung ruangan, sambil memegang dua kantong kopi instan. `Itu seperti tidak cocok. Apakah Wagner seorang kesatria?`

`Bukan,` kata Langdon, tiba-tiba dia merasa ingin tahu lebih jauh. `Tetapi dia seorang Freemason yang ternama.` Bersama dengan Mozart, Beethoven, Shakespeare, Greshwin, Houdini, dan Disney. Banyak buku telah ditulis tentang hubungan orang-orang Mason dan Templar, Biarawan Sion, dan Holy Grail. `Aku ingin melihat yang ini. Bagaimana caranya melihat seluruh teks ini?`

`Kau tidak perlu melihat seluruh teks,` seru Gettum. `Klik saja pada judul hypertext. Komputer akan memperlihatkan kata kuncimu bersama mono prelogs dan triple postlogs untuk konteks.`

Langdon tidak mengerti apa yang baru dikatakan Gettum tadi, tetapi dia mengklik saja .

Tampakan layar berganti lagi.

......kesatria mitologis bernama Parsifal yang ... .

.....Grail metaforis yang menanyakan bahwa dapatdibantah ...

... London Philharmonic pada tahun 1855 ...

antologi opera Paus Rebecca `Diva's ...

... makam Wagner di Bayreuth, Jerman ...

`Bukan Paus yang itu,` kata Langdon, kecewa. Walau begitu, dia kagum pada sistem yang mudah digunakan itu. Kata kunci dan konteks cukupnya mengingatkan dirinya bahwa opera Wagner Parsifal merupakan penghormatan kepada Maria Magdalena dan garis keturunan Yesus Kristus, yang menceritakan seorang kesatria muda yang sedang mencari kebenaran.

`Sabar saja,` kata Gettum. `Ini memang memerlukan kesabaran. Biarkan mesin itu bekerja.`

Setelah beberapa menit, komputer mengeluarkan lagi beberapa referensi Grail, termasuk sebuah teks tentang para troubadour-kelompok seniman (minstrel) keliling yang terkenal di Prancis. Langdon tahu, bukanlah sebuah kebetulan jika kata minstrel dan minister (pendeta) mempunyai akar kata etimologis yang sama. Troubadour merupakan pelayan pengelana atau `pendeta` dari Gereja Maria Magdalena, yang menggunakan musik untuk menyebarkan cerita tentang perempuan suci kepada orang-orang desa. Hingga kini, kelompok kesenian itu menyanyikan lagu-lagu pujian bagi kesalehan `Ibu kita`-seorang perempuan cantik dan misterius yang mereka junjung selamanya.

Dengan bersemangat, Langdon memeriksa hypertext itu, namun tidak menemukan apa-apa.

Komputer itu berkedip lagi.

KESATRIA, KUTU BUSUK, PAUS, DAN PENTAKEL:

SEJARAH HOLY GRAIL LEWAT TAROT

`Tidak mengherankan,` kata Langdon kepada Sophie. `Beberapa kata kunci kita memiliki nama yang sama seperti kartukartu individual.` Lalu Langdon meraih mouse untuk mengklik pada sebuah hyperlink. `Aku tidak yakin kakekmu pernah mengatakannya ketika kamu bermain kartu Tarot bersamanya, Sophie, tetapi permainan ini merupakan sebuah flashcard catechism - kartu pengingat pada katekismus - ke dalam cerita Lost Bride dan kekalahan perempuan itu dari Gereja yang jahat.`

Sophie menatap Langdon, tampak tidak mengerti. `Aku tidak mengerti.`

`Itulah masalahnya. Dengan mengajar melalui permainan metaforis, para pengikut Grail menyembunyikan pesan mereka dari pengawasan mata Gereja.` Langdon sering bertanya-tanya berapa banyak pemain kartu modern tahu bahwa rangkaian empat mereka - daun, hati, keriting, wajik- merupakan simbol-simbol yang berhubungan dengan Grail, dan itu langsung berasal dari empat serangkai kartu Tarot - pedang, cawan, tongkat kekuasaan, dan bintang lima sudut.

Daun merupakan Pedang --- Mata pisau. Lelaki.

Hati merupakan Cawan ---- Cawan suci. Perempuan.

Keriting merupakan Tongkat Kekuasaan ---- Garis keturunan Raja. Anggota yang berkembang.

Wajik merupakan Bintang Lima Sudut ---- Dewi. Perempuan Suci.

Empat menit kemudian, ketika Langdon mulai merasa cemas kalau-kalau mereka tidak akan menemukan apa yang mereka cari di sini, komputer mengeluarkan hasil lagi.

Gravitasi Seorang Jenius:

Biografi Seorang Kesatria Modern

`Gravitasi seorang jenius?` seru Langdon pada Gettum. `Biografi seorang kesatria modern?`

Gettum menjulurkan kepalanya lagi. `Seberapa modernnya? Semoga kau tidak akan menyebutkan Sir Rudy Giuliani. Secara pribadi, aku menganggap yang satu itu agak tidak terpuji.`

Langdon sendiri merasa kecewa dengan kesatria yang baru saja diangkat, Sir Mick Jagger, tetapi ini sama sekali bukan waktu yang tepat untuk memperdebatkan politik kekesatriaan Inggris modern. `Ayo kita lihat.` Langdon mengklik kata-kata.kunci hypertext tersebut.

... kesatria terhormat, Sir Isaac Newton ...

.... di London pada tahun 1727 dan ... ...

.... makamnya di Biara Westminster ...

... Paus Alexander, teman dan rekan kerja....

`Kukira `modern' merupakan kata yang relatif,` seru Sophie pada Gettum. `Ini buku kuno. Tentang Sir Isaac Newton.` Gettum menggelengkan kepalanya dari ambang pintu. `Tidak cocok. Newton dimakamkan di Biara Westminster, makam bagi penganut Protestan. Tidak mungkin seorang paus Katolik terlibat. Krim dan gula?`

Sophie mengangguk.

Gettum masih menunggu. `Kau, Robert?`

Jantung Langdon berdentam keras. Dia mengalihkan matanya dari layar dan berdiri. `Sir Isaac Newton adalah kesatria yang kita cari.`

Sophie tetap duduk. `Apa maksudmu?`

`Newton dimakamkan di London,` kata Langdon. `Pekerjaannya menghasilkan ilmu pengetahuan baru yang membangkitkan kemarahan Gereja. Dan dia mahaguru dari Biarawan Sion. Apa lagi yang kita butuhkan?`

`Apa lagi?` Sophie menunjuk pada puisi itu. `Bagaimana dengan seorang kesatria yang seorang Paus kuburkan? Kau dengar Nona Gettum tadi. Newton tidak dikuburkan oleh seorang paus Katolik.`

Langdon meraih mouse itu lagi. `Siapa bilang ini tentang seorang paus Katolik?` Lalu dia mengklik pada hyperlink `Paus`, kemudian kalimat lengkapnya muncul.

Pemakaman Sir Isaac Newton, yang

dihadiri oleh raja-raja dan para bangsawan, diketuai oleh Paus Alexander, teman dan rekannya, yang memberikan pidato yang mengharukan sebelum dia menaburkan tanah pada makam itu.

Langdon menatap Sophie: `Kita telah mendapatkan paus yang benar pada hasil kedua. Alexander.` Langdon terdiam.sejenak, lalu, `Paus A.`

In London lies a knight A. Pope interred.

(Di London terbaring seorang kesatria yang Paus A kuburkan)

Sophie berdiri, tampak terpaku.

Jacques Sauneere, master dari maksud ganda, telah membuktikan sekali lagi bahwa dia super cerdas.

96

SILAS TERBANGUN dengan terkejut.

Dia tidak tahu apa yang telah membangunkannya atau berapa lama dia sudah tertidur. Apakah aku sedang bermimpi? Sambil duduk tegak di atas kasur jeraminya, dia mendengarkan napas tenang dari gang tempat tinggal para anggota Opus Dei ini. Satu-satunya tanda yang tetap ada adalah gumam lembut dari seseorang yang sedang berdoa keras di lantai bawahnya. Itu bunyi yang sudah akrab dengannya dan dia pun merasa nyaman dengan itu.

Namun dia tiba-tiba merasakan kecurigaan yang tak terduga.

Dengan hanya mengenakan baju dalamnya, Silas berdiri dan berjalan menuju jendela. Apakah aku dibuntuti? Halaman di bawahnya sepi, sama seperti ketika dia masuk tadi. Dia mendengarkan. Sunyi. Jadi mengapa aku merasa tidak tenang? Sudah sejak lama Silas belajar untuk selalu memercayai nalurinya. Naluri telah membuatnya bertahan hidup sebagai seorang anak yang tinggal di jalanan di Marseilles lama sebelum masuk penjara ... lama sebelum dia dilahirkan kembali oleh tangan Uskup Aringarosa. Silas melongok ke luar jendela. Sekarang dia melihat sebentuk mobil di halaman. Di atas mobil itu ada sirene polisi. Sebuah papan lantai berderit di gang. Sebuah pintu dibuka.

Silas bertindak dengan nalurinya. Ia bergerak cepat melintasi kamar dan berhenti tepat di belakang pintu, bersamaan dengan saat pintu itu dibuka. Seorang polisi pertama bergegas masuk, mengayunkan senjatanya ke kiri lalu ke kanan ke kamar yang tampaknya kosong itu. Sebelum dia tahu di mana Silas, Silas telah mendorong pintu itu dengan bahunya, menabrak polisi kedua yang bergerak masuk. Ketika polisi pertama bergerak akan menembak, Silas menekuk kakinya. Pistol meledak, pelurunya terbang di atas kepala Silas, bersamaan dengan dia menendang tulang kering polisi itu, sehingga polisi itu jatuh dan kepalanya menghantam lantai. Polisi kedua berdiri terhuyung di ambang pintu, lalu Silas menendang selangkangannya. Setelah itu Silas melangkahi tubuh-tubuh bergelimpangan itu keluar menuju gang.

Dengan tubuh pucatnya yang nyaris bugil, Silas menuruni tangga dengan cepat. Dia tahu dia telah dikhianati. Tetapi oleh siapa? Ketika dia tiba di serambi, polisi-polisi lainnya menyerbu melalui pintu depan. Silas berputar ke arah yang lain dan berlari masuk lebih dalam ke gang penginapan. Pintu masuk ke penginapan anggota perempuan. Setiap gedung Opus Dei memiliki satu. Silas terus berlari di gang sempit, menyelinap ke dapur, melewati para pekerja yang menjadi ketakutan dan menghindari seorang albino setengah bugil ketika Silas menabrak mangkuk-mangkuk dan peralatan makan, terus menyerbu gang gelap di dekat ruang masak. Sekarang dia melihat pintu yang dicarinya. Sebuah lampu keluar, bercahaya di ujung.

Dia keluar pintu dan menerjang hujan dengan mempercepat larinya. Silas meloncat ke dataran yang lebih rendah, tidak melihat polisi yang datang dari sisi lainnya. Terlambat. Kedua orang itu bertabrakan. Bahu telanjang Silas yang lebar menghantam tulang dada polisi itu dengan kekuatan yang menghancurkan. Silas lalu mendorong polisi itu hingga ke tepi jalan, dan menindihnya.

Pistol polisi itu terbuang jauh. Silas dapat mendengar orang-orang berlarian sambil berteriak-teriak. Lelaki albino itu bergulung dan meraih pistol itu, tepat saat beberapa polisi muncul. Sebuah tembakan meledak di tangga, dan Silas merasa sangat sakit pada di bawah tulang iganya. Penuh dengan kemarahan, dia balas menembak ketiga polisi itu. Darah mereka muncrat.

Sebuah bayangan hitam tampak dari belakangnya, datang entah dari mana. Tangan marah yang mencengkeram bahu telanjangnya terasa oleh Silas seperti menyuntikkan kekuatan setan dalam dirinya. Lelaki itu berteriak pada telinga Silas. SILAS JANGAN!

Silas berputar dan menembak. Mata mereka bertemu. Silas berteriak ketakutan ketika Uskup Aringarosa roboh.

97

LEBIH DARI tiga ribu orang dimakamkan atau disimpan dalam tempat suci di Biara Westminster. Penghuni kuburan kolosal itu ditambah lagi dengan raja-raja, pejabat-pejabat negara, ilmuwan, pujangga, dan pemusik. Makam mereka merupakan kumpulan ceruk-ceruk dan ruang-ruang kecil, diatur secara berurutan dari makam yang paling megah milik Ratu Elizabeth I, yang peti batu jenazahnya yang diberi kanopi ditempatkan pada kapel setengah bundaran miliknya pribadi hingga ke yang paling sederhana, yang hanya ditempeli lantai keramik dan inskripsinya telah semakin pudar karena selama berabad-abad dijadikan jalan pengunjung dan membuat orang bertanya-tanya siapa gerangan yang terkubur di bawah keramik lantai itu.

Dirancang dengan gaya katedral-katedral Amiens, Chartres, dan Canterbury Biara Westminster tidak dianggap sebagai katedral ataupun gereja wilayah. Biara ini memiliki klasifikasi khas bangsawan, diperuntukkan hanya bagi orang yang berkuasa. Sejak digunakan sebagai tempat periobatan William Sang Penakluk pada hari Natal tahun 1066, tempat ibadah yang memukau ini telah menjadi saksi upacara para bangsawan dan pejabat negara yang tak habishabisnya - penobatan Edward Sang Pengaku, pernikahan Pangeran Andrew dengan Sarah Ferguson, pemakaman Henry V Ratu Elizabeth I, dan Putri Diana.

Walau begitu, saat ini Robert Langdon tidak tertarik pada sejarah kuno biara itu, kecuali pada pemakaman kesatria Inggris Sir Isaac Newton.

Di London terbaring seorang kesatria yang seorang Paus kuburkan.

Ketika Langdon dan Sophie bergegas melewati serambi megah dengan pilar-pilar di sebelah utara, mereka disambut oleh para penjaga yang dengan sopan mengantar mereka melalui perangkat tambahan terbaru -sebuah pintu yang harus dilalui untuk mendeteksi metal pada tubuh pengunjung- yang sekarang ada di setiap gedung bersejarah di London. Mereka melaluinya tanpa membunyikan alarm, kemudian mereka melanjutkan ke pintu masuk biara.

Saat Langdon berjalan melintasi ambang pintu untuk masuk ke dalam Biara Westminster, dia merasa kesibukan dunia luar menghilang bersama sebuah desis tiba-tiba. Tidak ada suara gaduh lalu lintas. Tidak ada suara deras hujan. Hanya kesunyian tuli, yang menjalar dari belakang ke depan seolah bangunan ini sedang berbisik pada dirinya sendiri.

Mata Sophie dan Langdon, seperti juga mata setiap pengunjung biara itu, langsung terarah ke atas, memandang ceruk sedalam jurang yang Seakan meledak ke atas. Pilar-pilar dari batu kelabu menjulang seperti pohon-pohon redwood di kegelapan. Pilar-pilar itu tegak dengan anggun menunjang permukaan yang luas, lalu meluncur turun ke lantai batu. Di depan Langdon dan Sophie, lorong lebar di sebelah utara terentang seperi jurang dalam, diapit oleh kaca berwarna. Pada hari cerah, lantai biara itu merupakan sebuah karya tambal-tambalan prismatis dari cahaya. Hari ini, hujan dan kegelapan memberi aura hantu pada kedalaman gang besar itu ... lebih seperti suasana ruang bawah tanah yang sebenarnya.

`Ini hampir kosong,` bisik Sophie.

Langdon merasa kecewa. Dia berharap akan bertemu dengan orang banyak. Sebuah tempat yang lebih umum. Langdon tidak ingin pengalaman mereka di Gereja Kuil sebelum ini terulang. Dia telah membayangkan bahwa dia akan merasa aman di tempat wisata yang populer ini, tetapi kenangan Langdon akan ramainya rombongan turis di sebuah biara yang berpenerangan baik itu terjadi pada musim wisata selama musim panas. Hari ini adalah bulan April yang sering hujan. Yang ditemui Langdon bukanlah rombongan turis dan kaca berwarna yang berkilauan, tetapi berakre-akre lantai sunyi dan ruang-ruang tambahan yang gelap dan kosong.

`Kita telah melewati pendeteksi metal,` kata Sophie, tampaknya dia merasakan ketegangan Langdon. `Jika ada orang lain di sini, pastilah orang itu tidak bersenjata.`

Langdon mengangguk, namun masih merasa harus sangat berhati-hati. Langdon ingin dikawal oleh polisi London, tetapi Sophie khawatir polisi itu akan menghubungi polisi lainnya. Kita harus menemukan kembali cryptex itu, Sophie bertekad. Itu merupakan kunci dari segalanya.

Tentu saja dia benar.

Kunci untuk membebaskan Leigh kembali dengan selamat. Kunci untuk menemukan Holy Grail.

Kunci untuk mengetahui siapa dalang semua ini.

Celakanya, satu-satunya kesempatan mereka untuk mendapatkan kembali batu kunci itu tampaknya ada di sini dan sekarang ... pada makam Isaac Newton. Siapa pun pemegang cryptex itu harus mendatangi makam itu untuk memecahkan petunjuk terakhir, dan jika orang itu belum datang, Sophie dan Langdon berharap bisa mendahuluinya.

Menyusuri dinding kiri untuk menghindari tempat terbuka, Langdon dan Sophie bergerak masuk ke sebuah gang yang gelap di belakang deretan pilar-pilaran. Langdon tidak dapat mengusir bayangan Teabing yang sedang ditawan, mungkin temannya itu diikat di belakang limosinnya sendiri. Siapa pun yang yang telah menyuruh membunuh para anggota tertinggi Biarawan Sion tidak akan ragu-ragu untuk menyingkirkan siapa pun selainnya yang menghalang. Tampaknya sebuah ironi yang kejam bahwa Teabing seorang kesatria Inggris modern- disandera saat mencari rekan sebangsanya, Sir Isaac Newton.

`Ini jalan ke arah mana?` tanya Sophie, sambil melihat ke sekelilingnya.

Makam. Langdon tidak tahu. `Kita harus mencari pemandu dan bertanya.`

Langdon tahu, memang lebih baik bertanya daripada berkeliaran tanpa tujuan di sini. Biara Westminster merupakan sarang kelinci yang ruwet dari pekuburan, bilik-bilik melingkar, dan ceruk masuk ke makam. Seperti Galeri Agung di Louvre, tempat ini hanya memiliki satu pintu masuk - pintu yang tadi mereka lewati; mudah untuk menemukan jalam masuk, tetapi sangat sulit untuk menemukan jalan keluar. Betul-betul perangkap turis, begitu salah satu teman Langdon menyebutnya. Dengan mempertahankan arsitektur tradisional, biara ini berbentuk salib raksasa yang direbahkan. Namun, tidak seperti kebanyakan gereja yang pintu masuknya ada di belakang, pintu masuk biara ini ada di samping. Selain itu, biara ini mempunyai rangkaian beranda yang bertebaran tak teratur. Salah memasuki ruang beratap kubah, turis akan tersesat ke dalam sebuah labirin pintu keluar yang dikelilingi oleh temboktembok tinggi.

`Para pemandu itu mengenakan jubah kemerahan,` kata Langdon, ketika mereka mendekati bagian tengah gereja. Lalu, saat menatap miring melintasi altar berkilap yang tinggi ke arah sisi selatan yang jauh, Langdon melihat sejumlah tamu sedang merangkak. Para peziarah yang letih seperti ini sering terlihat di Sudut Pujangga, walaupun tindakan mereka itu tidak sesuci seperti yang terlihat.

`Aku tidak melihat seorang pemandu pun,` kata Sophie. `Mungkin kita dapat mencari sendiri makam itu?`

Tanpa kata-kata, Langdon membawa Sophie melangkah lagi ke bagian pusat biara dan menunjuk ke kanan.

Sophie terkesiap ketika dia melihat ke ruang tengah biara yang panjang. Sekarang tampaklah kemegahan gedung itu. `Aah,` katanya. `Ayo, kita cari seorang pemandu.`

Pada saat itu, seratus yard dari bagian tengah gereja, terhalang oleh layar tempat paduan suara, makam Isaac Newton sedang dikunjungi oleh seorang pengunjung. Guru telah selama sepuluh menit mengamati makam itu.

Makam Newton terdiri atas peti jenazah batu dari pualam hitam. Di atasnya berdiri patung Sir Isaac Newton, yang mengenakan pakaian tradisional sambil bersandar bangga pada tumpukan buku-bukunya sendiri - Divinity, Chronology, Opticks, dan Philosophiae Naturalis Principia Mathematiea. Pada kakinya berdiri dua orang anak laki-laki bersayap yang memegangi sebuah gulungan kertas. Di belakang Newton yang berbaring, berdiri tegak sebuah piramid yang keras. Walau piramid itu sendiri tampak aneh, namun yang paling menarik perhatian Guru adalah suatu wujud raksasa yang berada di setengah jalan ke atas piramid itu. Sebuah bola.

Guru merenungkan kembali teka-teki Sauniere yang memperdayakan. Kau mencari bola yang seharusnya ada di atas makamnya. Bola besar itu muncul dari bagian muka piramid, diukir tipis dan menggambarkan berbagai macam bentuk benda langitperbintangan, lambang-lambang zodiak, komet-komet, bintang-bintang, dan planet-planet. Di atasnya bertengger Dewi Astronomi di bawah hamparan bintang-bintang.

Bola-bola yang tak terhitung.

Tadinya Guru yakin, begitu dia menemukan makam itu, akan mudah dia menemukan bola yang hilang. Sekarang dia tidak yakin lagi. Dia menatap peta langit yang rumit. Apakah ada planet yang hilang? Apakah ada bola astronomi yang terlewatkan dari kumpulan benda-benda langit ini? Dia tidak tahu. Walau begitu, Guru yakin bahwa jawaban teka-teki ini pastilah sesuatu yang sangat mudah dan jelas-`seorang kesatria yang seorang paus kuburkan.` Bola apa yang kucari? Jelas, pengetahuan mendalam tentang astrofisika tidak diperlukan untuk menemukan Holy Grail, bukan?

Itu mengatakan tentang raga Rosy dan rahim yang terbuahi. Konsentrasi Guru terpecah karena kedatangan beberapa orang turis. Dia lalu memasukkan cryptex itu ke dalam sakunya lagi, dan menatap waspada kepada para pengunjung di meja yang tak jauh darinya. Para turis itu memberikan uang sumbangan ke dalam sebuah cawan dan mendapatkan alat menjiplak-kubur yang disediakan oleh biara ini. Dengan membawa pensil arang baru dan kertas besar yang berat, turis-turis itu bergerak ke bagian depan biara, mungkin ke Sudut Pujangga untuk memberi penghormatan kepada Chaucer, Tennyson, dan Dickens dengan cara - menggosoki makam-makam mereka dengan bersemangat.

Setelah sendiri lagi, Guru melangkah lebih dekat pada makam itu, mengamatinya dari bawah ke atas. Dia memulainya dari kaki yang mencengkeram di bawah peti jenazah batu itu, bergerak ke atas melintasi patung Newton, melalui buku-buku ilmiahnya, melewati kedua anak lelaki bersayap dengan gulungan kertas matematika, naik ke bagian muka piramid, lalu ke bola raksasa dengan sekumpulan benda-benda langitnya, dan akhirnya naik ke kanopi ceruk yang penuh bintang.

Bola apa yang seharusnya ada di sini ... namun tidak ada? Dia menyentuh cryptex yang berada dalam sakunya seolah dia dapat menerka jawaban dari pualam berukir milik Sauniere itu. Hanya lima huruf yang memisahkanku dari Grail.

Guru lalu berjalan ke sudut dari layar tempat paduan suara. Dia menarik napas panjang dan menatap ke bagian tengah yang panjang itu ke altar utama di kejauhan. Tatapannya berpindah dari altar yang berkilauan itu ke seorang pemandu biara yang berjubah kemerahan cerah. Dua orang yang sangat dikenalinya sedang memanggil pemandu itu dengan lambaian tangan mereka. Langdon dan Neveu.

Dengan tenang, Guru mengambil dua langkah mundur di belakang layar tempat paduan suara. Ini cepat Dia telah menduga bahwa Langdon dan Neveu akan mampu memecahkan arti puisi itu dan datang ke makam Newton, tetapi ini lebih cepat dari yang dibayangkannya. Sambil menarik napas dalam-dalam, Guru memikirkan pilihan lain. Dia terbiasa dengan hal-hal yang tak terduga.

Aku memegang cryptex.

Lalu Guru merogoh ke dalam sakunya. Dia menyentuh benda kedua yang memberinya rasa percaya: revolver Medusa. Seperti yang diduganya, pendeteksi metal gereja ini berbunyi nyaring ketika dia melewatinya dengan pistol di dalam saku. Juga seperti yang telah diduganya, para penjaga langsung mundur ketika Guru mendelik marah dan menunjukkan kartu identitasnya. Orang berpangkat tinggi selalu mendapatkan penghormatan yang sepantasnya.

Walau pada awalnya Guru berharap mengungkap cryptex ini sendirian dan menghindari kerumitan lebih lanjut, dia sekarang merasa bahwa kedatangan Langdon dan Neveu merupakan perkembangan yang menyenangkan. Mengingat kegagalannya untuk mengerti arti rujukan `bola`, mungkin saja dia dapat memanfaatkan keahlian mereka. Lagi pula, jika Langdon telah memecahkan teka-teki puisi itu untuk menemukan makam ini, ada kemungkinan dia juga mengerti tentang bola itu. Dan jika Langdon tahu kata kuncinya, itu berarti yang harus dikerjakan selanjutnya hanyalah menekan mereka dengan benar.

Tidak di sini, tentu saja.

Di tempat yang lebih pribadi.

Guru ingat pada pengumuman kecil yang dilihatnya di jalan masuk gereja ini tadi. Tiba-tiba dia tahu tempat yang tepat untuk pertemuan mereka.

Satu-satunya pertanyaan adalah ... bagaimana cara memancing mereka.

98

LANGDON DAN Sophie perlahan-lahan bergerak turun ke gang utara, sambil tetap berada di bawah bayangan di belakang banyak pilar yang memisahkan gang itu dari bagian tengah yang terbuka. Walau mereka telah menempuh lebih dari separuh perjalanan menuju ke bagian tengah biara itu, mereka belum juga dapat melihat makam Newton. Peti batu itu terletak di dalam sebuah ceruk, tersembunyi dari sudut miring ini.

`Paling tidak, tidak ada orang lain di sana,` bisik Sophie.

Langdon mengangguk, lega. Keseluruhan bagian tengah yang dekat makam Newton tampak sunyi. `Aku akan ke sana,` bisik Langdon. `Kau tetaplah bersembunyi, kalau-kalau ada orang-`

Sophie telah terlanjur keluar dari kegelapan, dan mulai melangkah untuk melintasi lantai ruangan terbuka itu.

`-melihat,` desah Langdon, lalu segera menyusul temannya itu.

Mereka melintasi bagian tengah yang lebar itu secara diagonal. Langdon dan Sophie tetap tak bersuara ketika makam besar itu menampakkan diri dengan hiasan-hiasan yang mencolok ... peti batu dari pualam hitam ... patung Newton yang sedang membungkuk ... dua anak lelaki bersayap ... sebuah piramid besar ... dan sebuah bola besar.

`Kau sudah tahu itu?` kata Sophie, terdengar terkejut. Langdon menggelengkan kepalanya, juga terkejut.

`Di sana tampak ada ukiran benda-benda langit,` kata Sophie. Ketika mereka mendekati ceruk itu, Langdon merasakan ada perasaan tenggelam pada dirinya. Makam Newton tertutup oleh bola-bola-bintang-bintang, komet-komet, planet-planet. Kau mencari bola yang seharusnya ada pada makamnya? Tetapi ini tampaknya akan menjadi pencarian sehelai daun rumput di lapangan golf.

`Benda-benda astronomi,` kata Sophie, sambil menatap dengan perhatian. `Dan banyak.`

Langdon mengerutkan dahinya. Satu-satunya rantai penghubung antara planet-planet dan Grail yang dapat dibayangkan Langdon adalah bintang lima sudut Venus, namun dia telah mencoba kata kunci `Venus` dalam perjalanan ke Gereja Kuil tadi.

Sophie langsung bergerak ke arah peti batu itu, tetapi Langdon tetap berdiri beberapa kaki jaraknya, mengawasi gereja di sekeliling mereka.

`Divinity,` kata Sophie, sambil mengangkat kepalanya dan membaca judul-judul buku yang tertumpuk sebagai sandaran Newton. `Chronology. Opticks. Philosophiae Naturalis Principia Mathematica?` Dia lalu menoleh kepada Langdon. `Ingat sesuatu?`

Langdon melangkah mendekat, memikirkannya. `Principia Mathematica seingatku ada hubungannya dengan gaya tarik gravitasi pada planet-planet ... yang digambarkan di sini sebagai bola-bola, tetapi ini tampak agak jauh dari yang dimaksud.`

`Bagaimana dengan tanda-tanda zodiak?` tanya Sophie sambil menunjuk ke benda-benda langit pada bola itu. `Kau pernah mengatakan tentang Pisces dan Aquarius, bukan?`

Akhir Hari, pikir Langdon. `Akhir zaman Pisces dan bermulanya zaman Aquarius diakui sebagai penanda sejarah yang digunakan Biarawan Sion untuk mengungkapkan dokumen-dokumen Sangreal pada dunia.` Tetapi milenium datang dan pergi tanpa peristiwa berarti, membuat para sejarawan tidak yakin kapan kebenaran itu diungkap.

`Tampaknya mungkin saja,` kata Sophie, `bahwa rencana Biarawan untuk mengungkap kebenaran itu berhubungan dengan baris terakhir puisi itu.`

Itu mengatakan tentang raga Rosy dan rahim yang terbuahi. Langdon merasa menggigil karena kemungkinan itu. Dia tidak pernah memikirkan baris itu begitu rupa.

`Kau pernah mengatakan,` kata Sophie, `bahwa waktu Biarawan mengungkap kebenaran tentang Rose dan rahim suburnya berhubungan langsung dengan letak planet-planet-bola-bola.`

Langdon mengangguk, merasa untuk pertama kali ingin pingsan karena gumpalan kemungkinan mulai terbentuk. Walau begitu, nalurinya mengatakan bahwa astronomi bukanlah kuncinya. Solusi-solusi sebelumnya dari Mahaguru semuanya memiliki sebuah arti simbolis yang cerdas-Mona Lisa, Madonna of the Rocks, SOFIA. Kecerdasan demikian sama sekali tidak terdapat pada bolabola planet ini dan juga pada zodiak. Sejauh ini, Jacques Sauniere telah membuktikan dirinya sebagai penulis kode yang piawai, dan Langdon harus memercayai bahwa kata kunci terakhirnya - lima huruf untuk membuka rahasia besar Biarawan - akan membuktikan bahwa itu bukan hanya cocok secara simbolis namun juga sangat jelas. Jika solusi yang ini seperti yang lain-lainnya itu, maka ini juga akan sangat jelas ketika terungkap.

`Lihat!` Sophie terkesiap, dan itu membuyarkan pikiran Langdon ketika Sophie mencengkeram lengannya. Dari sentuhan Sophie yang penuh ketakutan, Langdon merasakan pasti ada orang yang mendekat, tetapi ketika dia menoleh pada teman perempuannya itu, Sophie ternyata sedang menatap dengan sangat terkejut pada bagian atas peti batu dari pualam hitam itu. `Tadi ada orang di sini,` bisik Sophie, sambil menunjuk pada bagian atas peti di dekat kaki kanan patung Newton.

Langdon tidak mengerti ketakutan Sophie. Seorang turis ceroboh telah meninggalkan sebatang arang-sebuah pensil untuk menjiplak pahatan pada makam dengan cara menggosokkan arang itu di atas kertas yang ditempelkan pada makam ----- pada tutup peti di dekat kaki patung Newton. Ini bukan apa-apa. Langdon menjulurkan tangannya untuk mengambilnya. Tetapi, ketika dia mencondongkan tubuhnya ke arah peti, ada cahaya yang berubah pada lapisan pualam hitam yang mengilap itu, dan Langdon pun membeku. Tibat-tiba dia tahu mengapa Sophie takut.

Pada tutup peti batu itu, di dekat kaki patung Newton, tertulis dengan pensil arang, hampir tak terlihat, sebuah pesan:

Aku menahan Teabing.

Pergilah melewati Chapter House,

keluar ke pintu selatan, ke taman umum.

Langdon membaca tulisan itu dua kali. Jantungnya berdebar liar.

Sophie berputar dan mengamati bagian tengah gereja.

Walau selubung keraguan dirasakannya setelah membaca tulisan itu, Langdon mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ini adalah berita baik. Leigh masih hidup. Ada kemungkinan yang lain juga di sini. `Mereka juga tidak tahu kata kuncinya,` Langdon berbisik.

Sophie mengangguk. Kalau tidak, mengapa mereka sekarang memperlihatkan diri?

`Mereka ingin menukar Leigh dengan kata kunci.` `Atau ini jebakan.`

Langdon menggelengkan kepalanya. `Kukira tidak. Taman umum itu terletak di luar tembok biara. Sebuah tempat yang sangat terbuka.` Langdon sudah pernah satu kali mengunjungi Taman College, milik biara yang terkenal itu -sebuah kebun buah-buahan kecil dan taman tumbuhan- sisa peninggalan ketika para biarawan dulu menanam apotik hidup di sini. Dengan membanggakan diri sebagai memiliki pohon tertua di Inggris Raya, Taman College menjadi objek wisata populer bagi turis tanpa harus memasuki gereja. `Kupikir dengan meminta kita keluar, itu menunjukkan sebuah keimanan. Jadi, kita bisa merasa aman.` Sophie tampak ragu. `Maksudmu di luar, tanpa pendeteksi metal?`

Langdon cemberut. Sophie benar.

Sambil menatap kembali pada makam yang penuh dengan bola itu, Langdon berharap dia punya gagasan tentang kata kunci cryptex ... sesuatu yang dapat digunakan untuk bernegosiasi. Aku telah melibatkan Leigh dalam urusan ini, dan aku akan melakukan apa saja jika ada kesempatan untuk membebaskannya.

`Pesan itu mengatakan untuk pergi ke Chapter House ke pintu keluar selatan,` kata Sophie. `Mungkin dari pintu keluar itu kita dapat melihat ke taman? Dengan begitu, kita dapat melihat keadaan sebelum kita masuk ke sana dan membahayakan diri kita sendiri. Bagaimana?`

Gagasan itu bagus. Samar-samar Langdon mengingat Chapter House sebagai sebuah aula segi delapan yang besar sekali, tempat Parlemen Inggris yang asli bersidang sebelum Gedung Parlemen yang baru berdiri. Itu sudah bertahun-tahun yang lalu, tetapi Langdon ingat itu ada di luar melewati beranda. Mereka lalu meninggalkan makam Newton dan berjalan mengitari layar tempat paduan suara di sebelah kanannya, melintasi bagian tengah gereja ke sisi seberangnya yang tadi mereka turuni.

Sebuah jalan keluar yang sempit dan tertutup ada di dekat mereka, dengan tanda besar bertuliskan:

JALAN INI MENUJU KE:

BERANDA

KANTOR DEKAN

AULA PERGURUAN TINGGI

MUSEUM

RUANG PYX

KAPEL ST. FAITH

CHAPTER HOUSE

Langdon dan Sophie berlari kecil ketika mereka lewat di bawah tanda itu. Karena bergerak terlalu cepat, mereka tidak melihat ada tanda kecil yang memohon maaf karena tempat itu sedang direnovasi.

Mereka segera tiba di halaman gedung dengan dinding tinggi tanpa atap yang basah karena hujan pagi ini. Di atas mereka, angin bertiup melintasi ruang terbuka itu dengan desau rendah, seperti suara orang meniup mulut botol. Saat mereka memasuki gang sempit beratap rendah yang menjadi pembatas halaman itu, kembali Langdon merasa tidak nyaman karena berada di ruangan tertutup. Gang ini disebut cloister (beranda), dan Langdon mencatat dengan perasaan tidak nyaman bahwa cloister khusus ini ada hubungannya dengan bahasa Latin claustrophobic.

Sambil memusatkan perhatiannya lurus ke depan ke ujung gang, Langdon mengikuti tanda ke Chapter House. Hujan semakin deras, dan gang itu menjadi dingin dan lembab dengan air hujan yang tertiup masuk melalui dinding berpilar tunggal, yang merupakan sumber cahaya satu-satunya gang itu. Pasangan turis lainnya terburu-buru melewati mereka, bergegas untuk keluar karena cuaca yang semakin buruk. Sekarang beranda ini menjadi sangat sunyi, betul-betul merupakan bagian biara yang paling tidak menarik pada cuaca hujan dan angin seperti ini.

Empat puluh yard ke timur beranda, sebuah pintu lengkung tampak di sebelah kiri mereka, membawa ke gang lainnya. Walau ini merupakan pintu masuk yang mereka cari, bagian terbukanya ditutup dengan sebuah lempengan besi berlubang-lubang dan ada tanda yang tampak resmi:

TUTUP UNTUK RENOVASI

RUANG PYX

KAPEL ST. FAITH

CHAPTER HOUSE

Koridor sunyi yang panjang di balik tutup besi itu dikotori oleh banyak sobekan kain c:an tangga perancah. Tepat di belakang tutup besi, Langdon dapat melihat pintu masuk ke Ruang Pyx dan Kapel St. Faith di sebelah kanan dan kiri. Pintu masuk ke Chapter House masih lebih jauh lagi, yaitu di ujung gang yang pan jang itu. Bahkan dari sini pun Langdon dapat melihat pintu kayunya yang berat terbuka lebar, dan bagian dalamnya yang luas berbentuk segi delapan disinari oleh sinar kelabu alami dari jendela besar ruangan itu yang menghadap ke Taman College. Pergilah melewati Chapter House, keluar ke pintu selatan, ke taman umum.

`Kita baru saja meninggalkan beranda timur,` kata Langdon, `jadi pintu keluar selatan ke taman pastilah ke sana lalu ke kanan.` Sophie telah melangkahi lempengan besi itu dan berjalan ke depan.

Ketika mereka bergegas melintasi koridor gelap itu, suara angin dan hujan dari beranda terbuka memudar di belakang mereka. Chapter House merupakan semacam struktur satelit-sebuah ruang tambahan yang berdiri sendiri pada ujung gang yang panjang untuk memastikan privasi Parlemen ketika sedang bekerja di ruangan ini.

`Tampak besar,` bisik Sophie ketika mereka mendekati ruangan itu.

Langdon sudah lupa betapa besar ruangan ini. Walau dari luar pintu masuk, Langdon dapat melihat melintasi lantai yang luas itu ke jendela-jendela mengagumkan pada sisi lain yang jauh dari ruangan oktagonal ini. Jendela-jendela itu menjulang hingga ke lantai lima dan menyentuh langit-langit tertutup. Mereka pasti dapat melihat taman dengan jelas dari dalam sini.

Ketika melewati ambang pintu, baik Langdon maupun Sophie mengedip. Serelah tadi melewati beranda yang suram, Chapter House terasa seperti sebuah solarium. Mereka masuk sepuluh kaki ke dalam ruangan itu, dan mencari dinding selatan. Namun mereka tidak dapat menemukan pintu yang mereka cari.

Mereka berdiri di jalan buntu yang sangat luas.

Suara derit pintu berat di belakang mereka membuat mereka menoleh, bertepatan dengan saat pintu itu tertutup dengan suara berdebum dan selotnya jatuh ke tempatnya semula. Seorang lelaki yang sejak tadi berdiri sendirian di belakang pintu itu tampak tenang ketika dia mengacungkan revolver kecilnya pada Langdon dan Sophie. Lelaki itu agak gemuk dan berdiri dengan bantuan sepasang penopang dari aluminium.

Untuk sesaat Langdon mengira dirinya sedang bermimpi. Leigh Teabing berdiri menodongkan pistol kepadanya.

99

SIR LEIGH Teabing merasa menyesal ketika dia menatap Robert Langdon dan Sophie Neveu melalui laras pistol Medusanya. `Teman-temanku,` katanya, `sejak kalian datang ke rumahku, aku telah berusaha sekuat diriku untuk tidak melukai kalian. Tetapi tekad kalian telah menempatkan aku di tempat yang sulit.`

Teabing dapat melihat ekspresi wajah Sophie dan Langdon yang merasa dikhianati, namun Teabing yakin teman-temannya itu akan mengerti rantai peristiwa yang telah membawa mereka ke persimpangan jalan yang tak terduga ini.

Ada banyak yang harus kukatakan kepada kalian berdua ... begitu banyak yang kalian belum mengerti.

`Percayalah,` kata Teabing, `aku tidak pernah punya niat melibatkan kalian. Kalian datang ke rumahku. Kalian datang mencari aku.`

`Leigh?` akhirnya Langdon mampu berkata. `Apa yang kaulakukan? Kami pikir kau dalam bahaya. Kami ke sini untuk menolongmu!`

`Aku percaya kalian akan berbuat begitu,` jawab Teabing. `Kita punya banyak hal untuk didiskusikan.`

Langdon dan Sophie tampak tidak dapat mengalihkan mata mereka dari pistol yang membidik mereka.

`Ini hanya untuk mendapatkan perhatian penuh kalian saja,` kata Teabing. `Jika aku memang berniat untuk melukai kalian, kalian sudah mati sekarang. Ketika kalian datang ke rumahku kemarin malam, aku mempertaruhkan segalanya untuk hidup kalian. Aku lelaki terhormat, dan aku bersumpah, dengan kesadaran yang paling dalam, hanya akan melukai orang yang mengkhianati Sangreal.`

`Apa maksudmu?` tanya Langdon. `Mengkhianati Sangreal?` `Aku telah menemukan kebenaran yang mengerikan,` kata Teabing, sambil mendesah. `Aku menemukan mengapa dokumendokumen Sangreal tidak pernah dibuka pada dunia. Aku tahu Biarawan telah memutuskan untuk tidak membuka kebenaran itu pada akhirnya. Karena itulah milenium berlalu tanpa ada pembukaan rahasia, tanpa ada yang terjadi ketika kita memasuki Hari Akhir.`

Langdon menarik napas, tanpa berkomentar.

`Biarawan Sion,` lanjut Teabing, `telah diberikan tugas suci untuk berbagi kebenaran itu. Untuk membuka dokumen-dokumen Sangreal ketika Hari Akhir tiba. Selama berabad-abad, orang-orang seperti Da Vinci, Botticelli, dan Newton mempertaruhkan segalanya untuk melindungi dokumen-dokumen itu dan melaksanakan tugas itu. Dan sekarang, pada waktu yang penting untuk membuka kebenaran itu, Jacques Sauniere mengubah pikirannya. Lelaki yang diberkati dengan kewajiban tertinggi di dalam sejarah Kristen itu mengelak dari kewajibannya. Dia memutuskan bahwa waktunya tidak tepat.` Teabing menoleh kepada Sophie. `Dia telah mengecewakan Grail. Dia telah mengecewakan Biarawan. Dan dia mengecewakan semua generasi yang telah berusaha untuk memungkinkan saat itu tiba.`

`Kau?` Sophie berseru, mata hijaunya menatap Teabing penuh kemarahan. `Kau yang bertanggung jawab atas kematian kakekku?`

Teabing cemberut. `Kakekmu dan senechaux-nya adalah pengkhiariat Grail.`

Sophie merasa kemarahannya memuncak. Dia berbohong! Suara Teabing tanpa belas kasihan. `Kakekmu bisa dibeli oleh Gereja. Jelas mereka menekannya untuk tidak menyebarkan kebenaran itu.`

Sophie menggelengkan kepalanya. `Gereja tidak punya pengaruh apa pun pada kakekku!`

Teabing tertawa dingin. `Sayangku, Gereja memiliki dua ribu tahun pengalaman menekan orang yang mengancam akan membuka kebohongan mereka. Sejak zaman Konstantine, Gereja telah berhasil menyembunyikan kebenaran tentang Maria Magdalena dan Yesus. Kita tidak perlu heran jika sekarang, sekali lagi, mereka menemukan jalan untuk tetap membuat dunia ini gelap. Gereja mungkin saja tidak lagi mempekerjakan pasukan salib untuk membantai orang-orang kafir, tetapi pengaruh mereka tidak kurang meyakinkan. Tidak kurang busuknya.` Dia terdiam sesaat, seolah untuk mempertajam maksud berikutnya. `Nona Neveu, sudah beberapa waktu kakekmu ingin mengatakan kebenaran tentang keluargamu.`

Sophie terpaku. `Bagaimana kautahu itu?`

`Metodeku tidak penting. Yang penting untuk kaudengar sekarang adalah ini.` Dia menarik napas dalam. `Kematian ibumu, ayahmu, nenekmu, dan adik lelakimu bukan suatu kecelakaan.`

Kata-kata itu membuat Sophie terguncang. Dia membuka mulutnya, namun tak dapat mengatakan apa-apa.

Langdon menggelengkan kepalanya. `Apa maksudmu?` `Robert, ini menjelaskan segalanya. Semua potongan peristiwa cocok. Sejarah berulang dengan sendirinya. Gereja sudah pernah membunuh ketika itu menyangkut kerahasiaan Sangreal. Dengan mendekatnya Hari Akhir, membunuh orang-orang yang dicintai oleh Mahaguru memberikan pesan yang jelas: diamlah, atau kau dan Sophie menyusul.`

`Itu kecelakaan mobil.` Sophie menghentakkan kakinya, merasakan kesedihan masa kanak-kanaknya muncul kembali. `Sebuah kecelakaan!`

`Dongeng sebelum tidur untuk melindungi kesucianmu,` kata Teabing. `Ingat, hanya dua orang anggota keluarga yang tak tersentuh - Mahaguru Biarawan dan cucu tunggalnya. Itu pasangan sempurna untuk memberi Gereja kekuatan untuk mengendalikan kelompok persaudaraan itu. Aku hanya dapat membayangkan teror yang diciptakan Gereja bagi kakekmu pada tahun-tahun terakhir ini, dengan mengancam untuk membunuhmu jika dia membuka rahasia Sangreal, mengancam untuk merampungkan pekerjaan yang sudah mereka mulai jika Sauniere tidak memengaruhi Biarawan untuk mempertimbangkan sumpah kuno mereka.`

`Leigh,` bantah Langdon, sekarang tampak gusar, `jelas kau tidak punya bukti bahwa Gereja bertanggung jawab pada kematian-kematian itu, atau bahwa Gereja memengaruhi Biarawan untuk tetap diam.`

`Bukti?` Teabing membalas. `Kau mau bukti Biarawan terpengaruh? Milenium baru telah tiba, namun dunia tetap tidak tahu! Apakah itu tidak cukup membuktikannya?`

Dalam gema suara Teabing, Sophie mendengar suara lainnya berbicara. Sophie, aku harus mengatakan yang sebenarnya tentang keluargamu. Sophie gemetar. Apakah ini kebenaran yang akan dikatakan kakeknya? Bahwa keluarganya telah dibunuh? Apa yang dia ketahui tentang kecelakaan itu yang merenggut nyawa keluarganya? Hanya rincian yang samar. Bahkan cerita di koran juga tidak jelas. Sebuah kecelakaan? Dongeng sebelum tidur? Sophie tiba-tiba ingat betapa kakeknya terlalu melindunginya, bagaimana kakeknya tidak pernah meninggalkannya sendirian ketika dia masih kecil. Bahkan ketika Sophie sudah remaja dan kuliah, dia dapat merasakan bahwa kakeknya terus mengawasinya. Dia bertanya-tanya apakah anggota Biarawan membayanginya terus sepanjang hidupnya, menjaganya.

`Kau mengira Sauniere telah diperdaya,` kata Langdon, menatap tajam dan tidak percaya pada Teabing. `Karena itu kau membunuhnya?`

`Aku tidak menarik pelatuk pistol padanya,` kata Teabing. `Sauniere telah mati bertahun-tahun yang lalu, ketika Gereja menghabisi keluarganya. Lalu dia mau bekerja sama. Sekarang dia bebas dari beban itu, bebas dari rasa malu karena ketidak mampuannya melaksanakan tugas sucinya. Pertimbangkan alternatifnya. Sesuatu harus dilakukan. Apakah dunia akan terus tidak tahu? Apakah Gereja akan dibiarkan untuk mengabadikan kebohongan mereka ke dalam buku-buku sejarah kita selamanya? Apakah Gereja akan diizinkan untuk seterusnya memberi pengaruh dengan pembunuhan dan pemerasan? Tidak. Harus ada yang dilakukan! Dan sekarang kita harus melanjutkan warisan Sauniere dan memperbaiki sebuah kesalahan besar.` Dia terdiam sejenak. `Kita bertiga. Bersama.`

Sophie merasa ragu. `Bagaimana kauyakin kita akan membantumu?`

`Karena, sayangku, kaulah penyebab Biarawan gagal membuka dokumen-dokumen itu. Kasih sayang kakekmu kepadamu mencegahnya untuk menantang Gereja. Ketakutannya akan pembalasan pada keluarga satu-satunya membuatnya lumpuh. Dia tidak pernah punya kesempatan untuk menjelaskan kebenaran karena kau menolaknya. Kau mengikat tangannya, membuatnya menunggu. Sekarang kau berhutang pada dunia akan kebenaran itu. Kau berhutang itu sebagai kenangan pada kakekmu.`

Robert Langdon tak tahu lagi bagaimana menentukan sikapnya. Walau pertanyaan-pertanyaan berkecamuk dalam benaknya, dia hanya tahu satu hal yang penting sekarang-mengeluarkan Sophie dari sini dengan selamat. Segala perasaan bersalah karena melibatkan Teabing, sekarang beralih ke Sophie.

Aku membawanya ke Puri Villette. Aku bertanggung jawab.

Langdon tidak dapat membayangkan bahwa Teabing akan mampu membunuh mereka dengan dingin di Chapter House ini, namun Teabing pasti telah terlibat dalam pembunuhan yang lain selama pencariannya yang salah arah. Langdon merasa tidak nyaman karena suara ledakan senjata pada ruangan terpencil dan berdinding tebal ini tidak akan terdengar, terutama pada hari hujan seperti ini. Dan Leigh baru saja mengakui kesalahannya pada kami.

Langdon menatap Sophie, yang tampak gemetar. Gereja membunuh keluarga Sophie untuk membungkam Biarawan? Langdon merasa yakin bahwa Gereja modern tidak akan membunuh orang. Pasti ada penjelasan lainnya.

`Biarkan Sophie pergi,` kata Langdon, sambil menatap Teabing. `Kita berdua akan membicarakan hal ini sendiri.`

Teabing tertawa tidak wajar. `Aku menyesal, tawaran ini tak dapat kuterima. Namun, aku dapat menawarimu ini.` Dia menyangga tubuhnya sepenuhnya pada tongkatnya, dengan kaku, terus mengacungkan senjata pada Sophie, dan mengambil batu kunci dari sakunya. Dia terhuyung sedikit ketika mengulurkan batu kunci kepada Langdon. `Sebuah tanda kepercayaan, Robert.`

Robert waspada dan tidak bergerak. Leigh memberikan batu kunci kembali kepada kami?

`Ambillah,` kata Teabing, sambil mengangsurkannya kepada Langdon dengan gerakan yang aneh.

Langdon hanya dapat membayangkan satu alasan mengapa Teabing mengembalikannya. `Kau telah membukanya. Kau telah mengambil petanya.`

Teabing menggelengkan kepalanya. `Robert, jika aku sudah membuka batu kunci ini, aku sudah akan menghilang untuk mencari sendiri Grail itu tanpa melibatkan kalian. Tidak. Aku tidak tahu jawabannya. Dan aku mengakuinya tanpa paksaan. Seorang kesatria sejati belajar merendahkan hati di muka Grail. Dia belajar mematuhi tanda-tanda yang ditempatkan di depannya. Ketika aku melihat kalian memasuki biara, aku mengerti. Kalian ke sini untuk satu alasan. Menolong. Aku tidak mencari kejayaan pribadi di

sini. Aku mengabdi kepada tuan yang lebih mulia daripada kebanggaanku sendiri. Kebenaran. Manusia berhak untuk tahu kebenaran. Grail telah menemukan kita semua, dan sekarang dia memohon untuk dibebaskan. Kita harus bekerja sama.`

Walau Teabing memohon kerja sama dan saling percaya, senjatanya tetap mengacu kepada Sophie ketika Langdon melangkah ke depan untuk menerima silinder pualam yang dingin itu. Cairan cuka di dalamnya bergemericik ketika Langdon meraihnya dan melangkah mundur. Lempengannya masih berantakan, dan cryptex itu tetap terkunci.

Langdon menatap Teabing. `Bagaimana kautahu aku tidak akan membantingnya sekarang?`

Tawa Teabing seperti tawa kekeh yang menakutkan. `Aku seharusnya telah tahu, ancamanmu untuk membantingnya ketika di Gereja Kuil hanya gertak kosong. Robert Langdon tidak akan memecahkan batu kunci. Kau seorang sejarawan, Robert. Kau memegang kunci sejarah dua ribu tahun-kunci menuju Sangreal yang hilang. Kau dapat merasakan jiwa-jiwa semua kesatria yang dibakar pada tiang pancang untuk melindungi rahasia itu. Apakah kau ingin mereka mati sia-sia? Tidak, kauingin mempertahankan mereka. Kauingin bersama dengan orang-orang mulia yang kaukagumi-Da Vinci, Botticelli, Newton, yang masingmasingnya dihormati menjadi merek sepatumu sekarang. Isi batu kunci itu sedang memohon kepada kita. Meminta dibebaskan. Waktunya telah tiba. Takdir telah membawa kita ke saat ini.`

`Aku tidak dapat menolongmu, Leigh. Aku tidak tahu bagaimana membuka ini. Aku hanya melihat makam Newton sebentar saja. Dan kalaupun aku tahu kata kuncinya ...` Langdon terdiam sejenak, dia sadar telah berkata terlalu banyak.

`Kau tidak akan mengatakannya kepadaku?` desah Teabing. `Aku kecewa dan heran, Robert, bahwa kau tidak menghargai kenyataan bahwa kau berhutang padaku. Kewajibanku menjadi lebih sederhana jika Remy dan aku membunuh kalian berdua begitu kalian masuk Puri Villette. Namun aku mempertaruhkan segalanya untuk jalan yang lebih terhormat.`

`Ini terhormat?` tanya Langdon, sambil menatap senjata itu. `Kesalahan Sauniere,` kata Teabing. `Dia dan senechaux-nya berbohong kepada Silas. Kalau tidak, aku sudah mendapatkan batu kunci tanpa kesulitan. Bagaimana aku dapat membayangkan mahaguru itu akan melakukan ini semua untuk menipuku dan mewariskan batu kunci kepada cucu perempuannya yang telah menjauhkan diri darinya?` Teabing menatap Sophie dengan penghinaan. `Seseorang yang begitu tidak pantasnya memegang pengetahuan ini sehingga dia memerlukan seorang simbolog penjaga bayi.` Teabing menatap lagi pada Langdon. `Untunglah, Robert, keterlibatanmu membawa manfaat bagiku. Batu kunci itu akan terus terkunci di bank penyimpanan selamanya jika kau tidak mengambilnya dan membawanya ke rumahku.`

Ke mana lagi aku akan berlari? Pikir Langdon. Komunita. sejarawan Grail kecil saja, dan Teabing dan aku punya hubungar pertemanan.

Sekarang Teabing tampak puas. `Ketika aku tahu bahwa Sauniere meninggalkan pesan terakhir padamu, aku punya perkiraan bagus bahwa kau mempunyai informasi yang penting tentang Biarawan. Apakah itu batu kunci itu sendiri atau informasi tentang di mana menemukannya, aku tidak yakin. Tetapi karena polis mengejarmu, aku punya firasat, kau akan datang ke rumahku.`

Langdon mendelik. `Dan jika kami tidak ke rumahmu?` `Aku berencana untuk mengulurkan tangan menolongmu. Entah bagaimana caranya, batu kunci harus datang ke Puri Villette Kenyataan kau membawanya ke tanganku yang telah menunggunya hanya membuktikan bahwa tujuanku benar.`

`Apa!` Langdon sangat terkejut.

`Silas seharusnya masuk ke rumahku dan mencuri batu kunci darimu di Puri Villette-sehingga menghapusmu dari keikutsertaa dalam kasus ini tanpa menyakitimu, dan membebaskan aku dari segala kecurigaan yang merepotkan. Namun, ketika aku melihat kerumitan kode Sauniere, aku memutuskan untuk melibatkan kalian berdua lebih lama lagi dalam pncarianku. Aku dapat menyuruh Silas untuk mencuri batu kunci itu kemudian, begitu aku sudah cukup tahu untuk melanjutkannya sendiri.`

`Gereja Kuil,` kata Sophie, suaranya terdengar gemetar karena pengkhianatan itu.

Cahaya fajar mulai menyingsing, pikir Teabing. Gereja Kuil adalah tempat yang sempurna untuk mencuri batu kunci dari Robert dan Sophie. Sangkut pautnya yang nyata dengan puisi itu telah menjadikannya sebagai perangkap yang masuk akal. Perintah kepada Remy sudah jelas-jangan ikut campur ketika Silas mengambil batu kunci itu. Celakanya, ancaman Langdon untuk menghancurkan batu kunci pada lantai kapel telah membuat panik Remy. Seandainya Remy tidak memperlihatkan dirinya, pikir Teabing dengan sesal, sambil mengingat penculikan pura-pura terhadap dirinya. Remy adalah satu-satunya penghubungku, dan dia memperlihatkan wajahnya!

Untungnya, Silas tetap tidak tahu identitas Teabing yang sesungguhnya dan dengan mudah ditipu oleh penculikannya di gereja itu, apalagi kemudian Silas melihat betapa Remy mengikatnya di belakang limusin. Dengan kaca pemisah yang tertutup, Teabing dapat menelepon Silas yang duduk di bangku depan. Teabing menggunakan aksen Prancis Guru, dan memerintahkan Silas untuk langsung pergi ke Opus Dei. Lalu, sebuah pesan tak bernama kepada polisi menghapus Silas dari permainan ini.

Satu ujung kendur telah diikat.

Satu ujung yang kendur lagi lebih sulit. Remy.

Teabing berjuang untuk memutuskannya, tetapi pada akhirnya Remy telah membuktikan bahwa dirinya tidak dapat dipercaya. Setiap pencarian Grail meminta pengorbanan. Solusi terbersih telah tersedia di depan wajah Teabing dari bar minuman di limousinnya - sebuah botol, cognac, dan sekaleng kacang. Bubuk di dasar kaleng sudah lebih dari cukup untuk memicu alergi Remy yang mematikan. Ketika Remy memarkir limonya di Horse Guard Parade, Teabing merangkak ke luar dari belakang mobil, berjalan ke pintu sisi penumpang dan duduk di depan, di samping Remy. Beberapa menit kemudian Teabing keluar dari mobil, masuk ke bagian belakang lagi, membersihkan bukti, dan akhirnya muncul lagi untuk melanjutkan babak terakhir dari misinya.

Biara Westminster tidak jauh dari situ. Dan walaupun penopang kaki, tongkat, dan senjata Teabing telah membunyikan alat pendeteksi metal, polisi sewaan di biara itu tidak dapat berbuat apa-apa. Apakah kita harus memintanya untuk melepaskan penopang kakinya dan menyuruhnya merangkak melalui pintu pendeteksi metal? Apakah kita harus menggeledah tubuhnya yang cacat? Teabing menawarkan solusi yang lebih mudah bagi para polisi yang kebingungan itu - sebuah kartu berembos sebagai tanda bahwa dia seorang kesatria kerajaan. Para polisi itu saling menginjak kaki temannya sambil mengantarkannya masuk.

Sekarang, sambil menatap Langdon dan Sophie yang kebingungan, Teabing menahan keinginan untuk menceritakan bagaimana dia telah dengan sangat pandai melibatkan Opus Dei dalam persekongkolan yang akan mengakibatkan kehancuran seluruh Gereja ini. Cerita itu harus ditunda. Sekarang ada pekerjaan yang harus dikerjakan.

`Mes amis,` kata Teabing dalam bahasa Prancis yang sempurna, `vous ne trouvez pas le Saint-Graal, c'est le Saint-Graal qui vous trouve. ` Dia tersenyum, `Jalan bersama kita sudah sangat jelas. Grail telah menemukan kita.`

Bungkam.

Teabing lalu berbicara dengan mereka dalam bisikan. `Dengar. Kalian dapat mendengarnya? Grail sedang berbicara kepada kita dari seberang abad. Dia memohon untuk diselamatkan dari kebodohan Biarawan. Aku memohon dengan sangat kepada kalian berdua untuk memanfaatkan kesempatan ini. Kapan lagi tiga orang yang mampu punya kesempatan berkumpul untuk memecahkan kode terakhir dan membuka cryptex itu?` Teabing terdiam sejenak, matanya bersinar. `Kita harus bersumpah bersama. Berjanji setia satu sama lain. Sebuah kesetiaan seorang kesatria untuk membuka kebenaran dan menyebarluaskannya.`

Sophie menatap tajam mata Teabing dan berbicara dengan suara sangat tegas. `Aku tidak akan bersumpah bersama dengan orang yang membunuh kakekku. Kecuali sebuah sumpah yang akan membuatmu masuk penjara.`

Hati Teabing menjadi muram, kemudian marah. `Aku menyesal kau merasa seperti itu, Mademoiselle.` Lalu dia menoleh kepada Langdon dan mengarahkan senjatanya kepada Langdon. `Dan kau Robert? Kau bersamaku atau melawanku?`


Tidak ada komentar:

Posting Komentar